koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Tampilkan postingan dengan label budaya pewayangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya pewayangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 19, 2014

Cerita tumbal lenyapnya angkara murka

Salam sejahtera buat pengunjung blog stroom09  kali ini  saya akan memposting kembali tentang  seorang raja kecil yg bernama  adipati Karna ( Suryaputra). Saya gag bisa berbicara panjang lebar. kita simak saja jalan ceritanya.
Adipati Karna seorang raja negri Awangga, meskipun
raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain
(Ratu rehrehan Jawa). Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri
Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna
kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan
perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi
Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih
Hadimanggala.
Karna itu anaknya Dewi Kunti Talibrata dengan Bathara
Surya, tetapi tidak dengan jalan melalui hubungan
badan (bersetubuh), sebab terkena walat atau kutukan
disebabkan membaca mantra limu Aji Kunta Wekasing
Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan. Dewi Kunti itu sejak
muda (perawan) sudah senang mempelajari ilmu, termasuk pula Kunti berguru kepada Brahmana yang
bernama Reshi Druwasa, dan diberi Ilmu “Aji Kunta
Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan”, yang
memilki daya keampuhan dapat mendatangkan Dewa
hanya dengan kekuatan mantra tersebut. Peringatan
Guru Druwasa. membaca atau merapal ilmu tersebut tidak boleh dilakukan sambil mandi dan/atau mau
tidur.
Tetapi sepertinva Dewi Kunti tidak percaya dengan
keampuhan Aji Kunta, karena itu Dewi Kunti mencoba
kekuatan mantra Aji Kunta yang ia lakukan saat
menjelang matahari terbenam. Dengan demikian
Sang hyang Bathara Surya yang seharusnya akan
istirahat, karena seharian penuh mengatur jalannya matahari, mendadak tergetar rasa hatinya sepertinya
mendapatkan kontak bathin, tetapi Bathara Surya itu
adalah Dewa yang ilmu kesaktiannya sangat tinggi,
ibaratnya hanya dalam sekejap mata saja sudah sampai
di tempat yang dituju, yaitu kamar mandi Dewi Kunti
yang saat itu akan mandi. Dewi Kunti begitu mengetahui ada Dewa yang datang di depannya,
langsung gugup dan tubuhnya gemetar, dengan cepat
tangannya bergerak menyambar pakaiannya yang
sudah mulai ia tanggalkan, tetapi yang teraih hanyalah
kembennya saja, lalu ia kenakan untuk menutupi
sebagian tubuhnya.
Bathara Surya kemudian bertanya kepada Dewi Kunti,
ada maksud apa sampai ia merapal Aji Kunta ? Dewi
Kunti yang sebenarnya hanya sekadar mencoba, karuan
saja menjadi takut dan gugup dalam memberi
penjelasan, bahwa apa yang ia lakukan hanyalah
sekadar mencoba mantra tersebut.
Mendengar pengakuan Dewi Kunti seperti itu, Bathara
Surya menjadi marah, sebab mempelajari semua ilmu
itu harus percaya dan yakin, tidak boleh hanya untuk
main coba-coba. Karena itu Dewi Kunti lalu diberi
hukuman, hamil tanpa bersetubuh. Dewi Kunti
menangis, memohon pengampunan, tetapi Bathara Surya telah hilang dari pandangan mata.
Beberapa bulan Dewi Kunti tidak berani keluar dari
kamar keputrian, yang ia lakukan hanya tidur
berselimut rapat untuk menutupi kandungannya yang
sudah besar, dan kalau ditanya oleh ayah, ibu dan
kakaknya. jawabnya adalah sedang sakit.. Namun
sepandai-pandai menyimpan bangke, akhirnya akan tercium juga bahunya. Demikian juga halnya dengan apa
yang terjadi pada Dewi Kunti, kakaknya sendiri
Basudewa yang mengetahui pertama kali kalau ia
sedang mengandung.
Tak terbayangkan bagaimana kemarahan Raden
Basudewa begitu mengetahui dengan penglihatannya
sendiri kalau adiknya Dewi Kunti sedang mengandung,
padahal belum menikah dengan lelaki siapapun.
Niatnya Dewi Kunti akan dihajarnya, namun untunglah
Reshi Druwasa gurunya Dewi Kunti mendadak datang, yang kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya
terjadi pada diri Dewi Kunti. Apa yang dijelaskan oleh
Resi Druwasa dapat diterima oleh Basudewa.
Untuk menjaga agar aib tersebut tidak tersebar luas,
bayi yang ada dalam kandungan Dewi Kunti, lalu
dilahirkan dengan kekuatan mantra gaib Resi Druwasa.
Bayi lahir melalui lubang telinga Dewi Kunti, karena itu
jabang bayi diberi nama Karna.
Bayi Karna kemudian dimasukkan ke dalam kendaga
dan dihanyutkan ke sungai Bagi Ratri, selanjutnya bayi
yang hanyut di sungai itu ditemukan oleh salah seorang
sais kereta Prabu Drestrarasta, yang bernama Adirata,
yang kebetulan baru mandi bersama istrinya yang
bernama Nyai Nadha, bayi dibawa pulang, dipelihara dan diasuh sampai dewasa.
Karna juga punya nama Suryaputra, Suryatmaja,
Talidarma, Bismantaka, Pritaputra. Adipati Karna bersatu dengan Prabu Duryudana, sebab
Karna berhutang budi kepada Prabu Duryudana di
Astina, termasuk Surtikanti, istrinya Karnaa itu
sebenamya pacarnya (kekasihnya) Duryudana, tetapi
direlakan menjadi istrinya Karna. Intinya, semua
kemuliaan yang dimiliki Prabu Karna merupakan pemberian atau anugrah dari Prabu Duryudana. Karena
itu walaupun Prabu Karna itu putra Dewi Kunti, dan
Pandawa itu saudara satu ibu, akan tetapi Prabu Karna
tetap bersatu serta merasa dan mengakui kalau
Duryudana yang harus dibela dan dilindungi. Prabu
Karna juga mengakui kalau Kunti itu ibu yang melahirkannya, serta Pandawa itu adalah saudaraya.
Meski demikian Prabu Karna kukuh dengan sumpahnya
membela yang memberi kemuliaan, yaitu Prabu
Duryudana.
Disinilah kita dapat mengambil pelajaran, Katresnan
atau Kewajiban, tapi kenyataannya Prabu Karna
memilih kewajiban. Kenyatannya dalam lakon “Krena
Duta”. Karna bertemu dengan Kresna (Sandi Tama
Kawedar), Kresna membujuk Karna agar bersatu
dengan Pandawa. Karna tidak mau. Dewi Kunti sendiri juga membujuk dan meminta Karna bersatu bersama
Pandawa, Karna juga tidak mau, tetap akan membela
Duryudana.
Namun sesungguhnya Karna itu juga sayang terhadap
Pandawa, Buktinya ? Karna itu memiliki pusaka
pembawaan dari lahir yaitu yang berujud anting-anting
yang bernama “Pucunggul Maniking Surya”, serta
Kawaca (Kere Waja atau Rumpi Baja). Karena
kecintaannya terhadap Pandawa, Karna membuang pusaka kadewatan yang dibawanya sejak lahir sambil
berkata : Hai, saudaraku para Pandawa. Ini pusaka
milikku yang sangat sakti sudah aku lepas, dibuang.
Aku tidak butuh kemenangan, Pandawa harus menang.
Angkara murka harus lenyap.
Jarang sekali orang mau berkorban apalagi memberikan nyawanya seperti Karna, hidup suatu pilihan antara baik dan buruk, kadang harus membutuhkan pengorbanan kita. Dalam kehidupan kita saat ini fakta bahwa sulit orang mau berkorban yang kecil apalagi yang besar....sebesar apakah kita sudah berkorban untuk sesama itulah kebesaran jiwa kita.
Para pahlawan dan para pendahulu kita sering mengatakan jadilah orang '' BERJIWA BESAR ''
stroom09.blogspot.com 
sumber : KRESNA DUTA
BUDAYA PEWAYANGAN

Senin, November 03, 2014

Raden Sumantri dan Arjuna

Salam sejahtera saya ucapkan,kepada pengunjung BLOG STROOM09. Kali ini saya akan memposting kembali sedikit cerita kisah raden  Sumantri.biar lbih jelas kita simak saja yuk ceritanya.

Diceritakan bahwa Raden Sumantri adalah anak seorang pertapa yang mematuhi nasehat orang tuanya untuk mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu yang merupakan titisan Batara Wisnu. Cerita tersebut populer di tengah masyarakat dan sering dipentaskan dengan lakon Sumantri “ngenger”. Orang tua dari anak yang “ngenger” yakin bahwa wali yang memelihara putranya adalah perwujudan Ilahi yang akan membimbing putranya ke arah kemuliaan hidupnya.
Pada saat mengabdi kepada raja, Raden Sumantri diberi tugas untuk memerangi musuh-musuh kerajaan. Dengan kesaktiannya segala musuh dapat dimusnahkan dan kembali ke kerajaan dengan membawa kemenangan.
Manusia tidak bisa bebas sepenuhnya dari insting hewani. Bagaimana bisa bebas sepenuhnya ? Bebas dari sifat-sifat ini, ya berarti mati. Manusia tidak bisa bebas dari hewan di dalam diri, tetapi bisa menjaga kejinakannya. Oleh karena itu manusia harus sadar untuk mengendalikan hewan di dalam diri.
Dalam ketidaksadarannya, Raden Sumantri mempertanyakan, kenapa dia dan bukan Sang Prabu yang berperang sendiri. Namun, setelah Sang Prabu menunjukkan kesaktian yang sangat tinggi yang tidak ada bandingannya, dia pun sadar dan tunduk terhadap Sang Prabu.
Sang Prabu dengan penuh kasih mengingatkan, “Seorang ksatriya yang suka melakukan olah batin pun masih memiliki sifat-sifat hewani. Itu tidak dapat dihindari. Dan penjinakan bukanlah sesuatu yang dilakukan satu kali saja. Penjinakan adalah proses sepanjang usia, seumur hidup. Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk pimpinan mereka, majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut ‘pikiran’— membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam… sepanjang tahun..sepanjang hidup. Kemudian Sang Prabu memintanya memindahkan “Taman Sriwedari” ke istana, sebuah pekerjaan yang belum pernah dilakukannya.
Adiknya Raden Sukrasana membantu dan terlaksanalah tugasnya dengan baik. Saat itu, Raden Sumantri malu diikuti oleh adiknya yang buruk rupa ke istana, dan dia menakut-nakutinya dengan senjata agar tidak mengikutinya. Dan, terlepaslah senjatanya membunuh sang adik tanpa sengaja. Dia telah melupakan nasehat Sang Prabu untuk mengendalikan sifat hewani dalam diri. Dia menyesal dan sejak saat itu berubah menjadi ksatriya yang bijaksana. Atas jasa-jasanya pada suatu saat dia diangkat menjadi patih Kerajaan Maespati dan diberi gelar Patih Suwondo.
Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.
Kabeh mangso kanggonan sifat kewan, yen sifat kewan ana ing manungsa ora ditundukke bakal ndadekke uripe mung kanggonan hawa nepsu. Titenanne gampang : gampang nesu, serakah, srei, dengki....iku kabeh ngadohke urip marang kersane Gusti. Rahayu para kadang kinasih

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman