Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama
Suatu hari Imam bin Hanbal dikunjungi seorang wanita yang
ingin mengadu.
Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah
lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga
untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di
malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk
mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh
kasar di sela waktu yang ada.
Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan
merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.
Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan ibu tadi.
Perasaannya miris mendengar ceritanya yang
memprihatinkan.
Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan
dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi
sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena
wanita itu melanjutkan pengaduannya.
Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah
di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang
jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang.
Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang
dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.
Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah
hasilnya halal atau haram kalau saya jual?
Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?
Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu
yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja
itu tidak lain adalah uang rakyat.
Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia
begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya
dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal
haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.
Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad
bertanya, Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?
Dengan suara serak karena penderitaannya yang
berkepanjangan, wanita ini mengaku, Saya ini adik
perempuan Basyar Al-Hafi.
Imam Ahmad makin terkejut. Almarhum Basyar Al-Hafi
adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati
rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi
tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan
kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup
dalam keadaan miskin.
Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad berkata,
Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk
kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan
menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani
rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita
terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu
yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia
dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan
berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.
Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu
engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa,
sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan
negara...
Kemudian Imam Ahmad melanjutkan, Ibu, izinkan aku
memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta
apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya
akan kuberikan kepada wanita semulia engkau..
koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Tampilkan postingan dengan label artikel sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel sufi. Tampilkan semua postingan
Jumat, Agustus 15, 2014
Senin, Februari 03, 2014
Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary (sang pengelana sufi)
Nama mistikus an-Nifary mungkin agak asing ditelinga kita.Tidak seperti al Bustami maupun al Hallaj, ia seakan kurang begitu terdengar. Padahal di mata ahli tasawuf pandangan-pandangan sufistiknya sangat berpengaruh. Para sufi sesudahnya banyak yang mengikuti jejak pria kelahiran Iraq ini.
Walau lirih, An-Nifary telah meninggalkan tapak-tapak yang tidak kalah penting dibanding al Hallaj maupun al Bustami.Bahkan dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Meskipun sosoknya bisa dibilang agak sulit, tetapi dirinya menjadi tokoh panutan yang tiada banding.
Bernama lengkap Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary, dikenal tidak hanya sebagai seorang sufi saja. Dunia kesusastraan telah menempatkan dirinya dalam pada puncak kemasyhuran. Kehidupan tokoh ini sulit terlacak. Di duga ia dilahirkan di Basrah Iraq dengan tanggal dan tahun yang sulit ditemukan. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri. Disamping itu kesehariannya lebih dikenal sebagai sosok pengelana.
Kesohor sebagai pengembara menjadikan pengamat sufisme Dr. Margareth Smith menjulukinya sebagai Guru Besar di Jalan Mistik Sifat itu membikin karya-karyanya jarang terlacak. Kalaupun sekarang ada, tak lebih dari jasa orientalis Inggris, Arthur John Arberry. Pengamat Islam ini berhasil menerjemahkan beberapa karyanya tahun 1934. Meski demikian tidak banyak karya-karyanya yang terlacak. Pengembaraan menjadi salah satu cirinya. Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraannya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi.
Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua kelebihan. Di dunia sastra sufi, an-Nifary sama seperti ar Rumi maupun maupun al Aththar. Dibanding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufis. Kedua, ia seorang teoritikus mistik.
Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Niffrari berderet diantara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Tuhan. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:
Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan
Sifat pasrah berhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Tuhan akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam sholat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.
Pemahamannnya yang tinggi terhadap tasawuf menempatkannya dalam deretan teoritikus mistik sepanjang zaman. Ada yang berpendapat bahwa an-Nifary mempunyai kemiripan dengan alHallaj. Keduanya telah mencapai Wahdatusy Syuhud (Penyatuan Penyaksian). Bedanya hanya soal kehati-hatian. An-Nifary cenderung lebih hati-hati untuk tidak mengatakan seperti al Hallaj atu al Bustami. Kalau al Hallaj mungkin lebih memilih untuk berkata ," Akulah al Haq!". Atau al Bustami dengan kredonya yang terkenal, "Mahasuci daku, alangkah agungnya perihalku."
Al Hallaj dalam menanggapi perjalanan spiritualnya sering kali terlihat menimbulkan kontroversi. Bahkan gara-gara pencapaiannya ini, ia dihukum mati. Berbeda dengan al Bustami maupun an-Nifary. Dua sosok ini lebih hati-hati dalam mengungkapkan pencapaian-pencapaian spiritualitasnya. Walau begitu kesalahan pemahaman terhadap keduanya juga sering bermunculan.
Karya-karya an-Nifary
Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati- hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola berfikir yang jitu.
Ada sebuah karyanya yang penting dan dapat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul al Mawafiq wal Mukhthabat ( Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.
Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pendapat satu-satunya pemberi syarah karya an-Nifary, Afifuddin at-Tilmisani bahwa ia tidak menulis sendiri karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spiritualnya pada sang anak. Atau ia hanya menulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu. Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah.
Dalam bagian pertama kitab ini diterangkan maqam, posisi atau tempat berdiri seseorang. Mawafiq yang merupakan jamak dari mauqif menunjukkan posisi seseorang dalam tingkatan spiritualitas. Posisi itu sendiri disebut waqfah. Menurutnya waqfah ini merupakan sumber ilmu. Tentang hal ini Dr.Fudholi Zaini menulis,” Waqfah adalah ruh dari ma’rifat, dan pada ma’rifat adalah ruh dari kehidupan. Pada waqfah telah tercakup di dalamnya ma’rifah, dan pada ma’rifah telah tercakup di dalamnya ilmu. Waqfah berada dibalik kejauhan ( al ab’ud ) dan kedekatan (al qurb), dan ma’rifah berada dalam kedekatan, dan ilmu ada dalam kejauhan. Waqfah adalah kehadiran Allah dan ma’rifah adalah ucapan Allah, dan ilmu adalah tabir Allah. Dengan demikian urutan dari besar ke kecil sebagai berikut: waqfah, ma’rifah dan ilmu.”
Proses penyaksiaan ini menjadi hal yang sangat pribadi. Bila orang mencapai maqam tinggi, perkataannya bisa menjadi sesuatu yang tidak jelas dan sulit dimengerti. Bahkan dalam beberapa hal sukar untuk dikomunikasikan. Maka dari itu an-Nifary memilih diam ketika melewati tahapan spiritualitasnya. Baginya kata-kata tidak pernah bisa menampung penglihatannya.
Dalam kitab ini juga diterangkan tentang ilmu dan amal perbuataan atau makrifat dengan ibadah. Ia mengatakan berpendapat hakekat ilmu adalah perbuatan. Hakekat perbuatan adalah keihlasan. Hakekat keikhlasan adalah kesabaran, dan hekekata kesabaran adalah penyerahan. Baginya hehekat tidak akan terbentuk kecuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya kerterkaitan antara syariat dan hakaket menjadi penting artinya.
Sedang dalam al Mukhathabat berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam diri sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap. Menutut Dr.Fudholi Zaini, kitab al Mukhathabat ini biasanya diawali dengan ungkapan”Ya abd!” (Wahai hamba). Di tulis juga dalam kitab ini bahwa ilmu menempati posisi yang utama. Semua jalan menuju Tuhan harus lewat ilmu.
Tak salah kalau AJ Arberry memandang an-Nifary sebagai teoritikus ulung. Spiritualitas di tangannya bisa lebih dipahami. Dengan pengungkapan melalui bahasa sastra yang indah, beberapa pokok pandangan sufistiknya mengalir lancar. Sebagai ulama yang sangat memegang syariat, cara bertuturnyapun cenderung tidak melewati aturan. Emosi pengembaraan spiritual tergambar pelan-pelan menuju puncak Ilahiyah.
Kata-kata Bijak an-Nifary
Membaca ujaran-ujaran an-Nifary kita akan melihat cara pandangnya. Beberapa pemikirannya tentang ilmu, tabir sampai persaksian dengan Tuhan berhasil dijelaskan. Tidak ada kata yang meledak-ledak. Padahal simbol dan makna yang diungkapkannya kadang terasa aneh dan gelap. Berikut beberapa ujaran an-Nifary yang berhasil dihimpun oleh pengamat sufisme Margareth Smith sebagaimana ditulis dalam buku ujaran-ujaran dan Karyanya :
“ Keabadian melagukan pujian kepada-Ku dan ia adalah salah satu sifat-Ku yang wajib melakukan hal itu, dan telah Aku ciptakan dari pujiannya malam dan siang dan telah Aku buat keduanya dalam selubung-selubung yang merentang mengelilingi mata dan pikiran manusia, dan mengelilingi benak dan kalbu mereka. Malam dan siang adalah dua selubung yang saling merentangi semua yang telah Aku ciptakan, tetapi karena Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku, telah Aku angkat kedua selubung itu agar kau bisa melihat Ku dan kau telah melihat Ku , karenanya berdirilah dihadapan Ku dan teruslah dalam penglihatan Ku, karena kau tidak akan terpisah oleh sesuatu yang tak mungkin megak dan serahkanlah hanya kepada Ku semua yang pernah Aku wujudkan kepadamu.”
Disamping itu juga ditulis,” Tuhan berkata kepadaku : “Tanyakan kepada-Ku dan katakan,” Duhai Tuhan , berapa lama aku harus berpegang teguh kepada Mu , agar ketika hari pembalasan tiba, engkau tidak menghukumku dengan hukuman Mu dan Engkau tidak berpaling dariku ?” Dan Aku akan berkata kepadamu ,” Berpegang teguhlah pada hukum agama (Sunah) dalam pengetahuan dan tindakan, dan perpegang teguhlah engkau pada ilmu yang telah Aku berikan kepadamu kedalam kalbumu, dan ketahuilah bahwa ketika Aku menjadikan diri Ku terlihat olehmu, Aku tidak akan menerima darimu dari apa yang datang kepadamu dari penjelmaan Ku yang terlihat untukmu, karena kepada kaulah Aku telah berbicara. Kau telah mendengarkan Ku, kau mengetahui bahwa kau mendengarkan Ku dan kau memahami bahwa semua benda berasal dari Ku”
Sedang Dr.Fudholi Zaini menerjemahkan beberapa ujarannya sebagai berikut:
“Ia menghentikanku dalam posisi kebangggan dan berkata kepadaku: Akulah yang lahir dan tak ada yang tampak dariku. Dekatnya tak bisa memantauku dan wujudnya tak bisa menujukku. Akulah penyembunyi yang batin dan aku lebih tersembunyi darinya. Dalilnya tak bisa melacakku dan lorongnya tak sampai kepadaku.
Kebodohan itu tabirnya penglihatan dan ilmu juga tabirnya penglihatan. Akulah yang lahir tanpa tabir dan hijab, dan akaulah yang batin tanpa singkap. Siapa yang telah mengenal hijab maka ia akan segera menjelang singkap.” Selanjutnya ia menulis, “ Kedirian seorang waqif adalah diamnya. Kedirian seorang arif adalah ucapannya. Kedirian seorang alim adalah ilmunya.”
Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. kata-kata diatas menggambarkan pemaknaan yang cukup dalam tentang pengetahuan dan makrifat. tiap kali bertambah ilmu serta makrifat, semakin sedikitlah kata kata yang bisa diungkapkan. Yang ada hanya ketakjuban akan pesona keindahan dan kebesaran Sang segala keindahan.
sumber http://www.sufinews.com
Walau lirih, An-Nifary telah meninggalkan tapak-tapak yang tidak kalah penting dibanding al Hallaj maupun al Bustami.Bahkan dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Meskipun sosoknya bisa dibilang agak sulit, tetapi dirinya menjadi tokoh panutan yang tiada banding.
Bernama lengkap Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary, dikenal tidak hanya sebagai seorang sufi saja. Dunia kesusastraan telah menempatkan dirinya dalam pada puncak kemasyhuran. Kehidupan tokoh ini sulit terlacak. Di duga ia dilahirkan di Basrah Iraq dengan tanggal dan tahun yang sulit ditemukan. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri. Disamping itu kesehariannya lebih dikenal sebagai sosok pengelana.
Kesohor sebagai pengembara menjadikan pengamat sufisme Dr. Margareth Smith menjulukinya sebagai Guru Besar di Jalan Mistik Sifat itu membikin karya-karyanya jarang terlacak. Kalaupun sekarang ada, tak lebih dari jasa orientalis Inggris, Arthur John Arberry. Pengamat Islam ini berhasil menerjemahkan beberapa karyanya tahun 1934. Meski demikian tidak banyak karya-karyanya yang terlacak. Pengembaraan menjadi salah satu cirinya. Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraannya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi.
Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua kelebihan. Di dunia sastra sufi, an-Nifary sama seperti ar Rumi maupun maupun al Aththar. Dibanding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufis. Kedua, ia seorang teoritikus mistik.
Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Niffrari berderet diantara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Tuhan. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:
Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan
Sifat pasrah berhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Tuhan akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam sholat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.
Pemahamannnya yang tinggi terhadap tasawuf menempatkannya dalam deretan teoritikus mistik sepanjang zaman. Ada yang berpendapat bahwa an-Nifary mempunyai kemiripan dengan alHallaj. Keduanya telah mencapai Wahdatusy Syuhud (Penyatuan Penyaksian). Bedanya hanya soal kehati-hatian. An-Nifary cenderung lebih hati-hati untuk tidak mengatakan seperti al Hallaj atu al Bustami. Kalau al Hallaj mungkin lebih memilih untuk berkata ," Akulah al Haq!". Atau al Bustami dengan kredonya yang terkenal, "Mahasuci daku, alangkah agungnya perihalku."
Al Hallaj dalam menanggapi perjalanan spiritualnya sering kali terlihat menimbulkan kontroversi. Bahkan gara-gara pencapaiannya ini, ia dihukum mati. Berbeda dengan al Bustami maupun an-Nifary. Dua sosok ini lebih hati-hati dalam mengungkapkan pencapaian-pencapaian spiritualitasnya. Walau begitu kesalahan pemahaman terhadap keduanya juga sering bermunculan.
Karya-karya an-Nifary
Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati- hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola berfikir yang jitu.
Ada sebuah karyanya yang penting dan dapat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul al Mawafiq wal Mukhthabat ( Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.
Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pendapat satu-satunya pemberi syarah karya an-Nifary, Afifuddin at-Tilmisani bahwa ia tidak menulis sendiri karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spiritualnya pada sang anak. Atau ia hanya menulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu. Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah.
Dalam bagian pertama kitab ini diterangkan maqam, posisi atau tempat berdiri seseorang. Mawafiq yang merupakan jamak dari mauqif menunjukkan posisi seseorang dalam tingkatan spiritualitas. Posisi itu sendiri disebut waqfah. Menurutnya waqfah ini merupakan sumber ilmu. Tentang hal ini Dr.Fudholi Zaini menulis,” Waqfah adalah ruh dari ma’rifat, dan pada ma’rifat adalah ruh dari kehidupan. Pada waqfah telah tercakup di dalamnya ma’rifah, dan pada ma’rifah telah tercakup di dalamnya ilmu. Waqfah berada dibalik kejauhan ( al ab’ud ) dan kedekatan (al qurb), dan ma’rifah berada dalam kedekatan, dan ilmu ada dalam kejauhan. Waqfah adalah kehadiran Allah dan ma’rifah adalah ucapan Allah, dan ilmu adalah tabir Allah. Dengan demikian urutan dari besar ke kecil sebagai berikut: waqfah, ma’rifah dan ilmu.”
Proses penyaksiaan ini menjadi hal yang sangat pribadi. Bila orang mencapai maqam tinggi, perkataannya bisa menjadi sesuatu yang tidak jelas dan sulit dimengerti. Bahkan dalam beberapa hal sukar untuk dikomunikasikan. Maka dari itu an-Nifary memilih diam ketika melewati tahapan spiritualitasnya. Baginya kata-kata tidak pernah bisa menampung penglihatannya.
Dalam kitab ini juga diterangkan tentang ilmu dan amal perbuataan atau makrifat dengan ibadah. Ia mengatakan berpendapat hakekat ilmu adalah perbuatan. Hakekat perbuatan adalah keihlasan. Hakekat keikhlasan adalah kesabaran, dan hekekata kesabaran adalah penyerahan. Baginya hehekat tidak akan terbentuk kecuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya kerterkaitan antara syariat dan hakaket menjadi penting artinya.
Sedang dalam al Mukhathabat berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam diri sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap. Menutut Dr.Fudholi Zaini, kitab al Mukhathabat ini biasanya diawali dengan ungkapan”Ya abd!” (Wahai hamba). Di tulis juga dalam kitab ini bahwa ilmu menempati posisi yang utama. Semua jalan menuju Tuhan harus lewat ilmu.
Tak salah kalau AJ Arberry memandang an-Nifary sebagai teoritikus ulung. Spiritualitas di tangannya bisa lebih dipahami. Dengan pengungkapan melalui bahasa sastra yang indah, beberapa pokok pandangan sufistiknya mengalir lancar. Sebagai ulama yang sangat memegang syariat, cara bertuturnyapun cenderung tidak melewati aturan. Emosi pengembaraan spiritual tergambar pelan-pelan menuju puncak Ilahiyah.
Kata-kata Bijak an-Nifary
Membaca ujaran-ujaran an-Nifary kita akan melihat cara pandangnya. Beberapa pemikirannya tentang ilmu, tabir sampai persaksian dengan Tuhan berhasil dijelaskan. Tidak ada kata yang meledak-ledak. Padahal simbol dan makna yang diungkapkannya kadang terasa aneh dan gelap. Berikut beberapa ujaran an-Nifary yang berhasil dihimpun oleh pengamat sufisme Margareth Smith sebagaimana ditulis dalam buku ujaran-ujaran dan Karyanya :
“ Keabadian melagukan pujian kepada-Ku dan ia adalah salah satu sifat-Ku yang wajib melakukan hal itu, dan telah Aku ciptakan dari pujiannya malam dan siang dan telah Aku buat keduanya dalam selubung-selubung yang merentang mengelilingi mata dan pikiran manusia, dan mengelilingi benak dan kalbu mereka. Malam dan siang adalah dua selubung yang saling merentangi semua yang telah Aku ciptakan, tetapi karena Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku, telah Aku angkat kedua selubung itu agar kau bisa melihat Ku dan kau telah melihat Ku , karenanya berdirilah dihadapan Ku dan teruslah dalam penglihatan Ku, karena kau tidak akan terpisah oleh sesuatu yang tak mungkin megak dan serahkanlah hanya kepada Ku semua yang pernah Aku wujudkan kepadamu.”
Disamping itu juga ditulis,” Tuhan berkata kepadaku : “Tanyakan kepada-Ku dan katakan,” Duhai Tuhan , berapa lama aku harus berpegang teguh kepada Mu , agar ketika hari pembalasan tiba, engkau tidak menghukumku dengan hukuman Mu dan Engkau tidak berpaling dariku ?” Dan Aku akan berkata kepadamu ,” Berpegang teguhlah pada hukum agama (Sunah) dalam pengetahuan dan tindakan, dan perpegang teguhlah engkau pada ilmu yang telah Aku berikan kepadamu kedalam kalbumu, dan ketahuilah bahwa ketika Aku menjadikan diri Ku terlihat olehmu, Aku tidak akan menerima darimu dari apa yang datang kepadamu dari penjelmaan Ku yang terlihat untukmu, karena kepada kaulah Aku telah berbicara. Kau telah mendengarkan Ku, kau mengetahui bahwa kau mendengarkan Ku dan kau memahami bahwa semua benda berasal dari Ku”
Sedang Dr.Fudholi Zaini menerjemahkan beberapa ujarannya sebagai berikut:
“Ia menghentikanku dalam posisi kebangggan dan berkata kepadaku: Akulah yang lahir dan tak ada yang tampak dariku. Dekatnya tak bisa memantauku dan wujudnya tak bisa menujukku. Akulah penyembunyi yang batin dan aku lebih tersembunyi darinya. Dalilnya tak bisa melacakku dan lorongnya tak sampai kepadaku.
Kebodohan itu tabirnya penglihatan dan ilmu juga tabirnya penglihatan. Akulah yang lahir tanpa tabir dan hijab, dan akaulah yang batin tanpa singkap. Siapa yang telah mengenal hijab maka ia akan segera menjelang singkap.” Selanjutnya ia menulis, “ Kedirian seorang waqif adalah diamnya. Kedirian seorang arif adalah ucapannya. Kedirian seorang alim adalah ilmunya.”
Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. kata-kata diatas menggambarkan pemaknaan yang cukup dalam tentang pengetahuan dan makrifat. tiap kali bertambah ilmu serta makrifat, semakin sedikitlah kata kata yang bisa diungkapkan. Yang ada hanya ketakjuban akan pesona keindahan dan kebesaran Sang segala keindahan.
sumber http://www.sufinews.com
Minggu, Januari 26, 2014
PERBEDAAN ANTARA ENGGAN DAN SOMBONG
PERBEDAAN ANTARA ENGGAN DAN SOMBONG
Enggan adalah tidak mau mengerjakan sesuatu padahal ia mampu, sedangkan sombong adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain, walaupun kenyataannya demikian. Sifat « Enggan « di sini, secara bobot dosanya tentu di bawah sifat « sombong « . Akan tetapi pertanyaannya adalah kenapa di dalam ayat tersebut « enggan « di dahulukan daripada ‘ sombong « ? Paling tidak ada dua jawaban :
1/ Yang pertama : karena sifat « enggan « di sini sangat nampak, jika dibandingkan dengan sifat « sombong « . Iblis yang enggan sujud, akan segera diketahui manakala dia tidak mau sujud, berbeda dengan ‘ sombong « , karena sifat ini terdapat di dalam hati saja , tidak mudah seseorang untuk menebaknya.
2/ Yang kedua : ayat di atas ingin menerangkan sikap masing-masing dari Malaikat dan Iblis ,ketika mendapatkan perintah Allah swt. Kedua sikap tersebut akan bisa dibedakan dengan jelas, manakala Iblis enggan untuk bersujud.
Muhyiddin ibnu ‘Arabi, yang juga dikenal dengan nama Ibnu Suraqah dan Syaikhul Akbar, dilahirkan di Murcia, Spanyol Tenggara pada tanggal
17 Ramadan 560 H/ 28 Juli 1165 M, dan meninggal di Damaskus, Syria, pada tahun 638H/1240 M. Ibn ‘Arabi adalah tokoh sufi yang sangat berpengaruh hampir di seluruh dunia Islam hingga sekarang. Dia terkenal dengan ajaran wahdatul-wujud-nya. Diantara karyanya adalah Kitab Futuhat Al-Makkiyyah,yang ditulis di Mekah sejak tahun 598 H hingga tahun 635 H. Karya-nya yang lain adalah Fusus Al-Hikam, yang diselesaikannya pada tahun 628 H. Jumlah seluruh tulisannya
menurut catatan Ibnu ‘Arabi sendiri ada 289 buah, besar maupun kecil ; tetapi kebanyakan telah hilang. Diantara ajaran Ibnu Arabi adalah:
- Hamba adalah Tuhan (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93)
- Neraka adalah surga itu sendiri (Fushush Al-Hikam, 93-94).
- Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri. (Fushush Al-Hikam 143).
- Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka. (Fushush Al-Hikam, 181).
- Wanita adalah Tuhan (Fushush Al-Hikam, 216).
- Fir’aun adalah Tuhan Musa. (Fushush Al-Hikam, 209).
- Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar. (Fushush Al-Hikam, 48).
- Allah membutuhkan pertolongan makhluk. (Fushush Al-Hikam, 58-59).
Oleh karena sebegitu drastisnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Diantara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini, mereka itu adalah : - Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H), Ibnu Taimiyah (w 728 H), Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (w 751 H), Qadhi ‘Iyadh (w 744 H), Al-‘Iraqi (w 826 H), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w 852 H), Al-Jurjani (w 814 H), Izzuddin Ibn Abdis Salam (w 660 H),- An-Nawawi (w 676 H),- Adz-Dzahabi (w 748 H), Al-Balqini (w 805 H).
Salah satu buku Ibnu Arabi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah buku “ Risalah Ruh Al-Quds fi Muhasabah Al-Nafs.” ( Menakar Jiwa Yang Suci, Introspeksi Jiwa ) yang diterbitkan oleh penerbit Hikmah, Mizan Group , (lihat : http://media.isnet.org/islam/Iqbal/Ahmadiyah/NabiAkhir.html, http://swaramuslim.net/more.php?id=A209_0_1_0_M, lihat juga : buku “ Jawaban Tuntas untuk Dr. Nurcholish Madjid tentang Ibnu Arabi dan Setan Masuk Surga, Yayasan Islam Al-Qalam, 1407 H, hlm. 20, dan lihat juga buku “ Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” , Hartono M. Jaiz )
Lihat tafsir Syekh Utsaimin, tafsir Sya’rawi : 1/ 254
Lihat tafsir Sya’rawi : 1/ 254
Imam Qurtubi menyebutkan ijma’ ulama bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud untuk menyembah . ( tafsir Qurtubi : 1/ 201, lihat juga tafsir Fakhru rozi : 1/ 493 )
HR Ibnu Majah no : 1852 , di dalam sanadnya ada kelemahan. Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rosululah saw bersabda : ( “ Jika saya memerintahkan sujud manusia kepada manusia, niscaya saya perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, dan seorang perempuan tidak akan sempurna ketika melaksanakan hak Allah sehingga ia menunaikan hak suaminya, bahkan kalau suaminya memintanya, sedang dia sedang di atas “ Qatab “ , dia tidak boleh menolaknya .) “ Qatab “ menurut Imam Qurtubi adalah kursi yang dikhususkan untuk bersalin / melahirkan . ( Lihat tafsir Qurtubi : 1/ 201-202 , juga tafsir Ibnu Katsir : 1/ 125 , tafsir Fakhru Rozi : 1/ 494 )
Lihat tafsir Syekh Utsaimin.
Lihat tafsir Adwaul Bayan.
Lihat Tafsir Sya’rawi : 1/ 257
HR Muslim , Kitab : Al Iman , no : 147-149
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 203 , Para ulama menyebutkan empat macam kekufuran, diantaranya adalah kufru al ‘inad wa al istikbar ( kafir karena enggan dan sombong ) seperti kafirnya Iblis . Berkata Syekh Hafidh bin Ahmad Al Hakami : Kufur ini hakikatnya adalah : “ tidak dengan mengingkari perintah Allah untuk bersujud, akan tetapi sang Iblis menantangnya dan menohok perintah tersebut . “ ( lihat 200 Soal Jawab dalam Aqidah , Syekh Hafidh bin Ahmad Al Hakami, hlm : 224-225 , lihat juga : Aqidah Tauhid, DR. Sholeh bin Fauzan, hlm : 81 . )
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 204 , tafsir Ibnu Katsir : 1/ 125
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 203
Lihat Tafsir Al Alusi “ Ruh Al Ma’ani “ : 1/ 231.
Enggan adalah tidak mau mengerjakan sesuatu padahal ia mampu, sedangkan sombong adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain, walaupun kenyataannya demikian. Sifat « Enggan « di sini, secara bobot dosanya tentu di bawah sifat « sombong « . Akan tetapi pertanyaannya adalah kenapa di dalam ayat tersebut « enggan « di dahulukan daripada ‘ sombong « ? Paling tidak ada dua jawaban :
1/ Yang pertama : karena sifat « enggan « di sini sangat nampak, jika dibandingkan dengan sifat « sombong « . Iblis yang enggan sujud, akan segera diketahui manakala dia tidak mau sujud, berbeda dengan ‘ sombong « , karena sifat ini terdapat di dalam hati saja , tidak mudah seseorang untuk menebaknya.
2/ Yang kedua : ayat di atas ingin menerangkan sikap masing-masing dari Malaikat dan Iblis ,ketika mendapatkan perintah Allah swt. Kedua sikap tersebut akan bisa dibedakan dengan jelas, manakala Iblis enggan untuk bersujud.
Muhyiddin ibnu ‘Arabi, yang juga dikenal dengan nama Ibnu Suraqah dan Syaikhul Akbar, dilahirkan di Murcia, Spanyol Tenggara pada tanggal
17 Ramadan 560 H/ 28 Juli 1165 M, dan meninggal di Damaskus, Syria, pada tahun 638H/1240 M. Ibn ‘Arabi adalah tokoh sufi yang sangat berpengaruh hampir di seluruh dunia Islam hingga sekarang. Dia terkenal dengan ajaran wahdatul-wujud-nya. Diantara karyanya adalah Kitab Futuhat Al-Makkiyyah,yang ditulis di Mekah sejak tahun 598 H hingga tahun 635 H. Karya-nya yang lain adalah Fusus Al-Hikam, yang diselesaikannya pada tahun 628 H. Jumlah seluruh tulisannya
menurut catatan Ibnu ‘Arabi sendiri ada 289 buah, besar maupun kecil ; tetapi kebanyakan telah hilang. Diantara ajaran Ibnu Arabi adalah:
- Hamba adalah Tuhan (tercantum dalam kitab Ibnu Arabi, Fushush Al-Hikam, 92-93)
- Neraka adalah surga itu sendiri (Fushush Al-Hikam, 93-94).
- Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri. (Fushush Al-Hikam 143).
- Fir’aun adalah mu’min dan terbebas dari siksa neraka. (Fushush Al-Hikam, 181).
- Wanita adalah Tuhan (Fushush Al-Hikam, 216).
- Fir’aun adalah Tuhan Musa. (Fushush Al-Hikam, 209).
- Semua ini adalah Allah, tidak ada nabi/rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar. (Fushush Al-Hikam, 48).
- Allah membutuhkan pertolongan makhluk. (Fushush Al-Hikam, 58-59).
Oleh karena sebegitu drastisnya penyimpangan yang ditampilkan Ibnu Arabi, maka 37 ulama telah mengkafirkannya atau memurtadkannya. Diantara yang mengkafirkan Ibnu Arabi itu adalah ulama-ulama besar yang dikenal sampai kini, mereka itu adalah : - Ibnu Daqieq Al-‘Ied (w 702 H), Ibnu Taimiyah (w 728 H), Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (w 751 H), Qadhi ‘Iyadh (w 744 H), Al-‘Iraqi (w 826 H), Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w 852 H), Al-Jurjani (w 814 H), Izzuddin Ibn Abdis Salam (w 660 H),- An-Nawawi (w 676 H),- Adz-Dzahabi (w 748 H), Al-Balqini (w 805 H).
Salah satu buku Ibnu Arabi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah buku “ Risalah Ruh Al-Quds fi Muhasabah Al-Nafs.” ( Menakar Jiwa Yang Suci, Introspeksi Jiwa ) yang diterbitkan oleh penerbit Hikmah, Mizan Group , (lihat : http://media.isnet.org/islam/Iqbal/Ahmadiyah/NabiAkhir.html, http://swaramuslim.net/more.php?id=A209_0_1_0_M, lihat juga : buku “ Jawaban Tuntas untuk Dr. Nurcholish Madjid tentang Ibnu Arabi dan Setan Masuk Surga, Yayasan Islam Al-Qalam, 1407 H, hlm. 20, dan lihat juga buku “ Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” , Hartono M. Jaiz )
Lihat tafsir Syekh Utsaimin, tafsir Sya’rawi : 1/ 254
Lihat tafsir Sya’rawi : 1/ 254
Imam Qurtubi menyebutkan ijma’ ulama bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud untuk menyembah . ( tafsir Qurtubi : 1/ 201, lihat juga tafsir Fakhru rozi : 1/ 493 )
HR Ibnu Majah no : 1852 , di dalam sanadnya ada kelemahan. Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rosululah saw bersabda : ( “ Jika saya memerintahkan sujud manusia kepada manusia, niscaya saya perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, dan seorang perempuan tidak akan sempurna ketika melaksanakan hak Allah sehingga ia menunaikan hak suaminya, bahkan kalau suaminya memintanya, sedang dia sedang di atas “ Qatab “ , dia tidak boleh menolaknya .) “ Qatab “ menurut Imam Qurtubi adalah kursi yang dikhususkan untuk bersalin / melahirkan . ( Lihat tafsir Qurtubi : 1/ 201-202 , juga tafsir Ibnu Katsir : 1/ 125 , tafsir Fakhru Rozi : 1/ 494 )
Lihat tafsir Syekh Utsaimin.
Lihat tafsir Adwaul Bayan.
Lihat Tafsir Sya’rawi : 1/ 257
HR Muslim , Kitab : Al Iman , no : 147-149
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 203 , Para ulama menyebutkan empat macam kekufuran, diantaranya adalah kufru al ‘inad wa al istikbar ( kafir karena enggan dan sombong ) seperti kafirnya Iblis . Berkata Syekh Hafidh bin Ahmad Al Hakami : Kufur ini hakikatnya adalah : “ tidak dengan mengingkari perintah Allah untuk bersujud, akan tetapi sang Iblis menantangnya dan menohok perintah tersebut . “ ( lihat 200 Soal Jawab dalam Aqidah , Syekh Hafidh bin Ahmad Al Hakami, hlm : 224-225 , lihat juga : Aqidah Tauhid, DR. Sholeh bin Fauzan, hlm : 81 . )
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 204 , tafsir Ibnu Katsir : 1/ 125
Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 203
Lihat Tafsir Al Alusi “ Ruh Al Ma’ani “ : 1/ 231.
Senin, Oktober 07, 2013
beberapa sendi tarekat
Rukun-rukun (sendi-sendi) tarekat ada empat: Lapar, mengasingkan diri dari makhluk (uzlah), tidak tidur di malam hari, dan mempersedikit pembicaraan. Bila seorang murid mampu menahan lapar, maka tiga poin berikutnya secara khusus akan mengikuti. Sebab orang yang lapar akan sedikit berbicara, tahan tidak tidur di malam hari dan senang menghindarkan diri dari orang. Mereka mengungkapkan sendi-sendi dasar tersebut dalam bentuk bait syair:
[I]Para tuan mulia dari kaum abdal kami
telah membagi rumah kewalian menjadi beberapa sendi:
antara diam dan selalu mengasingkan diri, lapar dan tidak tidur, adalah pilihan yang tertinggi.[/I]
Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Sesungguhnya dasar utama pintu menuju tarekat adalah lapar. Sebab mereka tidak akan mendapatkan sumber hikmah kecuali dengan lapar.” Mereka secara bertahap mengurangi makan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hanya sesuap dalam setiap harinya. Sebagian dari mereka ada yang hanya satu biji kurma kering atau anggur kering. Sementara itu Abu Utsman al-Maghribi makan setiap enam bulan sekali. Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi mengatakan dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: “Sebagaimana cerita yang telah sampai pada kami, bahwa Allah Swt. ketika menciptakan nafsu, maka Dia bertanya kepadanya, ‘SiapaAku ini?’ Maka nafsu menjawab, ‘Lalu siapa aku ini?’ Akhirnya ia ditempatkan dalam lautan kelaparan selama empat ribu tahun, kemudian Allah bertanya kembali, ‘Siapa Aku?‘ Ia baru sadar dan mengakui Tuhannya sembari menjawab, ‘Engkau adalah Tuhanku’.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari tidak akan makan kecuali setelah lima belas hari. Dan ketika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan sebelum melihat bulan sabit satu Syawal. Setiap malam bulan Ramadan ia hanya berbuka dengan air agar bisa keluar dari larangan menyambung (wishal) puasa. Ia pernah berkata: “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan ilmu dan hikmah berada dalam kelaparan, dan menjadikan kebodohan dan maksiat berada dalam kekenyangan.” Ketika dalam kondisi lapar ia menjadi kuat, dan ketika dalam kondisi kenyang ia menjadi lemah tak berdaya.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci dunia adalah kekenyangan, dan kunci akhirat adalah kelaparan.” Yakni kegiatan masing-masing.
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Kekenyangan adalah api, sedangkan syahwat (kesenangan) ibarat kayu bakar. Dari situ akan muncul kebakaran, dan apinya tidak bisa padam sehingga yang bersangkutan ikut terbakar.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Barangsiapa ingin makan setiap harinya dua kali maka hendaknya membangun tempat makanan untuknya.”
Malik bin Dinar —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa ingin agar setan lari dari bayang-bayangnya maka hendaknya memaksa syahwatnya.” Sementara itu ucapan-ucapan para salaf seperti itu cukup banyak. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Diantara perilaku yang harus dilakukan munid, hendaknya selalu berpegang teguh dengan adab (kesopanan) ketika berhadapan dengan Allah, ketika bersama para wali Allah dan saudara-saudaranya. Jangan sampai memberikan kesempatan sama sekali kepada nafsu (diri)nya untuk berbuat yang menyalahi kesopanan (su‘ul-adab).
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— berkata: “Seorang hamba dengan ibadahnya bisa sampai ke surga, tapi ia tidak bisa sampai ke hadirat Tuhannya kecuali beradab ketika sedang beribadah. Barangsiapa tidak bisa memelihara adab dalam ketaatannya maka ia akan terhalang dari Tuhannya oleh tujuh puluh lapis penghalang (hijab).” Ad-Daqqaq tidak pernah bersandar pada apa pun seperti bantal atau dinding kecuali dalam kondisi sangat darurat, dimana ia pernah mengemukakan tentang apa yang ia lakukan itu, “Bahwa bersandar pada sesuatu merupakan tindakan yang tidak sopan.”
Abdullah bin al-Jalla’ berkata: “Barangsiapa tidak memiliki adab (kesopanan) maka ia tidak memiliki syariat, tidak punya iman dan tauhid.” Yakni secara sempurna.
Ibnu ‘Atha’ berkata: “Seorang murid belum dikatakan beradab sehingga ia merasa malu kepada Allah untuk duduk berselonjor di depan-Nya, baik di waktu malam maupun siang hari.”
Al-Hanizi mengatakan: “Aku tidak pernah duduk berkhalwat (menyendiri) dengan duduk berselonjor selama dua puluh tahun.” Ia juga berkata: “Adab secara syariat bersama Allah Swt. dalam segala perkara tentunya lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal. Sementara itu dalam syariat tidak pernah ada penjelasan secara gamblang tentang adab pada masalah tersebut.”
Ia juga pernah berkata: “Apabila seseorang bermuamalah dengan para penguasa dunia tanpa menggunakan adab (kesopanan) akan mengakibatkan dirinya terbunuh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kesopanan ketika bersama al-Haq Azza wa Jalla dan berani melanggar apa yang menjadi larangan-Nya?” Ia juga pernah berkata: “Meninggalkan adab bisa mengakibatkan terusir. Maka barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang berada di hamparan tempat duduk maka ia akan diusir menuju ke pintu, dan barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang di pintu maka ia akan diusir ke orang-orang yang memelihana binatang ternak”
Imam asy-Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Imam Malik —rahimahullah— pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, jadikan ilmumu sebagai garam, dan adabmu sebagai tepungnya’.”
Abdurrahman bin al-Qasim —rahimahullah— berkata: “Aku pernah bersahabat dengan Imam Malik selama dua puluh tahun, maka dalam rentang waktu tersebut selama delapan belas tahun ia gunakan untuk mengajar adab, sedangkan sisanya, dua tahun ia gunakan untuk mengajar ilmu. Maka aku berharap andaikan dua puluh tahun itu seluruhnya bisa aku gunakan untuk mengajar adab.”
Asy-Syibli —rahimahullah— berkata: “Diantara ciri-ciri orang-orang yang berada di hadirat Allah adalah tidak pernah tercebur dalam ketidaksopanan sekalipun suatu kesenangan. Maka isyarat-isyarat yang datang dari al-Haq bisa terjadi secara rahasia (sirri) dan terang-terangan. Sebab hadirat al-Haq Azza wa Jalla adalah hadirat adab, kebisuan, keagungan dan penuh rasa takut, maka tidak sepantasnya merasa senang karena tidak sebanding. Bahkan kalau misalnya seorang wali bisa tinggal di hadirat ini selama usia Nabi Nuh a.s. maka hanya akan menambah rasa takut sepanjang waktu. Hal itu terjadi karena tajalli (penampakan Diri) al-Haq Swt. tidak akan terulang. Maka setiap tajalli yang datang kepada seorang hamba maka yang bersangkutan hanya layak untuk menunjukkan kesopanan pada hadirat tersebut. Maka pahamilah!”
Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak beradab dalam setiap waktu maka ia terkutuk”
Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa mencari keringanan untuk meninggalkan adab maka ia akan kembali pada posisi di mana ia datang pertama kali.”
Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid ketika ia masuk ke dalam tarekat, ibarat sebutir benih yang baru akan tumbuh. Dan ketika ia tercebur pada ketidaksopanan setelah ia masuk maka ia ibarat sebutir benih yang baru tumbuh separo lalu dilempar sehingga mati dan tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu..
referensi
Rukun-rukun (sendi-sendi) tarekat ada empat: Lapar, mengasingkan diri dari makhluk (uzlah), tidak tidur di malam hari, dan mempersedikit pembicaraan. Bila seorang murid mampu menahan lapar, maka tiga poin berikutnya secara khusus akan mengikuti. Sebab orang yang lapar akan sedikit berbicara, tahan tidak tidur di malam hari dan senang menghindarkan diri dari orang. Mereka mengungkapkan sendi-sendi dasar tersebut dalam bentuk bait syair:
[I]Para tuan mulia dari kaum abdal kami
telah membagi rumah kewalian menjadi beberapa sendi:
antara diam dan selalu mengasingkan diri, lapar dan tidak tidur, adalah pilihan yang tertinggi.[/I]
Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Sesungguhnya dasar utama pintu menuju tarekat adalah lapar. Sebab mereka tidak akan mendapatkan sumber hikmah kecuali dengan lapar.” Mereka secara bertahap mengurangi makan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hanya sesuap dalam setiap harinya. Sebagian dari mereka ada yang hanya satu biji kurma kering atau anggur kering. Sementara itu Abu Utsman al-Maghribi makan setiap enam bulan sekali. Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi mengatakan dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: “Sebagaimana cerita yang telah sampai pada kami, bahwa Allah Swt. ketika menciptakan nafsu, maka Dia bertanya kepadanya, ‘SiapaAku ini?’ Maka nafsu menjawab, ‘Lalu siapa aku ini?’ Akhirnya ia ditempatkan dalam lautan kelaparan selama empat ribu tahun, kemudian Allah bertanya kembali, ‘Siapa Aku?‘ Ia baru sadar dan mengakui Tuhannya sembari menjawab, ‘Engkau adalah Tuhanku’.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari tidak akan makan kecuali setelah lima belas hari. Dan ketika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan sebelum melihat bulan sabit satu Syawal. Setiap malam bulan Ramadan ia hanya berbuka dengan air agar bisa keluar dari larangan menyambung (wishal) puasa. Ia pernah berkata: “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan ilmu dan hikmah berada dalam kelaparan, dan menjadikan kebodohan dan maksiat berada dalam kekenyangan.” Ketika dalam kondisi lapar ia menjadi kuat, dan ketika dalam kondisi kenyang ia menjadi lemah tak berdaya.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci dunia adalah kekenyangan, dan kunci akhirat adalah kelaparan.” Yakni kegiatan masing-masing.
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Kekenyangan adalah api, sedangkan syahwat (kesenangan) ibarat kayu bakar. Dari situ akan muncul kebakaran, dan apinya tidak bisa padam sehingga yang bersangkutan ikut terbakar.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Barangsiapa ingin makan setiap harinya dua kali maka hendaknya membangun tempat makanan untuknya.”
Malik bin Dinar —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa ingin agar setan lari dari bayang-bayangnya maka hendaknya memaksa syahwatnya.” Sementara itu ucapan-ucapan para salaf seperti itu cukup banyak. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Diantara perilaku yang harus dilakukan munid, hendaknya selalu berpegang teguh dengan adab (kesopanan) ketika berhadapan dengan Allah, ketika bersama para wali Allah dan saudara-saudaranya. Jangan sampai memberikan kesempatan sama sekali kepada nafsu (diri)nya untuk berbuat yang menyalahi kesopanan (su‘ul-adab).
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— berkata: “Seorang hamba dengan ibadahnya bisa sampai ke surga, tapi ia tidak bisa sampai ke hadirat Tuhannya kecuali beradab ketika sedang beribadah. Barangsiapa tidak bisa memelihara adab dalam ketaatannya maka ia akan terhalang dari Tuhannya oleh tujuh puluh lapis penghalang (hijab).” Ad-Daqqaq tidak pernah bersandar pada apa pun seperti bantal atau dinding kecuali dalam kondisi sangat darurat, dimana ia pernah mengemukakan tentang apa yang ia lakukan itu, “Bahwa bersandar pada sesuatu merupakan tindakan yang tidak sopan.”
Abdullah bin al-Jalla’ berkata: “Barangsiapa tidak memiliki adab (kesopanan) maka ia tidak memiliki syariat, tidak punya iman dan tauhid.” Yakni secara sempurna.
Ibnu ‘Atha’ berkata: “Seorang murid belum dikatakan beradab sehingga ia merasa malu kepada Allah untuk duduk berselonjor di depan-Nya, baik di waktu malam maupun siang hari.”
Al-Hanizi mengatakan: “Aku tidak pernah duduk berkhalwat (menyendiri) dengan duduk berselonjor selama dua puluh tahun.” Ia juga berkata: “Adab secara syariat bersama Allah Swt. dalam segala perkara tentunya lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal. Sementara itu dalam syariat tidak pernah ada penjelasan secara gamblang tentang adab pada masalah tersebut.”
Ia juga pernah berkata: “Apabila seseorang bermuamalah dengan para penguasa dunia tanpa menggunakan adab (kesopanan) akan mengakibatkan dirinya terbunuh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kesopanan ketika bersama al-Haq Azza wa Jalla dan berani melanggar apa yang menjadi larangan-Nya?” Ia juga pernah berkata: “Meninggalkan adab bisa mengakibatkan terusir. Maka barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang berada di hamparan tempat duduk maka ia akan diusir menuju ke pintu, dan barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang di pintu maka ia akan diusir ke orang-orang yang memelihana binatang ternak”
Imam asy-Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Imam Malik —rahimahullah— pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, jadikan ilmumu sebagai garam, dan adabmu sebagai tepungnya’.”
Abdurrahman bin al-Qasim —rahimahullah— berkata: “Aku pernah bersahabat dengan Imam Malik selama dua puluh tahun, maka dalam rentang waktu tersebut selama delapan belas tahun ia gunakan untuk mengajar adab, sedangkan sisanya, dua tahun ia gunakan untuk mengajar ilmu. Maka aku berharap andaikan dua puluh tahun itu seluruhnya bisa aku gunakan untuk mengajar adab.”
Asy-Syibli —rahimahullah— berkata: “Diantara ciri-ciri orang-orang yang berada di hadirat Allah adalah tidak pernah tercebur dalam ketidaksopanan sekalipun suatu kesenangan. Maka isyarat-isyarat yang datang dari al-Haq bisa terjadi secara rahasia (sirri) dan terang-terangan. Sebab hadirat al-Haq Azza wa Jalla adalah hadirat adab, kebisuan, keagungan dan penuh rasa takut, maka tidak sepantasnya merasa senang karena tidak sebanding. Bahkan kalau misalnya seorang wali bisa tinggal di hadirat ini selama usia Nabi Nuh a.s. maka hanya akan menambah rasa takut sepanjang waktu. Hal itu terjadi karena tajalli (penampakan Diri) al-Haq Swt. tidak akan terulang. Maka setiap tajalli yang datang kepada seorang hamba maka yang bersangkutan hanya layak untuk menunjukkan kesopanan pada hadirat tersebut. Maka pahamilah!”
Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak beradab dalam setiap waktu maka ia terkutuk”
Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa mencari keringanan untuk meninggalkan adab maka ia akan kembali pada posisi di mana ia datang pertama kali.”
Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid ketika ia masuk ke dalam tarekat, ibarat sebutir benih yang baru akan tumbuh. Dan ketika ia tercebur pada ketidaksopanan setelah ia masuk maka ia ibarat sebutir benih yang baru tumbuh separo lalu dilempar sehingga mati dan tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu..
Rukun-rukun (sendi-sendi) tarekat ada empat: Lapar, mengasingkan diri dari makhluk (uzlah), tidak tidur di malam hari, dan mempersedikit pembicaraan. Bila seorang murid mampu menahan lapar, maka tiga poin berikutnya secara khusus akan mengikuti. Sebab orang yang lapar akan sedikit berbicara, tahan tidak tidur di malam hari dan senang menghindarkan diri dari orang. Mereka mengungkapkan sendi-sendi dasar tersebut dalam bentuk bait syair:
[I]Para tuan mulia dari kaum abdal kami
telah membagi rumah kewalian menjadi beberapa sendi:
antara diam dan selalu mengasingkan diri, lapar dan tidak tidur, adalah pilihan yang tertinggi.[/I]
Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Sesungguhnya dasar utama pintu menuju tarekat adalah lapar. Sebab mereka tidak akan mendapatkan sumber hikmah kecuali dengan lapar.” Mereka secara bertahap mengurangi makan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hanya sesuap dalam setiap harinya. Sebagian dari mereka ada yang hanya satu biji kurma kering atau anggur kering. Sementara itu Abu Utsman al-Maghribi makan setiap enam bulan sekali. Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi mengatakan dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: “Sebagaimana cerita yang telah sampai pada kami, bahwa Allah Swt. ketika menciptakan nafsu, maka Dia bertanya kepadanya, ‘SiapaAku ini?’ Maka nafsu menjawab, ‘Lalu siapa aku ini?’ Akhirnya ia ditempatkan dalam lautan kelaparan selama empat ribu tahun, kemudian Allah bertanya kembali, ‘Siapa Aku?‘ Ia baru sadar dan mengakui Tuhannya sembari menjawab, ‘Engkau adalah Tuhanku’.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari tidak akan makan kecuali setelah lima belas hari. Dan ketika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan sebelum melihat bulan sabit satu Syawal. Setiap malam bulan Ramadan ia hanya berbuka dengan air agar bisa keluar dari larangan menyambung (wishal) puasa. Ia pernah berkata: “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan ilmu dan hikmah berada dalam kelaparan, dan menjadikan kebodohan dan maksiat berada dalam kekenyangan.” Ketika dalam kondisi lapar ia menjadi kuat, dan ketika dalam kondisi kenyang ia menjadi lemah tak berdaya.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci dunia adalah kekenyangan, dan kunci akhirat adalah kelaparan.” Yakni kegiatan masing-masing.
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Kekenyangan adalah api, sedangkan syahwat (kesenangan) ibarat kayu bakar. Dari situ akan muncul kebakaran, dan apinya tidak bisa padam sehingga yang bersangkutan ikut terbakar.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Barangsiapa ingin makan setiap harinya dua kali maka hendaknya membangun tempat makanan untuknya.”
Malik bin Dinar —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa ingin agar setan lari dari bayang-bayangnya maka hendaknya memaksa syahwatnya.” Sementara itu ucapan-ucapan para salaf seperti itu cukup banyak. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Diantara perilaku yang harus dilakukan munid, hendaknya selalu berpegang teguh dengan adab (kesopanan) ketika berhadapan dengan Allah, ketika bersama para wali Allah dan saudara-saudaranya. Jangan sampai memberikan kesempatan sama sekali kepada nafsu (diri)nya untuk berbuat yang menyalahi kesopanan (su‘ul-adab).
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— berkata: “Seorang hamba dengan ibadahnya bisa sampai ke surga, tapi ia tidak bisa sampai ke hadirat Tuhannya kecuali beradab ketika sedang beribadah. Barangsiapa tidak bisa memelihara adab dalam ketaatannya maka ia akan terhalang dari Tuhannya oleh tujuh puluh lapis penghalang (hijab).” Ad-Daqqaq tidak pernah bersandar pada apa pun seperti bantal atau dinding kecuali dalam kondisi sangat darurat, dimana ia pernah mengemukakan tentang apa yang ia lakukan itu, “Bahwa bersandar pada sesuatu merupakan tindakan yang tidak sopan.”
Abdullah bin al-Jalla’ berkata: “Barangsiapa tidak memiliki adab (kesopanan) maka ia tidak memiliki syariat, tidak punya iman dan tauhid.” Yakni secara sempurna.
Ibnu ‘Atha’ berkata: “Seorang murid belum dikatakan beradab sehingga ia merasa malu kepada Allah untuk duduk berselonjor di depan-Nya, baik di waktu malam maupun siang hari.”
Al-Hanizi mengatakan: “Aku tidak pernah duduk berkhalwat (menyendiri) dengan duduk berselonjor selama dua puluh tahun.” Ia juga berkata: “Adab secara syariat bersama Allah Swt. dalam segala perkara tentunya lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal. Sementara itu dalam syariat tidak pernah ada penjelasan secara gamblang tentang adab pada masalah tersebut.”
Ia juga pernah berkata: “Apabila seseorang bermuamalah dengan para penguasa dunia tanpa menggunakan adab (kesopanan) akan mengakibatkan dirinya terbunuh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kesopanan ketika bersama al-Haq Azza wa Jalla dan berani melanggar apa yang menjadi larangan-Nya?” Ia juga pernah berkata: “Meninggalkan adab bisa mengakibatkan terusir. Maka barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang berada di hamparan tempat duduk maka ia akan diusir menuju ke pintu, dan barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang di pintu maka ia akan diusir ke orang-orang yang memelihana binatang ternak”
Imam asy-Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Imam Malik —rahimahullah— pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, jadikan ilmumu sebagai garam, dan adabmu sebagai tepungnya’.”
Abdurrahman bin al-Qasim —rahimahullah— berkata: “Aku pernah bersahabat dengan Imam Malik selama dua puluh tahun, maka dalam rentang waktu tersebut selama delapan belas tahun ia gunakan untuk mengajar adab, sedangkan sisanya, dua tahun ia gunakan untuk mengajar ilmu. Maka aku berharap andaikan dua puluh tahun itu seluruhnya bisa aku gunakan untuk mengajar adab.”
Asy-Syibli —rahimahullah— berkata: “Diantara ciri-ciri orang-orang yang berada di hadirat Allah adalah tidak pernah tercebur dalam ketidaksopanan sekalipun suatu kesenangan. Maka isyarat-isyarat yang datang dari al-Haq bisa terjadi secara rahasia (sirri) dan terang-terangan. Sebab hadirat al-Haq Azza wa Jalla adalah hadirat adab, kebisuan, keagungan dan penuh rasa takut, maka tidak sepantasnya merasa senang karena tidak sebanding. Bahkan kalau misalnya seorang wali bisa tinggal di hadirat ini selama usia Nabi Nuh a.s. maka hanya akan menambah rasa takut sepanjang waktu. Hal itu terjadi karena tajalli (penampakan Diri) al-Haq Swt. tidak akan terulang. Maka setiap tajalli yang datang kepada seorang hamba maka yang bersangkutan hanya layak untuk menunjukkan kesopanan pada hadirat tersebut. Maka pahamilah!”
Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak beradab dalam setiap waktu maka ia terkutuk”
Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa mencari keringanan untuk meninggalkan adab maka ia akan kembali pada posisi di mana ia datang pertama kali.”
Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid ketika ia masuk ke dalam tarekat, ibarat sebutir benih yang baru akan tumbuh. Dan ketika ia tercebur pada ketidaksopanan setelah ia masuk maka ia ibarat sebutir benih yang baru tumbuh separo lalu dilempar sehingga mati dan tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu..
Rukun-rukun (sendi-sendi) tarekat ada empat: Lapar, mengasingkan diri dari makhluk (uzlah), tidak tidur di malam hari, dan mempersedikit pembicaraan. Bila seorang murid mampu menahan lapar, maka tiga poin berikutnya secara khusus akan mengikuti. Sebab orang yang lapar akan sedikit berbicara, tahan tidak tidur di malam hari dan senang menghindarkan diri dari orang. Mereka mengungkapkan sendi-sendi dasar tersebut dalam bentuk bait syair:
[I]Para tuan mulia dari kaum abdal kami
telah membagi rumah kewalian menjadi beberapa sendi:
antara diam dan selalu mengasingkan diri, lapar dan tidak tidur, adalah pilihan yang tertinggi.[/I]
Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Sesungguhnya dasar utama pintu menuju tarekat adalah lapar. Sebab mereka tidak akan mendapatkan sumber hikmah kecuali dengan lapar.” Mereka secara bertahap mengurangi makan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hanya sesuap dalam setiap harinya. Sebagian dari mereka ada yang hanya satu biji kurma kering atau anggur kering. Sementara itu Abu Utsman al-Maghribi makan setiap enam bulan sekali. Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi mengatakan dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: “Sebagaimana cerita yang telah sampai pada kami, bahwa Allah Swt. ketika menciptakan nafsu, maka Dia bertanya kepadanya, ‘SiapaAku ini?’ Maka nafsu menjawab, ‘Lalu siapa aku ini?’ Akhirnya ia ditempatkan dalam lautan kelaparan selama empat ribu tahun, kemudian Allah bertanya kembali, ‘Siapa Aku?‘ Ia baru sadar dan mengakui Tuhannya sembari menjawab, ‘Engkau adalah Tuhanku’.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari tidak akan makan kecuali setelah lima belas hari. Dan ketika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan sebelum melihat bulan sabit satu Syawal. Setiap malam bulan Ramadan ia hanya berbuka dengan air agar bisa keluar dari larangan menyambung (wishal) puasa. Ia pernah berkata: “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan ilmu dan hikmah berada dalam kelaparan, dan menjadikan kebodohan dan maksiat berada dalam kekenyangan.” Ketika dalam kondisi lapar ia menjadi kuat, dan ketika dalam kondisi kenyang ia menjadi lemah tak berdaya.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci dunia adalah kekenyangan, dan kunci akhirat adalah kelaparan.” Yakni kegiatan masing-masing.
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Kekenyangan adalah api, sedangkan syahwat (kesenangan) ibarat kayu bakar. Dari situ akan muncul kebakaran, dan apinya tidak bisa padam sehingga yang bersangkutan ikut terbakar.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Barangsiapa ingin makan setiap harinya dua kali maka hendaknya membangun tempat makanan untuknya.”
Malik bin Dinar —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa ingin agar setan lari dari bayang-bayangnya maka hendaknya memaksa syahwatnya.” Sementara itu ucapan-ucapan para salaf seperti itu cukup banyak. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Diantara perilaku yang harus dilakukan munid, hendaknya selalu berpegang teguh dengan adab (kesopanan) ketika berhadapan dengan Allah, ketika bersama para wali Allah dan saudara-saudaranya. Jangan sampai memberikan kesempatan sama sekali kepada nafsu (diri)nya untuk berbuat yang menyalahi kesopanan (su‘ul-adab).
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— berkata: “Seorang hamba dengan ibadahnya bisa sampai ke surga, tapi ia tidak bisa sampai ke hadirat Tuhannya kecuali beradab ketika sedang beribadah. Barangsiapa tidak bisa memelihara adab dalam ketaatannya maka ia akan terhalang dari Tuhannya oleh tujuh puluh lapis penghalang (hijab).” Ad-Daqqaq tidak pernah bersandar pada apa pun seperti bantal atau dinding kecuali dalam kondisi sangat darurat, dimana ia pernah mengemukakan tentang apa yang ia lakukan itu, “Bahwa bersandar pada sesuatu merupakan tindakan yang tidak sopan.”
Abdullah bin al-Jalla’ berkata: “Barangsiapa tidak memiliki adab (kesopanan) maka ia tidak memiliki syariat, tidak punya iman dan tauhid.” Yakni secara sempurna.
Ibnu ‘Atha’ berkata: “Seorang murid belum dikatakan beradab sehingga ia merasa malu kepada Allah untuk duduk berselonjor di depan-Nya, baik di waktu malam maupun siang hari.”
Al-Hanizi mengatakan: “Aku tidak pernah duduk berkhalwat (menyendiri) dengan duduk berselonjor selama dua puluh tahun.” Ia juga berkata: “Adab secara syariat bersama Allah Swt. dalam segala perkara tentunya lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal. Sementara itu dalam syariat tidak pernah ada penjelasan secara gamblang tentang adab pada masalah tersebut.”
Ia juga pernah berkata: “Apabila seseorang bermuamalah dengan para penguasa dunia tanpa menggunakan adab (kesopanan) akan mengakibatkan dirinya terbunuh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kesopanan ketika bersama al-Haq Azza wa Jalla dan berani melanggar apa yang menjadi larangan-Nya?” Ia juga pernah berkata: “Meninggalkan adab bisa mengakibatkan terusir. Maka barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang berada di hamparan tempat duduk maka ia akan diusir menuju ke pintu, dan barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang di pintu maka ia akan diusir ke orang-orang yang memelihana binatang ternak”
Imam asy-Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Imam Malik —rahimahullah— pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, jadikan ilmumu sebagai garam, dan adabmu sebagai tepungnya’.”
Abdurrahman bin al-Qasim —rahimahullah— berkata: “Aku pernah bersahabat dengan Imam Malik selama dua puluh tahun, maka dalam rentang waktu tersebut selama delapan belas tahun ia gunakan untuk mengajar adab, sedangkan sisanya, dua tahun ia gunakan untuk mengajar ilmu. Maka aku berharap andaikan dua puluh tahun itu seluruhnya bisa aku gunakan untuk mengajar adab.”
Asy-Syibli —rahimahullah— berkata: “Diantara ciri-ciri orang-orang yang berada di hadirat Allah adalah tidak pernah tercebur dalam ketidaksopanan sekalipun suatu kesenangan. Maka isyarat-isyarat yang datang dari al-Haq bisa terjadi secara rahasia (sirri) dan terang-terangan. Sebab hadirat al-Haq Azza wa Jalla adalah hadirat adab, kebisuan, keagungan dan penuh rasa takut, maka tidak sepantasnya merasa senang karena tidak sebanding. Bahkan kalau misalnya seorang wali bisa tinggal di hadirat ini selama usia Nabi Nuh a.s. maka hanya akan menambah rasa takut sepanjang waktu. Hal itu terjadi karena tajalli (penampakan Diri) al-Haq Swt. tidak akan terulang. Maka setiap tajalli yang datang kepada seorang hamba maka yang bersangkutan hanya layak untuk menunjukkan kesopanan pada hadirat tersebut. Maka pahamilah!”
Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak beradab dalam setiap waktu maka ia terkutuk”
Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa mencari keringanan untuk meninggalkan adab maka ia akan kembali pada posisi di mana ia datang pertama kali.”
Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid ketika ia masuk ke dalam tarekat, ibarat sebutir benih yang baru akan tumbuh. Dan ketika ia tercebur pada ketidaksopanan setelah ia masuk maka ia ibarat sebutir benih yang baru tumbuh separo lalu dilempar sehingga mati dan tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu..:
referensi
Rukun-rukun (sendi-sendi) tarekat ada empat: Lapar, mengasingkan diri dari makhluk (uzlah), tidak tidur di malam hari, dan mempersedikit pembicaraan. Bila seorang murid mampu menahan lapar, maka tiga poin berikutnya secara khusus akan mengikuti. Sebab orang yang lapar akan sedikit berbicara, tahan tidak tidur di malam hari dan senang menghindarkan diri dari orang. Mereka mengungkapkan sendi-sendi dasar tersebut dalam bentuk bait syair:
[I]Para tuan mulia dari kaum abdal kami
telah membagi rumah kewalian menjadi beberapa sendi:
antara diam dan selalu mengasingkan diri, lapar dan tidak tidur, adalah pilihan yang tertinggi.[/I]
Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Sesungguhnya dasar utama pintu menuju tarekat adalah lapar. Sebab mereka tidak akan mendapatkan sumber hikmah kecuali dengan lapar.” Mereka secara bertahap mengurangi makan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya hanya sesuap dalam setiap harinya. Sebagian dari mereka ada yang hanya satu biji kurma kering atau anggur kering. Sementara itu Abu Utsman al-Maghribi makan setiap enam bulan sekali. Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi mengatakan dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: “Sebagaimana cerita yang telah sampai pada kami, bahwa Allah Swt. ketika menciptakan nafsu, maka Dia bertanya kepadanya, ‘SiapaAku ini?’ Maka nafsu menjawab, ‘Lalu siapa aku ini?’ Akhirnya ia ditempatkan dalam lautan kelaparan selama empat ribu tahun, kemudian Allah bertanya kembali, ‘Siapa Aku?‘ Ia baru sadar dan mengakui Tuhannya sembari menjawab, ‘Engkau adalah Tuhanku’.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari tidak akan makan kecuali setelah lima belas hari. Dan ketika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan sebelum melihat bulan sabit satu Syawal. Setiap malam bulan Ramadan ia hanya berbuka dengan air agar bisa keluar dari larangan menyambung (wishal) puasa. Ia pernah berkata: “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan ilmu dan hikmah berada dalam kelaparan, dan menjadikan kebodohan dan maksiat berada dalam kekenyangan.” Ketika dalam kondisi lapar ia menjadi kuat, dan ketika dalam kondisi kenyang ia menjadi lemah tak berdaya.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Kunci dunia adalah kekenyangan, dan kunci akhirat adalah kelaparan.” Yakni kegiatan masing-masing.
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Kekenyangan adalah api, sedangkan syahwat (kesenangan) ibarat kayu bakar. Dari situ akan muncul kebakaran, dan apinya tidak bisa padam sehingga yang bersangkutan ikut terbakar.”
Sahl bin Abdullah at-Tustari berkata: “Barangsiapa ingin makan setiap harinya dua kali maka hendaknya membangun tempat makanan untuknya.”
Malik bin Dinar —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa ingin agar setan lari dari bayang-bayangnya maka hendaknya memaksa syahwatnya.” Sementara itu ucapan-ucapan para salaf seperti itu cukup banyak. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Diantara perilaku yang harus dilakukan munid, hendaknya selalu berpegang teguh dengan adab (kesopanan) ketika berhadapan dengan Allah, ketika bersama para wali Allah dan saudara-saudaranya. Jangan sampai memberikan kesempatan sama sekali kepada nafsu (diri)nya untuk berbuat yang menyalahi kesopanan (su‘ul-adab).
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— berkata: “Seorang hamba dengan ibadahnya bisa sampai ke surga, tapi ia tidak bisa sampai ke hadirat Tuhannya kecuali beradab ketika sedang beribadah. Barangsiapa tidak bisa memelihara adab dalam ketaatannya maka ia akan terhalang dari Tuhannya oleh tujuh puluh lapis penghalang (hijab).” Ad-Daqqaq tidak pernah bersandar pada apa pun seperti bantal atau dinding kecuali dalam kondisi sangat darurat, dimana ia pernah mengemukakan tentang apa yang ia lakukan itu, “Bahwa bersandar pada sesuatu merupakan tindakan yang tidak sopan.”
Abdullah bin al-Jalla’ berkata: “Barangsiapa tidak memiliki adab (kesopanan) maka ia tidak memiliki syariat, tidak punya iman dan tauhid.” Yakni secara sempurna.
Ibnu ‘Atha’ berkata: “Seorang murid belum dikatakan beradab sehingga ia merasa malu kepada Allah untuk duduk berselonjor di depan-Nya, baik di waktu malam maupun siang hari.”
Al-Hanizi mengatakan: “Aku tidak pernah duduk berkhalwat (menyendiri) dengan duduk berselonjor selama dua puluh tahun.” Ia juga berkata: “Adab secara syariat bersama Allah Swt. dalam segala perkara tentunya lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal. Sementara itu dalam syariat tidak pernah ada penjelasan secara gamblang tentang adab pada masalah tersebut.”
Ia juga pernah berkata: “Apabila seseorang bermuamalah dengan para penguasa dunia tanpa menggunakan adab (kesopanan) akan mengakibatkan dirinya terbunuh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kesopanan ketika bersama al-Haq Azza wa Jalla dan berani melanggar apa yang menjadi larangan-Nya?” Ia juga pernah berkata: “Meninggalkan adab bisa mengakibatkan terusir. Maka barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang berada di hamparan tempat duduk maka ia akan diusir menuju ke pintu, dan barangsiapa tidak memiliki adab ketika sedang di pintu maka ia akan diusir ke orang-orang yang memelihana binatang ternak”
Imam asy-Syafi’i —rahimahullah— berkata: “Imam Malik —rahimahullah— pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, jadikan ilmumu sebagai garam, dan adabmu sebagai tepungnya’.”
Abdurrahman bin al-Qasim —rahimahullah— berkata: “Aku pernah bersahabat dengan Imam Malik selama dua puluh tahun, maka dalam rentang waktu tersebut selama delapan belas tahun ia gunakan untuk mengajar adab, sedangkan sisanya, dua tahun ia gunakan untuk mengajar ilmu. Maka aku berharap andaikan dua puluh tahun itu seluruhnya bisa aku gunakan untuk mengajar adab.”
Asy-Syibli —rahimahullah— berkata: “Diantara ciri-ciri orang-orang yang berada di hadirat Allah adalah tidak pernah tercebur dalam ketidaksopanan sekalipun suatu kesenangan. Maka isyarat-isyarat yang datang dari al-Haq bisa terjadi secara rahasia (sirri) dan terang-terangan. Sebab hadirat al-Haq Azza wa Jalla adalah hadirat adab, kebisuan, keagungan dan penuh rasa takut, maka tidak sepantasnya merasa senang karena tidak sebanding. Bahkan kalau misalnya seorang wali bisa tinggal di hadirat ini selama usia Nabi Nuh a.s. maka hanya akan menambah rasa takut sepanjang waktu. Hal itu terjadi karena tajalli (penampakan Diri) al-Haq Swt. tidak akan terulang. Maka setiap tajalli yang datang kepada seorang hamba maka yang bersangkutan hanya layak untuk menunjukkan kesopanan pada hadirat tersebut. Maka pahamilah!”
Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak beradab dalam setiap waktu maka ia terkutuk”
Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa mencari keringanan untuk meninggalkan adab maka ia akan kembali pada posisi di mana ia datang pertama kali.”
Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid ketika ia masuk ke dalam tarekat, ibarat sebutir benih yang baru akan tumbuh. Dan ketika ia tercebur pada ketidaksopanan setelah ia masuk maka ia ibarat sebutir benih yang baru tumbuh separo lalu dilempar sehingga mati dan tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu..
Jumat, September 27, 2013
3 amanah TUHAN buat manusia
Umumnya manusia merasa baru mendapatkan kenikmatan setelah menerima duit dari orang lain. Mereka mengatakan itu merupakan rejeki. Rejeki dan kenikmatan itu semata-mata bukanlah materi. Apa yang kita terima dari GUSTI ALLAH berupa kesegaran, kesehatan dan lainnya, itupun merupakan rejeki dan kenikmatan dari ALLAH. Itu merupakan tanda bahwa GUSTI ALLAH senantiasa mengayomi setiap diri umatnya. Tidak peduli apakah umatnya itu memiliki cacat fisik maupun rohani, semuanya selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI.
GUSTI ALLAH itu juga Maha Adil. DIA menjaga setiap sendi-sendi kehidupan umatnya. Namun berbeda dengan manusia, rata-rata makhluk yang disebut manusia ini dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata tidak adil. Ada tiga hal yang patut dijaga oleh manusia agar seorang manusia itu dikatakan adil dan menjadi "Manungso sejati". Apa saja itu?
Tiga hal tersebut adalah:
1. Raga
2. Pikiran
3. Jiwa
Ketiga hal tersebut ada dalam setiap tubuh manusia. Raga dalam bahasa Jawa disebut "Wadag". Pikiran dalam bahasa Jawa disebut "nalar". Sedangkan Jiwa disebut orang Jawa dengan "suksma". Ketiga hal tersebut antara satu dengan lainnya memiliki makanan sendiri-sendiri.
Makanan untuk ketiga hal tersebut:
1. Raga (makanannya adalah nasi, roti dsb)
2. Pikiran (makanannya adalah membaca koran, melihat TV, mendengarkan radio dan tukar pikiran dengan orang lain agar tumbuh pemahaman)
3. Jiwa (makanan dari jiwa adalah "panembah", "Memuji GUSTI ALLAH", Sembahyang, Sholat dan lainnya, agar muncul rasa tentram dalam hidup ini).
Nah, rata-rata manusia dikatakan tidak bisa adil karena untuk menjaga makanan dari ketiga hal tersebut saja merasa kesulitan. Padahal, GUSTI ALLAH sudah menitipkan tiga hal tersebut pada setiap diri dan titipan itu harus dirawat dengan baik oleh manusia. Kenyataannya malah berkata lain. Manusia umumnya menelantarkan satu dari ketiga hal tersebut.
Setiap titipan GUSTI ALLAH pada manusia jika kita sebagai manusia menelantarkannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup ini. Contohnya, jika kita lebih mementingkan raga saja dengan makan semua makanan yang ada tanpa diimbangi dengan kebutuhan Jiwa dan pikiran, maka yang muncul adalah penyakit akibat makanan itu.
Demikian juga ketika kita lebih mementingkan pikiran dimana kita selalu mencari pemahaman dengan membaca koran dan ilmu pengetahuan lainnya tanpa mempedulikan raga dan jiwa, maka kita juga akan sakit. Umumnya sakit maag, lever dan lainnya.
Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dijaga keseimbangannya karena ketiganya merupakan titipan yang sangat berharga dari GUSTI ALLAH. Kalau ketiga hal tersebut sudah bisa dijaga dengan seadil-adilnya, maka kita bisa disebut manusia yang senantiasa menjaga amanah dari GUSTI ALLAH dan digelari sebagai "Manungso Sejati"
GUSTI ALLAH itu juga Maha Adil. DIA menjaga setiap sendi-sendi kehidupan umatnya. Namun berbeda dengan manusia, rata-rata makhluk yang disebut manusia ini dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata tidak adil. Ada tiga hal yang patut dijaga oleh manusia agar seorang manusia itu dikatakan adil dan menjadi "Manungso sejati". Apa saja itu?
Tiga hal tersebut adalah:
1. Raga
2. Pikiran
3. Jiwa
Ketiga hal tersebut ada dalam setiap tubuh manusia. Raga dalam bahasa Jawa disebut "Wadag". Pikiran dalam bahasa Jawa disebut "nalar". Sedangkan Jiwa disebut orang Jawa dengan "suksma". Ketiga hal tersebut antara satu dengan lainnya memiliki makanan sendiri-sendiri.
Makanan untuk ketiga hal tersebut:
1. Raga (makanannya adalah nasi, roti dsb)
2. Pikiran (makanannya adalah membaca koran, melihat TV, mendengarkan radio dan tukar pikiran dengan orang lain agar tumbuh pemahaman)
3. Jiwa (makanan dari jiwa adalah "panembah", "Memuji GUSTI ALLAH", Sembahyang, Sholat dan lainnya, agar muncul rasa tentram dalam hidup ini).
Nah, rata-rata manusia dikatakan tidak bisa adil karena untuk menjaga makanan dari ketiga hal tersebut saja merasa kesulitan. Padahal, GUSTI ALLAH sudah menitipkan tiga hal tersebut pada setiap diri dan titipan itu harus dirawat dengan baik oleh manusia. Kenyataannya malah berkata lain. Manusia umumnya menelantarkan satu dari ketiga hal tersebut.
Setiap titipan GUSTI ALLAH pada manusia jika kita sebagai manusia menelantarkannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup ini. Contohnya, jika kita lebih mementingkan raga saja dengan makan semua makanan yang ada tanpa diimbangi dengan kebutuhan Jiwa dan pikiran, maka yang muncul adalah penyakit akibat makanan itu.
Demikian juga ketika kita lebih mementingkan pikiran dimana kita selalu mencari pemahaman dengan membaca koran dan ilmu pengetahuan lainnya tanpa mempedulikan raga dan jiwa, maka kita juga akan sakit. Umumnya sakit maag, lever dan lainnya.
Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dijaga keseimbangannya karena ketiganya merupakan titipan yang sangat berharga dari GUSTI ALLAH. Kalau ketiga hal tersebut sudah bisa dijaga dengan seadil-adilnya, maka kita bisa disebut manusia yang senantiasa menjaga amanah dari GUSTI ALLAH dan digelari sebagai "Manungso Sejati"
Jumat, September 13, 2013
ruh
ruh adalah sesuatu yang mana tanpanya sesuatu tak kan hidup tapi kenapa sih kok dikatakan ruh ?
وروح منه سمي بذلك لانه حصل من الريح الحاصل من نفخ جبريل
من كتاب
تفسير الصاوي ٣٤٥ جزاء ١
dikatakan ruh ter aplikasikan dari angin yang timbul dari tiupan nya malaikat jibril
ket :tafsir showi juz 1 no 345
و قيل الروح هي الدم
وقيل النفس
و نقل عن بعض اصحاب مالك انها صورة كجسد صاحبها
من كتاب
تفسير الصاوي جزأ ٢ ص ٤٤٩
ada ulama yang berpendapat bahwa ruh itu adalah darah
dan ada yang berpendapat ruh adalah NAFSU
dan di nuqil dari sebagian pendapat ashabu malik mengatakan bahwa ruh adalah suatu bentuk yang menyerupai jasad pemiliknya
ket: tafsir showi juz 2 449
Minggu, September 01, 2013
RANGKUMAN CERAMAH AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA
Bertasbih Bersama Alam
Allah Swt menciptakan alam semesta, menciptakan bumi dengan keaneka ragaman hayati. Allah Swt menciptakan bukit dan gunung, menciptakan pepohonan yang mempunyai jenis yang bermacam-macam; berkulit halus, kasar, berduri, berwarna-warni dengan segala bentuk dan rasa buah-buahannya. Satu sama lain mempunyai perbedaan, ada yang serupa tapi tak sama; manis, pahit, asam, ketir, dan lainnya. Bumi dihiasi pula dengan aliran-aliran sungai besar dan sungai yang kecil memancang, berupa-rupa kelokan, panjang dan luasnya, airnyapun mempunyai banyak kandungannya. Gunung-gunung tegak-tegap memancang, ada yang aktif berapi ada yang tidak.
Laut terhampar diatas bumi adakalanya tinggi lautnya disuatu daerah lebih tinggi dari daratan seperti yang terjadi di beberapa daerah. Walaupun sama asinnya jelas berbeda, penghuni lautan dan daratan juga beraneka ragam. Semua itu bukan sebatas hiasan pemandangan alam, tetapi juga untuk direnungkan dan di pikirkan. Karena ilmu Allah yang diberikan pada makhluknya berbeda-beda dan memiliki keutamaan yang berbeda pula. Pertanyaannya sejauhmana kita bisa menggapai ilmu yang ada pada setiap yang diciptakan oleh Allah. Kita hanya mampu berucap Subhanallah.
Apalagi kita mau melihat lebih jauh aau mengerti lebih jauh apa yang ada dalam perut bumi. Secara kasat mata kita tidak bisa melihatnya dimana didalamnya (peut bumi) terdapat palung-palung, gunung-gunung kecil didalamnya tedapat kantong-kantong gas, minyak dan kekayaan alam lainnya. Dengan ilmullah (ilmu Allah yang diberikan pada manusia) serta mendapat kemampuan yang dengannya kita dapat menguak apa yang ada dalam perut bumi, bahkan bisa kita ambil seperti minyak, biji besi, tembaga, kuningan, emas, perak dan bau-batu berharga.
Dan bagaimana peranan gunung berapi yang bersumberkan dari sekian kilometer yang menghubungkan daratan dengan lautan. Dan mampu menyedot air laut melalui lapisan-lapisan bumi yang sangat rapi yang dikelola oleh gunung berapi tersebut memproduksi air tawar, belerang, kandungan besi adapula yang memproduksi lumpur yang cukup mempunyai kandungan garam seperti di Purwodadi. Tak salah ini menjadi nilai tambah bagi pendapatan penduduk sekitar.
Sekali lagi saya ucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah).
Akan tetapi kita mengerti dan meyakini selain Yang Maha dalam segalasifatNya dan tiada sekutu BagiNya, selain Dia adalah makhluk, tempatnya segala kekurangan. Sadar atau tidak.
Kita semua (yang bernyawa ataupun tidak) berikhtiar untuk mengurangi segala kekurangan, pohon-pohon dengan akarnya berusaha untuk menghidupi dirinya begitu pula makhluk lainnya selain ppepohonan. Dan banyak sekali diantara satu sama lain yang terkait dalam menjalani kehidupan. Ketika kita kepanasan ingin mencari penyejuk –semisal ketika kita ditengah pesawahan- mencari peneduh seperti pohon yang rindag serta lebat daunnya serta dahannya, banyak rantingnya dan rindang daunnya.
Dengan langkah kaki kita, kita mau tidak mau dengan suka rela datang ke pohon tersebut. Demikian pula pohon yang kita teduhi tersebut ingin berteduh (perlindungan) pada manusia; ingin diramut, dipelihara dan disirami air. Namun apabila bumi ini menjadi pereka diantara satu sama yang lain. Umpamanya manusia, pohon atau makhluk hidup lainnya memerlukan menu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan asupan giji.
Kita jarang atau bahkan tidak menyadari keadaan saling membutuhkan itu, dari sebab kesalahan itu akan menambah kerapuhan bumi. Dan membuka pori-pori daya serap yang lebih tertutup sehingga filter yang ada dalam tubuh bumi tiada mampu mengantisipasi.
Maka efeknya adalah tumbuhan atau ekosistem yang ada diatasnya akan mengalami kerusakan, tak ubahnya bilamana lapisan ozon telah rusak maka kebocoran ozon itu akan menyebabkan tumbuhan akan menimbulkan panas yang tidak normal. Dari akibat itu daya tarik matahari yang meningkat terhadap air lau bisa lebih tinggi disamping akan semakin cepat mencairnya gunung-gunung es di kutub.
Maka untuk mengantsipasi sepaya daya serap bumi terhadap air laut perlu dijaga kebersihan panai-pantai. Kebersihan pantai dari sampah-sampah akan membantu pertumbuhan butir-butir bumi serta akan menyebabkan bumi semakin sehat.
Begitupula curah hujan lebih dari hitungan masa kemarau atau musim hujan. Dengan menjaga bumi dari segala kotoran atau limbah, akan sangat membantu, pohon-pohonan dan mentralisir daya serap daun-daunan dari pengaruh ultraviolet. Maka termasuk ikhtiar secara batiniyyah adalah dengan mengembangkan dzikir dan tasbih dengan cara penghijaun atau reboisasi bumi. Karena setiap tumbuhan khususnya dedaunan membaca tasbih kepada Allah. Tasbihnya tersebut menjadi sebab turunnya rahmat dari Allah kepada lingkungannya dimana pohon atau tumbuhan itu berada.
Dari itu yang bertasbih bukan saja pohon-pohonan, batu kerikil, pasir, semua bertasbih kepada Allah Swt.
Saya mengambil satu hadis riwayat Ibnu Abbas yang disepakati kesahihannya. Redaksi hadisnya demikian:
أنه مر بقبرين يعذبان فقال : إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان لا يستتر من البول وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة ثم أخذ جريدة رطبة فشقها نصفين ثم غرز في كل قبر واحدة فقالوا : يا رسول الله لم صنعت هذا ؟ فقال : لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا .
متفق عليه رواه البخاري ومسلم وغيرهما
ketika baginda Nabi Muhammad Saw melewati pekuburan Nabi mendengar dua penghuni kubur sedang menangis, lalu Rasulullah menebas pelapah kurma, pelapah itu kemudian ditancapkanoleh Rasulullah Saw diatas pusara kedua kubur tersebut. Kemudian yang menangis didalam kubur tersebut diam. Bertanya sahabat; ‘apakah maksudnya pelapah kurma ditancapkan dipusara tersebut. Rasulullah menjawab; ‘selagi pelapah kurma iu belum kering, pelapah it uterus membaca tasbih kepada Allah. Dari sebab tasbihnya, Allah Taala menurunkan rahmat’.
Maka dari sebab tasbihnya pelapah dan dedaunan yang ada pada pelapah tersebut orang yang didalam kubur telah mendapat rahmatnya Allah Taala, tiada musibah yang paling besar untuk setiap manusia, sebelum dipadang makhsar selain adzab kubur.
Dari sebab daun tersebut bisa meringankan siksa kubur, ini yang membuat saya takjub, subhanallah!
Kita kembali kepada diri kita kalau mau bertafakur; seandainya penghijauan dari mulai tepian pantai dan mau mengerti apa yang senarnya ada pada pohon-pohonan tersebut insya Allah kita akan dijauhkan dari segala cobaan, terutama diakhirat nanti. Tapi tidak bisa dielakan dan dipungkiri ladang untuk akhirat nanti adalah didunia ini. Ternyata yang memerlukan kebersihan batin, bukan manusia saja, akan tetapi termasuk juga bumi, dan ekosistem diatasnya. (18/01) [Tsi]
Mengenal Sifat Para Kekasih Allah
Wali adalah hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Mereka diangkat menjadi wali bukan karena ibadah mereka ditujukan untuk itu, akan tetapi karena ketaatan dan keiklasannya dalam beribadah. Mereka melakukan ibadah semata-mata karena kesadaran sebagai hamba Allah. Maka mereka mengerti maqomat ubudiyah, dan mengerti ilmu ke-Tuhanan.
Dengan semakin meningkatnya mereka mengenal Allah maka mereka semakin sadar akan kehambaan mereka. Mereka adalah teladan bagi kita semuanya. Sifat-sifat mereka disebutkan oleh Allah dalam Al Quran (Yunus: 62-63):
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, iaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”
Ketahuilah bahwa Aulia (para Wali Allah), tidak punya rasa takut kecuali terhadap Allah ta'alaa, karena tidak sekedar kadar keimanannya, dan tidak pula setengah-setengah keimanan dan keyakinannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tadhoru-nya, ibadahnya, syukurnya, roja’nya itulah yang menjadikan mereka sempurna dalam kehambaannya. Yang kedua mereka tidak mempunyai rasa takut selain pada Allah Swt, karena mereka itu adalah الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ , orang-orang yang beriman.
Tidak sedikitpun mengambil atsar (merasa ada yang bisa member efek psoitif danalam mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan) dari sesuatu selain Allah. Beliau-beliau bisa membedakan mana dorongan nafsunya, mana dorongan imannya. Beliau-beliau tidak tertipu dengan nafsunya sendiri, apalagi oleh Syaithan,
Beliau-beliau sangat menjauhi kesyirikan, syirik kecilpun sangat mereka hindari. Misalkan disuatu subuh turun hujan, adzan berkumandang hingga sholat tidak ada yang keluar untuk berjamaah. Setelah selesai sholat dia ngomong; ‘subuh-subuh di undang sholat sama Allah malah pada tidur’. Tanpa dia sadari dia sudah terperosok pada syirik kecil, bangga dengan amalnya dan mengecilkan yang lain. Padahal yang lain ada yang bekerja hingga larut malam, ada yang sakit, berat untuk bangun subuh awal.
Demikian pula ketika kita datang kesuatu daerah untuk ceramah, tuan rumah mengatakan kalau di daerah itu masih banyak orang yang meminum minuman keras. Pada waktu naik ke panggung dia ngomong; ‘ masa disini masih banyak orang minum..’ dengan nada marah. Dia naik ke podium dengan amarah bukan dengan kasih sayang untuk menyadarkan orang lain. Tanpa sadar dia telah mendahulukan amarahnya. Ibarat seorang tuan rumah yang menyuruh atau mempersilahkan minum kopi yang dihidangkan padahal kopinya sangat panas. Tapi jika mubaligh itu bisa memahami dan menguasai nafsunya maka akan menyampaikan dengan lemah lembut. Ibarat menyuruh minum kopi itu, menunggu setelah dingin dahulu. Karena dalam al Quran sendiri pelarangan dan penyadaran minum khomer itu secara bertahap. Tapi jika panas (mubaligh) dan panas (pendengar; karena tersinggung) apa jadinya dakwah itu.
Nah para wali-wali Allah Swt tidak mungkin seperti itu. Para beliau paham mana dorongan nafsu dan mana dorongan kasih sayang atau niatan taat kepada Allah. Nafsu itu menurut imam Qusyairi ibara anak kecil, waktu masih kecil kencing sembarangan tetap lucu dan menggemaskan, membuat kita tertawa tetapi ketika makin tumbuh besar usia 6 tahun kencing sembarangan kan membuat ibunya marah.
Selanjutnya yang membuat mereka diangkat oleh Allah menjadi wali karena mereka selalu ingat pada Allah Swt. Nafsu itu jika dituruti akan terus meminta lebih. Jadi para wali-wali Allah sangat menjauhi ajakan nafsu itu.
Nah para wali Allah itu sendalnya saja tidak pernah maksiat apalagi kakinya, kalau kita kaki kita terperosok kejurang maksiat apalagi sendalnya. Itu pengandaian saja bagaimana beliau-beliau bisa menahan diri dari menuruti nafsu.
Para aulia menjaga matanya karena merasa disaksikan terus oleh Allah Swt, hatinya tidak pernah suudzon. Para wali-wali Allah lalai lupa sama Allah sekejap saja belia-beliau wajib taubat. Mata dan mulut itu yang pertam kali busuk saat orang meninggal dunia.
Kunci berikutnya adalah taat kepada orang tuanya, sekalipun orang tua kita bodoh, beda agama sekalipun selama memberitahukan yang baik, ya ikuti. Jangan mentang-mentang beda agama kita bertindak sembarangan. Walaupun beda agama orang tua yang melahirkan kita tetap harus kita hormati. Lebih-lebih seagama. Termasuk mertua sekalipun.
Lihat seperti kisah Uwaisy Al Qarny, kenapa beliau di angkat menjadi wali. Karena taatnya beliau pada orang tua samapai beliau itu hidup pada jaman Nabi tapi beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi Saw, karena kesibukannya mengurus ibunya yang sakit, dan siangnya beliau menggembala kambing. Bahkan beliau pernah menggendong ibunya dari Yaman sampai baitillah Al Haram untuk melakukan ibadah haji. Ditempat yang lain Rasulullah Saw, mewasiatkan kepada Sahabat Abu Bakar untuk menyampaikan salam dan memberikan gamis dan mengamanatkan Sahabat Abu Bakar untuk memintakan doa dari Uwais. Bayangkan Rasulullah Saw sangat tawadhu’nya meminta doa dari Uwais, seoang makhluk paling utama, dan para penghulu dari para Nabi. Meminta doa yang hakikatnya untuk umat, karena beliau sendiri sudah lebih-lebih. Ini pelajaran untuk kita agar rendah hati.
Pada masa Sahabat Abu Bakar belum bisa ditemukan, dan amanat Rasulullah Saw itu baru bisa disampaikan pada masa Sahabat Umar menjadi Khalifah, beliau sendiri dan Sayidina Ali yang menyampaikan salam dan titipan Rasulullah Saw itu. Karena dalamnya ma’rifatnya Uwais Al Qarni beliau mengenal siapa saja yang datang menghapirinya; katanya: Asalam Alaik Umar bin Khatab amirul mukminin, asalam alaika Amirul Mukminin Arabi’ Ali bin Abi Thalib. Itu Karena dalamnya ma’rifatnya beliau padahal belum pernah saling bertemu. Karena taatnya pada orang tua Uwais kenal dengan Allah. Karena taatnya pada orang tua Uwais diangkat menjadi wali, bahkan sayid at tabiin. Karena taat dan hormatnya Uwais sampai mendapatkan gamisnya (pakaian) dari Rasulullah Saw Padahal tidak pernah bertemu Beliau SAW
Yang kedua adalah taat Uwais kepada gurunya yang mengenalkan dirinya kepada Allah Ta'alaa. Guru yang menuntuk menjauhkan dari kesyirikan. Mana yang menjadi sifat Allah dan mana yang bukan, dan guru yang mengenalkan pada mana yang halal dan mana yang haram. Dan beliau khidmah pada gurunya sehingga menjadi wali. Kita membaca dan mengaji tentang wali dalam kitab ini bukan untuk menjadi wali tapi untuk meniru mereka, dalam tingkah laku. Mudah-mudahan kita mendapatkan keberkahan doa belia-beliau, dan juga keturunan-keturunan kita semua. Inysa Allah doa yang kita mohonkan pada Allah pada akhir majlis akan di Ijabah oleh Alla Swt. Wallah A’lam. (Fdi/Tsi)
Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati
Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al Mudghoh’ yang di sebutkan pada bahasan sebelumnya ((ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) [البخاري ومسلم]). Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.
Kedua; darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan. Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu. Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan yang kita konsumsi.
Sangat jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih, darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil. Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik, membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun akhirat kita.
Dengan hasil darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam kedua hal tersebut.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri. (tobe continu [Tsi])
Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar
Sebelumnya sudah di jelaskan bahwa anatara satu sahabat dan sahabat yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Tapi pasti masing-masing sahabat mempunyai sirrul A’dzom, keutamaan yang luar biasa. Keutamaan sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahaba Utsman, Sahabat Ali semuanya hakikatnya adalah untuk umat. Bahkan kelemahan mereka adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.
Pada uraian sebelumnya saya membahas tentang sahabat Abu Bakar. Sahabat Abu Bakar ini adalah sosok yang pengabdiannya pada agama dan pada Nabi Saw sangat total. Sebagai ilustrasi kita merujuk pada peristiwa Hijrah Nabi Saw. Bermula ketika di Gua Tsur Sayidina Abu Bakar Sidiq menutup lubang-lubang yang ada di gua itu dengan pakaian beliau, ketika masih ada lubang yang tersisa, terpaksa lubang tersebut beliau tutup dengan jempol kaki beliau.
Sebab biasanya lubang-lubang di Gua di huni oleh hewan-hewan berbisa, seperti ular, kala jengking dan binatang lainnya. Kehawatiran Sayidina Abu Bakar terjadi, jempol beliau dipatuk ular (menurut pendapat lain oleh kala jengking). Beliau menahan sakit yang luar biasa itu sampai tubuhnya gemetar, keringat bercucuran. Beliau tahan agar tidak mengganggu Nabi Saw yang sedang tidur, sedang isirahat.
Demikian akhlak, pengorbanan Sayidina Abu Bakar Sidiq terhadap Nabi Saw, sampai seperti itu. Kalau kita ke kiai kita sendiri ketika kiai kedatanga tamu, padahal kiai sedang tidur, kita berani menetuk pintu kamarnya. Anak terhadap orang tuanya juga demikian. Adab atau tatakrama Sahabat Abu Bakar pada Rasulullah Saw seperti itu. Teladan Sahabat Abu Bakar itu sangat luar biasa, teladan pengabdian umat pada Nabinya.
Ini sebenarnya teladan bagi kita semua untuk mengabdi pada guru, sesuai kemampuan kita. Pengabdian pada guru bisa mengantarkan pada futuh (dibuka pemahaman terhadap ilmu dan diberikan taufiq untuk mengamalkannya), sebab manfaatnya ilmu tidak terkait dengan kepintaran pelajar sendiri. Umpanya kalau di pesantren tidak sedikit santri yang hafal kitab Ibnu Aqil, Amrithi nya luar biasa, penguasaan ilmu alatnya tidak diraukan, tapi ilmunya tidak manfaat.
Keistimewaannya Sahabat adalah mereka memiliki Akbarul Mafatih, sahabat mempunyai kunci futuh yang sangat sangat isimewa, sangat luar biasa. Sebab itu alimnya tidak seberapa tapi manfaatnya luar biasa. Kita sekarang mempunyai kitab menumpuk, tafsir Al Quran ada ribuan jilid dengan judul dan pembahasan yang beraneka ragam, adapaun sahabat pengetahuan agamanya hanya menunggu dari apa yang disampaikan Nabi Saw, menunggu wahyu turun. Ilmunya pasa-pasan.
Tapi maqomah (kedudukan) ilmu yang sedikit itu bisa menjadi luas luar biasa. Seperti garam yang menyebar dan menyatu di lautan luas. Makanya sebodoh-bodoh-nya Sahabat tetep alim, sebodoh-bodohnya sahabat adalah seorang ‘Arif. Se-agung dan setinggi-tinggi-nya pangkat wali pada umat ini tidak dapat mengalahkan keutamaan sahabat yang sangat bodoh. Sahabat itu demikian adanya dan diberi futuh yang sangat besar oleh Allah Swt.
Kembali ke kisah tadi di atas. Setelah Nabi terjaga dan tahu apa yang terjadi pada Sayidina Abu Bakar, Nabi Saw mendoakan Sayidina Abu Bakar. Nabi Saw membacakan fatihah, setelah di bacakan fatihah jempolnya Sayidina Abu Bakar yang membengkak pulih seperti semula. “Abu Bakar Sidiq, kamu akan mati syahid sebab kejadian ini, dan keturunanmu akan menjadi para syuhada...”. Doa Nabi ini terbukti. Saya kasih contoh dua saja. Pertama Sayidi Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi, beliau ini keturunannya Sayidina Abu Bakar, yang kedua Sayid Bakri yang mempunyai Sholawat Fatih; Allahumma Sholi ‘Ala Sayidina Muhammad Al Fatiihi lima ugliq, wal Khotimi lima sabaq, nashiril Haq bil Haq walhadi ila Sirotil Mustaqim Sholollahu alaihi wa ala alihi wa ashabibi haqqo qodrihi wamiqdarihil al Adzim.
Di Mesir, Yaman dan dibelahan bumi manapun siapa yang tidak kenal kebesaran Sayid Bakri siapa. Wali Agung, Mursyid Thoriqoh Kholwatiyyah. Dan siapa yang tidak tahu akan kehebatan Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi. Kitab-kitabnya sangat banyak, seperti Futuhat Al Makiyyah yang berjilid-jilid, al Washoya dan lain-lain. Selain banyak, karang beliau terkenal sulit, seperti Futuhat Al Makiyyah. Karena itu tidak sedikit para ulama demi kehati-hatian melarang orang yang belum mumpuni ilmunya membaca kitab itu. Karena untuk memhami kitab itu perlu menguasai perangkat ilmu-ilmu alat dan syari’at yang cukup.
Sayidina Umar juga demikian, wafatnya dibunuh, seperti sebab wafatnya Sayidina Abu Bakar adalah terkena racun waktu di gua Hiro itu. Kenapa ulama, aulia yang pangkatnya sedemikian besar seperti beliau wafatnya mengenaskan seperti itu. Itu bukti pengabdian beliau-beliau untuk umat ini, untuk Rasulullah Saw. demikian juga dengan wafatnya Sayidina Utsman, Sayidina Ali, Sayidina Hasan, dan Sayidina Husain serta ulama-ulama lainnya.
Oleh sebab itu kita jangan sekali-kali membenci salah satu dari para Sahabat. Banyak yang wajahnya bercahaya kemudian wajahnya menjadi butek, karena berkomentar tentang kejadian yang terjadi diantara para sahabat Nabi, yang kita sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya bagaimana. Wallah ‘A’lam
SUMBER:PUSTAKA MUHIBBIN
Allah Swt menciptakan alam semesta, menciptakan bumi dengan keaneka ragaman hayati. Allah Swt menciptakan bukit dan gunung, menciptakan pepohonan yang mempunyai jenis yang bermacam-macam; berkulit halus, kasar, berduri, berwarna-warni dengan segala bentuk dan rasa buah-buahannya. Satu sama lain mempunyai perbedaan, ada yang serupa tapi tak sama; manis, pahit, asam, ketir, dan lainnya. Bumi dihiasi pula dengan aliran-aliran sungai besar dan sungai yang kecil memancang, berupa-rupa kelokan, panjang dan luasnya, airnyapun mempunyai banyak kandungannya. Gunung-gunung tegak-tegap memancang, ada yang aktif berapi ada yang tidak.
Laut terhampar diatas bumi adakalanya tinggi lautnya disuatu daerah lebih tinggi dari daratan seperti yang terjadi di beberapa daerah. Walaupun sama asinnya jelas berbeda, penghuni lautan dan daratan juga beraneka ragam. Semua itu bukan sebatas hiasan pemandangan alam, tetapi juga untuk direnungkan dan di pikirkan. Karena ilmu Allah yang diberikan pada makhluknya berbeda-beda dan memiliki keutamaan yang berbeda pula. Pertanyaannya sejauhmana kita bisa menggapai ilmu yang ada pada setiap yang diciptakan oleh Allah. Kita hanya mampu berucap Subhanallah.
Apalagi kita mau melihat lebih jauh aau mengerti lebih jauh apa yang ada dalam perut bumi. Secara kasat mata kita tidak bisa melihatnya dimana didalamnya (peut bumi) terdapat palung-palung, gunung-gunung kecil didalamnya tedapat kantong-kantong gas, minyak dan kekayaan alam lainnya. Dengan ilmullah (ilmu Allah yang diberikan pada manusia) serta mendapat kemampuan yang dengannya kita dapat menguak apa yang ada dalam perut bumi, bahkan bisa kita ambil seperti minyak, biji besi, tembaga, kuningan, emas, perak dan bau-batu berharga.
Dan bagaimana peranan gunung berapi yang bersumberkan dari sekian kilometer yang menghubungkan daratan dengan lautan. Dan mampu menyedot air laut melalui lapisan-lapisan bumi yang sangat rapi yang dikelola oleh gunung berapi tersebut memproduksi air tawar, belerang, kandungan besi adapula yang memproduksi lumpur yang cukup mempunyai kandungan garam seperti di Purwodadi. Tak salah ini menjadi nilai tambah bagi pendapatan penduduk sekitar.
Sekali lagi saya ucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah).
Akan tetapi kita mengerti dan meyakini selain Yang Maha dalam segalasifatNya dan tiada sekutu BagiNya, selain Dia adalah makhluk, tempatnya segala kekurangan. Sadar atau tidak.
Kita semua (yang bernyawa ataupun tidak) berikhtiar untuk mengurangi segala kekurangan, pohon-pohon dengan akarnya berusaha untuk menghidupi dirinya begitu pula makhluk lainnya selain ppepohonan. Dan banyak sekali diantara satu sama lain yang terkait dalam menjalani kehidupan. Ketika kita kepanasan ingin mencari penyejuk –semisal ketika kita ditengah pesawahan- mencari peneduh seperti pohon yang rindag serta lebat daunnya serta dahannya, banyak rantingnya dan rindang daunnya.
Dengan langkah kaki kita, kita mau tidak mau dengan suka rela datang ke pohon tersebut. Demikian pula pohon yang kita teduhi tersebut ingin berteduh (perlindungan) pada manusia; ingin diramut, dipelihara dan disirami air. Namun apabila bumi ini menjadi pereka diantara satu sama yang lain. Umpamanya manusia, pohon atau makhluk hidup lainnya memerlukan menu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan asupan giji.
Kita jarang atau bahkan tidak menyadari keadaan saling membutuhkan itu, dari sebab kesalahan itu akan menambah kerapuhan bumi. Dan membuka pori-pori daya serap yang lebih tertutup sehingga filter yang ada dalam tubuh bumi tiada mampu mengantisipasi.
Maka efeknya adalah tumbuhan atau ekosistem yang ada diatasnya akan mengalami kerusakan, tak ubahnya bilamana lapisan ozon telah rusak maka kebocoran ozon itu akan menyebabkan tumbuhan akan menimbulkan panas yang tidak normal. Dari akibat itu daya tarik matahari yang meningkat terhadap air lau bisa lebih tinggi disamping akan semakin cepat mencairnya gunung-gunung es di kutub.
Maka untuk mengantsipasi sepaya daya serap bumi terhadap air laut perlu dijaga kebersihan panai-pantai. Kebersihan pantai dari sampah-sampah akan membantu pertumbuhan butir-butir bumi serta akan menyebabkan bumi semakin sehat.
Begitupula curah hujan lebih dari hitungan masa kemarau atau musim hujan. Dengan menjaga bumi dari segala kotoran atau limbah, akan sangat membantu, pohon-pohonan dan mentralisir daya serap daun-daunan dari pengaruh ultraviolet. Maka termasuk ikhtiar secara batiniyyah adalah dengan mengembangkan dzikir dan tasbih dengan cara penghijaun atau reboisasi bumi. Karena setiap tumbuhan khususnya dedaunan membaca tasbih kepada Allah. Tasbihnya tersebut menjadi sebab turunnya rahmat dari Allah kepada lingkungannya dimana pohon atau tumbuhan itu berada.
Dari itu yang bertasbih bukan saja pohon-pohonan, batu kerikil, pasir, semua bertasbih kepada Allah Swt.
Saya mengambil satu hadis riwayat Ibnu Abbas yang disepakati kesahihannya. Redaksi hadisnya demikian:
أنه مر بقبرين يعذبان فقال : إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان لا يستتر من البول وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة ثم أخذ جريدة رطبة فشقها نصفين ثم غرز في كل قبر واحدة فقالوا : يا رسول الله لم صنعت هذا ؟ فقال : لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا .
متفق عليه رواه البخاري ومسلم وغيرهما
ketika baginda Nabi Muhammad Saw melewati pekuburan Nabi mendengar dua penghuni kubur sedang menangis, lalu Rasulullah menebas pelapah kurma, pelapah itu kemudian ditancapkanoleh Rasulullah Saw diatas pusara kedua kubur tersebut. Kemudian yang menangis didalam kubur tersebut diam. Bertanya sahabat; ‘apakah maksudnya pelapah kurma ditancapkan dipusara tersebut. Rasulullah menjawab; ‘selagi pelapah kurma iu belum kering, pelapah it uterus membaca tasbih kepada Allah. Dari sebab tasbihnya, Allah Taala menurunkan rahmat’.
Maka dari sebab tasbihnya pelapah dan dedaunan yang ada pada pelapah tersebut orang yang didalam kubur telah mendapat rahmatnya Allah Taala, tiada musibah yang paling besar untuk setiap manusia, sebelum dipadang makhsar selain adzab kubur.
Dari sebab daun tersebut bisa meringankan siksa kubur, ini yang membuat saya takjub, subhanallah!
Kita kembali kepada diri kita kalau mau bertafakur; seandainya penghijauan dari mulai tepian pantai dan mau mengerti apa yang senarnya ada pada pohon-pohonan tersebut insya Allah kita akan dijauhkan dari segala cobaan, terutama diakhirat nanti. Tapi tidak bisa dielakan dan dipungkiri ladang untuk akhirat nanti adalah didunia ini. Ternyata yang memerlukan kebersihan batin, bukan manusia saja, akan tetapi termasuk juga bumi, dan ekosistem diatasnya. (18/01) [Tsi]
Mengenal Sifat Para Kekasih Allah
Wali adalah hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Mereka diangkat menjadi wali bukan karena ibadah mereka ditujukan untuk itu, akan tetapi karena ketaatan dan keiklasannya dalam beribadah. Mereka melakukan ibadah semata-mata karena kesadaran sebagai hamba Allah. Maka mereka mengerti maqomat ubudiyah, dan mengerti ilmu ke-Tuhanan.
Dengan semakin meningkatnya mereka mengenal Allah maka mereka semakin sadar akan kehambaan mereka. Mereka adalah teladan bagi kita semuanya. Sifat-sifat mereka disebutkan oleh Allah dalam Al Quran (Yunus: 62-63):
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, iaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”
Ketahuilah bahwa Aulia (para Wali Allah), tidak punya rasa takut kecuali terhadap Allah ta'alaa, karena tidak sekedar kadar keimanannya, dan tidak pula setengah-setengah keimanan dan keyakinannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Tadhoru-nya, ibadahnya, syukurnya, roja’nya itulah yang menjadikan mereka sempurna dalam kehambaannya. Yang kedua mereka tidak mempunyai rasa takut selain pada Allah Swt, karena mereka itu adalah الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ , orang-orang yang beriman.
Tidak sedikitpun mengambil atsar (merasa ada yang bisa member efek psoitif danalam mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan) dari sesuatu selain Allah. Beliau-beliau bisa membedakan mana dorongan nafsunya, mana dorongan imannya. Beliau-beliau tidak tertipu dengan nafsunya sendiri, apalagi oleh Syaithan,
Beliau-beliau sangat menjauhi kesyirikan, syirik kecilpun sangat mereka hindari. Misalkan disuatu subuh turun hujan, adzan berkumandang hingga sholat tidak ada yang keluar untuk berjamaah. Setelah selesai sholat dia ngomong; ‘subuh-subuh di undang sholat sama Allah malah pada tidur’. Tanpa dia sadari dia sudah terperosok pada syirik kecil, bangga dengan amalnya dan mengecilkan yang lain. Padahal yang lain ada yang bekerja hingga larut malam, ada yang sakit, berat untuk bangun subuh awal.
Demikian pula ketika kita datang kesuatu daerah untuk ceramah, tuan rumah mengatakan kalau di daerah itu masih banyak orang yang meminum minuman keras. Pada waktu naik ke panggung dia ngomong; ‘ masa disini masih banyak orang minum..’ dengan nada marah. Dia naik ke podium dengan amarah bukan dengan kasih sayang untuk menyadarkan orang lain. Tanpa sadar dia telah mendahulukan amarahnya. Ibarat seorang tuan rumah yang menyuruh atau mempersilahkan minum kopi yang dihidangkan padahal kopinya sangat panas. Tapi jika mubaligh itu bisa memahami dan menguasai nafsunya maka akan menyampaikan dengan lemah lembut. Ibarat menyuruh minum kopi itu, menunggu setelah dingin dahulu. Karena dalam al Quran sendiri pelarangan dan penyadaran minum khomer itu secara bertahap. Tapi jika panas (mubaligh) dan panas (pendengar; karena tersinggung) apa jadinya dakwah itu.
Nah para wali-wali Allah Swt tidak mungkin seperti itu. Para beliau paham mana dorongan nafsu dan mana dorongan kasih sayang atau niatan taat kepada Allah. Nafsu itu menurut imam Qusyairi ibara anak kecil, waktu masih kecil kencing sembarangan tetap lucu dan menggemaskan, membuat kita tertawa tetapi ketika makin tumbuh besar usia 6 tahun kencing sembarangan kan membuat ibunya marah.
Selanjutnya yang membuat mereka diangkat oleh Allah menjadi wali karena mereka selalu ingat pada Allah Swt. Nafsu itu jika dituruti akan terus meminta lebih. Jadi para wali-wali Allah sangat menjauhi ajakan nafsu itu.
Nah para wali Allah itu sendalnya saja tidak pernah maksiat apalagi kakinya, kalau kita kaki kita terperosok kejurang maksiat apalagi sendalnya. Itu pengandaian saja bagaimana beliau-beliau bisa menahan diri dari menuruti nafsu.
Para aulia menjaga matanya karena merasa disaksikan terus oleh Allah Swt, hatinya tidak pernah suudzon. Para wali-wali Allah lalai lupa sama Allah sekejap saja belia-beliau wajib taubat. Mata dan mulut itu yang pertam kali busuk saat orang meninggal dunia.
Kunci berikutnya adalah taat kepada orang tuanya, sekalipun orang tua kita bodoh, beda agama sekalipun selama memberitahukan yang baik, ya ikuti. Jangan mentang-mentang beda agama kita bertindak sembarangan. Walaupun beda agama orang tua yang melahirkan kita tetap harus kita hormati. Lebih-lebih seagama. Termasuk mertua sekalipun.
Lihat seperti kisah Uwaisy Al Qarny, kenapa beliau di angkat menjadi wali. Karena taatnya beliau pada orang tua samapai beliau itu hidup pada jaman Nabi tapi beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi Saw, karena kesibukannya mengurus ibunya yang sakit, dan siangnya beliau menggembala kambing. Bahkan beliau pernah menggendong ibunya dari Yaman sampai baitillah Al Haram untuk melakukan ibadah haji. Ditempat yang lain Rasulullah Saw, mewasiatkan kepada Sahabat Abu Bakar untuk menyampaikan salam dan memberikan gamis dan mengamanatkan Sahabat Abu Bakar untuk memintakan doa dari Uwais. Bayangkan Rasulullah Saw sangat tawadhu’nya meminta doa dari Uwais, seoang makhluk paling utama, dan para penghulu dari para Nabi. Meminta doa yang hakikatnya untuk umat, karena beliau sendiri sudah lebih-lebih. Ini pelajaran untuk kita agar rendah hati.
Pada masa Sahabat Abu Bakar belum bisa ditemukan, dan amanat Rasulullah Saw itu baru bisa disampaikan pada masa Sahabat Umar menjadi Khalifah, beliau sendiri dan Sayidina Ali yang menyampaikan salam dan titipan Rasulullah Saw itu. Karena dalamnya ma’rifatnya Uwais Al Qarni beliau mengenal siapa saja yang datang menghapirinya; katanya: Asalam Alaik Umar bin Khatab amirul mukminin, asalam alaika Amirul Mukminin Arabi’ Ali bin Abi Thalib. Itu Karena dalamnya ma’rifatnya beliau padahal belum pernah saling bertemu. Karena taatnya pada orang tua Uwais kenal dengan Allah. Karena taatnya pada orang tua Uwais diangkat menjadi wali, bahkan sayid at tabiin. Karena taat dan hormatnya Uwais sampai mendapatkan gamisnya (pakaian) dari Rasulullah Saw Padahal tidak pernah bertemu Beliau SAW
Yang kedua adalah taat Uwais kepada gurunya yang mengenalkan dirinya kepada Allah Ta'alaa. Guru yang menuntuk menjauhkan dari kesyirikan. Mana yang menjadi sifat Allah dan mana yang bukan, dan guru yang mengenalkan pada mana yang halal dan mana yang haram. Dan beliau khidmah pada gurunya sehingga menjadi wali. Kita membaca dan mengaji tentang wali dalam kitab ini bukan untuk menjadi wali tapi untuk meniru mereka, dalam tingkah laku. Mudah-mudahan kita mendapatkan keberkahan doa belia-beliau, dan juga keturunan-keturunan kita semua. Inysa Allah doa yang kita mohonkan pada Allah pada akhir majlis akan di Ijabah oleh Alla Swt. Wallah A’lam. (Fdi/Tsi)
Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati
Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al Mudghoh’ yang di sebutkan pada bahasan sebelumnya ((ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) [البخاري ومسلم]). Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.
Kedua; darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan. Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu. Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan yang kita konsumsi.
Sangat jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih, darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil. Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik, membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun akhirat kita.
Dengan hasil darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam kedua hal tersebut.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri. (tobe continu [Tsi])
Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar
Sebelumnya sudah di jelaskan bahwa anatara satu sahabat dan sahabat yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Tapi pasti masing-masing sahabat mempunyai sirrul A’dzom, keutamaan yang luar biasa. Keutamaan sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahaba Utsman, Sahabat Ali semuanya hakikatnya adalah untuk umat. Bahkan kelemahan mereka adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.
Pada uraian sebelumnya saya membahas tentang sahabat Abu Bakar. Sahabat Abu Bakar ini adalah sosok yang pengabdiannya pada agama dan pada Nabi Saw sangat total. Sebagai ilustrasi kita merujuk pada peristiwa Hijrah Nabi Saw. Bermula ketika di Gua Tsur Sayidina Abu Bakar Sidiq menutup lubang-lubang yang ada di gua itu dengan pakaian beliau, ketika masih ada lubang yang tersisa, terpaksa lubang tersebut beliau tutup dengan jempol kaki beliau.
Sebab biasanya lubang-lubang di Gua di huni oleh hewan-hewan berbisa, seperti ular, kala jengking dan binatang lainnya. Kehawatiran Sayidina Abu Bakar terjadi, jempol beliau dipatuk ular (menurut pendapat lain oleh kala jengking). Beliau menahan sakit yang luar biasa itu sampai tubuhnya gemetar, keringat bercucuran. Beliau tahan agar tidak mengganggu Nabi Saw yang sedang tidur, sedang isirahat.
Demikian akhlak, pengorbanan Sayidina Abu Bakar Sidiq terhadap Nabi Saw, sampai seperti itu. Kalau kita ke kiai kita sendiri ketika kiai kedatanga tamu, padahal kiai sedang tidur, kita berani menetuk pintu kamarnya. Anak terhadap orang tuanya juga demikian. Adab atau tatakrama Sahabat Abu Bakar pada Rasulullah Saw seperti itu. Teladan Sahabat Abu Bakar itu sangat luar biasa, teladan pengabdian umat pada Nabinya.
Ini sebenarnya teladan bagi kita semua untuk mengabdi pada guru, sesuai kemampuan kita. Pengabdian pada guru bisa mengantarkan pada futuh (dibuka pemahaman terhadap ilmu dan diberikan taufiq untuk mengamalkannya), sebab manfaatnya ilmu tidak terkait dengan kepintaran pelajar sendiri. Umpanya kalau di pesantren tidak sedikit santri yang hafal kitab Ibnu Aqil, Amrithi nya luar biasa, penguasaan ilmu alatnya tidak diraukan, tapi ilmunya tidak manfaat.
Keistimewaannya Sahabat adalah mereka memiliki Akbarul Mafatih, sahabat mempunyai kunci futuh yang sangat sangat isimewa, sangat luar biasa. Sebab itu alimnya tidak seberapa tapi manfaatnya luar biasa. Kita sekarang mempunyai kitab menumpuk, tafsir Al Quran ada ribuan jilid dengan judul dan pembahasan yang beraneka ragam, adapaun sahabat pengetahuan agamanya hanya menunggu dari apa yang disampaikan Nabi Saw, menunggu wahyu turun. Ilmunya pasa-pasan.
Tapi maqomah (kedudukan) ilmu yang sedikit itu bisa menjadi luas luar biasa. Seperti garam yang menyebar dan menyatu di lautan luas. Makanya sebodoh-bodoh-nya Sahabat tetep alim, sebodoh-bodohnya sahabat adalah seorang ‘Arif. Se-agung dan setinggi-tinggi-nya pangkat wali pada umat ini tidak dapat mengalahkan keutamaan sahabat yang sangat bodoh. Sahabat itu demikian adanya dan diberi futuh yang sangat besar oleh Allah Swt.
Kembali ke kisah tadi di atas. Setelah Nabi terjaga dan tahu apa yang terjadi pada Sayidina Abu Bakar, Nabi Saw mendoakan Sayidina Abu Bakar. Nabi Saw membacakan fatihah, setelah di bacakan fatihah jempolnya Sayidina Abu Bakar yang membengkak pulih seperti semula. “Abu Bakar Sidiq, kamu akan mati syahid sebab kejadian ini, dan keturunanmu akan menjadi para syuhada...”. Doa Nabi ini terbukti. Saya kasih contoh dua saja. Pertama Sayidi Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi, beliau ini keturunannya Sayidina Abu Bakar, yang kedua Sayid Bakri yang mempunyai Sholawat Fatih; Allahumma Sholi ‘Ala Sayidina Muhammad Al Fatiihi lima ugliq, wal Khotimi lima sabaq, nashiril Haq bil Haq walhadi ila Sirotil Mustaqim Sholollahu alaihi wa ala alihi wa ashabibi haqqo qodrihi wamiqdarihil al Adzim.
Di Mesir, Yaman dan dibelahan bumi manapun siapa yang tidak kenal kebesaran Sayid Bakri siapa. Wali Agung, Mursyid Thoriqoh Kholwatiyyah. Dan siapa yang tidak tahu akan kehebatan Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi. Kitab-kitabnya sangat banyak, seperti Futuhat Al Makiyyah yang berjilid-jilid, al Washoya dan lain-lain. Selain banyak, karang beliau terkenal sulit, seperti Futuhat Al Makiyyah. Karena itu tidak sedikit para ulama demi kehati-hatian melarang orang yang belum mumpuni ilmunya membaca kitab itu. Karena untuk memhami kitab itu perlu menguasai perangkat ilmu-ilmu alat dan syari’at yang cukup.
Sayidina Umar juga demikian, wafatnya dibunuh, seperti sebab wafatnya Sayidina Abu Bakar adalah terkena racun waktu di gua Hiro itu. Kenapa ulama, aulia yang pangkatnya sedemikian besar seperti beliau wafatnya mengenaskan seperti itu. Itu bukti pengabdian beliau-beliau untuk umat ini, untuk Rasulullah Saw. demikian juga dengan wafatnya Sayidina Utsman, Sayidina Ali, Sayidina Hasan, dan Sayidina Husain serta ulama-ulama lainnya.
Oleh sebab itu kita jangan sekali-kali membenci salah satu dari para Sahabat. Banyak yang wajahnya bercahaya kemudian wajahnya menjadi butek, karena berkomentar tentang kejadian yang terjadi diantara para sahabat Nabi, yang kita sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya bagaimana. Wallah ‘A’lam
SUMBER:PUSTAKA MUHIBBIN
Langganan:
Postingan (Atom)