koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 23, 2013

batu hasil pengerasan dari makhluk hidup yg mati


Batuan fosil
Batuan fosil adalah batuan yang terbentuk dari proses pengerasan bagian dari jasad mahluk hidup baik darat maupun lautan selama ribuan bahkan jutaan tahun bersamaan dengan evolusi bumi. Mengerasnya jasad mahluk hidup menjadi batuan bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor salah satunya adalah efek dari bercampurnya endapan lumpur.

Batuan fosil memiliki kekerasan layaknya batuan beku, mayoritas batuan ini memiliki tingkat kekerasan di atas batuan sedimen/endapan. Semakin keras batuan fosil, menunjukkan bahwa kurun waktu pembentukannya semakin lama/tua.

Karangsambung Kebumen (termasuk Sadang dan Karanggayam) merupakan pusat subduksi (tumbukan)lempeng bumi/benua dan lempeng samudera yang mengakibatkan naiknya dasar laut dalam yang pada awalnya merupakan gunung api purba raksasa bawah laut, dan sungai (Luk Ula) bawah laut menjadi dataran. Peristiwa geologi yang terjadi pada masa pratersier ini tentunya menyebabkan terangkatnya gunung api, sungai dan ekosistem laut purba menjadi daratan kabupaten Kebumen (Karangsambung, Sadang, Karanggayam dan lain – lain).

Pasca masa kenaikan dasar laut dalam menjadi daratan ini terjadilah proses evolusi bumi di Kebumen yang selama jutaan tahun akhirnya mengakibatkan terbentuknya batuan fosil yang berasal dari ekosistem laut ( terumbu karang, ikan, ganggang dan lain – lain) serta fosil yang terbentuk dari ekosistem darat (berbagai macam tanaman keras, binatang dan lain – lain) setelah kebumen naik sebagai daratan. Melihat sejarah geologis dan fakta yang ada, sangatlah layak jika Kebumen disebut



Rumah Fosil Dua Dunia.
Berikut ini berbagai macam fosil biota laut yang telah berhasil ditemukan di Kebumen bukti bahwa Karangsambung Kebumen dahulu kala merupakan dasar laut dalam sebelum terangkat dan berevolusi sebagai daratan pada masa pratersier :

Fosil Ganggang Laut, Periode ganggang laut digolongkan pada masa Arkeozoikum(Masa Kehidupan Purba) 4.600.000.000 – 2.500.000.000 tahun yang lalu. Masa ini dibagi menjadi ), merupakan masa pemunculan kehidupan paling primitif (purba) yang bermula di dalam samudera berupa mikroorganisme dari jenis bakteri dan ganggang.
Fosil Cacing Terumbu, Periode cacing terumbu digolongkan pada masa Proterozoikum (Masa Kehidupan Awal) 2.500.000.000 – 540.000.000 tahun yang lalu. Masa Proterozoikum disebut juga masa Algonkian yakni masa perkembangan kehidupan dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (Eukaryotes dan Prokaryotes), seiring dengan perkembangan hidrosfer dan atmosfer. Menjelang akhir masa ini, organisme yang lebih kompleks adalah sejenis invertebrata (tidak bertulang belakang) bertubuh lunak seperti ubur – ubur, cacing dan koral.
Fosil Lintah Laut (invertebrata), Periode lintah laut juga digolongkan pada masa Proterozoikum (Masa Kehidupan Awal) 2.500.000.000 – 540.000.000 tahun yang lalu.
Fosil Siput Laut, Periode siput laut digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Kambrium (540.000.000 – 510.000.000 tahun yang lalu). Pada zaman ini banyak bermunculan kelompok hewan invertebrata yang mempunyai kerangka luar dan bercangkang sebagai pelindung. Pada masa ini berkembang pesat biota laut jenis Alga, Cacing, Sepon, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Antropoda.
Fosil Aneka Kerang Laut, Periode kerang laut sama dengan siput laut digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Kambrium (540.000.000 – 510.000.000 tahun yang lalu).


Fosil Biota darat

Keanekaragaman fosil biota darat yang ditemukan di Kebumen membuktikan bahwa telah terjadi evolusi bumi yang begitu menakjubkan dari dasar samudera menjadi daratan pegunungan dan hutan pada masa pratersier. Sebuah tempat yang sangat langka di belahan bumi manapun. Sangat pantas jika para geolog dunia menjuluki Karangsambung Kebumen sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia.

Fosil Aneka Tanaman Keras Purba, Tanaman keras masuk dalam digolongkan pada masa Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua 540.000.000 – 245.000.000) : zaman Karbon (362.000.000 – 290.000.000 tahun yang lalu). Di zaman ini berkembang amfibi dan tumbuhan hutan. Benua menyatu membentuk satu daratan disebut Pangea. Berbagai macam tanaman keras seperti Kelapa, Sanakeling, Jati, Asem, Bambu, dan lain – lain masuk dalam masa ini
Fosil Buah Kelapa, (keterangan seperti nomor 1)
Fosil Sanakeling, (keterangan seperti nomor 1)
Fosil Pohon Paku, (keterangan seperti nomor 1)
Fosil Tulang Reptil Purba, Fosil Reptil Raksasa Purba yang ditemukan di Kedunggong Sadang dikategorikan dalam masa Mesozoikum (Masa Kehidupan Tengah: 245.000.000 – 65.000.000 tahun yang lalu). Masa ini adalah masa berkembangnya hewan reptilia, khususnya dinosaurus serta berkembangnya amonit dan tumbuhan berbiji purba. Fosil temuan ini belum bisa ditentukan apakah berasal dari biota laut ataukah biota darat dikarenakan adanya evolusi bumi di Karangsambung Kebumen dari dasar lautan dalam menjadi daratan pegunungan.
Fosil Tulang Raksasa Biota Laut, Fosil temuan ini bisa dikategorikan sebagai fosil biota laut, dikarenakan adanya fosil kerang – kerangan yang menempel pada fosil tulang ini. Dimungkinkan fosil tulang ini dahulunya merupakan sisa binatang laut raksasa yang mati dan dilekati kerang – kerangan dan dijadikan sebagai tempat tinggalnya.
Fosil Gigi Gajah Purba, Fosil ini ditemukan di desa Banjarwinangun kecamatan Petanahan ada kedalaman 5 meter. Hasil penelitian tim arkeologi Bandung yang diketuai oleh Dr. Erick Setiyabudi (Paleontologi Vertebrata) menyimpulkan bahwa fosil Gigi Gajah Banjarwinangun, Petanahan, Kebumen memiliki kesamaan dengan fosil gigi gajah yang ditemukan di daerah Kalimantan. Periode Gajah termasuk dalam masa Kenozoikum (Masa Kehidupan Baru) zaman Tersier; Kalaoligosen.

Sabtu, Mei 11, 2013

fosil bernilai jual tinggi

Melimpahnya bahan baku serta didorong tingginya jumlah peminat di pasar internasional, mendorong Robby dan pengrajin lainnya di Banten untuk menekuni kerajinan berbahan dasar batu fosil.

Tak berlebihan agaknya bila ketekunan pengrajin tersebut berbuah manis dengan mendapat dukungan dari pemerintah Provinsi  setempat.

Perhitungan ekonomis pun menjadi salah satu penarik minat para pengrajin untuk tidak lagi menjual fosil kayu dalam bentuk mentah atau belum diolah. Fosil ini dulunya dijual dalam bentuk bongkahan mentah yang belum diolah dengan harga jual per kilogramnya hanya Rp20 ribu-Rp100 ribu, kini menjadi barang dengan nilai estetika yang sangat tinggi merubah harga yang bisa menyentuh ratusan juta bahkan hingga miliaran rupiah.

Berbekal dukungan pemerintah Provinsi Banten yang memberi berbagai bantuan, termasuk pelatihan kepada para pengrajin, mereka kemudian berupaya mengolah fosil kayu menjadi barang jadi berupa kerajinan tangan.

Saat ditemui Sindonews pada ajang pameran industri kreatif bertajuk "Fashion and Craft 2012" yang diselenggarakan di JCC, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu, Robby bercerita, bahwasannya produk kerajinan yang diproduksi dirinya beserta beberapa teman pengrajin lainnya telah diekspor hingga ke mancanegara.

"Ekspor ini sudah ke Jerman, Singapura, Korea Selatan, dan China. Namun, kebanyakan orang Korea dan China karena orang asing itu suka produk kerajinan ini karena biasanya mereka suka barang-barang yang antik dan aneh," ujar Robby kala itu.

Ketertarikan dunia internasional terhadap barang-barang kerajianan dari bahan baku fosil kayu tersebut dikarenakan, setelah diolah, maka akan tampak sebuah batu mineral serupa lapisan kaca yang indah dan cantik. "Bisa makin bening mirip batu mulia jika diolah," ungkapnya.

Fosil kayu atau yang dalam bahasa ilmiahnya biasa dikenal dengan sebutan petrified wood atau batu sempur yang merupakan bahan baku kerajinan yang digeluti Robby dan kawan-kawannya adalah hasil pengerasan senyawa mineral yang terkandung di dalam kayu.

Proses pengerasannya mirip seperti pembentukan mutiara pada kerang. Hanya saja senyawa mineral dalam kayu tersebut berlangsung selama seratus hingga jutaan tahun.

"Semua bahan organik yang awalnya terkandung, telah berganti menjadi mineral silika yang tersusun dari unsur silikon, oksigen, dan beberapa logam," sambung Robby.

Berada pada kedalaman 3-5 meter di bawah permukaan tanah, fosil kayu ini biasanya ditemukan dalam bentuk yang mirip bongkahan kayu besar, menyerupai batu berwarna coklat kehitaman. "Ada juga yang bentuknya masih utuh seperti bagian badan batang pohon," jelasnya.

Bagi pengrajin seperti Robby, bentuk luar bongkahan fosil kayu ini hanyalah lapisan luar yang tak bernilai. Nilai estetika yang bernilai ekonomis tinggi justru muncul setelah seluruh kulit kayu dikupas dan bagian dalamnya terlihat.

"Bagian yang seperti batu akik besar ini masih tertutup kulit ketika ditemukan. Kulitnya kita buka dan yang diambil bagian dalamnya. Sekarang ini yang paling dicari itu jenis akik es," terangnya sambil menunjuk salah satu produk kerajinannya.

Fosil ini umumnya ditemui di daerah pedalaman hutan, gua, dan dasar sungai yang banyak tersebar di berbagai daerah di Banten dan juga Sumatera.


sumber:sindonews.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman