Ia pernah menjadi tukang becak, pencuci piring di
warung.... Kini, karena kesabaran, dengan mengamalkan surah Al-Ashr, ia
hidup berkecukupan dan bahagia beserta keluarganya.
Wakil Ketua Rabitah Alawiyah Bandung, Habib Fauzi bin Alwi Alkaff, memiliki kisah hidup yang unik, berliku, dan penuh suka duka. Boleh dikatakan, lebih banyak dukanya daripada sukanya. Tetapi semua itu dijalani dengan sabar, sehingga sekarang menjadi orang yang terpandang, kaya, keluarga yang bahagia, serta banyak berguna bagi masyarakat.
Filsafat sabar diyakini berasal dari surah Al-Ashr, yang artinya, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” – QS Al-’Ashr (103): 1-3.
Surah itu dibaca Habib Fauzi setiap hari tiga kali sebelum keluar rumah. “Tentu saja saya baca setelah basmalah, Al-Fatihah, dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” ujarnya ketika diwawancarai alKisah di rumahnya, Jalan Inggit Ganarsih Gang Jaksa No. 33, Kelurahan Regol, Kecamatan Pangkur, Bandung, beberapa waktu lalu. Selanjutnya ia berkisah:
Dari Keluarga yang Taat Beragama
Aku dilahirkan sebagai anak lelaki sehat dan dengan masa kecil yang bahagia di kota Palembang.
Dalam catatan almarhumah bibiku, hari kelahiranku adalah Selasa, 25 Maret 1948. Menurut penuturan Ibunda, saat itu kota Palembang diduduki tentara Belanda/NICA/Gurkha yang datang untuk kembali menjajah Indonesia.
Pada saat kemelut peperangan di kota Palembang, ayahku, Sayyid Alwi bin Ahmad Alkaff, ikut berjuang bersama para pejuang Hizbullah untuk mengusir penjajah. Sedangkan ibuku, Hababah Latifah Hanum Bin Syaikh Abu Bakar, dan keluarga lainnya, terpaksa mengungsi ke Sukaraja, Bengkulu.
Aku, anak nomor dua dan anak lelaki tertua dari empat belas bersaudara, dibesarkan dari keluarga yang taat beragama. Aku mengenyam sedikit pendidikan formal Islam di Madrasah Adabiyah setingkat kelas II SD. Kemudian pindah ke Taman Siswa hingga tamat Taman Madya, setingkat SMP. Selanjutnya aku meneruskan pendidikanku di SMA Negeri I Bagian B di Palembang.
Kehidupan keluarga, yang sebelumnya masih berkecukupan dari sejak aku di SMP, berubah, karena datangnya kembali penjajah. Aku bersama adik-adik dan ibuku terpaksa berjuang bersama dengan berbagai usaha, termasuk menjadi pedagang asongan.
Semua kulalui dengan penuh kesabaran, sehingga berhasil menamatkan pendidikan SMA tahun 1966 dan kemudian aku meminta izin kepada kedua orangtuaku untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi di Jawa. Aku terpesona melihat kehidupan mereka yang berpendidikan tinggi yang cukup mewah di mataku, terutama para pegawai perusahaan minyak, yang di antaranya kuliah di Bandung.
Menuju Bandung
Aku berangkat seorang diri melalui jalan darat dan menyeberang ke Pulau Jawa lewat Panjang menuju Merak dan terus ke Bandung via bus.
Sampai di Bandung waktu itu malam hari dan sama sekali aku tidak tahu harus tinggal di mana.
Pada saat terlalu capek, aku mencari tempat tidur ke emperan jalanan dan mencoba membuka koper. Tapi ternyata resletingnya telah disilet, sehingga uang bekal dan sebagian besar pakaian habis. Yang tertinggal hanya dua setel pakaian dan uang sejumlah Rp 20.
Aku terkejut dan sedih, lebih-lebih aku berada di tempat yang belum aku kenal sama sekali. Aku kebingungan, kemudian aku berjalan sambil membawa koper kosong, yang hanya berisi baju dua setel. Ternyata aku sampai di sekitar Stasiun Kereta Api dekat Pasar Baru Bandung.
Hawa dingin kota Bandung sangat terasa, namun Allah SWT masih melindungiku sehingga badanku tetap sehat.
Aku mencari tempat untuk bisa tidur dan shalat. Setelah bertanya, akhirnya aku menemukan sebuah masjid di sekitar Viaduk, Bandung, dan meminta izin untuk tidur di pinggiran masjid.
Setelah shalat Subuh, aku meninggalkan masjid dan menjual koperku di loak, laku terjual Rp 10.
Singkat cerita, aku mendaftar di dua universitas, yaitu Unpad Jurusan Farmasi dan ITB Jurusan Tehnik Perminyakan. Saat itu aku berkenalan dengan salah seorang pendaftar yang memang penduduk Bandung dan tinggal di bilangan Gg. Kamsoei (sekarang Klenteng), Cibadak. Alhamdulillah, hari itu aku diajak menginap di rumahnya.
Keesokan harinya, aku pamit dan mendaftar di Institut Teknologi Tekstil.
Dagang Loak
Sementara menunggu pelaksanaan ujian masuk, persediaan uangku semakin tipis. Untuk mendapatkan makan dan sedikit uang, aku bekerja sebagai tukang cuci piring dan membantu pelayanan makan di warung makan. Upah yang aku terima Rp 2 per hari. Makan tentu gratis, plus menginap atau tidur.
Beberapa hari kemudian aku mengikuti ujian masuk perguraun tinggi di atas, dan beberapa minggu kemudian alhamdulillah aku diterima semuanya. Kemudian aku memilih Jurusan Perminyakan ITB.
Biaya masuk waktu itu sebesar Rp 500, padahal aku hanya memiliki Rp 60. Maka aku mencoba menyelesaikan masalah itu dengan menghadap Pembantu Rektor ITB Jurusan Kemahasiswaan, Drs. Edy K.
Allah SWT menggerakkan hati beliau, sehingga pada akhir 1966 aku diterima, dengan syarat mampu membayar biaya masuk selama enam bulan. Melihat kondisi saat itu, yang penuh dengan pejuangan fisik melawan penjajah, beliau menyarankan untuk tidak mengikuti kuliah selama satu tahun (nol kredit), hanya mengikuti pendidikan kemiliteran Wajib Latih Mahasiswa (Walawa I/awal 1967). Saran ini aku terima.
Setelah mengikuti Walawa I, aku berusaha mencari uang, dan waktu itu yang kupilih menjadi tukang becak, karena di tempat kerja lama tidak mungkin mengumpulkan uang masuk ITB dalam tempo enam bulan.
Aku menyewa becak di Jln. Balubur dengan aktivitas membecak sekitar kebun binatang dan sekitarnya. Aku tinggal atau tidur di tempat pemilik becak.
Ternyata kehidupan dengan cara demikian membuatku berhasil mengumpulkan uang Rp 500 dalam tempo sekitar lima bulan dan langsung membayar uang masuk ke ITB.
Kehidupan sebagai tukang becak kujalani selama lebih kurang delapan bulan.
Demi menjaga kelangsungan kuliah di ITB, aku harus mencoba penghidupan lain.
Alhamdulillah aku memiliki banyak kenalan pelajar dan mahasiswa yang berkecukupan, bahkan mewah. Dimulai akhir 1967, aku sering menjualkan barang berharga milik mereka, kujualkan ke sekitar pasar loak di daerah Citarum/Stasiun KA Tegallega dan Pasar Jam/Kacamatan, sekitar Jln. Pecinan, Bandung. Selain mendapat keuntungan penjualan, kadangkala aku juga diberikan tips sebagai ucapan terima kasih mereka.
Suatu saat aku shalat di Masjid Salman ITB, aku berkenalan dengan orangtua yang mengusulkan aku menjadi guru privat matematika/fisika untuk putra dan putri beliau yang masih duduk di SMA, dengan honor yang lumayan. Profesi ini membuat kehidupanku menjadi lebih baik, dan akhirnya aku menyewa kamar di seputar Dago, bersama seorang teman yang kuliah di Universitas Parahyangan.
Pada 1969, aku mulai mencoba menjadi loper buku dan membuat cetakan stensilan bekerja sama dengan seorang teman berasal dari Medan bernama Arsil Tanjung, yang satu tempat kuliah.
Penghasilan semakin mencukupi dan usaha ini aku lakukan sampai tahun 1975. Dari hasil usaha itu, aku dapat membantu keluarga dan menyekolahkan adik-adikku. Aku bahkan berhasil menambah investasi, termasuk saham atau hasil usaha, yang kemudian dijalankan oleh beberapa adik lelakiku.
Semangat Kemandirian
Setelah menamatkan kuliah di ITB Jurusan Perminyakan, aku mencoba menerapkan ilmu yang kuperoleh dari kuliah dan bekerja di beberapa perusahaan minyak asing, kemudian pindah ke BUMN Pertamina tahun 1977.
Karierku dimulai dari aktivitas di Pusat, yang kemudian menyekolahkanku di Asian Institute of Technology (AIT) di Bangkok dan aku berhasil menyelesaikannya dengan nilai baik.
Kemudian aku menikah dengan seorang putri Bandung, Syarifah Mardiah Alaydarus, anak ulama terkenal di Bandung, (almarhum) Habib Ahmad bin Hasyim Alaydarus. Beberapa bulan kemudian aku dipindahtugaskan di Aceh Timur. Di sana kami dikurnai Allah SWT dua putra, yaitu M. Fahrizal Alkaff dan M. Yusuf Alkaff. Lalu, kami pindah ke Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan di sana kami dikaruniai seorang putri, bernama Meishkafadiah Alkaff.
Di Pertamina, karierku dalam bidang eksplorasi dan produksi terus meningkat, sehingga aku menjadi pimpinan operasi daerah Pulau Jawa, general manager Perusahaan JOB Pertamina Santa Fee, dan terakhir dipercaya untuk mendirikan Perusahaan Investasi Pertamina, bernama PT Pertahulu Energy (saat ini anak perusahaan Pertamina hulu yang terbesar), sekaligus sebagai pimpinan utamanya, sampai pensiun.
Pada 2002, aku bekerja di perusahaan investasi Amerika di Singapura dan ditunjuk sebagai pimpinan Asia dan Timur Jauh berpusat di Singapura. Sejak saat itu, jiwa kemandirianku bangkit lagi.
Pada tahun 2004 aku mengundurkan diri dan mulai memikirkan usaha di Indonesia, terutama setelah anak sulungku, M. Yusuf Alkaff, menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Pasundan, Bandung.
Antara lain, aku membeli sebuah bangunan lengkap dengan apoteknya di Jln. Pagarsih untuk dikelola olehnya sekaligus mendirikan badan usaha bernama CV Alkaff Family. Ia melanjutkan usaha lain, termasuk minimarket Sriwijaya Mart, yang terus berkembang di Bandung dan sekitarnya, serta jual beli properti.
Pada 2006, anak bungsuku, Meishkafadiah Alkaff, menyelesaikan sarjana teknik elektronya, dan saat ini masih bekerja di Divisi Pengembangan PT Garuda Indonesia Airways. Sedangkan anakku yang kedua telah menyelesaikan fakultas kedokteran dan pernah berdinas di Ternate, Maluku, 2007-2010. Saat ini ia tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang spesialisasi penyakit dalam.
Dalam bisnis, aku sendiri kini membatasi diri dalam kegiatan perdagangan saham. Sedang dalam organisasi, aku aktif dalam Himpunan Pengusaha Pribumi (Hipmi) Jawa Barat, Yayasan Pensiunan Pertamina Bandung, dan Rabithah Alawiyah Bandung.
Memang banyak amalan yang bisa dilakukan setiap muslim, tetapi aku mengambil kesabaran sebagai inti dalam semua muamalah. Sebab semua pekerjaan harus dilalui melalui berbagai tahap. Karena itulah dalam menapaki setiap tahap itu kita menjalankannya dengan kesabaran, sebagaimana dipesankan di dalam surah Al-’Ashr.
sumber :majalah alkisah.com
Wakil Ketua Rabitah Alawiyah Bandung, Habib Fauzi bin Alwi Alkaff, memiliki kisah hidup yang unik, berliku, dan penuh suka duka. Boleh dikatakan, lebih banyak dukanya daripada sukanya. Tetapi semua itu dijalani dengan sabar, sehingga sekarang menjadi orang yang terpandang, kaya, keluarga yang bahagia, serta banyak berguna bagi masyarakat.

Filsafat sabar diyakini berasal dari surah Al-Ashr, yang artinya, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” – QS Al-’Ashr (103): 1-3.
Surah itu dibaca Habib Fauzi setiap hari tiga kali sebelum keluar rumah. “Tentu saja saya baca setelah basmalah, Al-Fatihah, dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” ujarnya ketika diwawancarai alKisah di rumahnya, Jalan Inggit Ganarsih Gang Jaksa No. 33, Kelurahan Regol, Kecamatan Pangkur, Bandung, beberapa waktu lalu. Selanjutnya ia berkisah:
Dari Keluarga yang Taat Beragama
Aku dilahirkan sebagai anak lelaki sehat dan dengan masa kecil yang bahagia di kota Palembang.
Dalam catatan almarhumah bibiku, hari kelahiranku adalah Selasa, 25 Maret 1948. Menurut penuturan Ibunda, saat itu kota Palembang diduduki tentara Belanda/NICA/Gurkha yang datang untuk kembali menjajah Indonesia.
Pada saat kemelut peperangan di kota Palembang, ayahku, Sayyid Alwi bin Ahmad Alkaff, ikut berjuang bersama para pejuang Hizbullah untuk mengusir penjajah. Sedangkan ibuku, Hababah Latifah Hanum Bin Syaikh Abu Bakar, dan keluarga lainnya, terpaksa mengungsi ke Sukaraja, Bengkulu.
Aku, anak nomor dua dan anak lelaki tertua dari empat belas bersaudara, dibesarkan dari keluarga yang taat beragama. Aku mengenyam sedikit pendidikan formal Islam di Madrasah Adabiyah setingkat kelas II SD. Kemudian pindah ke Taman Siswa hingga tamat Taman Madya, setingkat SMP. Selanjutnya aku meneruskan pendidikanku di SMA Negeri I Bagian B di Palembang.
Kehidupan keluarga, yang sebelumnya masih berkecukupan dari sejak aku di SMP, berubah, karena datangnya kembali penjajah. Aku bersama adik-adik dan ibuku terpaksa berjuang bersama dengan berbagai usaha, termasuk menjadi pedagang asongan.
Semua kulalui dengan penuh kesabaran, sehingga berhasil menamatkan pendidikan SMA tahun 1966 dan kemudian aku meminta izin kepada kedua orangtuaku untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi di Jawa. Aku terpesona melihat kehidupan mereka yang berpendidikan tinggi yang cukup mewah di mataku, terutama para pegawai perusahaan minyak, yang di antaranya kuliah di Bandung.
Menuju Bandung
Aku berangkat seorang diri melalui jalan darat dan menyeberang ke Pulau Jawa lewat Panjang menuju Merak dan terus ke Bandung via bus.
Sampai di Bandung waktu itu malam hari dan sama sekali aku tidak tahu harus tinggal di mana.
Pada saat terlalu capek, aku mencari tempat tidur ke emperan jalanan dan mencoba membuka koper. Tapi ternyata resletingnya telah disilet, sehingga uang bekal dan sebagian besar pakaian habis. Yang tertinggal hanya dua setel pakaian dan uang sejumlah Rp 20.
Aku terkejut dan sedih, lebih-lebih aku berada di tempat yang belum aku kenal sama sekali. Aku kebingungan, kemudian aku berjalan sambil membawa koper kosong, yang hanya berisi baju dua setel. Ternyata aku sampai di sekitar Stasiun Kereta Api dekat Pasar Baru Bandung.
Hawa dingin kota Bandung sangat terasa, namun Allah SWT masih melindungiku sehingga badanku tetap sehat.
Aku mencari tempat untuk bisa tidur dan shalat. Setelah bertanya, akhirnya aku menemukan sebuah masjid di sekitar Viaduk, Bandung, dan meminta izin untuk tidur di pinggiran masjid.
Setelah shalat Subuh, aku meninggalkan masjid dan menjual koperku di loak, laku terjual Rp 10.
Singkat cerita, aku mendaftar di dua universitas, yaitu Unpad Jurusan Farmasi dan ITB Jurusan Tehnik Perminyakan. Saat itu aku berkenalan dengan salah seorang pendaftar yang memang penduduk Bandung dan tinggal di bilangan Gg. Kamsoei (sekarang Klenteng), Cibadak. Alhamdulillah, hari itu aku diajak menginap di rumahnya.
Keesokan harinya, aku pamit dan mendaftar di Institut Teknologi Tekstil.
Dagang Loak
Sementara menunggu pelaksanaan ujian masuk, persediaan uangku semakin tipis. Untuk mendapatkan makan dan sedikit uang, aku bekerja sebagai tukang cuci piring dan membantu pelayanan makan di warung makan. Upah yang aku terima Rp 2 per hari. Makan tentu gratis, plus menginap atau tidur.
Beberapa hari kemudian aku mengikuti ujian masuk perguraun tinggi di atas, dan beberapa minggu kemudian alhamdulillah aku diterima semuanya. Kemudian aku memilih Jurusan Perminyakan ITB.
Biaya masuk waktu itu sebesar Rp 500, padahal aku hanya memiliki Rp 60. Maka aku mencoba menyelesaikan masalah itu dengan menghadap Pembantu Rektor ITB Jurusan Kemahasiswaan, Drs. Edy K.
Allah SWT menggerakkan hati beliau, sehingga pada akhir 1966 aku diterima, dengan syarat mampu membayar biaya masuk selama enam bulan. Melihat kondisi saat itu, yang penuh dengan pejuangan fisik melawan penjajah, beliau menyarankan untuk tidak mengikuti kuliah selama satu tahun (nol kredit), hanya mengikuti pendidikan kemiliteran Wajib Latih Mahasiswa (Walawa I/awal 1967). Saran ini aku terima.
Setelah mengikuti Walawa I, aku berusaha mencari uang, dan waktu itu yang kupilih menjadi tukang becak, karena di tempat kerja lama tidak mungkin mengumpulkan uang masuk ITB dalam tempo enam bulan.
Aku menyewa becak di Jln. Balubur dengan aktivitas membecak sekitar kebun binatang dan sekitarnya. Aku tinggal atau tidur di tempat pemilik becak.
Ternyata kehidupan dengan cara demikian membuatku berhasil mengumpulkan uang Rp 500 dalam tempo sekitar lima bulan dan langsung membayar uang masuk ke ITB.
Kehidupan sebagai tukang becak kujalani selama lebih kurang delapan bulan.
Demi menjaga kelangsungan kuliah di ITB, aku harus mencoba penghidupan lain.
Alhamdulillah aku memiliki banyak kenalan pelajar dan mahasiswa yang berkecukupan, bahkan mewah. Dimulai akhir 1967, aku sering menjualkan barang berharga milik mereka, kujualkan ke sekitar pasar loak di daerah Citarum/Stasiun KA Tegallega dan Pasar Jam/Kacamatan, sekitar Jln. Pecinan, Bandung. Selain mendapat keuntungan penjualan, kadangkala aku juga diberikan tips sebagai ucapan terima kasih mereka.
Suatu saat aku shalat di Masjid Salman ITB, aku berkenalan dengan orangtua yang mengusulkan aku menjadi guru privat matematika/fisika untuk putra dan putri beliau yang masih duduk di SMA, dengan honor yang lumayan. Profesi ini membuat kehidupanku menjadi lebih baik, dan akhirnya aku menyewa kamar di seputar Dago, bersama seorang teman yang kuliah di Universitas Parahyangan.
Pada 1969, aku mulai mencoba menjadi loper buku dan membuat cetakan stensilan bekerja sama dengan seorang teman berasal dari Medan bernama Arsil Tanjung, yang satu tempat kuliah.
Penghasilan semakin mencukupi dan usaha ini aku lakukan sampai tahun 1975. Dari hasil usaha itu, aku dapat membantu keluarga dan menyekolahkan adik-adikku. Aku bahkan berhasil menambah investasi, termasuk saham atau hasil usaha, yang kemudian dijalankan oleh beberapa adik lelakiku.
Semangat Kemandirian
Setelah menamatkan kuliah di ITB Jurusan Perminyakan, aku mencoba menerapkan ilmu yang kuperoleh dari kuliah dan bekerja di beberapa perusahaan minyak asing, kemudian pindah ke BUMN Pertamina tahun 1977.
Karierku dimulai dari aktivitas di Pusat, yang kemudian menyekolahkanku di Asian Institute of Technology (AIT) di Bangkok dan aku berhasil menyelesaikannya dengan nilai baik.
Kemudian aku menikah dengan seorang putri Bandung, Syarifah Mardiah Alaydarus, anak ulama terkenal di Bandung, (almarhum) Habib Ahmad bin Hasyim Alaydarus. Beberapa bulan kemudian aku dipindahtugaskan di Aceh Timur. Di sana kami dikurnai Allah SWT dua putra, yaitu M. Fahrizal Alkaff dan M. Yusuf Alkaff. Lalu, kami pindah ke Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan di sana kami dikaruniai seorang putri, bernama Meishkafadiah Alkaff.
Di Pertamina, karierku dalam bidang eksplorasi dan produksi terus meningkat, sehingga aku menjadi pimpinan operasi daerah Pulau Jawa, general manager Perusahaan JOB Pertamina Santa Fee, dan terakhir dipercaya untuk mendirikan Perusahaan Investasi Pertamina, bernama PT Pertahulu Energy (saat ini anak perusahaan Pertamina hulu yang terbesar), sekaligus sebagai pimpinan utamanya, sampai pensiun.
Pada 2002, aku bekerja di perusahaan investasi Amerika di Singapura dan ditunjuk sebagai pimpinan Asia dan Timur Jauh berpusat di Singapura. Sejak saat itu, jiwa kemandirianku bangkit lagi.
Pada tahun 2004 aku mengundurkan diri dan mulai memikirkan usaha di Indonesia, terutama setelah anak sulungku, M. Yusuf Alkaff, menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Pasundan, Bandung.
Antara lain, aku membeli sebuah bangunan lengkap dengan apoteknya di Jln. Pagarsih untuk dikelola olehnya sekaligus mendirikan badan usaha bernama CV Alkaff Family. Ia melanjutkan usaha lain, termasuk minimarket Sriwijaya Mart, yang terus berkembang di Bandung dan sekitarnya, serta jual beli properti.
Pada 2006, anak bungsuku, Meishkafadiah Alkaff, menyelesaikan sarjana teknik elektronya, dan saat ini masih bekerja di Divisi Pengembangan PT Garuda Indonesia Airways. Sedangkan anakku yang kedua telah menyelesaikan fakultas kedokteran dan pernah berdinas di Ternate, Maluku, 2007-2010. Saat ini ia tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang spesialisasi penyakit dalam.
Dalam bisnis, aku sendiri kini membatasi diri dalam kegiatan perdagangan saham. Sedang dalam organisasi, aku aktif dalam Himpunan Pengusaha Pribumi (Hipmi) Jawa Barat, Yayasan Pensiunan Pertamina Bandung, dan Rabithah Alawiyah Bandung.
Memang banyak amalan yang bisa dilakukan setiap muslim, tetapi aku mengambil kesabaran sebagai inti dalam semua muamalah. Sebab semua pekerjaan harus dilalui melalui berbagai tahap. Karena itulah dalam menapaki setiap tahap itu kita menjalankannya dengan kesabaran, sebagaimana dipesankan di dalam surah Al-’Ashr.
sumber :majalah alkisah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com