koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Kamis, Maret 14, 2013

amalan untuk meningkatkn karir

AMALAN UNTUK

MENINGKATKAN KARIR, JABATAN & PANGKAT

Amalan ini bagus diamalkan bagi para pegawai yang menginginkan kemajuan dalam berkarir, jabatan dan pangkat. Boleh juga diamalkan oleh orang yang hendak mengangkat derajat di lingkungan masyarakat dan orang banyak.
Tatacara amalan :
  1. Biasakanlah setiap malam menegakan sholat tahajud.
  2. Setelah sholat Tahajud bacalah Doa ini sebanyak-banyaknya.

ربِّ أَنْزِلْنِى مُنْزَلاً مُّبَارَكا ًوَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِ لِيْنَ

Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilina
(Artinya : Yaa Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat)
InsyaAllah bila diamalkan dengan tekun dan istiqomah, akan terasa perubahan dalam kemajuan karir dan jabatan.
Allah berfirman :
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat (derajat) yang terpuji”
(Q.S : Al Israa: 79)
—o0o—

pagar ghaib

PAGAR GHAIB

Untuk Rumah / Pekarangan / Tempat Usaha dll.


Tanda suatu tempat tinggal (rumah, kantor, pekarangan dll) perlu diberi proteksi/pagar ghoib adalah bilamana tempat tersebut tidak nyaman untuk ditinggali. Disebabkan karena hawa didalam rumah terasa panas (bukan karena faktor cuaca). Hawa panas ini menandakan didalam rumah terdapat frekuensi setanoaktif (ada bangsa makhluk halus yang turut tinggal didalam rumah). Bila makhluk halus ini mengganggu penghuni rumah misal menampakan diri dengan wajah seram maka rumah harus segera diberi pagar ghoib.
Kedua, selain untuk melindungi rumah dan penghuninya dari gangguan makhluk halus, pagar ghoib juga dimaksudkan untuk menangkal kejahatan magis dari seseorang yang punya maksud buruk. Misal santet, tenung, gendam (sirep).
Ketiga, pemasangan pagar ghoib dimaksudkan untuk menjaga rumah dari niat jahat pencuri dan perampok. Daya pancar aura dari pagar ghoib yang telah dipasang akan membuyarkan niat jahat dari orang yang punya maksud buruk. Sehingga orang tersebut tidak jadi melaksanakan niat jahatnya.
Bila anda ingin memasang pagar ghoib di suatu tempat misalnya rumah, kebun, toko, dsb agar terhindar dari hal-hal yang buruk dan merugikan, maka ikutilah petunjuk Teknik Pemagaran Ghoib berikut ini.

1. Cara Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Doa Khusus

Dari hadist yang bersumber dari Suhail dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah” (H.R. Muslim dalam Nysafirrin, No.212).
Bila suatu rumah atau tempat telah terjadi gangguan dari JIN usil maka cara ini dilakukan minimal dalam 3 hari berturut-turut. Sampai memastikan tidak ada lagi gangguan dari makhluk halus tersebut.
***

2. Cara Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Media Air Rajah

1. Pada permulaan bulan Muharam, tulislah ayat suci berikut ini pada selembar kertas.

2. Kemudian rendam tulisan tersebut pada seember air.
3. Lalu percikan air ini di pojok-pojok rumah. Semoga dengan ikhtiar ini rumah aman dari gangguan makhluk halus.
***

3. Cara Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Rajah Asma’

Tulis Rajah Segel Ghoib berikut ini pada selembar kertas, dan tempelkan diatas pintu masuk rumah anda:
segel pagar ghaib
Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku serahkan urusanku kepada Allah. Semoga Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah amat besar kekuatan(Nya) dan amat keras siksa(Nya).”
***

4. Cara Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Media Batu

Tentunya benda yang akan dijadikan sarana sebagai pagar ghoib harus diAsma’ atau diberi doa terlebih dahulu. Caranya sebagai berikut:
  1. Sediakan batu biasa dan batu pengasah senjata tajam (ungkal).
  2. Kedua batu tersebut lalu dibacakan Surat Al Fiil 40 x  dan Surat Alam Nasyrah 40 x.
  3. Setiap mendapat 10 kali bacaan lalu ditiupkan ke kedua batu tersebut.
  4. Setelah selesai dibacakan 40 kali, cara pemakaiannya dua batu tersebut dipendam ditengah-tengah rumah.
InsyaAllah setiap pencuri atau orang yang bermaksud jahat yang ingin mengganggu rumah tersebut akan menjadi bingung. Jika menghadapi orang seperti itu jangan sekali-kali disakiti / digebuki. Temuilah dengan hati lapang serta nasehati jika perlu berilah makan. Insya Allah mereka akan sadar.
***

5. Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Media Bambu Kuning

Pagar ghoib dengan media bambu Kuning ini cukup ampuh khususnya untuk menangkal pencuri dan orang-orang yang berniat jahat.
Tata caranya :
  1. Sediakan Bambu Kuning sebesar jari dengan panjang kira-kira 10 cm.
  2. Bacakan Asma berikut ini sebanyak 1000 kali :”Wa ja’alnaa mim baini aidiihim saddaw, wa min kholfihim saddan, fa agh-syainaahum, fahum laa yubshiruun.” (Artinya : “Dan Kami adakan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding pula, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat)
  3. Setelah selesai membaca 1000 x, kemudian membaca: “Ya Allah, hamba memohon berkah dari ayat Yasiin ini, lindungilah tempat/rumah kami dari mereka orang-orang yang berniat jahat dan merugikan. Jadilah aman Sentosa karena Allah Ta’ala”.
  4. Lalu tiup bambu kuning tersebut 3 kali.
  5. Kemudian tancapkan Batang bambu Kuning ini dirumah atau pekarangan yang akan di pasangi Pagar Ghoib. Bisa juga dipasang di bagian atas rumah (kayu atap).
Ketika menancapkannya sambil membaca Asma’ ayat Yasiin (Wa ja’alnaa …dst) seperti diatas tadi.
***

6. Pemasangan Pagar Ghoib Dengan Media Kulit Kambing

Pagar ghoib dengan media Kulit kambing ini sangat ampuh khususnya digunakan untuk menetralkan tanah, lokasi atau tempat-tempat yang angker (didiami makhluk halus usil). Jika sebidang tanah dipasangi “tumbal” Pagar Ghoib Kulit Kambing ini maka semua makhluk halus (JIN usil) yang mendiami lokasi tersebut akan pergi dan berpindah tempat dengan sendirinya, tanpa membawa akibat. Sehingga akhirnya lokasi tersebut jadi aman dari gangguan ghoib/JIN.
Tatacaranya :
  1. Siapkan sepotong kulit Kambing gibas.
  2. Sebelum melakukan ritual ini terlebih dahulu badan harus suci.
  3. Awalilah dengan membaca: “Bismillahirrohmanirrohim” sebanyak 133 kali.
  4. Kemudian tulis Rajah berikut pada kulit kambing tadi :

aji penglaris usaha

* BISMILLAHIR ROHMANNIR ROHIM *
ALIF BISMILLAH BERKAHNYA ALIF BISMILLAH
BISMILLAHI AMANTU BILLAH
INNA ANNA AMANNA ALIF SEMPURNA
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA ROSULLULLAH
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA NABI ALLAH
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA MALAIKAT ALLAH
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA WALI ALLAH
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA SAUDARAKU YANG LAHIR BATHIN YANG SEPERTAPAAN.
*ASSALLAMMUALAIKUM YAA MALAIKAT YANG MEMBAGIKAN REZEKI,DENGAN IZIN ALLAH AKU MINTAK DI DATANGKAN REJEKI DARI MANAPUN JUGA TAMPA HALANGAN DAN RINTANGAN,KARENA SUDAH JANJI ALLAH PADAKU,SEMUANYA DI TANGGUNG,DI TANGGUNG HIDUP,DI TANGGUNG MATI,DI TANGGUNG HARTA BELANJAAN,HUU MALAIKAT JAYE LULLAH INI SEKARANG AKU MINTAKNYA,KALAU JAUH MINTAK DEKATKAN,KALAU DEKAT MINTAK HAMPIRKAN,KALAU HAMPIR MINTAK SUAPKAN,KARENA SUDAH KODRATKU,HIDUPKU DI JAYA KAN DI DUNIA DI SEMPURNAKAN DI AKHIRAT,HUU HAK KATA ALLAH.
*YAA ALLAH AKU MINTAK DI NYATAKAN-SENYATA-NYATANYA-MINTAK DI BUKTIKAN-SEBUKTI-BUKTINYA KARENA SEMUANYA SUDAH KUTEBUS DENGAN:MEMBACA:SURAT AL.FATEHA…7x SEHARI
MEMBACA:SURAT AL.IHKLAS…..7x SEHARI
MEMBACA:AYAT KURSI………….7x SEHARI
MEMBACA:SOLAWAT NABI………7x SEHARI
*YAA ALLAH,APABILAH AKU BERCUKUPAN,AKU AKAN MENYANTUNI ANAK YATIM PIATU,PAKIR MISKIN DAN MASJID MASJIDMU,APABILAH AKU INGKAR,AZABLAH AKU DENGAN AZABMU YANG SANGAT PEDIH.AMIIN
bersungguh sungguhlah dengan hati yang ihklas mengamalkannya…semoga di ridhoi ALLAH SWT …..aamiiin @@@

HABIB SHOLEH BIN MUHSIN AL-HAMID


Beliau adalah Seorang wali qhutub yang lebih dikenal Dengan nama habib Sholeh Tanggul, Ulama Karismatik yang berasal dari Hadro maut pertama kali melakukan da’wahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di daerah tanggul Jember Jawa timur. Habib Sholeh lahir tahun 1313 H dikota Korbah , ayahnya bernama Muhsin bin Ahmad juga seorang tokoh Ulama dan Wali yang sangat di cintai masyarakat , Ibunya bernama Aisyah ba umar.

Sejak Kecil Habib sholeh gemar sekali menuntut ilmu , beliau banyak belajar dari ayahandanya yang memang seorang Ahli ilmu dan Tashauf , berkat gembelengan dan didikan dari ayahnya Habib sholeh memilki kegelisahan Batiniyah yang rindu akan Alloh Swt dan Rindunya Kepada Rosululloh SAW, akhirnya beliau melakukan Uzlah ( Mengasingkan diri) selama hampir 7 tahun sepanjang waktu selama beruzlah Habib Sholeh memperbanyak Baca al quran , Dzikir dan membaca Sholawat . Hingga Akhirnya Habib Sholeh 

didatangi Oleh tokoh Ulama yang juga wali Quthub Habib Abu bakar bin Muhammad assegaf dari Gresik, Habib Sholeh Diberi sorban hijau yang katanya Sorban tersebut dari Rosululloh SAW dan ini menurut Habib Abu bakar assegaf adalah suatu Isyarat bahwa Gelar wali Qhutub yang selama ini di sandang oleh habib Abubakar Assegaf akan diserahkan Kepada Habib Sholeh Bin Muhsin , Namun Habib sholeh Tanggul merasa bahwa dirinya merasa tidak pantas mendapat gelar Kehormatan tersebut. Sepanjang Hari habib Sholeh tanggul Menangis memohon kepada Alloh Swt agar mendapat Petunjuknya.

Dan suatu ketika habib Abyubakar Bin Muhammad assegaf gresik mengundang Habib sholeh tanggul untuk berkunjung kerumahnya , setelah tiba dirumah habib Abubakar Bin Muhammad assegaf menyuruh Habib Sholeh tanggul untuk melakukan Mandi disebuah kolam Milik Habib Abu bakar Assegaf , setelah mandi habib Sholeh tanggul di beri Ijazah dan dipakaikan Sorban kepadanya. Dan hal tersebut merupakan Isyarat Bahwa habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf telah memberikan Amanat kepada Habib sholeh tanggul untuk melanjutkan Da’wak kepada masyrakat.

Habib Sholeh mulai melakukan berbagai aktifitas dakwahnya kepada Masyarakat, dengan menggelar berbagai Pengajian-pengajian . Kemahiran beliau dalam penyampaian dakwahnya kepada masyarakat membuat beliau sangat dicintai , dan Habib sholeh Mulai dikenal dikalangan Ulama dan habaib karena derajat keimuan serta kewaliaan yang beliau miliki. Habib sholeh tanggul sering mendapat Kunjungan dari berbagai tokoh ulama serta habaib baik sekedar untuk bersilahturahim ataupun untuk membahas berbagai masalah keaganmaan, bahkan para ulama serta habaib di tanah air selalu minta didoakan karena menurut mereka doa Habib sholeh tanggul selalu di kabulkan oleh alloh SWt, Pernah suatu ketika habib Sholeh tanggul berpergian dengan habib Ali Al habsy Kwitang dan Habib ali bungur dalam perjalanan Beliau melihat kerumunan Warga yang sedang melaksanakan sholat Istisqo’ ( Sholat minta hujan ) karena musim kemarau yang berkepanjangan , lalu Habib sholeh Memohon kepada alloh Untuk menurunkan Hujan maka seketika itupula hujan turun. Beliau berpesan kepada jama’ah Majlis ta’limnya apabila do’a-doa kita ingin dikabulkan oleh Alloh Swt jangan sekali-kali kita membuat alloh murka dengan melakukan Maksiyat, Muliakan orang tua mu dan beristiqomalah dalam melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Habib Sholeh berpulang kerahmatulloh pada tanggal 7 sawal 1396 h atau sekitar tahun 1976, hingga sekarang Karomah beliau yang tampak setelah beliau meninggal adalah bahwa maqom beliau tidak pernah sepi dari para jamaah yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah apalagi waktu perayaan haul beliau yang diadakan setiap hari kesepuluh dibulan syawal ribuan orang akan tumpah ruah kejalan untuk memperingati Khaul beliau

Habib Salim bin Jindan Jakarta, Ulama & Pejuang Kemerdekaan






Habib Salim bin Jindan Jakarta,
Ulama & Pejuang Kemerdekaan

Ulama habib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan - yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.

Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut. Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.

Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, "Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka." Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, "Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan."

Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.

Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman - cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah

Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.

Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.

Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan - yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, "Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?" Maka jawab Habib Salim, "Semua orang akan menjawab, yang
hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai." Lalu kata pendeta itu, "Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut keyakinan Habib -- belum mati, masih hidup."

"Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang," jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. "Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin," kata Habib Salim kala itu.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.

Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim - dua putra almarhum Habib Novel. "Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau," kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.

Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. "Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain." Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim

Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani - Makkah


Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani - Makkah


Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki. Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain. Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn
Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak lainnya. Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang ‘alim kontemporer dalam ilmu hadits, ‘alim mufassir (penafsir) Qur’an, Fiqh, doktrin (‘aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah).

Sayyid Muhammad al-Makki merupakan seorang ‘aliim yang mewarisi pekerjaan dakwah ayahanda, membina para santri dari berbagai daerah dan negara di dunia Islam di Makkah al-Mukarromah. Ayahanda beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama sepuh di Indonesia, seperti Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Maimun Zubair dan lain-lain. Dalam meneruskan perjuangan ayahandanya, Sayyid Muhammad sebelumnya mendapatkan sedikit kesulitan karena beliau merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihannya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidil Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universitas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau. Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjidil haram atau di rumah tidak bertumpu pada ilmu tertentu seperti di Universitas, akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama.

Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di Indonesia, India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dakwah Sayyid Muhammad al Maliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit yang masuk ke dalam pemerintahan. Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari, beliau juga mengasuh pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar, para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayyid Muhammad al Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih- lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku, baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan memecahkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang benar bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan.

Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang diinginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak sependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, mereka sangat pandai, di samping menguasai bahasa Arab, mereka juga menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan pegangan dan referensi di negara-negara mereka. Pada akhir hayat beliau saat terjadi insiden teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syekh Sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 DhulQo’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist (keras). Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”.

Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas. Pada tg 11/11/1424 H, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah. Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau juga seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll. Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red. bersinar layaknya suatu kemilau mutiara.

Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan oleh ‘rumah Najd’ dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

Saat kaum Salafi-Wahhabi mendiskreditkan beliau, beliau pun menulis lebih banyak buku dan mendirikan Zawiyyah beliau sendiri yang menjadi “United Nations” (Perserikatan Bangsa- Bangsa) dari para ‘Ulama. Akhirnya, protes dari dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha mereka mem-peti es-kan sang ‘alim kontemporer’ yang paling terkenal dalam mazhab Maliki ini. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mendukung beliau. Kedengkian mereka sebenarnya didorong oleh fakta bahwa Sayyid Muhammad al-Maliki jauh lebih unggul untuk dijadikan tandingan mereka. Dengan sendirian saja, beliau mengambil Islam Sunni dari klaim tangan-tangan Neo-Khawarij Salafi-Wahhabi dan menempatkannya kembali ke tangan mayoritas ummat ini. Melalui berbagai karya-karyanya yang menonjol, beliau menyuntikkan kepercayaan diri yang amat dibutuhkan dalam perdebatan saat kaum jahil yang mengandalkan ijtihad pribadi mulai meracuni pemikiran umat Islam.

Beliau wafat hari jumat tgl 15 ramadhan 1425 H ( 2004 M) dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping makam istri Rasulullah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini. Dan yang menyaksikan pemakaman beliau hampir seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, setelah disholatkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

Ketika jenazah Sayyid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan toko-toko di sekitar Masjidil Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita. Kebesaran keluarga Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Jadi tidak heran dengan meninggalnya Sayyid Muhammad Al Maliki umat Islam telah kehilangan satu ulama yang telah mengoreskan tinta sejarah perjuangan menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini yang menjadi tauladan buat kita semua.

hari asyura







Hari Asyura adalah hari yang bersejarah, hari dimana Allah SWT, telah mengampuni hamba-hambaNya yang bertaubat, serta memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah diperbuat. Sehingga hari itu merupakan hari maghfiroh atau hari pengampunan. Itulah diantara alasan-alasan mengapa hari Asyura diperingati.
BERIKUT PERISTIWA PENTING YANG JUGA TERJADI PADA BULAN MUHARRAM :
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan dan mendaratkan Nabi Nuh as dengan kapalnya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun bersama tentaranya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Yunus as dari ikan Khuut (Paus).
Di samping itu masih banyak lagi peristiwa yang terjadi pada hari Asyura.
Cara orang-orang Yahudi memperingati hari Asyura, diantaranya ada yang dengan merayakan hari tersebut dengan berpuasa sehari, tepatnya berpuasa pada hari ke sepuluh dalam bulan Muharram.
Orang-orang Arab Jahiliyah juga mengikuti jejak orang-orang Yahudi, mereka merayakan hari itu, bahkan pada hari itu mereka membungkus Ka’bah dengan kain.
Adapun sebab dan cara Rasulullah memperingati Asyura, maka diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim sebagai berikut :
Ketika Rasulullah saw kembali ke Madinah (dari bepergian) beliau mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, kemudian beliau berkata kepada mereka : “Hari apa yang kalian puasai ini?” Mereka menjawab : “Hari ini adalah hari yang sangat mulia, hari di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya. Oleh karena Musa as berpuasa pada hari tersebut sebagai rasa syukur kepada Allah, maka kami ikut berpuasa.
Kemudian Rasulullah berkata: “Kami lebih berhak dan lebih utama dalam mengikuti Nabi Musa as daripada kalian.” Selanjutnya Nabi Muhammad berpuasa dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Bahkan beliau kemudian menganjurkan agar umatnya berpuasa dua hari, yaitu pada hari kesembilan dan kesepuluh (9 10 Muharam) dan puasa tersebut dikenal dengan puasa Tasua dan Asyura. oleh karena itu kita sekarang memperingati hari tersebut, kita memperingati dengan melaksanakan apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dimana agar kita berpuasa dan bertaubat memohon ampunan dari Allah atas segala dosa yang telah kita perbuat. Karena di hari Asyura Allah memberikan ampunan (magfiroh) pada hamba-hambaNya yang berdo’a memohon ampunan. Disamping masih banyak lagi ajaran Rasulullah, seperti agar kita banyak bersodaqoh pada anak yatim.
trus keutamaannya apa dari puasa sunnah atau amalan lainnya ? ni dia keutamaanya puasa asyura (sumber
Di masa hidupnya Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya shalallaahu ‘alaihi wassalam. Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata,”Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.
Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini. Oleh karena itu ketika beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam ditanya pada satu kesempatan tentang puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan, beliau menjawab bulan Allah Muharram
JADI JANGAN RAGU LAGI, SANGAT DIANJURKANNYA PUASA ASYURA 9 DAN 10 MUHARRAM YAITU SABTU DAN AHAD BESOK.
OLEH JUNJUNGAN KITA AMALAN SUNAH INI SANGAT DIUTAMAKAN BAHKAN SABDA NABI SEBELUMNYA BAHWA NABI TIDAK MENJAGA PUASA SATU HARI KARENA KEUTAMAANNYA DIBANDINGAKN HARI LAIN KECUALI RAMADHAN DAN ASYURO.
TRUS WHY NOT ,ALL TEMEN BANIN SEMUA, MARI KITA BERPUASA, AQ JUGA PENGEN PUASA AKHH (MOGA BISA..)

kitab dalail khoirot








Syekh Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli seorang Wali besar yang pada zamannya, mengadakan pejalanan, sehingga beliau berada di tengah padang yang tandus, dan ketika itu beliau hendak ingin melaksnakan ibadah, dan mau berwudlu, akan tetapi beliau tidak menemukan setetes pun air yang keluar dari sumur yang biasa diambil airnya untuk minumdan wudlu oleh para gembala kambing di pada pasir tersebut. Alhamdulillah ternya beliau menemukan sumur, akan tetapi ketika itu beliau sempat kebingungan, karena sumur tersebut airnya tidak bisa diambil krn tdk ada gayungnya ( timbo = bahasa jawa ).

Kemudian ada seorang perempuan ( menurut riwayat perempuan tersebut adalah Rabiah Al Adawiyah yang terkenal akan ajaran sufinya dengan ajaran Cinta ) yang melihatnya, dari bukit yang tinggi dan mengatakan : “ wahai fulan siapakah engkau…???  “ Aku al jazuli…” jawab beliau dan Perempuan itu mengatakan : “ engkau adalah seorang yang sangat terkenal dan dipuji di kalangan orang-orang sholeh, kenapa harus bingung tidak ada air…? “

Perempuan tersebut kemudian membacakan sholawat atas Nabi Muhammad SAW di depan sumur tsb, lalu datanglah air dari dalam sumur tersebut naik hingga melimpah, dan al jazuli pun sangat bersyukur dapat berwudlu untuk menunaikan ibadahnya. Setelah berwudlu Syeikh Sulaiman Al Jazuli bertanya kepada perempuan tersebut : “ Wahai Hamba Alloh yang Sholehah….apa yang menyebabkan engkau mendapat karomah ( anugrah luar biasa ) sehebat itu…? “ Perempuan itu menjawab : “ karena setiap hari dan malam lisanku tidak pernah berhenti membaca sholawat kpd Muhammad SAW. Penuh dg cinta dan rinduku kpdnya “ Mendengar jawaban spt itu, kemudian Al jazuli kembali pulang, dan bersumpah pada dirinya, untuk tidak melanjutkan perjalanannya, kemudian beliau pulang dan menyepi di kamar khususnya selama hampir 15 tahun untuk mengarang kitab tentang sholawat kpd Nabi Muhammad SAW.

Setelah kitab tsb selesai di karangnya, kitab tsb di beri nama DALAILUL KHOIROT. Kemudian kitab tersebut di ajar-ajarkan kpd murid-muridnya. Kemudian setelah kitab tersebut di ajarkan kpd murid-muridnya, Syeikh Sulaiman Al Jazuli wafat, pada 16 Robiul Awwal 870 H pada usia 63 Tahun, di makamkan di pinggir sungai. Ketika, terjadi banjir besar, orang2 desa disekitar makam syeikh sulaiman al jazuli  merasa hawatir, bahwa di pinggir sungai tersebut ada sebuah makam, akhirnya mereka bermusyawarah utk memindahkan jasad yang tertanam di dalam makam tersebut, untuk di pindah di belakang masjid desa jazulah maghribi ( maroko ). Setelah makam di bongkar, masyarkat desa ta’jub yang luar biasa karena semerbak harum nan wangi semerbak dari dalam makam ( kuburan ) tersebut, sangat menakjubkan jasadnya masih utuh seperti orang yang baru meninggal, padahal beliau sudah meninggal 3 tahun. Khususon ila Syeikh Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli AL FATIHAH……smoga kita mendapatkan berkah dan sirrnya.Amin

sholawat nariyah dan sholawat wahidiyyah



Fadilat berselawat
1. Amalan yang paling utama.
2. Boleh menghapuskan kesalahan dan dosa.
3. Jaminan untuk mendapat rahmat Allah dunia dan akhirat serta syafaat Nabi S.A.W
4. Menjadi benteng sifat munafik dan kafir.
5. Selamat dari huru hara Hari Akhirat.
6. Menjadi penyebab hajat, doa dan amalan baik diterima Allah.
7. Tiket untuk mudah masuk syurga dan terlepas dari perhisaban yang rumit.
8. Menggantikan sedekah bagi mereka yang tidak mampu bersedekah.
9. Dikasihi oleh Nabi S.A.W dan dapat turut serta mendampingi baginda di syurga kelak.
10. Kehidupan di dunia penuh ketenangan dan bahagia manakala di Akhirat kelak terlepas dari segala yang mendukacitakan.
1. Menurut Imam Ad-Dainuri, barangsiapa membaca selawat ini 11 KALI setiap hari setiap lepas sholat 5 waktu, REZEKInya tidak putus-putus dan mendapat kedudukan yang tinggi.

2. Menurut Imam Al-Qurtubi, barangsiapa membaca selawat ini 41 KALI atau 100 KALI, ALLAH akan menghilangkan segala dukacita dan dimudahkan segala urusan kehidupan.

3. Barangsiapa membaca selawat ini 313 KALI setiap hari, nescaya akan terbuka beberapa rahsia ghaib.

4. Barangsiapa membaca selawat ini 4444 KALI akan tercapai segala cita-cita dan hajat dunia dan akhirat.





sholawat wahidiyyah



SEJARAH SINGKAT SHOLAWAT WAHIDIYAH
Pada kira-kira awal bulan Juli 1959, Hadrotul Mukarrom Mbahyai Kyai Haji Abdoel Madjid Ma'roef Pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo - Desa Bandar Lor Kodya Kediri, menerima suatu alamat ghoib dalam keadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Maksud dan isi alamat ghoib tersebut ialah "SUPAYA MENGANGKAT MASYARAKAT". Yang dimaksud adalah ikut serta memperbaiki/membangun mental masyarakat khususnya lewat "Jalan Batiniyah". Mental masyarakat, terutama mental kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW.
Sesudah menerima alamat ghoib tersebut beliau sangat prihatin dan kemudian mengetog/memusatkan kekuatan batin bermujahadah (istilah Wahidiyah) munajat berdepe-depe atau mendekatkan diri kehadlirot Alloh SWT, memohonkan bagi kesejahteraan umat dan masyarakat, terutama bagi perbaikan ahlaq dan mental masyarakat. Di antara doa-doa yang beliau amalkan paling banyak adalah doa sholawat. Sholawat Badawi, Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiat, Sholawat Masyisyiyyah dan masih banyak lagi. Boleh dikatakan hampir seluruh doa-doa sholawat beliau amalkan demi memenuhi maksud adanya alamat ghoib tersebut. Tidak ada waktu yang terbuang tidak dipergunakan membaca Sholawat oleh beliau. Bahkan amalan Beliau sebelum datangnya alamat ghoib ter­sebut yang paling banyak adalah doa sholawat kepada junjungan Kita Kanjeng Nabi Muhammad saw. Jika beliau bepergian dengan naik sepeda memegang stir dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan dimasukkan dalam saku bajunya, ternyata memutar tasbih di dalam saku baju tersebut. Amalan doa sholawat Nariyah misalnya, berkali-kali beliau hatamkan 4444 kali dalam tempo satu jam kurang lebih. Dengan penuh ketekunan dari prihatin yang sangat mendalam, beliau tidak henti-hentinya bermujahadah dan melakukan riyadloh-riyadloh seperti puasa sunnat dan sebagainya demi melaksanakan maksud alamat ghoib tersebut, dan tidak seorangpun dari keluarganya yang mengetahui bahwa beliau sedang melaksanakan suatu tugas yang sangat berat. Tugas yang harus dilaksanakan bukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga beliau, tetapi untuk kepentingan umat dan masyarakat, untuk kepentingan perbaikan mental dan ahlaq umat manusia yang beraneka warna laku dan pertingkahnya.
Pada kira-kira awal tahun 1963, beliau menerima alamat ghoib lagi seperti kejadian pada tahun 1959. Alamat ghoib yang kedua ini bersifat peringatan terhadap alamat ghoib yang pertama supaya cepat-cepat ikut berusaha memperbaiki mental masyarakat melalui saluran bathiniyah. Maka beliaupun terus lebih meningkatkan lagi mujahadah--mujahadah berdepe-depe kehadlirat Alloh SWT. Sampai-sampai kondisi fisik jasmani beliau seringkali terganggu. Namun demikian bathiniyah beliau tidak terpengaruh oleh kondisi jasmani terus senantiasa berdepe-depe kehadlirat Alloh SWT. memohonkan bagi perbaikan mental dan ahlaq umat masyarakat. Tidak lama sesudah menerima alamat ghoib yang kedua tahun 1963 itu, beliau menerima alamat ghoib dari Alloh SWT. untuk yang ke tiga kalinya. Dan yang sekarang ini lebih keras sifatnya daripada yang kedua. "Malah kulo dipun ancam menawi mboten enggal-enggal berbuat dengan tegas". (Malah saya diancam kalau tidak cepat-­cepat berbuat dengan tegas). Demikian kurang lebih keterangan yang beliau jelaskan. "Saking kerasipun peringatan lan ancaman, kulo ngantos gemeter sak bakdanipun meniko"; (Karena kerasnya peringatan dan ancaraman, saya sampai gemetar sesudah itu) tambah beliau. Selanjutnya beliaupun menjadi lebih prihatin lagi dan terus meningkatkan mujahadah berdepe-depe/lebih dekat memohon kehadlirat Alloh SWT. Dalam situasi bathiniyah yang senantiasa mengarah kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. itu beliau kemudian mengarang suatu Doa Sholawat. "kulo damel oret-oretan" istilah beliau, maka tersusunlah Sholawat "ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLUH . . . ". Sakderengipun kula inggih mboten angen-angen bade nyusun sholawat (sebelumnya saya tidak ada angan-angan menyusun sholawat) Beliau menjelaskan, "Malah anggen kula damel namung kaliyan geloso (malah saya dalam menyusun itu sambil tiduran). Kemudian Sholawat "ALLOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH ..." yang baru lahir dari kandungan bathiniyah yang bergetar dengan frekwensi tinggi kepada Alloh SWT wa Rosulihi SAW, bathiniyah yang dikerumuni oleh rasa tanggung jawab dan prihatin memikirkan umat dan masyarakat itu, disuruh mencoba untuk diamalkan oleh beberapa orang yang dekat pada beliau pada waktu itu. Jika tidak keliru ada tiga orang yang beliau sebut sebagai Pengamal percobaan, yakni Bapak Abdul Jalil (almarhum) termasuk tokoh tua dari desa Jamsaren Kota Kediri, kemudian saudara Mukhtar, pedagang dari desa Bandar Kidul Kediri dan saudara Dahlan santri dari Demak Semarang (pada waktu itu masih remaja). Alhamdulillah ketiga-tiganya melaporkan bahwa setelah mengamalkan "ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLUH ..." dikaruniai rasa tenteram dalam hati, tidak ngongso-ongso dan lebih banyak ingat kepada Alloh SWT. Selanjutnya dicoba lagi beberapa santri disuruh mengamalkan dan hasilnya Alhamdulillah juga sama seperti yang dialami oleh tiga orang tersebut diatas, yang kemudian Sholawat "ALLOH­UMMA KAMA ANTA AHLUH ..." ini di sebut "SHOLAWAT MA'RIFAT". Kami mohon keikhlasan para hadlirin-hadlirot dan para pembaca untuk tabarukan dengan membaca Fatihah satu kali dan Sholawat Ma'rifat satu kali. AL FAATIHAH ......... 1x. ALLOHUMMA KAMAA ANTAAHLUH; SHOLLI WASALLIM WABAARIK 'ALA SAYYIDINAA WAMAULAANAA, WASYAFII 'INNA. WAHABIIBINAA; WAQURROTI A'YUNINAA MOHAMMADIN SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAMAA HUWA AHLUH; NAS ALUKALLOHUMMA BIHAQQIHI AN TUGHRIQONAA FII LUJJATI BAHRIL WAHDAH HATTA LAA NARO WALAA ASMA'A, WALAA NAJIDA WALAA NUHISSA, WALAA NATAHARROKA WALAA NASKUNA ILLA BIHAA; WATARZUQONAA TAMAAMA MAGHFIROTIKA YAA ALLOH, WATAMAAMA NI'MATIKA YAA ALLOH, WATAMAAMA MA'RIFATIKA YAA ALLOH, WATAMAAMA MAHABBATIKA YAA ALLOH, WATAMAAMA RIDWAANIKA YAA ALLOH, WASHOLLI WASALLIM WABAARIK ALAIHI WA 'ALA ALIHI WASHOHBIH, 'ADADA MAA AHAATHOBIHI 'ILMUKA WA AHSHOOHU KITAABUK; BIROHMATIKA YAA ARHAMAR-ROOHIMIIN WALHAMDU LILLAHI ROBBIL 'ALAMIN.
Beberapa waktu kemudian tersusun lagi oleh beliau sholawat yang pertama dalam LEMBARAN WAHIDIYAH, yaitu ALLOHUMMA YAA WAHIDU YAA AHAD, YAA WAAJIDU YAA JAWAAD, SHOLLI WASALLIM WABAARIK  'ALA SAYYIDINAA MOHAMMADUW WA ALA ALI SAYYIDINAA MOHAMMAD FII KULLI LAMHATIW WANAFASIM BI'ADADI MA 'LUUMAATILLAHI WAFUYUUDLOOTIHI WA AMDAADIH. Juga Sholawat ini dicoba diamalkan oleh beberapa orang dan Alhamdulillah hasilnya lebih positif lagi, yaitu dikarunia Alloh SWT ketenangan bathin yang lebih mantap. Berturut-turut santri pondok Kedunglo banyak yang mengamalkannya. Dan sementara itu Sholawat "ALLOHUMMA YAA WAHIDU ....." ini mulai diijazahkan secara umum. Tamu-tamu yang berziarah kepada beliau Mbahyai Kyahi diberi ijazah untuk mengamalkan sholawat ini, disamping itu beliau menyuruh untuk menulis Sholawat ini kepada beberapa san­tri yang selanjutnya tulisan itu dikirim kepada para Ulama/Kyai yang diketahui alamatnya dengan surat pengantar yang ditulis oleh beliau sendiri untuk agar bisa diamalkan oleh masyarakat setempat, Sebegitu jauh tidak ada jawaban dari para Ulama/Kyai yang dikirimi. Dari hari kehari makin banyak orang yang datang minta diberi ijazah amalan sholawat tersebut. Ijazah mengamalkan yang beliau berikan adalah ijazah muthlaq, artinya disamping diamalkan sendiri supaya ditularkan/ disampaikan kepada orang lain.
Pada waktu itu beliau Mbahyai Kyahi memberikan pengajian Kitab Hikam sebagai pengajian rutin seminggu sekali pada setiap malam Jum'at yang diikuti oleh santri-santri Ke­dunglo dan beberapa Kyai disekitar kota Kediri. Pada suatu malam Jum'at didalam majlis Pengajian Kitab Al-Hikam tersebut dituliskan Sholawat Ma'rifat "ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLUH ..." kemudian diterangkan oleh beliau dan diijazahkan untuk diamalkan disamping Sholawat "ALLOHUMMA YAA WAHIDU YAA AHAD….”
Seorang Ulama dari desa Pagu Kediri yaitu Bapak KH. Ridwan yang biasanya mengikuti Pengajian Al-Hikam di Kedunglo, ketika melihat tulisan Sholawat ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLUH ... yang pertama kali di papan tulis tersebut memandang dengan penuh keheranan ta'ajjub terhadap susunan bahasa Sholawat tersebut. "Sungguh luar biasa ampuhnya sholawat ini", demikian
kata-katanya sambil menggelengkan kepala.
Demikian seterusnya berjalan dari hari kehari makin banyak orang yang minta ijazah SHOLAWAT WAHIDIYAH dan SHOLAWAT MA'RIFAT. Untuk memenuhi kebutuhan yang bertambah banyak itu seorang pengamal Sholawat Wahidiyah dari Tulung Agung yakni bapak K.H. Muhtar yang juga seorang ahli khot tulis Arab, membuat lembaran Sholawat Wahidiyah : ALLOH­UMMA YAA WAHIDU YAA AHAD ... dan ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLUH ... dengan di stensil yang sangat sederhana atas beaya sendiri dan dibantu oleh beberapa orang pengamal Sholawat Wahidiyah dari Tulung Agung.
Pengajian Kitab Al-Hikam yang diadakan setiap malam Jum'at itu kemudian atas usul dari pengikut pengajian yang pegawai, pengajian dirobah lagi hari, Minggu pagi hingga sekarang, yang juga didahului dengan berjamaah sembahyang tasbih dan mujahadah Sholawat Wahidiyah. Adapun keterangan keterangan yang diberikan oleh beliau Mbahyai Kyahi dalam mengulas Kitab Al-Hikam itu diintegrasikan dengan kuliah-kuliah Wahidiyah. Penjelasan dalam pengajian tersebut menggunakan istilah-istilah/kata-kata populer yang mudah difahami dan mudah diterapkan dalam hati pendengarnya. Soal-soal yang prinsip dan paling pokok bagi kehidupan manusia meliputi bidang ahlaq, Tauhid, bidang mental, adab, bidang kemasyarakatan diuraikan dengan contoh-contoh dan dengan i'tibar-i'tibar yang mudah difahami. Sehingga mudah diterapkan dalam hati sanubari para pengikut penga­jian. Penguraian Ajaran-ajaran Wahidiyah seperti LILLAH BILLAH dan sebagainya disajikan dengan sistimatis, sepadan dengan situasi dan kondisi para pengikut pengajian. Contoh contoh diambilkan dari pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari didalam masyarakat.
Disaat beliau menerangkan soal-soal hakekat wujud, ketika sampai pengertian dan pengetrapan "BIHAQIQOTIL MUHAMMADIYYAH", selanjutnya dikemudian hari disempurnakan dengan penerapan LIRROSUL-BIRROSUL, tersusun pulalah Sholawat yang ketiga yaitu : "YAA SYAFI'AL KHOLQIS SHOLATU WASSALAM..." yang dalam pengamalannya dirangkaikan menjadi satu rangkaian amalan yang didahului dengan bacaan Al-Faatihah bagi Junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, dan bagi beliau Ghoutsi Hadzazzaman dan seterusnya, untuk tabarrukan mari kita baca : 

AL FAATIHAH ............ 1x.
YAA SYAAFI'AL-KHOLQIS-                    &  'ALAIKA NUUROL KHOLQI
SHOLAATU WASSALAAM                            HAADIYAL ANAAM.
WA ASHLAHU WA RUUHAHU               & FAQOD DHOLAMTU ABADAW-
ADRIKNII                                                         WAROBBINII,
WA LAISA LII YAA SAYYIDII                &  FA-IN TARUDDA KUNTU
SIWAAKA                                                          SYAKHSHON HAALIKA

Rangkaian ketiga sholawat termasuk bacaan fatihahnya disebut atau diberi nama "SHOLAWAT WAHIDIYAH". Kata Wahidiyah diambil dan tabarrukan (mengambil baro'ah) dari salah satu Asmaul A'dhom yang terdapat didalam Sholawat yang pertama yaitu "WAAHIDU" artinya "SATU". Satu, tidak terpisah-pisahkan lagi. Mutlak satu, aslan wa abadan. Satu tidak seperti satunya makhluq. Diantara khowasnya "WAAHIDU", seperti disebutkan dalam kitab Sa'adatuddaroini, Rosulullah SAW bersabda yang artinya kurang lebih "ALWAAHIDU”, termasuk Asma Alloh yang Agung (Asmaaul A'dhom) yang barang siapa berdo'a dengan kalimah itu, diijabahi ".
Para ahli mengatakan. : "Bahwa diantara khowasnya (khasiatnya) AL WAAHIHU, yaitu menyembuhkan rasa kebingungan, rasa rupek, rasa gelisah dan kesusahan". Barang siapa membacanya dengan sepenuh hati hudlu’ sebanyak 1000 kali, maka dia dikaruniai Alloh SWT tidak mempunyai rasa takut dan khawatir kepada makhluq, dimana takut kepada makhluq itu adalah sumber dari pada balak bencana di dunia dan di akherat. Dia hanya takut kepada Alloh dan tidak takut kepada selain Alloh!.
Pada kira-kira akhir tahun 1963 diadakan pertemuan silaturrohmi diantara para tokoh dan Ulama’/Kyahi yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah, dari daerah Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang, dan Mojokerto, bertempat di langgar Bapak K.H. Abdul Djalil (almarhum) Jamsaren Kediri. Pertemuan silaturrohmi tersebut langsung dipimpin oleh Hadlrotul Mukarrom Mbahyai Kyahi sendiri. Diantara hasil musyawaroh tersebut ialah susunan redaksi kata-kata yang kemudian ditulis didalam lembaran-lembaran Sholawat Wahidiyah, sebagai petunjuk cara pengamalan Sholawat Wahidiyah, termasuk kata-kata jaminan/garansi, yang insya Alloh redaksi asli dari pada "Jaminan" tersebut diusulkan oleh Hadlrotul Mukarrom Mbahyai Kyahi sendiri didalam musyawarah tersebut dan disetujui. (Periksa lembaran Sholawat Wahidiyah Th. 1964 terlampir).
Kemudian pada awal tahun 1964 menjelang peringatan ulang tahun yang pertama dalam bulan Muharrom tahun ter­sebut, seorang pengamal Sholawat Wahidiyah dari Surabaya yakni Bapak K.H. Mahfudz dari Ampel Surabaya dengan dibantu beberapa kawan, mengusahakan klise Sholawat Wahidiyah yang pertama dan mencetaknya sekali sebanyak kurang lebih dua ribu lima ratus lembar diatas kertas HVS putih atas biaya Almarhumah Ibu H. Nur AGN Surabaya. Pada tahun 1964 sesudah peringatan Ulang Tahun Sholawat Wahidiyah yang pertama, diadakan asrama Wahidiyah di Kedunglo dan diikuti tokoh-tokoh dan para Kyahi yang sudah menerima Sholawat Wahidiyah, dari daerah Kediri, Madiun, Tulung­agung, Blitar, Malang, Jombang, Mojokerto dan Surabaya. Asrama diadakan selama tujuh hari tujuh malam, dan kuliah-Wahidiyah langsung diberikan oleh Hadlrotul Mukar­rom Mbahyai Kyahi sendiri. Di dalam asrama itulah lahirnya nida' "YAA SAYYIDII ... YAA ROSUULALLOH".
Sebagai pelengkap untuk menyempurnakan dan meningkatkan amalan Sholawat Wahidiyah yang sudah ada, maka di dalam lembaran Sholawat Wahidiyahpun kemudian ditambahkan kalimat tersebut. (Periksa terlampir "Lembaran Sholawat Wahi­diyah" yang ditulis pada tahun 1964).
Pada kira-kira awal tahun 1965, ketika Beliau menerangkan hal-hal mengenai Ghoutsu Hadzazzaman r.a., di dalam Kuliah Beliau dalam suatu asrama Wahidiyah yang kedua atau yang ketiga di Kedunglo, lahirlah dari kandungannya:
YAA AYYUHAL-GHOUTSU                     &  'ALAIKA ROBBINII BI- 
SALAAMULLOH                                              IDZNILLAAH,
WANDHUR ILAYYA SAYYIDII              &  MUUSHILATIL-LIL-HADLROTIL
BINADHROH                                                    'ALIYYAH
Suatu jembatan emas yang menghubungkan tepi jurang pertahanan nafsu disuatu fihak dan tepi kebahagiaan kesadaran kepada Alloh wa Rosulihi saw, dilain fihak. Sebagian pengamal Sholawat Wahidiyah menyebutnya "ISTIGHOSAH" dalam Wahidiyah.
Istighosah ini tidak langsung dicantumkan kedalam rangkaian  Sholawat  Wahidiyah  dalam  lembaran-lembaran yang diedarkan kepada masyarakat, tetapi dianjurkan banyak diamalkan oleh mereka yang sudah agak lama mengamalkan Sholawat Wahidiyah, terutama dalam Mujahadah-mujahadah khusus. Begitu juga kalimah nida' "FAFIRRUU ILALLOH", pada waktu itu belum dicantumkan dalam rangkaian pengamalan Sholawat Wahidiyah, tetapi dibaca bersama-sama oleh imam dan makmum pada akhir tiap-tiap do'a. Dan pada waktu itu "WAQUL JAA-AL HAQQU WAZAHAQOL BAATIL INNAL BAATHILA KAANA ZAHUQOO", juga belum dijadikan rangkaian dengan "FAFIRRU ILALLOH" seperti sekarang, tentulah ini suatu kebijaksanaan yang mengandung berbagai macam hikmah dan sirri-sirri yang kita tidak mampu menguraikannya atau tegasnya tidak mengetahuinya. Demikianlah dalam masa-masa sesudah tahun 1965, beberapa waktu lamanya "LEMBARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH"  yang diedarkan kepada masyarakat tetap seperti semula yaitu sampai pada "YAASAYYIDII YAA-ROSUULALLOH".’
Perhatian masyarakat makin hari makin terus bertambah-tambah terhadap Sholawat Wahidiyah. Permintaan-permintaan lembaran Sholawat Wahidiyah makin bertambah-tambah, sekalipun disana sini ada sebagian masyarakat yang tidak mau menerimanya dan bahkan memberikan reaksi terhadap Sholawat Wahidiyah. Kontras terhadap Sholawat Wahidiyah, ternyata dikemudian hari adanya kontras begini begitu terhadap Sholawat Wahidiyah tersebut, ternyata memang merupakan saluran tarbiyah bagi peningkatan kesadaran kepada Alloh wa Rosulihi saw.
Suatu ketika pernah wakil pengamal dari suatu daerah melaporkan kepada Beliau Mbahyai Kyai, bahwa didaerahnya terjadi pengontrasan yang sangat agresif. Dengan ramah dan senyuman Beliau paring jawaban : Mestinipun kito rak matur kasuwun dateng mereka, jalaran kito lajeng mindak/mempeng anggen kito mujahadah. (Mestinya kita kan harus berterima kasih kepada mereka, sebab menjadi makin giat kita bermujahadah).
Di dalam suatu Kuliah umum Wahidiyah yang pernah beliau Hadrotul Mukarrom Mbahyai Kyahi didalam suatu Mujahadah Kubro sesudah Tahun 1970, Beliau memberikan suatu pandangan sikap perjuangan Wahidiyah terhadap adanya kontras-kontras bahwa para kontras terhadap Wahidiyah itu sesungguhnya besar sekali jasanya terhadap Wahidiyah. Mereka-mereka itu adalah "KAWAN SETIA DALAM PERJUANGAN WAHIDIYAH" yang harus kita syukuri.
Pada kira-kira mulai tahun 1968, mulai dimasukkan kedalam rangkaian Sholawat Wahidiyah yang disebarkan kepada masyarakat ialah : "YAA AYYUHAL GHOUTSU ..... dst". Begitu juga :
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI              &  'ALA MOHAMMADIN SYAFII'IL
SALLIMI                                                                        UMAMI,
WAL-ALI WAJ-'ALIL ANAAMA                          &  BIL-WAAHIDIYYATI LIROBBIL
MUSRI’IIN                                                                     'ALAMIIN
ROBBANAGH-FIR YASSIR-                                 QORRIB WA-ALLIF BAINANAA
IFTAH WAHDINAA                                                                 YAA ROBBANAA
Kemudian menjelang tahun 1971 menjelang Pemilihan Umum dinegara kita, ditambah lagi dengan ;
YAA SYAAFI'AL-KHOLQI                                    &  SHOLAATUHU 'ALAIKA MA’
HABIIBALLOHI                                               SALAAMIHI,
DLOLLAT WADLOLLAT HILATII           &  KHUDZ BIYADII YAA SAYYIDII
FII BALDATII                                                               WAL UMMATI
Demikian berturut-turut semakin hari semakin disempurnakan, seirama dengan peningkatan Ajaran Wahidiyah yang diberikan oleh Beliau Hadrotul Mukarrom Mbahyai Kyahi kepada kita dan sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi didalam masyarakat ummat manusia baik didalam maupun diluar negeri.
Pada tahun 1972 dilengkapi dengan do'a permohonan "ALLOHUMMA BAARIK FIIMA KHOtAQTA WAHADZIMIL BALDAH".
Tahun 1973 do'a nida’ "BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM, ALLOHUMMA BIHAQQISMIKAL A'DHOM WABIJAAHI SAYYIDINAA MOHAMMADIN SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM WABIBAROKATI GHOUTSI HAADZAZ ZAMAN WA A'WAANIHI WASAAIRI AULIYAAIKA YAA ALLOH, YAA ALLOH, YAA ALLOH, 'RODLIYALLOHU TA'ALA ANHUM   (3X)   BALLIGH JAMII'AL   'ALAMIIN'NIDAA-ANAA HAADZA "WAJ'AL FIIHI TAKTSIIROM-BAllIGHO (3x) FAINNAKA 'ALA KULLI SYAI-ING QODIIR WABIL IJAABATI JADIIR-(3x).
FAFIRRUU ILALLOH !
WAQUL JAA-ALHAQQU WAZAHAQOL BAATHIL INNAL BAATHILA KAMA ZAHUUQO !
ditambah dengan nida’ "FAFIRUU ILALLOH" dengan berdiri menghadap empat penjuru.
Tahun 1978 dilengkapi dengan do'a "ALLOHUMMA BAARIK FII HAADZHIL MUJAAHADAH YAA ALLOH".
Tahun 1980 dalam Sholawat Ma'rifat diwaktu pembaca sudah  sampai  pada  "WATARZUQONA TAMAAMA MAGHFIROTIKA" ditambah "YAA ALLOH" demikian juga "WATAMAAMA NI'MA.TIKA" dan seterusnya sampai dengan "WATAMAAMA RIDWANIKA" clitam-: bah "YAA ALLOH".
Tahun 1981 do'a "ALLOOHUMMA BAARIK FIIMA KHOLAQTA WAHADZIHIL BALDAH" ditambah "YAA ALLOH", dan do'a "ALLOOH­UMMA BAARIK FII HAADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH" menjadi "WA FII HAADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH", sehingga menjadi rangkaian do'a "ALLOOHUMMA BAARIK FIIMA KHOLAQTA WAHADZI­HIL BALDAH YAA ALLOH, WA FII HAADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH".
Pada tanggal 27 Jumadil Akhir 1401 H atau tanggal 2 Mei 1981 lembaran Sholawat Wahidiyah yang ditulis dengan huruf Al Qur'an itu diperbaharui, hingga seperti yang dapat kita lihat sampai sekarang ini. (Periksa lembaran sholawat Wahidiyah terlampir).
Demikian secara kronologis/urut, lahirnya amalan Sholawat Wahidiyah yang mengalami penyempurnaan di setiap periode. Semua dari masing-masing penyempurnaan itu, sudah barang tentu memiliki sirri-sirri yang kita sekalian tidak mengetahui maknanya, hanya kadang-kadang ada beberapa pengamal ditunjukkan secara bathiniyah sirri-sirri itu. Disamping itu penyempurnaan dari seluruh pengamalan Sholawat Wahidiyah, seirama dengan peningkatan Ajaran-ajaran Wahidiyah yang diberikan Beliau pada kita, dan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi didalam masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Semoga Alloh SWT memberikan barokah terhadap Sholawat Wahidiyah dan memberikan balasan yang sebanyak-banyaknya kepaia Beliau Muallifnya, Hadrotul Mukarrom Mbahyai Kyahi K.H. Abdul Madjid Ma'ruf RA ila yaumil qoyaamah, Amiin !.



tulisan arab shalawat wahidiyah

Total Tayangan Laman