Ia memang tak sendiri. Sebagian besar anak muda NU sesungguhnya seperti dirinya, tetap menjaga prinsip-prinsip aqidahnya meskipun bersentuhan dengan berbagai aliran dan pemikiran.

Dalam setahun terakhir, mereka yang mengikuti perkembangan pilkada di DKI yang belum lama berlalu, tentu sering menemukan nama ini: Jamaluddin F. Hasyim. Sosok ini sering tampil memberikan keterangan pers, kerap menjadi narasumber di banyak acara, termasuk di berbagai stasiun televisi, juga menjadi pembicara dalam berbagai diskusi publik. Terutama berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu dan pilkada di DKI. Itu semua tak terlepas dari amanah yang sedang diembannya saat ini, yakni sebagai anggota KPU DKI periode 2008-2013. Sebelumnya, tahun 2007, ia menjadi ketua Panwas Pilkada DKI.
Orang yang bertemu dan berinteraksi dengannya pada umumnya akan bersimpati. Selain penampilannya yang rapi dan wajahnya yang ganteng, cara bicaranya pun tertib, mudah dimengerti, tidak bertele-tele, namun tidak menggurui dan tak ada pula kesan kesombongan. Sebagai pribadi, ia juga ramah, mudah akrab, rendah hati, dan punya perhatian yang besar kepada orang lain.
Bukan hanya dari segi kepribadian suami Rizqiyah Auliani ini memiliki banyak kelebihan. Bekal keilmuan dan wawasan pemikirannya pun luas. Itu sangat membantunya dalam menjalankan berbagai aktivitas, termasuk di KPU DKI.
Tak dapat disangkal, berbagai kelebihan dan kemampuan yang dimilikinya itu membuatnya mudah diterima dan mendapatkan simpati dari orang lain.
Putra NU
Mungkin tak banyak yang tahu bahwa ia putra seorang tokoh NU yang terkenal di masanya: K.H. M. Hasyim Adnan. Tokoh ini adalah kiai dan mubaligh terkemuka di masanya. Sejak awal 1970-an sampai pertengahan 1980-an namanya berkibar sebagai dai papan atas Ibu Kota bersama beberapa dai terkenal lainnya.
Sosok sang ayah, dengan segala kelebihannya, memberikan pengaruh yang tidak sedikit kepada dirinya. Apalagi Jamal termasuk yang paling sering mendampingi beliau hingga akhir hayatnya.
Keinginan sang ayah untuk terus berkhidmat kepada umat dan mencerdaskan umat adalah salah satu yang paling dikenangnya dan juga mempengaruhi langkah-langkahnya sejak sang ayah tiada hingga kini. Sejak dulu ia bertekad meneruskan perjuangan sang ayah dan mewujudkan apa-apa yang belum sempat direalisasikan.
Jamaluddin F. Hasyim, yang lahir di Jakarta tanggal 22 April 1975, adalah anak keempat dari sembilan bersaudara. Ibunya, Ustadzah H. Chairun Nisa, yang juga telah berpulang ke rahmatullah, di masa hidupnya adalah seorang muballighah Ibu Kota yang juga cukup terkenal.
Pendidikan Jamal diawali di SD Fajar, Kayumanis, Jakarta Timur, sebagaimana juga semua kakak dan adik-adiknya. Sejak di bangku SD ini potensinya telah kelihatan. Sejak kelas 3 sampai lulus ia selalu menduduki peringkat teratas.
Selepas SD ia ingin masuk ke SMP, tapi dengan tegas ayahnya menolak. Beliau mempunyai prinsip bahwa, untuk tingkat pendidikan menengah, semua anaknya harus masuk pesantren, baru setelah itu mereka boleh kuliah di mana saja sesuai minat dan kemampuannya. Maka akhirnya kemudian ia masuk pesantren Darul Rahman di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang diasuh kiai terkenal, KH. Syukron Makmun, yang juga kawan dekat ayahnya.
Prestasi yang sama diulanginya selama di Darul Rahman, sehingga ia dikenal di kalangan santri-santri dan guru-guru di pesantren ini.
Namun, tatkala ayah tercinta berpulang ke rahmatullah saat Jamal duduk di kelas 2 Tsanawiyah, ia hampir saja berhenti belajar di pesantren, karena kesulitan ekonomi yang dihadapi sang ibu sepeninggal ayahnya. Tapi, alhamdulillah, oleh K.H. Syukron Makmun pendidikannya digratiskan, sehingga ia dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik dengan prestasi yang membanggakan.
Selepas aliyah di Darul Rahman, ada keinginan di hatinya untuk melanjutkan kuliah di Timur Tengah atau setidaknya di IAIN. Tapi karena tak ada biaya, keinginan itu hanya menjadi harapan.
Karena waktu itu Darul Rahman baru membuka institut, akhirnya ia pun masuk kembali di Darul Rahman.
Kampus yang dimasukinya memiliki kelebihan tersendiri. Di antaranya, kuliah disampaikan dengan bahasa Arab. “Biarpun nggak dapat kuliah di luar negeri, mutunya tidak jauh,” katanya. Ia merasa bahwa ilmu yang diperoleh banyak dan didapatkan dari para kiai terkemuka dan intelektual-intelektual yang sangat berbobot.
Setelah sampai pada semester 8, ia memutuskan menyelesaikan kuliahnya di Institut Agama Islam Al-Aqidah. Kemudian ia melanjutkan S2 di ICAS Paramadina, Jakarta.
Dari segi keilmuan, masa kuliah juga menjadi masa yang produktif baginya. Di samping kuliah, ia juga memanfaatkan kesempatan mengaji kepada para tokoh ulama di berbagai tempat. Di antaranya menghadiri majelis-majelis K.H. Muhammad Syafi‘i Hadzami (alm.), K.H. Ahmad Mursyidi (alm.), dan K.H. Maulana Kamal Yusuf. Yang paling sering dihadirinya adalah majelis-majelis Mu’allim Syafi‘i Hadzami; di antaranya majelis di kediamannya di Gandaria, Kebayoran Lama, juga di Masjid Himmatul Masakin, yang juga di bilangan Kebayoran Lama, kemudian di Masjid Ni‘matul-Ittihad (Pondok Pinang), dan Masjid Al-Ma‘mur (Tanah Abang).
“Ingin sekali saya bisa kembali menghadiri majelis-majelis, tapi kesibukan saya sekarang belum memungkinkan. Padahal, ada majelis-majelis yang saya incar untuk saya datangi,” katanya.
Di masa kuliah pula, tepatnya di semester 3, ia mulai bersentuhan dengan kegiatan organisasi, yakni di senat mahasiswa di PMII. Hanya saja saat itu belum terlalu aktif, baru ikut-ikutan dan tidak rutin. Barulah di semester 8 ia menjadi lebih aktif karena dipilih menjadi ketua Pengurus Cabang PMII Jakarta Selatan tahun 1998-1999. “Pergaulan di organisasi semakin luas.... Keterlibatan yang lebih intens itu juga membuka cakrawala pemikiran saya.”
Itu merupakan pengalaman baru, yang belum didapatinya di pesantren. Ketika belajar di Darurrahman, kiainya, K.H. Syukron Makmun, selalu mewanti-wanti mereka agar tidak membaca buku-buku yang ditulis oleh kalangan liberal.
Meskipun demikian, karena memang sudah hobi membaca, ditambah penasaran dengan sesuatu yang dilarang, sebagaimana anak-anak muda yang lain, tetap saja ia melahap berbagai buku dari beragam pemikiran, termasuk buku-buku kalangan liberal.
Setelah aktif di PMII, pemikiran-pemikiran dari luar semakin membanjir. Tapi jangan disangka ia larut dalam berbagai pemikiran itu dan mengekor begitu saja. Bekal ilmu yang diperolehnya sejak kecil hingga di pesantren, termasuk juga di majelis-majelis yang ia hadiri, membuatnya dapat menyaring isi buku-buku yang dibaca. Ia tak terpengaruh dengan paham-paham itu.
Ia memang tak sendiri. Sebagian besar anak muda NU sesungguhnya seperti dirinya, tetap menjaga prinsip-prinsip aqidahnya meskipun bersentuhan dengan berbagai aliran dan pemikiran.
Terlepas dari itu, Jamal merasa, bacaan-bacaan yang dikonsumsinya, termasuk dari kalangan yang diwanti-wanti oleh gurunya untuk dihindari, tetap memberikan manfaat baginya, meskipun bukan untuk diikuti.
Setelah menyelesaikan kuliah, ia diajak untuk bergabung di kepengurusan NU DKI, yang sempat vakum waktu itu. Ia pun bergabung dengan tim H. Abdul Wahid Aziz Bisri, yang menjadi caretaker PWNU DKI kala itu yang kemudian menjadi ketuanya. Jamal kemudian ditugasi sebagai sekretaris lalu ketua di Lakpesdam DKI. Ia pun pernah menjadi wakil sekretaris PWNU DKI 2004-2009.
Jika sebelumnya ia orang yang tidak dikenal di kalangan LSM, secara perlahan tapi pasti namanya semakin dikenal dan memiliki banyak jaringan. Bekal keilmuan dan wawasan pemikirannya semakin mengangkat dirinya.
Dari waktu ke waktu kepercayaan orang terhadapnya semakin besar. Ia sering diminta menangani berbagai program. Juga menjadi narasumber dalam berbagai acara.
Berbagai Kunjungan ke Luar Negeri
Keterlibatannya di organisasi dan pergaulannya yang semakin luas kemudian membawa manfaat lain yang tak kalah penting baginya, yakni kesempatan mengikuti beberapa acara di luar negeri. Tahun 2002 ia berangkat ke luar negeri pertama kalinya, yakni ke Inggris, dalam rangka pertemuan pemuda yang diikuti berbagai negara di penjuru dunia. Penyelenggaranya adalah British Council.
Dari Indonesia ada empat orang yang mengikuti pertemuan itu, termasuk dirinya. Salah seorang rekannya saat itu adalah Dewi Lestari, penyanyi yang juga penulis novel terkenal, Supernova.
Tahun itu juga bersama beberapa teman dari LSM ia mendapatkan kesempatan ke Malaysia mengikuti acara di Melaka.
Kesempatan berkunjung ke luar negeri masih saja datang di tahun itu. Di akhir tahun ia berangkat ke Amerika Serikat. Awalnya saat kunjungan ke Inggris ia mendapat informasi bahwa akan ada acara pertemuan pemuda se-Asia Pasifik di Hawaii yang menjadi program rutin tahunan. Ia pun coba-coba mendaftar, ternyata diterima. Ia dapat melihat langsung bagaimana keadaan Amerika Serikat pasca-Peristiwa 9/11 itu.
Acaranya berlangsung dua minggu. Kesempatan kunjungan itu pun memberikan banyak pengalaman berharga baginya. Minggu pertama acara dilangsungkan di Hawaii, sedangkan minggu kedua di New York dan Washington.
Tahun 2003 ia kembali mendapatkan kesempatan berkunjung ke luar negeri. Kali itu ia berangkat Jerman mengikuti seminar Fighting Fundamentalism di Koln dan Berlin. Di sana ia mendapatkan kesempatan berdiskusi dan berdebat dengan rekan-rekan peserta dari berbagai negara tentang berbagai konsep dan isu yang berkembang saat itu.
Kesempatan lain kunjungan ke luar negeri adalah pada tahun 2004 ketika ia menjadi peserta seminar internasional dengan tema Where Next for Anti-War Movements,yang diadakan di Beirut, Lebanon.
Dialog antar-Umat Beragama
Di dalam negeri pun ia sering terlibat dalam seminar-seminar dan acara-acara lain, termasuk yang berskala internasional. Ia termasuk aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas dialog antar-umat beragama.
Manfaat yang paling dirasakannya dari berbagai kesempatan mengikuti kegiatan di berbagai tempat terutama di luar negeri itu adalah membuka wawasannya. Menurutnya, seorang santri, selain perlu membekali diri dengan penguasaan ilmu-ilmu agama dan umum yang memadai, juga perlu pengalaman-pengalaman yang lebih luas sehingga memiliki modal dan bekal yang cukup untuk bersaing di kalangan yang lebih luas.
Dalam pandangannya, kini para santri NU telah tampil lebih percaya diri karena memiliki bekal yang lebih banyak, pengalaman dan pergaulan yang lebih luas.
Kini, di sela-sela kesibukannya di KPU DKI dan berbagai aktivitas lain, ia pun sejak 2009 di amanahi menjadi ketua Yayasan Dakwah Syiarul Islam
(YADAI), yayasan yang ditinggalkan ayahandanya. Bersama kakak-kakak dan adik-adiknya, dibantu staf-staf lain, ia juga bahu-membahu mengembangkan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyah, yang berada di bawah yayasan ini.
(YADAI), yayasan yang ditinggalkan ayahandanya. Bersama kakak-kakak dan adik-adiknya, dibantu staf-staf lain, ia juga bahu-membahu mengembangkan kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyah, yang berada di bawah yayasan ini.
Bersama saudara-saudaranya, sejak empat tahun ini ia pun mendirikan dan mengembangkan ma‘had yang santrinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kakak-kakak Jamal berturut-turut adalah Rahmatun Nazilah, Jalaluddin Akbar, dan Aida Maqbulah, sedangkan adik-adiknya adalah Sulaiman Haikal, Ummu Habibah, Ayatullah Muhammad Ali, Rabi`atul Adawiyah, dan Nida Najibah Hanum.
Mendirikan ma‘had (pesantren) adalah cita-cita K.H. Hasyim Adnan yang belum terwujud. Alhamdulillah kini Ustadz Jamaluddin F. Hasyim bersama saudara-saudaranya dapat mewujudkan harapan itu. Semoga kampus dan ma‘had ini dapat semakin berkembang dan semakin baik sehingga suatu saat nanti bisa menjadi salah satu wadah terbaik untuk mencerdaskan umat. Jika harapan itu terwujud, tentu almarhum K.H. M. Hasyim Adnan dan almarhumah Hj. Chairun Nisa akan semakin bangga dan bahagia di alam sana.
sumber:majalah alkisah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com