koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Selasa, Maret 26, 2013

Habib Fauzi bin Alwi Alkaff : Berkah Mengamalkan Surah Al-’Ashr

Ia pernah menjadi tukang becak, pencuci piring di warung.... Kini, karena kesabaran, dengan mengamalkan surah Al-Ashr, ia hidup berkecukupan dan bahagia beserta keluarganya.
Wakil Ketua Rabitah Alawiyah Bandung, Habib Fauzi bin Alwi Alkaff, memiliki kisah hidup yang unik, berliku, dan penuh suka duka. Boleh dikatakan, lebih banyak dukanya daripada sukanya. Tetapi se­mua itu dijalani dengan sabar, sehingga sekarang menjadi orang yang terpan­dang, kaya, keluarga yang bahagia, serta banyak berguna bagi masyarakat.www.majalah-alkisah.com
Filsafat sabar diyakini berasal dari surah Al-Ashr, yang artinya, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan me­nger­jakan amal shalih dan nasihat-menasi­hati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” – QS Al-’Ashr (103): 1-3.
Surah itu dibaca Habib Fauzi setiap hari tiga kali sebelum keluar rumah. “Ten­tu saja saya baca setelah basmalah, Al-Fatihah, dan shalawat kepada Nabi Mu­hammad Shallallahu ‘Alaihi Was­allam,” ujarnya ketika diwawancarai alKisah di rumahnya, Jalan Inggit Ganarsih Gang Jaksa No. 33, Kelurahan Regol, Keca­matan Pangkur, Bandung, beberapa waktu lalu. Selanjutnya ia berkisah:
Dari Keluarga yang Taat Beragama
Aku dilahirkan sebagai anak lelaki sehat dan dengan masa kecil yang ba­hagia di kota Palembang.
Dalam catatan almarhumah bibiku, hari kelahiranku adalah Selasa, 25 Maret 1948. Menurut penuturan Ibunda, saat itu kota Palembang diduduki tentara Belanda/NICA/Gurkha yang datang untuk kembali menjajah Indonesia.
Pada saat kemelut peperangan di kota Palembang, ayahku, Sayyid Alwi bin Ahmad Alkaff, ikut berjuang bersama para pejuang Hizbullah untuk mengusir penjajah. Sedangkan ibuku, Hababah Latifah Hanum Bin Syaikh Abu Bakar, dan keluarga lainnya, terpaksa meng­ungsi ke Sukaraja, Bengkulu.
Aku, anak nomor dua dan anak lelaki tertua dari empat belas bersaudara, di­besarkan dari keluarga yang taat ber­agama. Aku mengenyam sedikit pendi­dikan formal Islam di Madrasah Ada­biyah setingkat kelas II SD. Kemudian pindah ke Taman Siswa hingga tamat Taman Madya, setingkat SMP. Selan­jutnya aku meneruskan pendidikanku di SMA Negeri I Bagian B di Palembang.
Kehidupan keluarga, yang sebelum­nya masih berkecukupan dari sejak aku di SMP, berubah, karena datangnya kembali penjajah. Aku bersama adik-adik dan ibuku terpaksa berjuang ber­sama dengan berbagai usaha, termasuk menjadi pedagang asongan.
Semua kulalui dengan penuh kesa­baran, sehingga berhasil menamatkan pendidikan SMA tahun 1966 dan kemu­dian aku meminta izin kepada kedua orangtuaku untuk melanjutkan pendidik­an sampai perguruan tinggi di Jawa. Aku terpesona melihat kehidupan mereka yang berpendidikan tinggi yang cukup mewah di mataku, terutama para pega­wai perusahaan minyak, yang di antara­nya kuliah di Bandung.
Menuju Bandung
Aku berangkat seorang diri melalui jalan darat dan menyeberang ke Pulau Jawa lewat Panjang menuju Merak dan terus ke Bandung via bus.
Sampai di Bandung waktu itu malam hari dan sama sekali aku tidak tahu harus tinggal di mana.
Pada saat terlalu capek, aku mencari tempat tidur ke emperan jalanan dan mencoba membuka koper. Tapi ternyata resletingnya telah disilet, sehingga uang bekal dan sebagian besar pakaian habis. Yang tertinggal hanya dua setel pakaian dan uang sejumlah Rp 20.
Aku terkejut dan sedih, lebih-lebih aku berada di tempat yang belum aku kenal sama sekali. Aku kebingungan, kemudian aku berjalan sambil mem­bawa koper kosong, yang hanya berisi baju dua setel. Ternyata aku sampai di sekitar Stasiun Kereta Api dekat Pasar Baru Bandung.
Hawa dingin kota Bandung sangat terasa, namun Allah SWT masih melin­dungiku sehingga badanku tetap sehat.
Aku mencari tempat untuk bisa tidur dan shalat. Setelah bertanya, akhirnya aku menemukan sebuah masjid di sekitar Viaduk, Bandung, dan meminta izin untuk tidur di pinggiran masjid.
Setelah shalat Subuh, aku mening­galkan masjid dan menjual koperku di loak, laku terjual Rp 10.
Singkat cerita, aku mendaftar di dua universitas, yaitu Unpad Jurusan Far­masi dan ITB Jurusan Tehnik Permi­nyakan. Saat itu aku berkenalan dengan salah seorang pendaftar yang memang penduduk Bandung dan tinggal di bi­langan Gg. Kamsoei (sekarang Klen­teng), Cibadak. Alhamdulillah, hari itu aku diajak menginap di rumahnya.
Keesokan harinya, aku pamit dan mendaftar di Institut Teknologi Tekstil.
Dagang Loak
Sementara menunggu pelaksanaan ujian masuk, persediaan uangku sema­kin tipis. Untuk mendapatkan makan dan sedikit uang, aku bekerja sebagai tukang cuci piring dan membantu pelayanan ma­kan di warung makan. Upah yang aku te­rima Rp 2 per hari. Makan tentu gratis, plus menginap atau tidur.
Beberapa hari kemudian aku mengi­kuti ujian masuk perguraun tinggi di atas, dan beberapa minggu kemudian alham­dulillah aku diterima semuanya. Kemu­dian aku memilih Jurusan Perminyakan ITB.
Biaya masuk waktu itu sebesar Rp 500, padahal aku hanya memiliki Rp 60. Maka aku mencoba menyelesaikan ma­salah itu dengan menghadap Pembantu Rektor ITB Jurusan Kemahasiswaan, Drs. Edy K.
Allah SWT menggerakkan hati be­liau, sehingga pada akhir 1966 aku di­terima, dengan syarat mampu memba­yar biaya masuk selama enam bulan. Melihat kondisi saat itu, yang penuh de­ngan pejuangan fisik melawan penjajah, beliau menyarankan untuk tidak mengi­kuti kuliah selama satu tahun (nol kredit), hanya mengikuti pendidikan kemiliteran Wajib Latih Mahasiswa (Walawa I/awal 1967). Saran ini aku terima.
Setelah mengikuti Walawa I, aku ber­usaha mencari uang, dan waktu itu yang kupilih menjadi tukang becak, karena di tempat kerja lama tidak mungkin meng­umpulkan uang masuk ITB dalam tempo enam bulan.
Aku menyewa becak di Jln. Balubur dengan aktivitas membecak sekitar ke­bun binatang dan sekitarnya. Aku tinggal atau tidur di tempat pemilik becak.
Ternyata kehidupan dengan cara de­mikian membuatku berhasil mengum­pul­kan uang Rp 500 dalam tempo sekitar lima bulan dan langsung membayar uang masuk ke ITB.
Kehidupan sebagai tukang becak kujalani selama lebih kurang delapan bulan.
Demi menjaga kelangsungan kuliah di ITB, aku harus mencoba penghidupan lain.
Alhamdulillah aku memiliki banyak kenalan  pelajar dan mahasiswa yang berkecukupan, bahkan mewah. Dimulai akhir 1967, aku sering menjualkan ba­rang berharga milik mereka, kujualkan ke sekitar pasar loak di daerah Citarum/Stasiun KA Tegallega dan Pasar Jam/Kacamatan, sekitar Jln. Pecinan, Ban­dung. Selain mendapat keuntungan pen­jualan, kadangkala aku juga diberikan tips sebagai ucapan terima kasih me­reka.
Suatu saat aku shalat di Masjid Salman ITB, aku berkenalan dengan orangtua yang mengusulkan aku men­jadi guru privat matematika/fisika untuk putra dan putri beliau yang masih duduk di SMA, dengan honor yang lumayan. Profesi ini membuat kehidupanku men­jadi lebih baik, dan akhirnya aku menye­wa kamar di seputar Dago, bersama seorang teman yang kuliah di Univer­sitas Parahyangan.
Pada 1969, aku mulai mencoba men­jadi loper buku dan membuat cetak­an stensilan bekerja sama dengan se­orang teman berasal dari Medan ber­nama Arsil Tanjung, yang satu tempat kuliah.
Penghasilan semakin mencukupi dan usaha ini aku lakukan sampai tahun 1975. Dari hasil usaha itu, aku dapat membantu keluarga dan menye­kolah­kan adik-adikku. Aku bahkan berhasil menambah investasi, termasuk saham atau hasil usaha, yang kemudian dijalan­kan oleh beberapa adik lelakiku.
Semangat Kemandirian
Setelah menamatkan kuliah di ITB Jurusan Perminyakan, aku mencoba me­nerapkan ilmu yang kuperoleh dari kuliah dan bekerja di beberapa perusa­haan minyak asing, kemudian pindah ke BUMN Pertamina tahun 1977.
Karierku dimulai dari aktivitas di Pu­sat, yang kemudian menyekolahkanku di Asian Institute of Technology (AIT) di Bangkok dan aku berhasil menyelesai­kannya dengan nilai baik.
Kemudian aku menikah dengan se­orang putri Bandung, Syarifah Mardiah Alaydarus, anak ulama terkenal di Ban­dung, (almarhum) Habib Ahmad bin Ha­syim Alaydarus. Beberapa bulan kemu­di­an aku dipindahtugaskan di Aceh Ti­mur. Di sana kami dikurnai Allah SWT dua putra, yaitu M. Fahrizal Alkaff dan M. Yusuf Alkaff. Lalu, kami pindah ke Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan di sana kami dikaruniai seorang putri, bernama Meishkafadiah Alkaff.
Di Pertamina, karierku dalam bidang eksplorasi dan produksi terus meningkat, sehingga aku menjadi pimpinan operasi daerah Pulau Jawa, general manager Perusahaan JOB Pertamina Santa Fee, dan terakhir dipercaya untuk mendirikan Perusahaan Investasi Pertamina, ber­nama PT Pertahulu Energy (saat ini anak perusahaan Pertamina hulu yang terbe­sar), sekaligus sebagai pimpinan utama­nya, sampai pensiun.
Pada 2002, aku bekerja di perusaha­an investasi Amerika di Singapura dan ditunjuk sebagai pimpinan Asia dan Timur Jauh berpusat di Singapura. Sejak saat itu, jiwa kemandirianku bangkit lagi.
Pada tahun 2004 aku mengundurkan diri dan mulai memikirkan usaha di Indonesia, terutama setelah anak su­lungku, M. Yusuf Alkaff, menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Ekonomi Mana­jemen Universitas Pasundan, Bandung.
Antara lain, aku membeli sebuah bangunan lengkap dengan apoteknya di Jln. Pagarsih untuk dikelola olehnya se­kaligus mendirikan badan usaha ber­nama CV Alkaff Family. Ia melanjutkan usaha lain, termasuk minimarket  Sriwi­jaya Mart, yang terus berkembang di Bandung dan sekitarnya, serta jual beli properti.
Pada 2006, anak bungsuku, Meish­kafadiah Alkaff, menyelesaikan sarjana teknik elektronya, dan saat ini masih bekerja di Divisi Pengembangan PT Garuda Indonesia Airways. Sedangkan anakku yang kedua telah menyelesaikan fakultas kedokteran dan pernah berdinas di Ternate, Maluku, 2007-2010. Saat ini ia tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang spesialisasi penyakit dalam.
Dalam bisnis, aku sendiri kini mem­ba­tasi diri dalam kegiatan perdagangan saham. Sedang dalam organisasi, aku aktif dalam Himpunan Pengusaha Pribumi (Hipmi) Jawa Barat, Yayasan Pensiunan Pertamina Bandung, dan Rabithah Alawiyah Bandung.
Memang banyak amalan yang bisa dilakukan setiap muslim, tetapi aku mengambil kesabaran sebagai inti da­lam semua muamalah. Sebab semua pekerjaan harus dilalui melalui berbagai tahap. Karena itulah dalam menapaki setiap tahap itu kita menjalankannya de­ngan kesabaran, sebagaimana dipesan­kan di dalam surah Al-’Ashr.



sumber :majalah alkisah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman