koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Rabu, Desember 03, 2014

thoriqoh awaliyah

Salam Sejahtera pengunjung blog stroom09, kali ini saya akan memposting sedikit tentang THORIQOH AWALIYAH.Sebenarnya tanpa kita sadari  ajaran thoriqoh ini sudah  menyatu di masyarakat negeri ini,alasannya dikarenakan Tarekat Alawiyyah berbeda dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.

Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Juga dapat dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].
Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir -- , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian, Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.

Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.

Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.

Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut, terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui – tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah.

Biografi Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir
Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Ia lahir di Basrah, Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah
 Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal shaleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas keruhanian dan sosialnya.

Selama di Basrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedhaliman dan khurafat. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Basrah, pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, dan putra terkecilnya, Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Mekkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.

 Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Pada masanya, kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak kemasyhurannya. Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara mumpuni, di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Di samping itu, konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam al-Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (legalitas kesufian).

Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini, al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut: (“Pada suatu hari, Al-Faqih al-Muqaddam tenggelam dalam lautan Asma, Sifat dan Dzat Yang Suci”). Pada hikayat ke-24, para syekh meriwayatkan bahwa syekh syuyukh kita, Al-Faqih al-Muqaddam, pada akhirnya hidupnya tidak makan dan tidak minum. Semua yang ada di hadapannya sirna dan yang ada hanya Allah. Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (ruh) akan merasakan mati .” Dia mengatakan, “Aku tidak mempunyai nafs.” Dikatakan lagi, “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah.” Dia menjawab, “Aku tidak berada di atasnya.” Dia mengatakan lagi, “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia).” Dia menjawab, “Aku bagian dari cahaya wajah-Nya.” Setelah keadaan fana’-nya berlangsung lama, lalu para putranya memintanya untuk makan walaupun sesuap. Menjelang akhir hayatnya, Al- mereka memaksakan untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya. Dan setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif). “Kalian telah bosan kepadanya, sedang kami menerimanya. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan, maka dia akan tetap bersama kalian.”

Setelah wafatnya Muhammad bin Ali, perjalanan Tarekat Alawiyyah lalu dikembangkan oleh para syekh. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal, yaitu Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf (739), Syekh Umar al-Muhdhar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (833 H), Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H), dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H).

Selama masa para syekh ini, dalam sejarah Ba Alawi, di kemudian hari ternyata telah banyak mewarnai terhadap perkembangan tarekat itu sendiri. Dan secara umum, hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri melalui para tokoh maupun berbagai ajarannya dari masa para imam hingga masa syekh di Hadhramaut.

Pertama, adanya suatu tradisi pemikiran yang berlangsung dengan tetap mempertahankan beberapa ajaran para salaf mereka dari kalangan tokoh Alawi, seperti Al-Quthbaniyyah, dan sebutan Imam Ali sebagai Al-Washiy, atau keterikatan daur sejarah Alawi dan Ba Alawi. Termasuk masalah wasiat dari Rasulullah untuk Imam Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.
Kedua, adanya sikap elastis terhadap pemikiran yang berkembang yang mempermudah kelompok ini untuk membaur dengan masyarakatnya, serta mendapatkan status sosial yang terhormat hingga mudah mempengaruhi warna pemikiran masyarakat.
Ketiga, berkembangnya tradisi para sufi kalangan khawwash (elite), seperti al-jam’u, al-farq, al-fana’ bahkan al-wahdah, sebagaimana yang dialami oleh Muhammad bin Ali (Al-Faqih al-Muqaddam) dan Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf.
Keempat, dalam Tarekat Alawiyyah, berkembang suatu usaha pembaharuan dalam mengembalikan tradisi tarekat sebagai Thariqah (suatu madzhab kesufian yang dilakukan oleh seorang tokoh sufi) hingga mampu menghilangkan formalitas yang kaku dalam tradisi tokoh para sufi.
Kelima, bila pada para tokoh sufi, seperti Hasan al-Bashri dengan zuhd-nya, Rabi’ah al-Adawiyah dengan mahabbah dan al-isyq al-Ilahi-nya, Abu Yazid al-Busthami dengan fana’-nya, al-Hallaj dengan wahdah al-wujud-nya, maka para tokoh Tarekat Alawiyyah, selain memiliki kelebihan-kelebihan itu, juga dikenal dengan al-khumul dan al-faqru-nya. Al-khumul berarti membebaskan seseorang dari sikap riya’ dan ‘ujub, yang juga merupakan bagian dari zuhud. Adapun al-faqru adalah suatu sikap yang secara vertikal penempatan diri seseorang sebagai hamba di hadapan Khaliq (Allah) sebagai zat yang Ghani (Maha Kaya) dan makhluk sebagai hamba-hamba yang fuqara, yang selalu membutuhkan nikmat-Nya. Secara horizontal, sikap tersebut dipahami dalam pengertian komunal bahwa rahmat Tuhan akan diberikan bila seseorang mempunyai kepedulian terhadap kaum fakir miskin.

Penghayatan ajaran tauhid seperti ini menjadukan kehidupan mereka tidak bisa dilepaskan dari kaum kelas bawah maupun kaum tertindas (mustadl’afin). Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf misalnya, selama itu dikenal dengan kaum fuqara-nya, sedangkan istri Muhammad bin Ali terkenal dengan dengan ummul fuqara-nya.

Syekh Abdullah al-Haddad dan Tarekat Alawiyyah
Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah, nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan, karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. Ia lahir di Tarim, Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad, dikenal sebagai seorang yang saleh. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya, Syarifah Salma, seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).

Peranan al-Haddad dalam mempopulerkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil, sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Peran al-Haddad itu misalnya, ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. Ia mengatakan, bahwa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin, atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. Dalam hal suluk, al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian.

Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat muhajadah, mengosongkan diri baik lahir maupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.

Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moralitas yang baik yang menjaganya.



Sumber:sufinews.com

Rabu, November 19, 2014

Cerita tumbal lenyapnya angkara murka

Salam sejahtera buat pengunjung blog stroom09  kali ini  saya akan memposting kembali tentang  seorang raja kecil yg bernama  adipati Karna ( Suryaputra). Saya gag bisa berbicara panjang lebar. kita simak saja jalan ceritanya.
Adipati Karna seorang raja negri Awangga, meskipun
raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain
(Ratu rehrehan Jawa). Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri
Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna
kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan
perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi
Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih
Hadimanggala.
Karna itu anaknya Dewi Kunti Talibrata dengan Bathara
Surya, tetapi tidak dengan jalan melalui hubungan
badan (bersetubuh), sebab terkena walat atau kutukan
disebabkan membaca mantra limu Aji Kunta Wekasing
Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan. Dewi Kunti itu sejak
muda (perawan) sudah senang mempelajari ilmu, termasuk pula Kunti berguru kepada Brahmana yang
bernama Reshi Druwasa, dan diberi Ilmu “Aji Kunta
Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan”, yang
memilki daya keampuhan dapat mendatangkan Dewa
hanya dengan kekuatan mantra tersebut. Peringatan
Guru Druwasa. membaca atau merapal ilmu tersebut tidak boleh dilakukan sambil mandi dan/atau mau
tidur.
Tetapi sepertinva Dewi Kunti tidak percaya dengan
keampuhan Aji Kunta, karena itu Dewi Kunti mencoba
kekuatan mantra Aji Kunta yang ia lakukan saat
menjelang matahari terbenam. Dengan demikian
Sang hyang Bathara Surya yang seharusnya akan
istirahat, karena seharian penuh mengatur jalannya matahari, mendadak tergetar rasa hatinya sepertinya
mendapatkan kontak bathin, tetapi Bathara Surya itu
adalah Dewa yang ilmu kesaktiannya sangat tinggi,
ibaratnya hanya dalam sekejap mata saja sudah sampai
di tempat yang dituju, yaitu kamar mandi Dewi Kunti
yang saat itu akan mandi. Dewi Kunti begitu mengetahui ada Dewa yang datang di depannya,
langsung gugup dan tubuhnya gemetar, dengan cepat
tangannya bergerak menyambar pakaiannya yang
sudah mulai ia tanggalkan, tetapi yang teraih hanyalah
kembennya saja, lalu ia kenakan untuk menutupi
sebagian tubuhnya.
Bathara Surya kemudian bertanya kepada Dewi Kunti,
ada maksud apa sampai ia merapal Aji Kunta ? Dewi
Kunti yang sebenarnya hanya sekadar mencoba, karuan
saja menjadi takut dan gugup dalam memberi
penjelasan, bahwa apa yang ia lakukan hanyalah
sekadar mencoba mantra tersebut.
Mendengar pengakuan Dewi Kunti seperti itu, Bathara
Surya menjadi marah, sebab mempelajari semua ilmu
itu harus percaya dan yakin, tidak boleh hanya untuk
main coba-coba. Karena itu Dewi Kunti lalu diberi
hukuman, hamil tanpa bersetubuh. Dewi Kunti
menangis, memohon pengampunan, tetapi Bathara Surya telah hilang dari pandangan mata.
Beberapa bulan Dewi Kunti tidak berani keluar dari
kamar keputrian, yang ia lakukan hanya tidur
berselimut rapat untuk menutupi kandungannya yang
sudah besar, dan kalau ditanya oleh ayah, ibu dan
kakaknya. jawabnya adalah sedang sakit.. Namun
sepandai-pandai menyimpan bangke, akhirnya akan tercium juga bahunya. Demikian juga halnya dengan apa
yang terjadi pada Dewi Kunti, kakaknya sendiri
Basudewa yang mengetahui pertama kali kalau ia
sedang mengandung.
Tak terbayangkan bagaimana kemarahan Raden
Basudewa begitu mengetahui dengan penglihatannya
sendiri kalau adiknya Dewi Kunti sedang mengandung,
padahal belum menikah dengan lelaki siapapun.
Niatnya Dewi Kunti akan dihajarnya, namun untunglah
Reshi Druwasa gurunya Dewi Kunti mendadak datang, yang kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya
terjadi pada diri Dewi Kunti. Apa yang dijelaskan oleh
Resi Druwasa dapat diterima oleh Basudewa.
Untuk menjaga agar aib tersebut tidak tersebar luas,
bayi yang ada dalam kandungan Dewi Kunti, lalu
dilahirkan dengan kekuatan mantra gaib Resi Druwasa.
Bayi lahir melalui lubang telinga Dewi Kunti, karena itu
jabang bayi diberi nama Karna.
Bayi Karna kemudian dimasukkan ke dalam kendaga
dan dihanyutkan ke sungai Bagi Ratri, selanjutnya bayi
yang hanyut di sungai itu ditemukan oleh salah seorang
sais kereta Prabu Drestrarasta, yang bernama Adirata,
yang kebetulan baru mandi bersama istrinya yang
bernama Nyai Nadha, bayi dibawa pulang, dipelihara dan diasuh sampai dewasa.
Karna juga punya nama Suryaputra, Suryatmaja,
Talidarma, Bismantaka, Pritaputra. Adipati Karna bersatu dengan Prabu Duryudana, sebab
Karna berhutang budi kepada Prabu Duryudana di
Astina, termasuk Surtikanti, istrinya Karnaa itu
sebenamya pacarnya (kekasihnya) Duryudana, tetapi
direlakan menjadi istrinya Karna. Intinya, semua
kemuliaan yang dimiliki Prabu Karna merupakan pemberian atau anugrah dari Prabu Duryudana. Karena
itu walaupun Prabu Karna itu putra Dewi Kunti, dan
Pandawa itu saudara satu ibu, akan tetapi Prabu Karna
tetap bersatu serta merasa dan mengakui kalau
Duryudana yang harus dibela dan dilindungi. Prabu
Karna juga mengakui kalau Kunti itu ibu yang melahirkannya, serta Pandawa itu adalah saudaraya.
Meski demikian Prabu Karna kukuh dengan sumpahnya
membela yang memberi kemuliaan, yaitu Prabu
Duryudana.
Disinilah kita dapat mengambil pelajaran, Katresnan
atau Kewajiban, tapi kenyataannya Prabu Karna
memilih kewajiban. Kenyatannya dalam lakon “Krena
Duta”. Karna bertemu dengan Kresna (Sandi Tama
Kawedar), Kresna membujuk Karna agar bersatu
dengan Pandawa. Karna tidak mau. Dewi Kunti sendiri juga membujuk dan meminta Karna bersatu bersama
Pandawa, Karna juga tidak mau, tetap akan membela
Duryudana.
Namun sesungguhnya Karna itu juga sayang terhadap
Pandawa, Buktinya ? Karna itu memiliki pusaka
pembawaan dari lahir yaitu yang berujud anting-anting
yang bernama “Pucunggul Maniking Surya”, serta
Kawaca (Kere Waja atau Rumpi Baja). Karena
kecintaannya terhadap Pandawa, Karna membuang pusaka kadewatan yang dibawanya sejak lahir sambil
berkata : Hai, saudaraku para Pandawa. Ini pusaka
milikku yang sangat sakti sudah aku lepas, dibuang.
Aku tidak butuh kemenangan, Pandawa harus menang.
Angkara murka harus lenyap.
Jarang sekali orang mau berkorban apalagi memberikan nyawanya seperti Karna, hidup suatu pilihan antara baik dan buruk, kadang harus membutuhkan pengorbanan kita. Dalam kehidupan kita saat ini fakta bahwa sulit orang mau berkorban yang kecil apalagi yang besar....sebesar apakah kita sudah berkorban untuk sesama itulah kebesaran jiwa kita.
Para pahlawan dan para pendahulu kita sering mengatakan jadilah orang '' BERJIWA BESAR ''
stroom09.blogspot.com 
sumber : KRESNA DUTA
BUDAYA PEWAYANGAN

Senin, November 03, 2014

Miranda Batik Scarf

Miranda Batik Scarf: Miranda Batik Scarf by TIK by Tivoli. Minimalist design shawl with classic motif that gives unique touch to your outfit. Shawl length 150 cm, wide 33 cm, with batik pattern prin tall over the swahl with black color dominant.




Find this cool stuff here: http://zocko.it/LFQZB

Basketball Print Duffle Backpack

Basketball Print Duffle Backpack: Black Basketball Print Convertible Duffle Backpack by Givenchy. Duffle bag and backpack hybrid in black nylon. Basketball court-inspired print in yellow and orange. Silver-tone hardware. Top handle in grosgrain and rolled leather. Twin carry handles in black grosgrain and black leather strap with snap-button fastening.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LFQYR

Raden Sumantri dan Arjuna

Salam sejahtera saya ucapkan,kepada pengunjung BLOG STROOM09. Kali ini saya akan memposting kembali sedikit cerita kisah raden  Sumantri.biar lbih jelas kita simak saja yuk ceritanya.

Diceritakan bahwa Raden Sumantri adalah anak seorang pertapa yang mematuhi nasehat orang tuanya untuk mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu yang merupakan titisan Batara Wisnu. Cerita tersebut populer di tengah masyarakat dan sering dipentaskan dengan lakon Sumantri “ngenger”. Orang tua dari anak yang “ngenger” yakin bahwa wali yang memelihara putranya adalah perwujudan Ilahi yang akan membimbing putranya ke arah kemuliaan hidupnya.
Pada saat mengabdi kepada raja, Raden Sumantri diberi tugas untuk memerangi musuh-musuh kerajaan. Dengan kesaktiannya segala musuh dapat dimusnahkan dan kembali ke kerajaan dengan membawa kemenangan.
Manusia tidak bisa bebas sepenuhnya dari insting hewani. Bagaimana bisa bebas sepenuhnya ? Bebas dari sifat-sifat ini, ya berarti mati. Manusia tidak bisa bebas dari hewan di dalam diri, tetapi bisa menjaga kejinakannya. Oleh karena itu manusia harus sadar untuk mengendalikan hewan di dalam diri.
Dalam ketidaksadarannya, Raden Sumantri mempertanyakan, kenapa dia dan bukan Sang Prabu yang berperang sendiri. Namun, setelah Sang Prabu menunjukkan kesaktian yang sangat tinggi yang tidak ada bandingannya, dia pun sadar dan tunduk terhadap Sang Prabu.
Sang Prabu dengan penuh kasih mengingatkan, “Seorang ksatriya yang suka melakukan olah batin pun masih memiliki sifat-sifat hewani. Itu tidak dapat dihindari. Dan penjinakan bukanlah sesuatu yang dilakukan satu kali saja. Penjinakan adalah proses sepanjang usia, seumur hidup. Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk pimpinan mereka, majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut ‘pikiran’— membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam… sepanjang tahun..sepanjang hidup. Kemudian Sang Prabu memintanya memindahkan “Taman Sriwedari” ke istana, sebuah pekerjaan yang belum pernah dilakukannya.
Adiknya Raden Sukrasana membantu dan terlaksanalah tugasnya dengan baik. Saat itu, Raden Sumantri malu diikuti oleh adiknya yang buruk rupa ke istana, dan dia menakut-nakutinya dengan senjata agar tidak mengikutinya. Dan, terlepaslah senjatanya membunuh sang adik tanpa sengaja. Dia telah melupakan nasehat Sang Prabu untuk mengendalikan sifat hewani dalam diri. Dia menyesal dan sejak saat itu berubah menjadi ksatriya yang bijaksana. Atas jasa-jasanya pada suatu saat dia diangkat menjadi patih Kerajaan Maespati dan diberi gelar Patih Suwondo.
Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.
Kabeh mangso kanggonan sifat kewan, yen sifat kewan ana ing manungsa ora ditundukke bakal ndadekke uripe mung kanggonan hawa nepsu. Titenanne gampang : gampang nesu, serakah, srei, dengki....iku kabeh ngadohke urip marang kersane Gusti. Rahayu para kadang kinasih

Reg Shirt Checked

Reg Shirt Checked: Reg Shirt Checked in green by Greenlight. Shirt with detailed collar, button down collar with checkered print that is now in trend. You can wear this to school, campus, work or on a casual day. You can never go wrong with a casual checkered shirt.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LFQXi

Sabtu, September 13, 2014

PELAJARAN ILMU KESEMPURNAAN HIDUP

Add caption
Salam sejahtera buat pengunjung  BLOG STROOM09.  Oke, gan kali ini saya akan menuliskankan kembali sebuah artikel pendek dari budaya pewayangan. yuk kita simak saja ceritanya.
KRESNA MENGAJARKAN ILMU KESEMPURNAAN HIDUP KEPADA ARJUNA
Aku ini sama untuk setiap makhluk. BagiKu tak ada yang tersayang atau yang Kubenci. Tetapi mereka yang memujaKu dengan setia, mereka ada di dalamKu, dan Aku pun ada di dalam mereka.
Yang Maha Kuasa itu begitu Maha AdilNya sehingga bagiNya tak ada makhluk yang tersayang atau yang paling dibenciNya. Semuanya sama saja bagiNya, tinggal terserah kita sendiri ini mau mendekatiNya atau menjauhiNya.
Ada suatu contoh yang baik, yaitu cahaya. Cahaya ini jika direfleksikan ke sebuah cermin yang kotor dan berdebu maka cahaya yang memantul kembali itu buram atau tidak baik, sedangkan jikalau cerminnya bersih dan licin permukaannya, maka cahaya yang dipantulkannya pastilah sangat baik dan jernih. Yang Maha Kuasa adalah ibarat cahaya ini, dan kita semua adalah cermin-cermin ini. la selalu bersinar atau bercahaya ke arah kita semua sepanjang waktu dan setiap saat dengan adil dan merata, tanpa pandang bulu atau suku atau kasta. Dan sekarang tentunya terserah kita semua, ingin menjadi cermin yang berdebu dan kotor atau cermin yang kotor akibat ulah kita sendiri.
Ia telah menegaskan bahwa Ia sama saja kasih-sayangNya terhadap semuanya tanpa ada diskriminasi sedikit pun. Walaupun seseorang yang tenggelam amat dalam di dalam dosa-dosanya, memujaKu dengan hati yang teguh, ia pun harus dikenali sebagai orang yang benar, karena ia telah beritikad secara benar.
Di dalam dosa-dosa pun bersinar Yang Maha Tak Berdosa, Yang Maha Kuasa secara adil dan merata. Ia bercahaya juga di dalam orang-orang yang kita anggap berdosa dan tak dapat diampuni. Sekali seorang semacam ini beritikad untuk mengubah dirinya ke jalan yang benar dan tunduk kepada Yang Maha Kuasa, maka ia harus dihormati dan dibantu, didoakan ke arah Yang Maha Esa, karena ia telah beritikad secara benar, dan suatu saat nanti sewaktu masanya tiba maka ia akan disucikan dan diterima di Tujuan Nan Abadi, yaitu Yang Maha Esa itu Sendiri.
Dan segera ia akan berubah menjadi benar dan mencapai kedamaian nan abadi. Oh Arjuna, harus kau ketahui secara pasti bahwa pemujaKu tak pernah binasa.
Seseorang yang mencintai Tuhan Yang Maha Esa “tak akan pernah tersesat jalannya,” lambat laun ia akan dituntun ke arahNya, dan kalau tersandung ia akan diangkat kembali agar lebih bergairah ia melaju ke arahNya. Walaupun orang ini mungkin pernah menjadi seseorang yang amat berdosa, tetapi sekali ia bertobat dan lurus hatinya maka ia akan kembali kepadaNya dan dibersihkan dari segala dosa- dosanya. Dalam diri orang ini akan timbul revolusi batin yang mendorongnya ke arah spiritual dan melajulah ia kemudian menegakkan kebenaran dan dharma. Tujuan Yang Abadi selalu menanti orang- orang seperti ini.
Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi. Disinilah tercermin Kerendahan Hati Yang Maha Kuasa, tercermin juga KemurahanNya dan KasihNya. Memang Yang Maha Esa ini Maha Pemurah dan Penyayang sehingga jalan kepadaNya terbuka untuk siapa saja yang menginginkannya secara tulus.
Adalah salah kalau ada anggapan bahwa hanya kasta Brahmana atau Kshatrya saja yang dapat mencapaiNya. Itu hanya ilusi dan peraturan buatan manusia saja, yang penuh dengan rasa egois, keserakahan, dan angkara, yang justru bertentangan dengan ajaran Bhagavat Gita dan ajaran-ajaran lainnya. Semua orang maupun makhluk tanpa kecuali dapat pergi kepadaNya, karena Ia milik semuanya tanpa diskriminasi, apalagi seseorang yang menyalakan pelita di dalam hatinya untukNya semata tanpa pamrih.



SUMBER : Sinar Agung

Total Tayangan Laman