koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Senin, Juni 10, 2013

mekkah


Kita semua tidak rela membiarkan seseorang merusak piramid, namun kenapa kita membiarkan situs sejarah Islam hilang?”

Penghargaan Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut­kan kisah tabut bani Israil yang Dia jadi­kan pertanda akan keabsahan Thalut se­bagai raja mereka, “Dan Nabi mereka meng­ata­kan kepada mereka, ‘Sesung­guhnya tan­da ia akan menjadi raja ialah kembali­nya tabut kepadamu, di dalam­nya ter­dapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat….”

Tabut ini memiliki kedudukan yang tinggi dan status yang mulia. Ia berada di tangan mereka dan ditempatkan di de­pan saat mereka mengadakan pepe­rang­an. Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya, me­reka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh mana pun.

Dalam tabut tersebut, yang merupa­kan harta peninggalan Nabi Harun, ter­da­pat tongkat Nabi Musa, tongkat dan pa­kai­an Nabi Harun, sepasang sandal dan dua papan Taurat. Demikian infor­masi yang bersumber dari tafsir Ibnu Katsir (I/313). Dalam tabut itu juga ter­dapat mang­kuk emas yang fungsinya un­tuk memba­suh dada para nabi, se­bagaimana dikutip dari Al-Bidayah wan-Nihayah (2/8).

Berkat peninggalan-peninggalan agung yang dinisbatkan kepada para hamba Allah terpilih ini, Allah meninggi­kan status tabut, meluhurkan derajatnya, menjaga dan merawatnya secara khu­sus saat bani Israil kalah akibat kemak­siatan dan pelanggaran yang mereka lakukan, termasuk tidak mementingkan untuk men­jaga tabut.

Maka Allah menghukum mereka de­ngan mencabut tabut dari tangan me­reka lalu Dia menjaga dan mengembali­kan ke­pada mereka agar menjadi bukti ke­absah­an Thalut sebagai raja mereka. Allah telah mengembalikan tabut kepada mereka dengan penuh kemuliaan dan peng­hargaan saat ia datang dibawa para malaikat.

Adakah perhatian yang lebih besar melebihi perhatian terhadap peninggal­an tersebut, pelestarian terhadapnya, dan mengingatkan akal terhadap urgensi per­kara tersebut, keagungan dan nilai kese­jarahan, keagamaan dan peradab­annya?

Allah SWT berfirman, “Dan demiki­an­­lah Kami perlihatkan (manusia) de­ngan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka ber­selisih tentang urusan me­reka, me­reka berkata, ‘Dirikanlah se­buah bangun­an di atas (gua) mereka.’ Orang yang ber­kuasa atas urusan me­reka berkata, ‘Kami pasti akan men­dirikan masjid di atas ku­buran mereka’.” – (QS Al-Kahfi: 21).

Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai ma­kam Ashabul Kahfi. Kaum pertama ber­pen­dapat agar menjadikan sebuah ru­mah di atas kuburan mereka. Sedang­kan kaum kedua berpendapat agar men­jadikan mas­jid di atas kuburan mereka. Kedua kaum tersebut bermaksud meng­hormati sejarah dan jejak mereka me­nurut man­hajnya masing-masing. Para ulama ahli tafsir mengatakan, kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah SWT.

Perhatikanlah bagaimana Allah SWT mengabadikan tindakan para pecinta Ashabul Kahfi dan menjaga sejarah terse­but dengan membangunkan masjid di Gua Kahfi tersebut. Allah tidak me­negur atau mencelanya dan menjelas­kan la­rangan tindakan tersebut, dan Al-Qur’an adalah petunjuk dan penjelas kebenaran dari kebathilan.

Inilah apresiasi yang disampaikan Al-Qur’an atas tindakan mereka: yang per­tama membangun masjid di atas Gua Ashabul Kahfi, dan kedua atas tindakan mereka dalam melestarikan dan men­jaga sejarah penting dan mulia tersebut agar menjadi pelajaran bagi umat mus­lim dan bukti kekuasaan Allah SWT.

Teladan Khulafa’ Rasyidin

“Rasulullah SAW memakai cincin dari perak yang dikenakannya di tangan. Se­lanjutnya sepeninggal beliau, cincin itu me­lekat pada tangan Abubakar, ke­mudi­an Umar, lalu di tangan Utsman, sam­pai cin­cin itu jatuh di sumur Aris. Pada cincin itu terdapat ukiran bertulis­kan Muham­mad Rasulullah.”

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari da­lam Kitabullibas bab Khatamul Fidh­dhah. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Da­lam ri­wa­yat An-Nasa’i terdapat redaksi, ‘Se­sungguhnya Utsman mencari cincin itu namun tidak menemukannya.’ Dalam ri­wayat Ibnu Sa’d terdapat redaksi, ‘Se­sungguhnya cincin itu melekat di tangan Utsman selama enam tahun’.” (Fathul Bari X/313).

Dalam riwayat lainnya, Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya kepada Az-Zubair, ia berkata, “Pada saat Perang Badar saya bertemu ‘Ubaidah ibn Sa’id ibn Al-’Ash, yang mengenakan pakaian tempur lengkap hingga yang terlihat ha­nya matanya. ‘Ubaidah memiliki julukan Abu Dzatil Kirsy. ‘Saya Abu Dzatil Kirsy,’ katanya. Lalu saya menyerangnya de­ngan tombak dan berhasil menusuk mata­nya hingga ia pun tewas.”

Hisyam berkata, “Saya dikabari bah­wa Az-Zubair berkata, ‘Sungguh saya te­lah menginjakkan kaki saya di atas tubuh Abu Dzatil Kirsy lalu saya berjalan dengan angkuh. Kemudian dengan susah payah saya mencabut tombak dari tubuh Abu Djatil Kirsy yang ternyata telah bengkok kedua sisinya.” Urwah berkata, “Rasul­ullah meminta tombak tersebut kepada Az-Zubair dan dia pun menyerahkannya. Sepeninggal beliau, Az-Zubair mengam­bil kembali tombak itu. Abu Bakar kemu­dian meminta tombak itu dan Az-Zubair pun memberikannya. Saat Abu Bakar me­ninggal, ‘Umar memintanya dan Az-Zubair pun mengabulkannya. Waktu ‘Umar meninggal dunia, tombak itu di­ambil oleh Az-Zubair lalu diminta oleh ‘Utsman dan Az-Zubair pun menyerah­kannya. Ketika ‘Utsman terbunuh tombak itu jatuh ke tangan keluarga Ali dan Abdullah ibnu Az-Zubair memintanya. Akhir­nya tombak itu berada di tangan Az-Zubair sampai ia meninggal dunia.” (HR Al-Bukhari dalam kitab Al-Maghazi bab Syuhud al-Malaikat Badran).

Ada apa di balik perhatian besar ter­hadap cincin dan tombak tersebut? Bu­kan­kah banyak cincin dan tombak-tom­bak lainnya yang lebih baik dan lebih ba­gus? Dari siapakah perhatian besar ini?

Benda-benda itu memiliki keterkaitan historis dengan Rasulullah. Perhatian terhadap benda-benda itu berasal dari empat figur khalifah yang bijak yang men­jadi pemimpin agama, pilar-pilar utama dalam pembinaan tauhid umat, dan so­sok-sosok terpercaya dalam s­jarah Islam.

Jika kepada sosok ulama seperti Syaikh Utsaimin saja sampai dibuatkan gedung mewah dan megah (Bin Uthai­meen Charity Foundation Building) dan dijadikan bak museum barang-barang peninggalannya, seperti pena, kaca­mata, dan arlojinya, dan mereka jaga de­ngan baik, bagaimana dengan pening­galan-pe­ninggalan para manusia mulia, sahabat-sahabat Nabi SAW, dan terlebih lagi makh­luk termulia, Baginda Nabi Mu­ham­mad SAW? Bukankah seharusnya pe­ninggalan mereka lebih penting untuk di­jaga, dihormati, dan dilestarikan?

Harus Dijaga!

Pelayanan yang baik bagi tetamu Allah dan Rasul-Nya di Tanah Suci me­mang hal yang patut dikedepankan. Ke­nyamanan, keamanan, dan pelayanan di berbagai aspek dalam pelaksanaan iba­dah haji layak diupayakan oleh yang ber­wenang. Itu semua memang harus di­lakukan. Hanya saja, tentunya itu se­mua jangan sampai menghilangkan buk­ti-bukti sejarah peninggalan Rasulullah, pem­bangunannya harus tetap memper­hati­kan kearifan lokal budaya Arab yang Islami dan tetap mengedepankan ke­pen­­tingan ibadah umat Islam seluruh dunia.

Adanya penilaian bahwa situs-situs ber­sejarah yang ada di sana dirasa da­pat menimbulkan hal-hal yang dapat me­micu kesyirikan hingga sampai melahir­kan tin­dakan penghancuran pada situs-situs ter­sebut tentu lahir dari kekeliruan logika yang sangat fatal kesalahannya. Sekira­nya ada jama’ah haji yang i’tiqad aqidah­nya salah, hingga saat sujud di depan Ka’bah ia membimbing hatinya saat itu bah­wa ia sedang menyembah Ka’bah, hingga ia menjadi seorang musyrik, apa­kah dengan demikian Ka’bah-nya yang harus dihancurkan?

Menjaga aqidah umat agar tetap ber­ada dalam pemahaman tauhid yang mur­ni adalah tujuan dakwah Islam dan misi para rasul. Misi itu adalah misi dak­wah yang sangat penting. Umat Islam mesti me­nerimanya dan memang me­neri­ma­nya. Umat Islam sangat meme­gang prin­sip keesaan Tuhan, sama se­kali jauh dari gambaran kaum yang me­nyekutukan Tuhan. Di sisi lain, pemeli­haraan terha­dap hal-hal kesejarahan juga penting, hing­ga Allah SWT sendiri berfirman, “Sungguh di dalam sejarah mereka terda­pat pelajaran bagi orang-orang yang ber­akal.” (QS Yusuf: 111).

Umat manusia zaman sekarang tidak cukup beruntung karena dilahirkan di za­man ketika semua kejadian dan peristiwa itu tidak pernah disaksikan. Oleh karena itu, orang sekarang harus melihat semua kejadian dan peristiwa yang tidak pernah mereka saksikan itu lewat peninggalan-peninggalan sejarah. Maka, berbagai pe­ninggalan bersejarah itu harus dijaga. Bu­kan malah dihancur­kan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman