Setelah tujuh tahun berlalu, seorang ustadz berkursi roda, yang wajahnya selalu hangat dan gembira, berbicara penuh semangat, memberikan motivasi kepada setiap santri agar tidak pernah putus asa dalam hidup.
Anak itu menghapus keringat di dahinya. Kepalanya ia tengadahkan ke arah tebing. Suara pipit dan murai terdengar bersahutan. Panas pagi mulai naik, menjelang waktu dhuha. Walau tebing itu tidak curam, bagi orang cacat seperti dia tentu bukan hal yang mudah meniti jenjang batu untuk sampai di desa sebelah.
Itu jalan satu-satunya yang menghubungkan kedua desa. Kalau ingin jalan yang bagus dan lebar, akan menghabiskan waktu, dan harus berputar mengelilingi desa. Itu jelas menghabiskan waktu.
Anak itu memulai perjuangannya, beringsut sedikit demi sedikit dengan kedua tangannya yang dipergunakannya layaknya kaki. Itu dilakukannya setiap hari, minimal dua kali sehari, sampai akhirnya ia menamatkan SMP. Sebuah perjuangan yang tidak ringan di tengah hambatan besar yang menimpa dirinya.
Iswandi namanya, seorang anak desa di sebuah kaki gunung di daerah Agam, Sumatera Barat. Ia terlahir cacat sehingga tidak bisa berjalan. Kakinya yang pendek dan cacat tidak bisa difungsikan. Kalau bepergian, ia beringsut, tangannya dijadikan sebagai penopang.
Tapi semangat hidupnya sungguh luar biasa. Begitu juga semangat belajarnya, tak pernah padam. Allah SWT memberikan kekurangan kepadanya, tapi di sisi lain melebihkan semangat dan kecerdasan untuknya.
Di tengah himpitan kemiskinan keluarga dan serba keterbasan yang sering membuat orang menyerah pada nasib, Iswandi melabrak semua penghalang itu. Ketika anak seumurnya mulai masuk sekolah dasar, ia merengek kepada orangtuanya untuk disekolahkan juga.
Ibunya hanya bisa menangis mendengar permintaannya, sedih melihat nasib anaknya. Namun ayahnya bukanlah orang yang mudah takluk pada kejadian yang menimpa anaknya, ia mendorong keinginan anaknya untuk sekolah. ”Jangan terlalu terpaku dengan kondisinya, kita serahkan kepada Tuhan untuk mengawasi dan memeliharanya,” ujar sang ayah bijak.
Persoalan pertama yang harus mereka atasi adalah jauhnya sekolah itu dari rumah, karena letaknya harus menyeberangi desa, dan kalau jalan memintas harus melewati jenjang batu. Orang yang normal saja sering mengalami kesulitan, apalagi anaknya, yang cacat.
Tapi anak itu tetap bersikeras ingin sekolah, ia merengut terus karena belum ada jawaban yang pasti dari orangtua. Ia mengerti betapa pentingnya pendidikan, walau mereka orang kampung yang miskin. Semangat bersekolah dan belajar memang begitu tinggi di desa kecil itu, mungkin juga pengaruh para ustadz pesantren yang berada di ujung desa.
Akhirnya permintaan sang anak dituruti juga. Orangtua itu lalu memasukkan anak cacat tersebut ke sekolah biasa. Tidak ada hambatan, karena sekolah itu mencari anak-anak yang usia sekolah dan mewajibkan mereka sekolah. Bagi mereka, mendidik anak seperti Iswandi jauh lebih mudah, karena, walau cacat, ia begitu bersemangat dan punya keinginan kuat untuk belajar.
Benar saja, selama enam tahun orang-orang menyaksikan bagaimana kuat dan tingginya semangatnya untuk belajar. Ia tidak peduli dengan berbagai hambatan dan rintangan yang menerpa dirinya. Bahkan pernah sampai tangannya berdarah-darah karena tergores cadas yang dilewatinya. Tapi baginya itu hanyalah rintangan kecil, semangat belajarnya jauh lebih besar dari itu.
Guru-guru sangat menyayanginya. Karena, di samping semangat belajarnya begitu tinggi, ia juga cerdas dan daya ingatnya sangat kuat. Dari kelas satu sampai kelas enam, ia selalu menjadi contoh dan teladan bagi teman-temannya, karena prestasinya yang mengkilap.
Sungguh mengharukan bagaimana ia belajar dan duduk di kursi yang diberi bantal agar tangannya bisa sampai ke meja. Tapi, sekali lagi, Iswandi merasa bahwa hal itu bukan rintangan.
Teman-temannya juga tahu persis menempatkan dia. Mereka bangga punya teman yang begitu menginspirasi dan pantas dijadikan teladan. Di tengah keterbatasannya yang sangat mencolok, ia tetap punya semangat yang tinggi untuk belajar.
Namun, karena keterbatasan keluarganya, yang hanya petani kecil, ada semacam kekhawatiran pada diri orangtuanya ketika mengetahui bahwa anaknya ingin terus bersekolah. Setelah Iswandi lulus dari sekolah dasar dengan prestasi terbaik, SMP di desa itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi dirinya. Orangtuanya mulai khawatir dengan biaya-biaya yang akan mereka tanggung, karena anak mereka bukan hanya Iswandi, tapi ada dua yang lainnya.
Tapi bukankah di setiap kesulitan itu Allah juga menyediakan kemudahan? Itu janji Allah dalam kitab suci-Nya. Sebagai orang yang dulunya pernah mengecap pendidikan agama, orangtua itu menyerahkan dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
Biografi Tokoh Besar
Sebagai pelajar yang pintar, Iswandi banyak melahap buku bacaan, yang dipinjamnya di perpustakaan SMP tempatnya belajar.
Ia sangat menyenangi biografi tokoh-tokoh besar dunia dan menghayati perjuangan dan jatuh-bangunnya mereka. Kegagalan adalah makanan sehari-hari mereka, tapi hal itu tidak membuat mereka patah semangat. Thomas Alva Edison mencoba beribu kali sampai ia menemukan bohlam. Coba kalau kali kesekian ia putus asa, dunia tidak akan menikmati penemuannya itu seperti sekarang.
Banyak buku tokoh besar itu yang dibacanya sehingga membuat Iswandi tampil dan berpikiran seperti orang dewasa.
Setelah selesai SMP dengan perjuangan yang tanpa kenal lelah, ia bilang kepada orangtuanya untuk melanjutkan ke SMA di kecamatan.
Orangtuanya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka yakin bahwa putranya mampu. Tapi mereka juga tahu, hambatan yang akan ditemuinya tidaklah ringan.
Melepasnya sendirian naik angkutan desa, naik ke mobil dengan kondisi seperti itu, mungkin akan membuat si sopir akan sering kehilangan kesabaran. Mungkin bagi Iswandi sendiri tidak akan jadi masalah, karena mentalnya memang luar biasa. Tapi mungkin akan merepotkan bagi pihak lain.
Orangtua mana yang tidak ingin anaknya maju dan berhasil, semua orangtua menginginkan hal itu, walau sang anak punya keterbatasan. Bagi orangtua Iswandi, anak adalah amanah Allah yang dititipkan kepada mereka dan harus dirawat dan dibesarkan dengan baik sesuai kemampuan mereka.
Mereka tidak pernah menyalahkan nasib, apalagi menyalahkan ketentuan Allah SWT, berkenaan dengan cacatnya Iswandi. Setiap yang terjadi dalam hidup, mereka sikapi dengan keimanan yang kuat. Sebagai makhluk, mereka mengembalikan semua kepada Sang Pencipta makhluk, Allah SWT.
Banyak orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT dengan berfungsinya secara normal semua anggota tubuhnya tapi menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dan mencapai cita-citanya. Malah banyak yang merusak diri mereka dengan minuman dan makanan yang diharamkan agama.
Ada juga yang orangtuanya mampu, sanggup memberikan fasilitas apa saja untuk anaknya agar mau sekolah, tapi si anak malah kerjanya membolos. Dari rumah katanya pergi ke sekolah, tapi di tengah jalan berbelok ke tempat lain. Tidak ada kemauan dan semangat untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Inginnya bersenang-senang, tanpa usaha keras.
Uluran Tangan Pesantren
Orangtua Iswandi merasakan, rintangan untuk anaknya memilih sekolah ke kecamatan cukup sulit. Walau mereka juga yakin bahwa anaknya punya kemampuan untuk menyelesaikan sekolah menengah atas itu, karena otaknya encer.
Akhirnya, si ayah menemui pemimpin pesantren tempat ia dulu menuntut ilmu walau tidak selesai, di ujung desa mereka. Ia baru sadar mengapa anaknya tidak disuruh menuntut ilmu di pesantren saja, apalagi pesantren ada asramanya, sehingga tidak menyulitkan bagi putranya untuk bolak-balik.
Pemimpin pesantren sangat antusias mendengar penuturan orangtua Iswandi. Mereka sudah tidak asing lagi mendengar nama Iswandi, karena kepintarannya dikenal di seluruh desa. Apalagi Sutan Saidi, ayah Iswandi, dulu juga pernah menuntut ilmu di pesantren itu tapi tidak tamat, karena lebih memilih cepat-cepat bertani.
Yang membuat sang ayah terharu, di samping karena kesediaan pemimpin pesantren menerima anaknya, pesantren juga akan mengusahakan kursi roda untuk Iswandi, agar ia tidak harus bersusah payah melangkah tertatih-tatih dengan tangannya. Dan yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka, tidak ada pungutan satu sen pun untuk Iswandi kalau mau belajar di pesantren tersebut. Begitulah rencana Allah SWT untuknya.
Iswandi adalah anak yang berhati lembut dan sangat mengerti kondisi orangtua dan dirinya. Yang terpenting baginya adalah menuntut ilmu. Sehingga, ketika orangtuanya menawarkan apa yang dijanjikan pesantren, ia gembira dan serta merta menerimanya.
Setelah tujuh tahun berlalu, seorang ustadz berkursi roda, yang wajahnya selalu hangat dan gembira, berbicara penuh semangat, memberikan motivasi kepada setiap santri agar tidak pernah putus asa dalam hidup, “Jangan mau menyerah pada keterbatasan, dan selalulah optimistis menghadapi hidup.”
Itulah Ustadz Iswandi, yang dicintai para santri. ”Hidup ini harus selalu berarti, karena hanya sekali,” ujarnya
Habib Mahdi bin Hasan Al-Haddar
Tidak Ada Yang Sia-sia Diciptakan Allah
Islam adalah agama yang sempurna, agama yang haq dan datang dari Yang Mahasempurna. Tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya dalam Islam. Mereka yang kehilangan semangat digembirakan dengan janji bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Ath-Thalaq ayat 2, “ ...Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”
Berpegang teguh pada ajaran agama adalah sebaik-baik pilihan, karena Allah-lah nanti yang akan menyelesaikan permasalahannya. Walaupun, menurut pikiran dan logika manusia, yang terbatas, persoalan itu berat.
Dari kisah ini kita bisa mengambil ibrah, kekurangan yang mungkin oleh manusia lain dianggap sebagai penghalang justru menjadi pemicu semangat bagi yang bersangkutan. Dan dari manakah hal itu semua kalau bukan dari Allah SWT?
Setelah habis tanjakan, akan ditemui turunan. Mereka yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan yang dicita-citakannya.
Agama adalah sumber motivasi yang tidak akan habis dalam menyikapi setiap masalah yang ditemui oleh manusia. Kalau ada persoalan, mengadulah kepada Allah SWT dan minta tolonglah kepada-Nya. Karena Allah SWT tidak pernah lalai dan lengah dalam mengurus makhluk-Nya. Mereka yang baik akan cenderung qalbunya kepada ketaatan dan selalu berprasangka baik kepada Rabbnya. Sikap inilah yang harus kita teladani dari mereka yang menurut ukuran manusia dipandang tidak normal tapi semangat hidup mereka sangat luar biasa.
Tidak ada yang sia-sia dijadikan oleh Allah SWT di muka bumi yang fana ini, semuanya mengandung hikmah dan pelajaran berharga, asal kita selalu bersungguh-sungguh mempelajari dan menggali. Marilah kita terus belajar dan mohon petunjuk Allah SWT. Demikian mauizhah Habib Mahdi bin Hasan Al-Haddar, pengasuh MT Walisanga, Banyuwangi, Jawa Timur.
sumber:majalah alkisah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com