koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Tampilkan postingan dengan label masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 05, 2013

masjid kobe

Masjid Kobe di Jepang Tak Hancur Diserang Bom dan Gempa Bumi
Foto: Masjid Kobe di Jepang
Add caption
Bangunan dengan struktur bangunan sekuat apapun itu pasti hancur ketika diserang oleh rentetan bom dan juga gempa bumi. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Kobe Mosque yang terletak di Jepang.

Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Muslim Kobe ini merupakan masjid pertama di Jepang yang dibangun pada tahun 1928 di Nakayamate Dori, Chuo-Ku. Proses pembangunan masjid ini berjalan selama tujuh tahun dan dibuka pertama kali pada Oktober 1935.

Pada tahun 1945 saat terjadi Perang Dunia II, setelah Jepang menyerang Pearl Harbour di Amerika, pihak Amerika menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Saat itu, Kobe juga menerima serangan bom lewat udara. Meski bom yang dijatuhkan di Kobe tidak sejenis bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, namun Kobe juga rata dengan tanah.

Ketika hampir semua bangunan rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe ini tetap berdiri tegak. Semua kaca jendela masjid ini pecah, selain itu dinding luarnya mengalami keretakan. Bagian luar masjid juga menjadi agak hitam karena asap serangan bom.

Para tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari serangan ini, begitu pula dengan senjata-senjata yang disembunyikan. Masjid ini juga kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Pasca Perang Dunia II, masjid ini direnovasi dengan bantuan dana dari pemerintah Arab Saudi dan Kuwait. Mereka mengganti kaca-kaca jendela yang pecah dengan kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sistem pengatur suhu pun dipasang di masjid ini.

Kekokohan Masjid Muslim Kobe kembali diuji ketika terjadi gempa bumi yang cukup dahsyat pada 17 Januari 1995. Gempa ini merupakan gempa bumi terburuk yang dialami Jepang sejak gempa bumi besar di Kanto pada tahun 1923. Tapi Masjid Muslim Kobe tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

Kamis, Mei 30, 2013

msjid agung banten lama


Secara garis besar Masjid berusia lebih dari 5 abad ini berasitektur sebagaimana masjid di Jawa. Yang unik adalah atapnya yang bertumpuk lima, beda dengan masjid jawa yang hanya bertumpuk tiga. Hal ini dimungkin karena pengaruh arsitektur cina, dimana salah satu arsitektur masjid adalah Tjek Ban Tjut (Pangeran Adiguna). Sebenarnya dua atap teratas terlalu kecil untuk disebut atap, jadi terkesan hanya sebuah hiasan atau “mahkota” bangunan saja. Atap lima tumpuk itu mempunyai makna 5 Rukun Islam. Pintu masuk Masjid di sisi depan 



Add caption


berjumlah enam yang berarti Rukun Iman. Enam pintu itu dibuat pendek dengan maksud, setiap jamaah haruslah merendahkan diri ke hadapan Allah SWT dan menanggalkan segala bentuk keangkuhan.
Di sebelah selatan terdapat juga makam sultan – sultan dan museum benda – benda dan senjata kuno kesultanan Banten. Pintu masuk menuju ruangan dalam pendek dan sempit. Di depan masjid terdapat empat kolam yang dulunya untuk membersihkan diri sebelum memasuki masjid.   Kalo di masjid tua Jawa biasa tidak berupa kolam tapi parit kecil yang mengelilingi masjid. Tempat wudlu nya masih campur antara wanita dan pria. Saat waktu sholat Dhuhur, terasa sangat crowded banget, apalagi ketika memasuki ruangan dalam Masjid, kita mesti berhati – hati agar tidak bersentuhan karena memang pintu masuk untuk pria dan wanita tidak dibedakan. Kondisi tempat wudlu yang semrawut bertambah semrawut karena juga digunakan anak daerah itu untuk main – main air, satu lagi beberapa orang menggunakan tempat wudlu dengan sandal.
Bangunan yang menjadi ikon Masjid Agung Banten adalah menaranya. Sebelum datang, kami membayangkan kalau menara masjid begitu tinggi. Ternyata tidak telalu tinggi, sekitar 30 meter dengan diameter ± 10 meter. Kondisi menara ini terlihat terjaga dan terawat. Menara beranak tangga 83 buah ini dirancang oleh Hendick Lucasz Cardeel, arsitektur eropa  yang masuk islam dan menikah dengan putri sultan. Hendick Lucasz Cardeel juga menambahkan pavilion di sisi selatan masjid yang berguna untuk kegiatan kajian keagamaan, namun kami tidak sempat mengunjunginya.
Masjid Agung Banten merupakan “monument” bersejarah penyebaran Islam di Jawa. Juga merupakan tempat favorit ziarah umat Islam di Jawa. Sayang pengelolaan kios – kios di depannya sangat kurang. Kondisi kebersihannya pun perlu lebih diperhatikan lagi. Bila pengelolaan lebih baik, Masjid Agung Banten ini akan menjadi pariwisata unggulan propinsi Banten.
Catt :
  1. Masjid Banten di bangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada putranya Sultan Maulana Hasanudin
  2. Salah satu arsitekt masjid ini adalah Raden Sepat ( arsitek Masjid Demak dan Masjid Cirebon )
  3. Ada pendapat yang menyatakan  Hendick Lucasz Cardeel ( Pangeran Wiraguna) adalah orang Belanda, pendapat lain mengatakan orang Portugis
  4. Makam Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa berada pada komplek pemakaman sebelah utara.
  5. Jumlah 24 tiang masjid menggambarkan waktu 24 jam sehari
  6. Masjid Agung Banten merupakan salah satu Masjid tertua di Jawa
  7. Dari Terminal Pakupatan, naik angkot arah Banten Lama

Senin, April 22, 2013

masjid di puncak gunung muria




 www.majalah-alkisah.com



Sekitar 18 km sebelah utara kota Kudus, di sebuah desa kecil bernama Calo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dahulu bermukim seorang waliyullah. Ia salah seorang dari Walisanga yang bergelar Sunan Muria. Gelar ini dilekatkan padanya karena ia memfokuskan kegiatan dakwah Islam di kaki Gunung Muria. Untuk itu, beliau membangun pesantren dan sebuah masjid di puncak gunung itu.

Pesantren tersebut terletak persis di belakang masjid yang telah dibangunnya lebih awal. Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Said. Desa kecil Calo itu, dari dulu hingga kini, menjadi terkenal dan ramai diziarahi berkat adanya makam Sunan Muria di sana.

Dewasa ini, masjid buah tangan Sunan Muria praktis hanya menyisakan sedikit bagian yang orisinal. Itu pun tak luput dari sentuhan pemugaran. Saat ini masjid tersebut dibagi dua: bagian khusus untuk kaum pria dan bagian khusus untuk puak wanita. Pada masjid untuk pria masih ditemukan peninggalan asli Sunan Muria berupa mihrab, empat buah umpak batu (tempat penyangga tiang masjid) yang diangkut dari Pulau Bali, dan sebuah beduk (gayor). Adapun masjid yang khusus untuk wanita direnovasi pada 1976.

Makam dan masjid Sunan Muria terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai lokasi itu, sejak lama orang mesti berjalan kaki, menerobos melalui jalan setapak. Baru belakangan ini tersedia ojek sepeda motor yang siap mengantar pengunjung ke sana.

Gunung itu dinamai Muria, dan sering diidentifikasi dengan nama sebuah bukit di Palestina, Bukit Moriah. Menurut cerita, Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah rumah ibadah (kenisah) di puncak Gunung Moriah. Jadi, jika kota Kudus dapat dikaitkan dengan berdirinya Masjid Al-Aqsha, nama Muria memiliki asosiasi yang kuat dengan Bukit Moriah di Baitul Maqdis atau Yerusalem Darussalam.

Memasuki pintu gerbang makam, terlihat pemandangan 17 batu nisan. Menurut juru kunci, itu adalah makam para prajurit dan punggawa keraton. Makam Sunan Muria sendiri terletak di batas utara pelataran, di dalam bangunan cungkup makam beratap sirap dua tingkat. Pada sisi timur terdapat nisan yang konon adalah makam putri Sunan Muria yang bernama Raden Ayu Nasiki.

Di sebelah barat dinding belakang Masjid Muria, terdapat makam Panembahan Penghulu Jogodipo, yang disebut-sebut sebagai putra sulung Sunan Muria. Ia adalah putra Dewi Saroh – adik kandung Sunan Giri, sekaligus anak Syaikh Maulana Ishak – dengan Sunan Kalijaga. -

Perubahan secara Gradual
Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga; namun, berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agam Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria juga sering dijadikan penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-30). Beliau memang dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah, betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana, hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu karya dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanthi.

Raden Umar Syaid atau Raden Said, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria, adalah salah seorang dari kesembilan wali yang dikenal di Jawa. Dalam riwayat dikatakan, putra Sunan Kalijaga ini, dari perkawinannya dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung, yang tak lain kakak Sunan Kudus, memperoleh seorang putra yang diberi nama Pangeran Santri – yang kemudian mendapat julukan Sunan Ngadilangu.

Sunan Muria juga terhitung salah seorang penyokong Kerajaan Bintoro yang setia. Beliau memang ikut mendirikan Masjid Demak; tapi, semasa hidupnya dalam menjalankan dakwah keislaman, Sunan lebih suka berdakwah di desa-desa yang jauh letaknya dari kota atau pusat keramaian. Ulama ini lebih suka menyendiri, tinggal di desa dan hidup bergaul di tengah-tengah rakyat jelata, sambil mendawahkan agama Islam di lereng Gunung Muria.

Cara beliau berdakwah, antara lain, mengadakan kursus-kursus terhadap kaum dagang, nelayan, dan rakyat jelata. Beliaulah kabarnya yang mempertahankan alat musik gamelan sebagai satu-satunya seni Jawa yang sangat efektif untuk memasukkan nilai-nilai keislaman, ketauhidan (untuk selalu mengingat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa) ke dalam hati rakyat.

Salah satu keberhasilan dakwah Sunan Muria – sebagaimana para wali lainnya – terletak pada kemampuannya memahami kondisi sosiologis masyarakatnya. Beliau tidak berkompromi dalam soal tauhid. Namun dalam hal lainnya, terutama yang berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat, beliau sangatlah toleran.

Dengan perspektif itu, perubahan secara gradual, bertahap, dan tanpa konflik yang berarti, telah menjadi ciri khas kekuatan dakwahnya. Tradisi masyarakat, bagi Sunan, hakikatnya adalah sebuah media yang bisa digunakan untuk kepentingan berdakwah. Maka selama ia tidak bertentangan dengan tauhid, dan bisa diisi dengan ruh Islam, perlu dipelihara dan dimanfaatkan.



referensi majalah akisah.com

masjid

Di samping sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tempat berlindung dan benteng pertahanan  bagi masyarakat saat melawan Belanda.

 www.majalah-alkisah.com
Masyarakat di Kerinci menamai bangunan tua sebagai tempat ibadah umat Islam ini “Masjid Keramat”. Masjid yang sampai saat ini masih berdiri kokoh itu dibangun pertama kali pada tahun 1785, dengan bahan bangunan utama dari kayu pilihan dan konstruksi tanpa memakai paku besi. Untuk menyambung setiap kayu, digunakan paku kayu yang disebut pasak.

Masjid keramat yang pertama berada di Desa Koto Tuo Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau. Jarak tempuh perjalanan menuju Masjid Keramat ini lebih kurang 12 km dari pusat kota Sungai Penuh. Konon, pemberian nama “Keramat” alias “Sakti” berlatar belakang sejarah perjuangan rakyat Pulau Tengah pada awal masuknya pasukan kolonial Belanda ke Kerinci pada tahun 1900. Bangunan masjid yang berdiri di atas lahan seluas 59,2 m x 44,3 m dijadikan tempat berlindung oleh masyarakat dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Masjid Keramat Koto Tuo ini adalah saksi bisu bagaimana semangat heroiknya masyarakat Pulau Tengah menentang penjajahan Belanda.

Ruang utama berbentuk bujur sangkarwww.majalah-alkisah.com berukuran 27 x 27 m dan jumlah tiang dalam ruang utama sebanyak 25 buah. Sedangkan bangunan masjid dengan atap tumpang tiga, dan mustaka masjid terbuat dari batu andesit, merupakan perpaduan gaya lokal dengan budaya luar.

Seperti diketahui, model masjid kuno di Indonesia umumnya berasal dari pola bangunan tradisonal Jawa yang disebut pendopo bujur sangkar. Hanya saja lantai dasarnya yang terbuat dari kayu lebih tinggi sedikit, dan inilah yang membedakannya dengan tipe bangunan masjid di Pulau Jawa.

Tipe bangunan atap bertingkat juga ditemui pada masjid di Malabar, India. Bentuk denahnya persegi panjang. Pada setiap tiang dibuat ukiran dengan pola hias spesifik bercorak flora dan fauna. Ukiran-ukiran lokal yang kaya dengan bermacam motif dikombinasikan dengan pola hias kebudayaan Dongson serta pola hias arsitektur Islam klasik.

Berdasarkant surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Sejarah dan Purbakala, masjid keramat ini telah dimasukkan sebagai Benda Sejarah dan Cagar Budaya Nasional. Dengan demikian bentuk bangunan aslinya tidak boleh diubah dan hanya dapat direnovasi dengan tetap mengacu pada bentuk aslinya.

Hal lain yang melatarbelakangi pembangunan Masjid Keramat Koto Tuo ini, pada tahun 1785 ada  aliran Tahariqat Samaniah, yang dipelopori oleh ulama terkenal Kerinci, H. Rahei dan H. Ratih, yang baru pulang menuntut ilmu di Makkah. Kedua ulama ini adalah murid Syaikh Muhammad Saman di Arab Saudi. Berbagai ilmu agama diajarkan kepada murid-muridnya yang menuntut ilmu agama dan mengaji dengan mereka. Hingga kini muridnya tersebar di Kabupaten Kerinci.

Sampai saat ini Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah masih berdiri kokoh dan tetap digunakan sebagai tempat beribadah oleh masyarakat, meskipun telah berdiri masjid yang baru yang dibangun dengan arsitektur modern.


Masjid Keramat yang satunya lagi berada di Desa Lempur Tengah Kecamatan Gunung Raya. Masjid ini didirikan di atas lahan berukuran 15 x 13 m dengan luas bangunan 12 x 12 m. Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, masjid ini didirikan sekitar abad ke-15 dan 16 Masehi.

Konstruksi takik berpasak juga tanpa menggunakan paku besi digunakan pada setiap sambungan kayunya. Arsitek tiang segi delapan dengan motif ukiran flora dan fauna. Setiap hiasan diberi cat warna dasar hitam, kuning, merah, dan hijau. Ventilasi dinding dari kayu gelondongan menjadikan masjid ini sebuah karya seni nenek moyang yang sulit ditiru oleh generasi sekarang.

Ruangan dalam masjid mempunyai lantai dasar dari papan setebal 7 cm. Konstruksi atap tumpang dua dan sebuah mustaka batu endesit bercokol di atas puncak tiang utama. Sama halnya dengan masjid lainnya di Kerinci, di masjid ini juga terdapat sebuah beduk besar yang terbuat dari kayu pilihan, yang dibunyikan di saat datangnya waktu shalat. Juga dibunyikan saat acara besar adat lainnya, seperti acara penobatan penghulu Depati Nenek Mamak dalam acara akbar kenduri sko (perhelatan menegakkan pusaka), ataupun pemberitahuan adanya warga masyarakat yang meninggal. Beduk di Kerinci juga disebut dengan tabuh larangan.

Masjid ini pun termasuk dalam Benda Cagar Budaya sesuai dengan SK Mendikbud RI. Di samping itu di Kerinci juga berdiri sebuah masjid tua, yakni Masjid Agung Pondok Tinggi, yang terletak di pusat kota Sungai Penuh. Sama dengan kedua masjid keramat di atas, bahan bangunan utamanya adalah dari kayu tanpa menggunakan paku besi. Masjid Agung Pondok Tinggi sebagai Benda Sejarah dan Cagar Budaya sangat kaya dengan ukiran bermotifkan tradisional Kerinci.

Ketika Kerinci diguncang gempa dahsyat dengan kekuatan 9,5 skala Richter tahun 1995, ketiga masjid tersebut tetap berdiri kokoh. Begitu pula saat gempa tahun 2009 lalu, tak sedikit pun bangunannya yang mengalami kerusakan. Bangunan masjid tua dijadikan sebagai obyek wisata religius bagi masyarakat setempat maupun pendatang dari luar daerah. Kita dapat mengetahui bagaimana sejarah berdirinya bangunan yang arsitek konstruksi bangunan cukup bagus pada zamannya dan juga perkembangan riwayat masuknya syiar agama Islam  di satu daerah tempoe doeloe.

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman