koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Senin, Juni 10, 2013

menjalani hidup dengan penuh makna


Setelah tujuh tahun berlalu, seorang ustadz berkursi roda, yang wajahnya selalu hangat dan gembira, berbicara penuh semangat, memberikan motivasi kepada setiap santri agar tidak pernah putus asa dalam hidup.

Anak itu menghapus keringat di dahinya. Kepalanya ia tengadahkan ke arah tebing. Suara pipit dan murai ter­dengar bersahutan. Panas pagi mulai naik, menjelang waktu dhu­ha. Walau tebing itu tidak curam, bagi orang cacat seperti dia tentu bukan hal yang mudah meniti jen­­jang batu untuk sampai di desa se­belah.

Itu jalan satu-satunya yang menghubungkan kedua desa. Kalau ingin jalan yang bagus dan lebar, akan menghabiskan wak­tu, dan harus berputar mengeli­li­ngi desa. Itu jelas menghabiskan waktu.

Anak itu memulai perjuang­an­nya, beringsut sedikit demi sedikit dengan kedua tangannya yang dipergunakannya layaknya kaki. Itu dilakukannya setiap hari, minimal dua kali sehari, sampai akhirnya ia menamatkan SMP. Sebuah perjuangan yang tidak ringan di tengah hambatan besar yang menimpa dirinya.

Iswandi namanya, seorang anak desa di sebuah kaki gunung di daerah Agam, Sumatera Barat. Ia terlahir cacat sehingga tidak bisa berjalan. Kakinya yang pendek dan cacat tidak bisa di­fungsikan. Kalau bepergian, ia beringsut, tangannya dijadikan sebagai penopang.

Tapi semangat hidupnya sungguh luar biasa. Begitu juga semangat bel­ajarnya, tak pernah padam. Allah SWT memberikan kekurangan kepadanya, tapi di sisi lain melebihkan semangat dan kecerdasan untuknya.

Di tengah himpitan kemiskinan ke­luarga dan serba keterbasan yang sering membuat orang menyerah pada nasib, Iswandi melabrak semua penghalang itu. Ketika anak seumurnya mulai masuk sekolah dasar, ia merengek kepada orangtuanya untuk disekolahkan juga.

Ibunya hanya bisa menangis mende­ngar permintaannya, sedih melihat nasib anaknya. Namun ayahnya bukanlah orang yang mudah takluk pada kejadian yang menimpa anaknya, ia mendorong keinginan anaknya untuk sekolah. ”Ja­ngan terlalu terpaku dengan kondisinya, kita serahkan kepada Tuhan untuk meng­awasi dan memeliharanya,” ujar sang ayah bijak.

Persoalan pertama yang harus me­reka atasi adalah jauhnya sekolah itu dari rumah, karena letaknya harus me­nyeberangi desa, dan kalau jalan me­min­tas harus melewati jenjang batu. Orang yang normal saja sering menga­lami kesulitan, apalagi anaknya, yang cacat.

Tapi anak itu tetap bersikeras ingin sekolah, ia merengut terus karena belum ada jawaban yang pasti dari orangtua. Ia mengerti betapa pentingnya pendi­dikan, walau mereka orang kampung yang miskin. Semangat bersekolah dan bel­ajar memang begitu tinggi di desa kecil itu, mungkin juga pengaruh para ustadz pesantren yang berada di ujung desa.

Akhirnya permintaan sang anak di­turuti juga. Orangtua itu lalu memasuk­kan anak cacat tersebut ke sekolah biasa. Tidak ada hambatan, karena sekolah itu mencari anak-anak yang usia sekolah dan mewajibkan mereka seko­lah. Bagi mereka, mendidik anak seperti Iswandi jauh lebih mudah, karena, walau cacat, ia begitu bersemangat dan punya keinginan kuat untuk belajar.

Benar saja, selama enam tahun orang-orang menyaksikan bagaimana kuat dan tingginya semangatnya untuk belajar. Ia tidak peduli dengan berbagai hambatan dan rintangan yang menerpa dirinya. Bahkan pernah sampai tangan­nya berdarah-darah karena tergores ca­das yang dilewatinya. Tapi baginya itu hanyalah rintangan kecil, semangat bel­ajarnya jauh lebih besar dari itu.

Guru-guru sangat menyayanginya. Karena, di samping semangat belajar­nya begitu tinggi, ia juga cerdas dan daya ingatnya sangat kuat. Dari kelas satu sampai kelas enam, ia selalu men­jadi contoh dan teladan bagi teman-te­mannya, karena prestasinya yang meng­kilap.

Sungguh mengharukan bagaimana ia belajar dan duduk di kursi yang diberi bantal agar tangannya bisa sampai ke meja. Tapi, sekali lagi, Iswandi merasa bahwa hal itu bukan rintangan.

Teman-temannya juga tahu persis menempatkan dia. Mereka bangga punya teman yang begitu menginspirasi dan pantas dijadikan teladan. Di tengah keterbatasannya yang sangat mencolok, ia tetap punya semangat yang tinggi un­tuk belajar.

Namun, karena keter­batasan keluar­ganya, yang hanya petani kecil, ada sema­cam kekha­watir­an pada diri orang­­tuanya ke­tika mengetahui bah­wa anak­nya ingin terus ber­sekolah. Setelah Iswandi lulus dari sekolah dasar de­ngan prestasi ter­baik, SMP di desa itu mem­buka pintu selebar-lebarnya bagi dirinya. Orang­tuanya mulai khawatir de­ngan biaya-biaya yang akan mereka tang­gung, karena anak mereka bukan hanya Iswandi, tapi ada dua yang lainnya.

Tapi bukankah di setiap kesulitan itu Allah juga menyediakan kemudahan? Itu janji Allah dalam kitab suci-Nya. Sebagai orang yang dulunya pernah mengecap pendidikan agama, orangtua itu menye­rahkan dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.

Biografi Tokoh Besar

Sebagai pelajar yang pintar, Iswandi banyak melahap buku bacaan, yang di­pinjamnya di perpustakaan SMP tempat­nya belajar.

Ia sangat menyenangi biografi tokoh-tokoh besar dunia dan menghayati per­juangan dan jatuh-bangunnya mereka. Kegagalan adalah makanan sehari-hari mereka, tapi hal itu tidak membuat me­reka patah semangat. Thomas Alva Edison mencoba beribu kali sampai ia menemukan bohlam. Coba kalau kali kesekian ia putus asa, dunia tidak akan menikmati penemuannya itu seperti sekarang.

Banyak buku tokoh besar itu yang di­bacanya sehingga membuat Iswandi tampil dan ber­pikiran seperti orang dewasa.

Setelah se­le­sai SMP dengan per­juangan yang tanpa kenal lelah, ia bilang kepada orangtuanya untuk melanjutkan ke SMA di kecamatan.

Orangtuanya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka yakin bahwa putranya mampu. Tapi mereka juga tahu, hambat­an yang akan ditemui­nya tidaklah ringan.

Melepasnya sendirian naik angkutan desa, naik ke mobil dengan kondisi se­perti itu, mungkin akan membuat si sopir akan sering kehilangan kesabaran. Mung­kin bagi Iswandi sendiri tidak akan jadi masalah, karena mentalnya me­mang luar biasa. Tapi mungkin akan me­repotkan bagi pihak lain.

Orangtua mana yang tidak ingin anak­nya maju dan berhasil, semua orang­tua menginginkan hal itu, walau sang anak punya keterbatasan. Bagi orangtua Iswandi, anak adalah amanah Allah yang dititipkan kepada mereka dan harus dirawat dan dibesarkan dengan baik sesuai kemampuan mereka.

Mereka tidak pernah menyalahkan nasib, apalagi menyalahkan ketentuan Allah SWT, berkenaan dengan cacatnya Iswandi. Setiap yang terjadi dalam hidup, mereka sikapi dengan keimanan yang kuat. Sebagai makhluk, mereka me­ngembalikan semua kepada Sang Pen­cipta makhluk, Allah SWT.

Banyak orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT dengan berfungsinya secara normal semua anggota tubuhnya tapi menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dan mencapai cita-citanya. Malah banyak yang merusak diri mereka de­ngan minuman dan makanan yang di­haramkan agama.

Ada juga yang orangtuanya mampu, sanggup memberikan fasilitas apa saja untuk anaknya agar mau sekolah, tapi si anak malah kerjanya membolos. Dari rumah katanya pergi ke sekolah, tapi di tengah jalan berbelok ke tempat lain. Tidak ada kemauan dan semangat untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Inginnya bersenang-senang, tanpa usaha keras.

Uluran Tangan Pesantren

Orangtua Iswandi merasakan, rin­tangan untuk anaknya memilih sekolah ke kecamatan cukup sulit. Walau me­reka juga yakin bahwa anaknya punya kemampuan untuk menyelesaikan se­kolah menengah atas itu, karena otak­nya encer.

Akhirnya, si ayah menemui pemim­pin pesantren tempat ia dulu menuntut ilmu walau tidak selesai, di ujung desa mereka. Ia baru sadar mengapa anak­nya tidak disuruh menuntut ilmu di pe­santren saja, apalagi pesantren ada asramanya, sehingga tidak menyulitkan bagi putranya untuk bolak-balik.

Pemimpin pesantren sangat antu­sias mendengar penuturan orangtua Iswandi. Mereka sudah tidak asing lagi mendengar nama Iswandi, karena ke­pintarannya dikenal di seluruh desa. Apalagi Sutan Saidi, ayah Iswandi, dulu juga pernah menuntut ilmu di pesantren itu tapi tidak tamat, karena lebih memilih cepat-cepat bertani.

Yang membuat sang ayah terharu, di samping karena kesediaan pemimpin pesantren menerima anaknya, pesan­tren juga akan mengusahakan kursi roda un­tuk Iswandi, agar ia tidak harus ber­susah payah melangkah tertatih-tatih de­ngan tangannya. Dan yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka, tidak ada pu­ngut­an satu sen pun untuk Iswandi ka­lau mau belajar di pesantren tersebut. Begitu­lah rencana Allah SWT untuknya.

Iswandi adalah anak yang berhati lem­but dan sangat mengerti kondisi orangtua dan dirinya. Yang terpenting baginya adalah menuntut ilmu. Sehing­ga, ketika orangtuanya me­na­warkan apa yang dijanjikan pesan­tren, ia gembira dan serta merta menerima­nya.

Setelah tujuh tahun berlalu, seorang ustadz berkursi roda, yang wajahnya selalu hangat dan gembira, berbicara penuh semangat, memberikan motivasi kepada setiap santri agar tidak pernah putus asa dalam hidup, “Jangan mau menyerah pada keterbatasan, dan se­lalulah optimistis menghadapi hidup.”

Itulah Ustadz Iswandi, yang dicintai para santri. ”Hidup ini harus selalu ber­arti, karena hanya sekali,” ujarnya

Habib Mahdi bin Hasan Al-Haddar
Tidak Ada Yang Sia-sia Diciptakan Allah
www.majalah-alkisah.comIslam adalah agama yang sempurna, agama yang haq dan datang dari Yang Mahasempurna. Tidak ada masalah yang tidak ada penyele­sai­annya dalam Islam. Mereka yang kehi­langan semangat digembirakan dengan janji bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Ath-Thalaq ayat 2, “ ...Barang siapa ber­taqwa ke­pada Allah, niscaya Dia akan menga­dakan baginya jalan keluar.”
Berpegang teguh pada ajaran agama adalah sebaik-baik pilihan, karena Allah-lah nanti yang akan menyelesaikan per­masalahannya. Walaupun, menurut pikir­an dan logika manusia, yang terbatas, persoalan itu berat.
Dari kisah ini kita bisa mengambil ibrah,  kekurangan yang mungkin oleh manusia lain dianggap sebagai pengha­lang justru menjadi pemicu semangat bagi yang bersangkutan. Dan dari mana­kah hal itu semua kalau bukan dari Allah SWT?
Setelah habis tanjakan, akan ditemui turunan. Mereka yang bersungguh-sung­guh akan mendapatkan yang dicita-citakannya.
Agama adalah sumber motivasi yang tidak akan habis dalam menyikapi setiap masalah yang ditemui oleh  manusia. Kalau ada persoalan, mengadulah ke­pada Allah SWT dan minta tolonglah ke­pada-Nya. Karena Allah SWT tidak per­nah lalai dan lengah dalam mengurus makh­luk-Nya. Mereka yang baik akan cen­derung qalbunya kepada ketaatan dan selalu berprasangka baik kepada Rabbnya. Sikap inilah yang harus kita teladani dari mereka yang menurut ukur­an manusia dipandang tidak normal tapi semangat hidup mereka sangat luar biasa.
Tidak ada yang sia-sia dijadikan oleh Allah SWT di muka bumi yang fana ini, semuanya mengandung hikmah dan pel­ajaran berharga, asal kita selalu bersung­guh-sungguh mempelajari dan menggali. Marilah kita terus belajar dan mohon pe­tunjuk Allah SWT. Demikian mauizhah Habib Mahdi bin Hasan Al-Haddar, peng­asuh MT Walisanga, Banyuwangi, Jawa Timur.



sumber:majalah alkisah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman