koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Minggu, Juni 02, 2013

belajar ilmu bayan

BAGIAN DARI TRILOGI BALAGHAH ADALAH ILMU BAYAN:

TASYBIH DHIMNI

Balaghah merupakan ilmu yang mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi  kesan yang mendalam di dalam hati dan sesuai dengan situasi, kondisi dan terhadap orang – orang yang diajak bicara.

Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap  keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar antara macam-macam ungkapan. Keahlian dalam memilih kata-kata juga sangat  mempengaruhi keindahan sastra arab yang disampaikan, jika salah tempat, kondisi dan situasi dan para pendengar maka keindahan itu berkurang karena tidak sesuai dengan media yang turut mempengaruhi keindahan sastra itu.

Bangsa Arab, dimana Nabi Muhammad SAW diutus, adalah daerah yang memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan masyarakat umumnya. Perbedaan mereka adalah pada kemampuan mereka menguasai balaghah dan fashahah yang sangat tinggi dalam bahasa Arab. Ini dibuktikan dengan tantang Al-Qur’an sendiri agar mereka menandingi ketinggian redaksi Al-Qur’an dengan seluruh kemampuan mereka, bahkan jika perlu berkumpul antara jin dan manusia untuk membuatnya ( QS. 17 : 88 )

Balaghah sendiri dikenal sebagai sebuah disiplin ilmu yang membahas bagaimana seseorang mampu mengkomunikasikan apa yang ada dalam hatinya dengan ungkapan yang indah dan mudah diterima maksudnya. Sebagaimana diungkapkan Abdurrohman Al-Akhdhory : “sesungguhnya ilmu bayan, ilmu badi’ dan ilmu ma’any adalah salah satu ilmu dari rahasia lisan Arab dan beberapa jenis dari kalam yang indah dan lembut, dan mengetahui rahasia dan keajaiban yang tersembunyi”.

Menurut pembagiannya, sebagaimana diungkapkan Abdurrohman Al-Akhdhory, balaghoh dibagi menjadi 3 : ilmu bayan, ilmu badi’ dan ilmu ma’any, Ilmu Bayan yaitu Ilmu yang membahas stalistika atau gaya bahasa Arab. Ilmu badi’ adalah ilmu yang mempelajar segi estetika sebuah kalimat baik yang terdapat dalam puisi maupun prosa sehingga akan diketahui nilai I’jaz atau keistimewaan didalamnya. Ilmu ma’any adalah ilmu yang membahas tentang lafadz-lafadz bahasa Arab sesuai dengan konteks situasinya.[1]

Terkadang terdetik dalam hati seseorang untuk menyifati seseorang dengan sifat yang mulia. Maka ketika dia mensifatinya paling tidak dia menggunakan salah satu dari dua hal berikut ini : pertama, dengan mengungkapkan dengan bahasa yang jelas bahwa seseorang itu mulia“Fulan adalah orang yang mulia” Atau mengungkapkannya dengan kata-kata : “Saya melihat laut dirumahku” ( saya melihat seseorang yang begitu mulia dirumahku ) atau dengan ungkapan yang lainnya yang lebih indah. Ungkapan dengan tasybih seperti ini terdapat dalam salah satu cabang ilmu balaghoh, yaitu ilmu bayan.Ilmu bayan inilah yang akan menjembatani kita untuk menyampaikan pesan yang terdetik dalam hati kita dengan ungkapan yang paling sesuai dengan yang kita inginkan, dengan bahasa indah dan padat makna.

Sedangkan tasybih sendiri memiliki banyak pembagian yang akan diterangkan kemudian seperti pembagian berdasarkan rukunnya, ada atau tidaknya penanda perbandingan dan lain-lain.[2]

Bagian dari ilmu balaghah ada ilmu yang disebut ilmu bayan, yang mana dengan ilmu ini maka jelaslah apa yang dimaksud dari pembicara, tasybih juga merupakan salah satu cabangan dari ilmu bayan ini. Ia didefinisikan sebagai penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal yang lain, penjelasan tersebut menggunakan huruf kaf yang artinya seperti atau sejenisnya, baik tersurat maupun tersirat.

Unsur tasybih ada empat, yaitu musyabbah (yang diserupakan), musyabbah bih (yang diserupai), adat tasybih (huruf atau kata yang menyatakan penyerupaan), dan wajah syabah ( sifat yang ada pada kedua belah pihak). Berikut ini kami ingin menjelaskan tentang tasybih dhimni. Sehingga kita memahami dengan detil bagian serta contoh-contoh tasybih tersebut.

II.                RUMUSAN MASALAH.
Apa pengertian dari tasybih dhimni?
Bagaimanakah penjabaran tasybih tersebut serta contoh-contohnya?
Mengapa ilmu ini menjadi sangat dibutuhkan untuk memperdalam sastra arab?
PENGERTIAN TASYBIH DHIMNI
tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang sudah kita kenal atau tanpa adat tasybih, hanya saja keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hokum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.

Perhatikan contoh berikut ini.

  لا تنكري عطل الكريم من الغنى     فالسيل حرب للمكان العالى

Jangan kau ingkari bila orang yang dermawan tiada memiliki kekayaan, sebab banjir itu adalah musuh bagi tempat yang tinggi.

Seorang penyair atau penulis dalam berpramasastra adakalanya memakai ungkapan tasybih bukan dalam bentuknya yang telah kita kenal. Yaitu tasybih yang memiliki 4 perabot itu. Hal ini dilakukan untuk merangsang daya piker, untuk menegakkan kembali dalil atas hokum yang dikehendaki pada musyabbah, dank arena senang menyamarkan tasybih, sebab taybih yang unik dan samar itu lebih baligh mengena pada jiwa. Pada contoh di atas Abu Tammam berkata pada seorang gadis  “ jangan kau ingkari ketidakmampuan seorang dermawan dalam hal kekayaan karena hal itu bukanlah suatu hal yang mengherankan, sebab puncak-puncak gunung yang merupakan tempat tertinggi itu tidak dapat digenangi air banjir” pada contoh tadi penyair secara implicit menyamakan seorang dermawan yang tidak memiliki kekayaan bagaikan puncak gunung yang tinggi yang tidak pernah dilanda banjir, ia dengan tidak menyatakan penyerupaan itu melainkan dengan kalimat tersendiri yang mencakup makna tersebut dalam bentuk bukti.[3]

Contoh selanjutnya :

ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها    إن السفينة لا تجري على اليبس

“engkau berharap sukses namun tidak menempuh jalan kesuksesan, sungguh perahu tak kan berjalan di atas daratan”

Artinya “ kamu berharap sukses dalam bidang yang kamu inginkan namun kamu tidak mempelajari materi yang harusnya dipraktekkan untuk menuju kesuksesan yang diinginkan itu, itu bagaikan perahu yang ingin bisa berjalan di daratan, hal itu sangat tidak mungkin, makanya kesuksesan yang engkau inginkan itu mustahil terwujud sama halnya kemustahilan perahu berjalan di daratan.

musyabbah Musyabbah bih Wajah syabah
Keadaan dermawan yang miskin papa Ketinggian gunung yang jauh ditimpa air banjir Ada unsur keselamatan yang tersimpan dan tidak umum diketahui
Keadaan keinginan pendengar untuk mencapai sukses namun tidak melalui cara-cara sukses Perahu yang tidak bisa berjalan di daratan Sama – sama Tidak mungkin terwujudnya .
قال أبو نواس :

سيذكرني قومي إذا جد جدهم

و في اللليلة الظلماء يفتقد البدر

Abu Nawas mengatakan :

“kaumku akan mengingatku jika mereka dalam kesulitan

Pada saat malam mencapai puncak kegelapannya, bulan purnama muncul”

قال أبو العتاهيه :

ترجو النجاة ولم تساك مسالكها

إن السفينة لاتجري علي اليبس

Abu Al-Atahiyyah mengatakan :

“kamu mengharapkan keberhasilan, namun kamu tidak mau menjalani prosesnya

Sesungguhnya kapal itu tidak akan berlayar ditempat”

Penyair pertama mengatakan bahwa ketika kaumnya sedang mengalami kesulitan, maka mereka dengan berbondong-bondong datang kepadanya untuk meminta tolong. Mereka mengingatnya ketika sebelumnya mereka bergelimangan dengan kesenangan dan melupakannya. Kemudian penyair mengibaratkan dengan bulan purnama, ketika malam telah mencapai puncaknya maka cahaya rembulan akan tempak dengan terangnya.

Pada syair kedua Abu Al-Atahiyyah juga mengungkapkan dengan cara yang sama :

Kawanku, aku heran terhadapmu. Kamu mengharapkan kesuksesan dan keberhasilan sementara yang kulihat pada dirimu hanya dirimu yang diam tanpa menguasahakan sesuatupun dan kamu enggan mengikuti proses yang seharusnya kamu lalui. Kawanku, ingatlah, bahwa sesungguhnya kapal itu tidak akan berjalan jika dia masih tertambat pada tautannya dan dia akan berdiam selamanya, maka lepaskanlah dirimu dan berjalanlah.

Perumpaan diatas adalah perumpamaan tasybih dhimni,kenapa?

Karena kita tidaka akan menemukan adat al-tasybih, namun demikian jika merasakannya dengan hati kita maka kita akan memahami bahwa ungkapan itu mengandung perbandingan sebagaimana dimaksud dalam tasybih yang sempurna. Maka karena adat al-tasybih-nya hanya tersamar maka disebut tasybih dzimni.

Jadi tasybih dzimni adalah tasybih yang adat- al-Tasybih nya tersirat dalam ungkapannya.

Lebih jauh tasybih dzimni adalah tasybih yang tersamar, dalam arti ungkapannya memang tidak secara eksplisit berbentuk perbandingan, namun bernuansa perbandingan. Dalam bahasa Arab umumnya tasybih terdiri dari dua preposisi, proposisi pertama merupakan topiknya dan proposisi kedua merupakan analoginya.

4.      CONTOH LAIN DARI TASYBIH DHIMNY

Berikut ini adalah contoh-contoh tasybih dhimny yang lain :

فإن اتفق الأنام و أنت منهم

فإن المسك تعض دم الغزل

“jika engkau mengungguli manusia

Padahal engkau termasuk manusia

Maka sesungguhnya minyak kasturi itu

Adalah sebagian dari darah rusa”

اصبر علي مضض الحسو د فإن صبرك قا تله

النار تأكل بعضها إن لم تجد ما تأكله

“bersabarlah kamu dengan setiap hal menyakitkan dari orang-orang yang dengki, karena kesabaranmu akan membunih mereka.

Api akan memakan sebagiannya meski kamu tidak memakannya”

وما الموت إلا سارق دق شخسه

يصول بلا كف و يسعي بلا رجل

“kematian bukan apa-apa, melainkan seorang pencuri yang lihai

Datang tanpa sebab dan berjalan tanpa menggunakan kaki”

B.     MAKSUD DAN TUJUAN TASYBIH
Maksud dan tujuan tasybih itu banyak, di antaranya :

menjelaskan kemungkinan terjadinya sesuatu hal pada musyabbah, yakni ketika sesuatu yang aneh disandarkan kepada musyabbah, dan keanehan itu tidak lenyap sebelum dijelaskan keanehan serupa dalam kasus lain.
menjelaskan keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah tidak dikenal sifatnya sebelum dijelaskan melalui tasybih yang menjelaskannya. Dengan demikian tasybih itu memberikan pengertian yang sama dengan kata sifat.
menjelaskan keadaan musyabbah, yakni bila musyabbah sudah diketahui keadaannya secara global lalu tasybih didatangkan untuk menjelaskan rincian keadaan itu.
menegaskan keadaan musyabbah, yakni bila sesuatu yang disandarkan kepada musyabbah itu membutuhkan penegasan dan penjelasan dengan contoh.
Mempermudah atau memperburuk musyabbah
IV.             KESIMPULAN
tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang sudah kita kenal atau tanpa adat tasybih, hanya saja keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hokum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.
Contoh dari tasybih dhimni yang masyhur adalah contoh  berikut ini:
ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها    إن السفينة لا تجري على اليبس       .
“engkau berharap sukses namun tidak menempuh jalan kesuksesan, sungguh perahu tak kan berjalan di atas daratan”
Artinya “ kamu berharap sukses dalam bidang yang kamu inginkan namun kamu tidak mempelajari materi yang harusnya dipraktekkan untuk menuju kesuksesan yang diinginkan itu, itu bagaikan perahu yang ingin bisa berjalan di daratan, hal itu sangat tidak mungkin, makanya kesuksesan yang engkau inginkan itu mustahil terwujud sama halnya kemustahilan perahu berjalan di daratan.
Dengan ilmu bayan kita akan lebih mudah memahami kandungan makna yang disampaikan karena berkat ilmu bayan, kita dijauhkan dari makna sulit, artinya agar kalimat tersebut dijauhkan dari maksud yang tidak jelas. Ilmu bayan sendiri membahas tentang majaz,  isti’arah, tasybih dan kinayah. Ia juga bertujuan untuk menyusun kalimat dengan metode yang mampu menjelaskan tujuan-tujuan yang ada  di hati orang yang berbicara dan menyampaikan kesan yang dikehendakinya kepada hati pendengar.[4]
DAFTAR PUSTAKA.

Ahmad al hasimy, mutiara ilmu balaghah,:dalam ilmu ma’ani, mutiara ilmu. Surabaya 1984

Musthafa thamum, Haqaidul lughatu ‘arabiyah, wizaratul ma’arif. Surabaya

Ali al jarim dan musthofa usman, Balaaghatul waadhihah, pentj. Mujiyo Nurkhalis, sinar baru algensindo, bandung 2004, cet 5

Anwar, Rosihon, Ilmu Tafsir ( Bandung, Pustaka setia, 2000 )

Cahyo, Agus Tri, Balaghoh Al-Qur’an ( Ponorogo, STAIN Press, 2003

Damanhury, Ahmad, Syarh haliyah al-Lub al-Musawwan ala Risalati al-Mausuuah bial-
jawahir al-Maknun,tt Syirkat al-Nur Asia

Gufron, Muhammad, ilmu balaghoh ( Gontor, darus salam, tt)

Muhsin, Wahab dan T.Fuad Wahab, Pokok-Pokok Ilmu Balaghah, Bandung: Angkasa
1986

[1] Gufron, Muhammad, ilmu balaghoh ( Gontor, darus salam, tt)hal.21



[2] Damanhury, Ahmad, Syarh haliyah al-Lub al-Musawwan ala Risalati al-Mausuuah bial-
jawahir al-Maknun,tt Syirkat al-Nur Asia hal.68



[3] Ali al jarim dan Musthofa Usman, Balaaghatul Waadhihah, pentrjmh Mujiyo Nurkhalis,( CV.  sinar baru algensindo), bandung 2004, cet 5, hlm. 59-61



[4] Ahmad al hasimy, Mutiara ilmu Balaghah,:dalam ilmu ma’ani, (mutiara ilmu). Surabaya 1984. Hlm. 7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

stroom09@gmail.com

Total Tayangan Laman