koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Selasa, Maret 26, 2013

Jamaluddin F. Hasyim: Luwes tapi Tetap Aswaja


Ia memang tak sendiri. Sebagian besar anak muda NU sesungguhnya seperti dirinya, tetap menjaga prinsip-prinsip aqidahnya meskipun bersentuhan dengan berbagai aliran dan pemikiran.

 www.majalah-alkisah.com

Dalam setahun terakhir, mereka yang mengikuti perkembangan pilkada di DKI yang belum lama ber­lalu, tentu sering menemukan nama ini: Jamaluddin F. Hasyim. Sosok ini sering tampil memberikan keterangan pers, ke­rap menjadi narasumber di ba­nyak acara, termasuk di berbagai stasiun televisi, juga menjadi pembicara dalam berbagai dis­kusi publik. Terutama berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu dan pilkada di DKI. Itu semua tak ter­lepas dari amanah yang sedang di­embannya saat ini, yakni sebagai ang­gota KPU DKI periode 2008-2013. Sebelumnya, tahun 2007, ia men­jadi ketua Panwas Pilkada DKI.
Orang yang bertemu dan berinterak­si dengannya pada umumnya akan ber­simpati. Selain penampil­annya yang rapi dan wajahnya yang gan­teng, cara bica­ranya pun tertib, mudah dimengerti, tidak bertele-tele, namun ti­dak menggurui dan tak ada pula kesan ke­sombongan. Se­bagai pribadi, ia juga ra­mah, mudah akrab, rendah hati, dan pu­nya perhatian yang besar kepada orang lain.
Bukan hanya dari segi kepribadian suami Rizqiyah Auliani ini memiliki ba­nyak kelebihan. Bekal keilmuan dan wa­wasan pemikirannya pun luas. Itu sangat membantunya dalam menjalankan berbagai aktivitas, termasuk di KPU DKI.
Tak dapat disangkal, berbagai ke­lebihan dan kemampuan yang dimiliki­nya itu membuatnya mudah diterima dan mendapatkan simpati dari orang lain.

Putra NU
Mungkin tak banyak yang tahu bah­wa ia putra seorang tokoh NU yang ter­kenal di masanya: K.H. M.  Hasyim Adnan. Tokoh ini adalah kiai dan mu­baligh terkemuka di masanya. Sejak awal 1970-an sampai pertengahan 1980-an namanya berkibar sebagai dai papan atas Ibu Kota bersama beberapa dai terkenal lainnya.
Sosok sang ayah, dengan segala kelebihannya, memberikan pengaruh yang tidak sedikit kepada dirinya. Apa­lagi Jamal termasuk yang paling sering mendampingi beliau hingga akhir hayat­nya.
Keinginan sang ayah untuk terus ber­khidmat kepada umat dan mencerdas­kan umat adalah salah satu yang paling dikenangnya dan juga mempengaruhi langkah-langkahnya sejak sang ayah tiada hingga kini. Sejak dulu ia bertekad meneruskan perjuangan sang ayah dan mewujudkan apa-apa yang belum sem­pat direalisasikan.
Jamaluddin F. Hasyim, yang lahir di Jakarta tanggal 22 April 1975, adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Ibunya, Ustadzah H. Chairun Nisa, yang juga telah berpulang ke rahmatullah, di masa hidupnya adalah seorang mubal­lighah Ibu Kota yang juga cukup terke­nal.
Pendidikan Jamal diawali di SD Fa­jar, Kayumanis, Jakarta Timur, sebagai­mana juga semua kakak dan adik-adik­nya. Sejak di bangku SD ini potensinya telah kelihatan. Sejak kelas 3 sampai lulus ia selalu menduduki peringkat ter­atas.
Selepas SD ia ingin masuk ke SMP, tapi dengan tegas ayahnya menolak. Beliau mempunyai prinsip bahwa, untuk tingkat pendidikan menengah, semua anaknya harus masuk pesantren, baru setelah itu mereka boleh kuliah di mana saja sesuai minat dan kemampuannya. Maka akhirnya kemudian ia masuk pe­santren Darul Rahman di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang diasuh kiai terkenal, KH. Syukron Makmun, yang juga kawan dekat ayahnya.
Prestasi yang sama diulanginya selama di Darul Rahman, sehingga ia dikenal di kalangan santri-santri dan guru-guru di pesantren ini.
Namun, tatkala ayah tercinta berpu­lang ke rahmatullah saat Jamal duduk di kelas 2 Tsanawiyah, ia hampir saja ber­henti belajar di pesantren, karena ke­sulitan ekonomi yang dihadapi sang ibu sepeninggal ayahnya. Tapi, alhamdulil­lah, oleh K.H. Syukron Makmun pendi­dik­annya digratiskan, sehingga ia dapat me­nyelesaikan pendidikannya dengan baik dengan prestasi yang membang­gakan.
Selepas aliyah di Darul Rahman, ada keinginan di hatinya untuk melanjutkan kuliah di Timur Tengah atau setidaknya di IAIN. Tapi karena tak ada biaya, ke­inginan itu hanya menjadi harapan.
Karena waktu itu Darul Rahman baru membuka institut, akhirnya ia pun masuk kembali di Darul Rahman.
Kampus yang dimasukinya memiliki kelebihan tersendiri. Di antaranya, kuliah disampaikan dengan bahasa Arab. “Biar­pun nggak dapat kuliah di luar negeri, mutunya tidak jauh,” katanya. Ia merasa bahwa ilmu yang diperoleh banyak dan didapatkan dari para kiai terkemuka dan intelektual-intelektual yang sangat ber­bobot.
Setelah sampai pada semester 8, ia memutuskan menyelesaikan kuliahnya di Institut Agama Islam  Al-Aqidah. Ke­mudian ia melanjutkan S2 di ICAS Para­madina, Jakarta.
Dari segi keilmuan, masa kuliah juga menjadi masa yang produktif baginya. Di samping kuliah, ia juga meman­faat­kan kesempatan mengaji kepada para tokoh  ulama di berbagai tempat. Di antaranya menghadiri majelis-majelis K.H. Muham­mad Syafi‘i Hadzami (alm.), K.H. Ahmad Mursyidi (alm.), dan K.H. Maulana Kamal Yusuf. Yang paling sering dihadirinya ada­lah majelis-majelis Mu’allim Syafi‘i Hadzami; di antaranya majelis di ke­diam­annya di Gandaria, Ke­bayoran Lama, juga di Masjid Himmatul Masakin, yang juga di bilangan Kebayor­an Lama, kemudian di Masjid Ni‘matul-Ittihad (Pondok Pinang), dan Masjid Al-Ma‘mur (Tanah Abang).
“Ingin sekali saya bisa kembali meng­hadiri majelis-majelis, tapi kesibukan saya sekarang belum memungkinkan. Padahal, ada majelis-majelis yang saya incar untuk saya datangi,” katanya.
Di masa kuliah pula, tepatnya di se­mester 3, ia mulai bersentuhan dengan kegiatan organisasi, yakni di senat maha­siswa di PMII. Hanya saja saat itu belum terlalu aktif, baru ikut-ikutan dan tidak rutin. Barulah di semester 8 ia menjadi lebih aktif karena dipilih menjadi ketua Pengurus Cabang PMII Jakarta Selatan tahun 1998-1999. “Pergaulan di organi­sasi se­makin luas.... Keterlibatan yang lebih intens itu juga membuka cakra­wala pemikiran saya.”
Itu merupakan pengalaman baru, yang belum didapatinya di pesantren. Ketika belajar di Darurrahman, kiainya, K.H. Syukron Makmun, selalu mewanti-wanti mereka agar tidak membaca buku-buku yang ditulis oleh kalangan liberal.
Meskipun demikian, karena memang sudah hobi membaca, ditambah pena­saran dengan sesuatu yang dilarang, se­bagaimana anak-anak muda yang lain, tetap saja ia melahap berbagai buku dari beragam pemikiran, termasuk buku-buku kalangan liberal.
Setelah aktif di PMII, pemikiran-pe­mikiran dari luar semakin membanjir. Tapi jangan disangka ia larut dalam ber­bagai pemikiran itu dan mengekor begitu saja. Bekal ilmu yang diperolehnya sejak kecil hingga di pesantren, termasuk juga di majelis-majelis yang ia hadiri, mem­buatnya dapat menyaring isi buku-buku yang dibaca. Ia tak terpengaruh dengan paham-paham itu.
Ia memang tak sendiri. Sebagian be­sar anak muda NU sesungguhnya se­perti dirinya, tetap menjaga prinsip-prin­sip aqidahnya meskipun bersentuhan dengan berbagai aliran dan pemikiran.
Terlepas dari itu, Jamal merasa, ba­caan-bacaan yang dikonsumsinya, ter­ma­suk dari kalangan yang diwanti-wanti oleh gurunya untuk dihindari, tetap mem­berikan manfaat baginya, meskipun bu­kan untuk diikuti.
Setelah menyelesaikan kuliah, ia diajak untuk bergabung di kepengurusan NU DKI, yang sempat vakum waktu itu. Ia pun bergabung dengan tim H. Abdul Wahid Aziz Bisri, yang menjadi caretaker PWNU DKI kala itu yang kemudian men­jadi ketuanya. Jamal kemudian ditugasi sebagai sekretaris lalu ketua di Lak­pesdam DKI. Ia pun pernah menjadi wakil sekretaris PWNU DKI 2004-2009.
Jika sebelumnya ia orang yang tidak dikenal di kalangan LSM, secara perla­han tapi pasti namanya semakin dikenal dan memiliki banyak jaringan. Bekal ke­ilmuan dan wawasan pemikirannya se­makin mengangkat dirinya.
Dari waktu ke waktu kepercayaan orang terhadapnya semakin besar. Ia se­ring diminta menangani berbagai prog­ram. Juga menjadi narasumber dalam berbagai acara.

Berbagai Kunjungan ke Luar Negeri
Keterlibatannya di organisasi dan per­gaulannya yang semakin luas kemu­dian membawa manfaat lain yang tak ka­lah penting baginya, yakni kesempatan mengikuti beberapa acara di luar negeri. Tahun 2002 ia berangkat ke luar negeri pertama kalinya, yakni ke Inggris, dalam rangka pertemuan pemuda yang diikuti berbagai negara di penjuru dunia. Pe­nyelenggaranya adalah British Council.
Dari Indonesia ada empat orang yang mengikuti pertemuan itu, termasuk dirinya. Salah seorang rekannya saat itu adalah Dewi Lestari, penyanyi yang juga penulis novel terkenal, Supernova.
Tahun itu juga bersama beberapa teman dari LSM ia mendapatkan kesem­patan ke Malaysia mengikuti acara di Melaka.
Kesempatan berkunjung ke luar ne­geri masih saja datang di tahun itu. Di akhir tahun ia berangkat ke Amerika Se­rikat. Awalnya saat kunjungan ke Inggris ia mendapat informasi bahwa akan ada acara pertemuan pemuda se-Asia Pasi­fik di Hawaii yang menjadi program rutin tahunan. Ia pun coba-coba mendaftar, ter­nyata dite­rima. Ia dapat melihat lang­sung bagaimana keadaan Amerika Se­rikat pasca-Peristiwa 9/11 itu.
Acaranya berlangsung dua minggu. Kesempatan kunjungan itu pun mem­beri­kan banyak pengalaman ber­harga baginya. Minggu per­tama acara dilang­sung­kan di Hawaii, sedangkan minggu kedua di New York dan Washington.
Tahun 2003 ia kembali mendapatkan kesempatan berkunjung ke luar negeri. Kali itu ia berangkat Jerman mengikuti seminar Fighting Fundamentalism di Koln dan Berlin. Di sana ia mendapat­kan kesempatan berdiskusi dan berdebat de­ngan rekan-rekan pe­serta dari berbagai negara tentang ber­bagai konsep dan isu yang berkembang saat itu.
Kesempatan lain kunjungan ke luar ne­geri adalah pada tahun 2004 ketika ia menjadi peserta seminar internasional dengan tema Where Next for Anti-War Movements,yang diadakan di Beirut, Lebanon.

Dialog antar-Umat Beragama
Di dalam negeri pun ia sering terlibat dalam seminar-seminar dan acara-acara lain, termasuk yang berskala internasio­nal. Ia termasuk aktif dalam kegiatan-ke­giatan yang diadakan komunitas dialog antar-umat beragama.
Manfaat yang paling dirasakannya dari berbagai kesempatan mengikuti ke­giatan di berbagai tempat terutama di luar negeri itu adalah membuka wawas­annya. Menurutnya, seorang santri, se­lain perlu membekali diri dengan pe­nguasaan ilmu-ilmu agama dan umum yang memadai, juga perlu pengalaman-pengalaman yang lebih luas sehingga memiliki modal dan bekal yang cukup un­tuk bersaing di kalangan yang lebih luas.
Dalam pandangannya, kini para san­tri NU telah tampil lebih percaya diri ka­rena memiliki bekal yang lebih banyak, pengalaman dan pergaulan yang lebih luas.
Kini, di sela-sela kesibukannya di KPU DKI dan berbagai aktivitas lain, ia pun sejak 2009 di amanahi menjadi ketua Yayasan Dak­wah Syiarul Islam www.majalah-alkisah.com(YADAI), yayasan yang ditinggalkan ayahandanya. Ber­sama kakak-kakak dan adik-adiknya, di­bantu staf-staf lain, ia juga bahu-mem­bahu mengembang­kan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyi­miyah, yang berada di bawah yayasan ini.
Bersama saudara-saudaranya, sejak empat tahun ini ia pun mendirikan dan mengembangkan ma‘had yang santri­nya berasal dari berbagai daerah di Indo­nesia.
Kakak-kakak Jamal berturut-turut adalah Rahmatun Nazilah, Jalaluddin Akbar, dan Aida Maqbulah, sedangkan adik-adiknya adalah Sulaiman Haikal, Ummu Habibah, Ayatullah Muhammad Ali, Rabi`atul Adawiyah, dan Nida Najibah Hanum.
Mendirikan ma‘had (pesantren) ada­lah cita-cita K.H. Hasyim Adnan yang be­lum terwujud. Alhamdulillah kini Ustadz Jamaluddin F. Hasyim bersama sau­dara-saudaranya dapat mewujudkan ha­rapan itu. Semoga kampus dan ma‘had ini dapat semakin berkembang dan se­makin baik se­hingga suatu saat nanti bisa menjadi sa­lah satu wadah terbaik untuk mencer­das­kan umat. Jika harapan itu terwujud, tentu almarhum K.H. M. Hasyim Adnan dan al­marhumah Hj. Chairun Nisa akan semakin bangga dan bahagia di alam sana.
sumber:majalah alkisah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman