koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Tampilkan postingan dengan label figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label figur. Tampilkan semua postingan
Minggu, Maret 09, 2014
Dimuliakan oleh Ilmu
Tak sedikit orang berpandangan bahwa kemuliaan itu hanya dapat dicapai dengan kekayaan materi. Namun, perjalanan hidup tamu kita ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang itu justru terletak pada iman dan ilmunya, yang dicapai melalui pendidikan.
Dr. K.H. Umay M Dja’far Shiddieq, atau yang juga akrab disapa ”Kiai Umay”, tamu kita ini, orang mengenalnya sebagai seorang ulama yang memiliki perhatian mendalam dalam dunia pendidikan.
Ia lahir pada 7 Juli 1954 di Jampangkulon, Sukabumi, dari keluarga yang tidak mampu. Ia pun menjalani hidup dengan susah payah. Masa lalunya itulah yang membuatnya ingin berbuat banyak untuk dunia pendidikan.
Masa kecil memang acap menjadi masa yang menentukan masa depan setiap orang, dan itu bisa menjadi cermin bagi yang lainnya.
Umay kecil dahulunya bernama Uyun. Belakangan ia baru tahu dari ibunya bahwa uwaknya (kakak alm. bapaknya) memberi nama “Mad Yunus”, yang terlanjur tertulis “Uyun” di catatan buku induk sekolah dasarnya. Nama itulah yang seterusnya digunakan di masa kecilnya.
Ia terlahir dari pasangan Bapak Odog dan Ibu Hj. Djuarsih, dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan. Dengan susah payah ibunya merawat dan membesarkan bungsu lima bersaudara ini. Tidak ada catatan resmi tentang tanggal tepat kelahirannya. Maklum, di kampung yang ia hirup udaranya belum ada bidan yang mencatat kelahirannya, hanya dalam ijazah SD-nya tertera tanggal 7 Juli 1954.
Kini, dengan mendirikan beberapa yayasan yang berorientasi pada pendidikan umum dan agama, ia membuka jalan bagi kaum dhuafa yang ingin menimba ilmu tanpa harus terlalu memikirkan biaya pendidikan. Inilah yang tercermin dari Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (Yapsi) Darul Amal, yang ia dirikan, dengan berbagai jenjang sekolahnya, mulai dari taman kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah Pertama,, hingga Sekolah Menengah Umum.
“Carilah Ilmu, untuk Kemuliaanmu…”
Sudah dua bulan tahun pelajaran 1960-1961 berjalan, sepulang mengaji dan menginap di Masjid Bojongwaru, pagi itu ia merasakan hatinya perih tak terperi. Pikirannya melayang jauh, membayangkan suasana ketika tak lama lagi anak-anak seusianya beramai-ramai bergerombol berjalan kaki menuju sekolah SD Bojong Genteng, yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya, sementara ia hanya bisa memandangi suasana itu. Umay kecil sampai mengurut dada, ia merasa sedih, keyatiman dan kemiskinan serasa telah membedakannya dari yang lainnya. Ibunya tak sanggup memasukkannya ke sekolah.
Entah kenapa, sore harinya sang ibu berpesan, “Nanti malam tidak usah tidur di masjid. Di rumah saja.”
Tanpa berpikir kenapa, ia menjawab, “Ya.”.
Kira-kira pukul tiga dini hari ia dibangunkan ibunya dan diajaknya ke tikar shalat. Rupanya sang ibu baru saja selesai shalat malam. Ternyata ibunya itu juga sedang menangis karena derita hati anaknya yang ingin sekolah.
Kedua lutut ibunya dipertemukan dengan dua lututnya, kemudian sang ibu berujar lirih, “Nak, semua manusia lahir dengan rasa ingin mulia. Ada manusia mulia karena kekayaannya, sedangkan kita miskin. Orang mulia karena turunan raden, sedangkan kita rakyat jelata. Orang mulia karena kerupawanannya, kita biasa-biasa saja. Orang mulia karena kepintarannya…maka carilah ilmu, untuk kemuliaanmu…”
Sesaat setelah mengatakan itu, ibunya mencium kening si anak, lalu dipeluknya di sela-sela isak tangisnya. Ibunya mengakhiri pembicaraannya dengan, “Maafin Emak, nggak bisa nyekolahin.”
Umay kecil tak begitu paham apa yang dikatakan ibunya. Dengan terkantuk-kantuk ia kembali ke kamarnya, lalu tidur lagi sampai subuh tiba.
Selepas Umay shalat Subuh, teringat olehnya sebagian dari ungkapan ibunya tadi malam, “Carilah ilmu, untuk kemuliaanmu…”
Mengurus Diri Sendiri
Ia berpikir, mencari ilmu harus sekolah. Maka tanpa pamit kepada ibunya lagi ia pun segera berangkat ke SD Bojong Genteng III.
Ditemuinya guru Kelas 1 waktu itu, Pak Uton Bustoni. Sesudah bersalaman ia memberanikan diri untuk memperkenalkan diri.
“Pak, nama saya Uyun, saya anak yatim, tapi mau sekolah.”
Berkat keberaniannya yang didorong oleh keinginan kuatnya dalam menuntut ilmu, ia diterima di sekolah itu tanpa harus mengeluarkan biaya.
Menginjak ketika kelas enam, gurunya menganjurkan agar namanya ditambah supaya tidak terlalu pendek. “Siapa tahu nanti jadi orang penting,” kata Pak Obang Barnas, salah seorang gurunya, karena nama itu akan ditulis dalam ijazah.
Sore harinya ia bertanya ihwal nama yang cocok untuk dirinya ke Mu’allim Djamjuri di Masjid Bojongwaru.
Sang Mu’allim menawarkan tambahan nama “Maryunani”, maka jadilah nama dalam Ijazah SD-nya Uyun Maryunani, disingkat U. Maryunani.
Tentang namanya sekarang, itu terjadi saat di pengajian. Ia sering dilatih ceramah dalam berbagai acara keagamaan yang teksnya dibuatkan guru mengajinya, Ustadz Abdullah Mubarak. Oleh sang ustadz, namanya diberi tambahan lagi “U. Maryunani Dja’far Shiddieq”.
Beranjak remaja, rupanya ia termasuk penggemar karya-karya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), maka ia pun ikut-ikutan menyingkat namanya, Uyun Maryunani, menjadi Umay.
Saat memasuki PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran), Jakarta, dengan Ijazah U. Maryunani, ia memperkenalkan diri dengan menyebut dirinya Umay, maka bagian pengajar di PTIQ meyakini bahwa U itu artinya “Umay”, maka tertulislah di Ijazah PTIQ Umay Maryunani. Kelak setelah berkecimpung di masyarakat, nama pemberian guru mengajinya itu digunakan kembali, maka jadilah “Umay M. Dja’far Shiddieq”.
Dari sejarah namanya yang agak unik di atas, tampaknya sejak kecil ia memang telah banyak mengurus dirinya, sebagai orang yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak, yang meninggal saat ia masih empat bulan dalam kandungan ibunya. Itulah sebabnya, ia menjadikan ibunya sebagai sumber doa, sumber rahmat Allah, sumber ridha-Nya, serta sumber motivasi dan kekuatan. Ia pernah berujar, pengalaman yang paling berkesan adalah saat ia menggandeng tangan ibunya yang keriput saat thawaf mengitari Ka’bah tahun 1993.
Bebas Biaya
Umay kecil pun tamat SD Bojong Genteng tahun 1967. Ia merasa sangat berutang budi kepada Kepala SD, Pak Karta Soedarma, yang membebaskannya dari iuran sekolah.
Ia tamat PGA 4 Tahun Al-A’arif Jampang Kulon tahun 1971. Lagi-lagi ia berutang budi atas kebaikan Pak Dindin Saefudin, yang juga membebaskannya dari SPP.
Didorong oleh keinginan kuatnya untuk meneruskan sekolah, sekitar 86 km hutan Pasir Piring ia tempuh dengan jalan kaki, karena tak ada ongkos naik bus ke Sukabumi. Di kota ini, atas kemurahan hati K.H. E. Fachruddin Masthura, ia diterima di Pesantren Tipar dan tamat Madrasah ‘Aliyah Al-Masthuriyah, Tipar, Sukabumi tahun 1974. Sepanjang di Al-Masthuraiyah inilah ia sangat berutang budi atas perhatian dan kasih sayang keluarga besar K.H. Moh Sanusi (alm.).
Ia lalu mondok di Pesantren Salafiyah Siqayaturrahmah, bimbingan K.H. M. Mudrikah Hanafi, di Selajambu, Sukabumi, 1975-1976.
Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke PTIQ hingga tamat tahun 1983. Selama kuliah di PTIQ ia seperti mendapat orangtua angkat, yaitu keluarga Bapak Moh. Djubaedy Soelaiman. Setelah tamat, ia dipercaya menjadi dosen tafsir dan hadits ahkam (hukum) di almamaternya sampai tahun 1990.
Tahun 1984, ia kuliah lagi di IAIN Jakarta Fakultas Syari’ah, Jurusan Peradilan Agama, atas kebaikan keluarga Mayjen (Pol.) Drs. H Soedarto, selesai tahun 1987. Dan pada tahun 1996, atas kebaikan keluarga Mayjen Dr. H. Loet Affandi, ia pun dapat menyelesaikan S-2 Pendidikan Islam dari Pascasarjana UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta).
Tahun 1999, dan atas saran guru tercintanya, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., ia melanjutkan studi S-3-nya di PPs (Program Pascasarjana) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Manajemen Pendidikan, juga atas kemurahan hati keluarga Dr. H. Loet Affandi.
Terjun di Tengah Masyarakat
Sejak masih kuliah di PTIQ tahun 1982 ia mulai merintis menyelenggarakan pengajian bulanan di kampungnya, dengan jumlah peserta pengajian pertama hanya delapan orang. Ia tekuni sebulan sekali naik-turun bus Jakarta-Sukabumi, mensosialisasikan idenya membangun desa.
Dalam masa sepuluh tahun, ia mengubah mushalla kecil ukuran 4 x 6 meter menjadi masjid dengan ukuran 12 x 18 meter.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya Januari 1982, dengan lima orang lainnya, ia mendirikan Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (Yapsi) Darul ‘Amal, yang pada tahun 2005 sudah memiliki luas tanah 54.000 meter (5,4 hektare), lengkap dengan bangunan masjid bernuansa warna biru berukuran 30 x 29 meter berdiri megah tiga lantai, sekolah SMP dan SMA tiga lantai dengan 18 lokal kelas, tiga unit asrama semuanya dua lantai, peserta didik hampir 500 anak, dari mulai TK, MI, SMP, hingga SMA dan pesantren, Toko Ribhi Barka, Unit Pertanian dan Peternakan, dan mudzakarah jama’ah bulanan yang rata-rata diikuti 300-400 jama’ah setiap Ahad pertama di bulan Miladiyah (Masehi).
Tahun 1979, tepatnya 1 Oktober 1979, ia menikahi tambatan hatinya sejak di PGA, Lily Yulifah, putri keenam Mu’allim E. Djuaeni, imam besar Masjid Kaum Jampang Kulon. Dari pernikahannya ia dikaruniai tiga putra dan seorang putri.
Tahun 1990 ia dipercaya menjadi direktur Masjid Jami’ Yarsi (Yayasan Rumah Sakit Islam). Dikelolanya masjid itu dengan manajemen modern, sehingga tahun 1994 terpilih menjadi masjid teladan tingkat DKI. Ia emban amanah Allah mengurus rumah-Nya itu sampai tahun 1996, dan pada bulan Oktober tahun itu juga ia mendirikan Yayasan Da’wah dan Sosial Islam Al-‘Urwatul Wutsqa (Yadsi UW), yang bergerak dalam penyelenggaraan Kursus Tafhim Al-Quran, kini terdapat 24 kelas, yang tersebar di Jakarta.
Bersama rekannya di PTIQ, Drs. Mustari, ia membuka cabang yayasan di Tegal Mulyo, Klaten, Jawa Tengah, yang menyelenggarakan Madrasah Diniyah, TPQ Nurul Akbar, dan Pesantren Tahfizhul Quran. Dan kemudian, melalui salah satu anak asuh kepercayaannya, Ustadz H. Hafidzi, tahun 1997, ia membuka cabang Yadsi UW yang kedua di Dusun Ngantirejo, Desa Beruk, Karang Anyar, dengan memberdayakan 13 ustadz, yang tersebar di sekitar Kecamatan Jatiyoso dan Tawangmangu, mengelola 11 TPQ dan beberapa majlis ta’lim. Direncanakan di tempat itu akan dibangun pesantren terpadu.
Tahun 1998 keluarga ayah angkatnya, Dr. Loet Affandi, mendirikan Yayasan Al-Ma’shum Mardiyah di Desa Galudra, Cugenang, Cianjur. Di tempat itulah kemudian ia menyelenggarakan Pesantren Terpadu Al-Ma’shum Mardiyah, yang kini santrinya mencapai 360 orang, terdiri dari putra dan putri.
Pada tahun 2000, tepatnya 26 Juni 2000, masyarakat Rawasari secara aklamasi mempercayainya menjadi ketua umum Masjid Jami’ Rawasari, sebuah masjid tua di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, dan pada tahun itu pula ia membentuk Badan Hukum Yayasan Masjid Jami’ Rawasari. Kini yayasan itu membangun Masjid Al-Nizham 24 x 26 meter tiga lantai, menyelenggarakan TPQ & TK Islam Al-Rawdhah, dan memiliki Toko Al-Barka.
Ia merasakan betapa besar peran jama’ah pengajian Kursus Tafhim Al-Quran, baik untuk pembangunan proyek-proyek fisiknya maupun sebagai donatur tetap bagi anak-anak asuhnya. Tanpa melebihkan yang satu atas yang lainnya, ia merasa tak dapat melupakan para munfiqin-munfiqat (donatur) berikut: keluarga Deddy Brahim, keluarga Ismaildin Wahab, keluarga Ismail Akbar, keluarga Salman Harahap, keluarga Dr. Loet Affandi, keluarga Muchtar Purbaya, keluarga Saeful Amir, keluarga Soni Dwi Harsono, keluarga Saleh Gunawan, keluarga Vence Raharjo, keluarga Amril Adnan, keluarga Sudarmadi, keluarga besar putri-putri dan para menantu Anas Latif, keluarga Bennyman Saus, dan yang lain-lainnya.
Selain sering menjadi pengisi mimbar agama Islam di beberapa stasiun televisi, serta memberikan ceramah-ceramah agama di berbagai kesempatan, pada tahun 2005 dengan beberapa koleganya ia mendirikan CV Al-Ghuraba, yang bergerak di bidang penerbitan buku. Ia juga punya niatan akan mengisi sisa umurnya dengan menulis buku-buku agama sebagai kelanjutan dari pembinaan pengajian-pengajian yang selama ini ia jalani.
Sosok Kiai Umay dengan perjalanan hidupnya yang penuh liku bahkan sampai menjadi inspirasi bagi seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menyusun skripsinya. Dalam skripsinya, Khoirudin, demikian nama mahasiswa itu, mengangkat peranan Kiai Umay dalam mengembangkan Islam di Jampangkulon, Sukabumi, tanah kelahirannya.
sumber: majalah alkisah
Selasa, September 10, 2013
Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi
| Add caption |
Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Mekkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).
Awal berada di Mekkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.
Banyak sekali murid Syaikh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi'i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syaikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syaikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syaikh Khatib Ali Padang, Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syaikh Hasan Maksum, Medan. Tak ketinggalan pula K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, merupakan murid dari Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah.
Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah adalah tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XX. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).
Nasab[sunting]
Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah.
Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Al Khathib dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec. Ampek Koto, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan. ‘Abdullah, kakek Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khathib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.
Pendidikan[sunting]
Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.
Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.
Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, ‘Abdul Lathif, ke Tanah Suci mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ‘Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di mekkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama mekkah terutama yang mengajar di Masjid Al Haram terutama yang mengajar di Masjid Al Haram.
Di antara guru-guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah di mekkah adalah:
Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’I (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.
Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah, yaitu:
Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’I di mekkah-
Yahya Al Qalyubi
Muhammad Shalih Al Kurdi
Mengenai bagaimana semangat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam thalabul ‘ilmi, mari sejenak kita dengarkan penuturan seorang ulama yang sezaman dengan beliau, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, “…Beliau adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, beliau dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru (baca: otodidak).”
Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendudkung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh.
Murid[sunting]
Mengenai murid-murid Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah rahimahullah, Siradjuddin ‘Abbas berkata, “Sebagaimana dikatakan di atas bahwa hamper ulama Syafi’I yang kemudian mengembangkan ilmu agama di Indonesia, seperti Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, Syaikh Muhd. Jamil Jaho, Syaikh ‘Abbas Qadhli, Syaikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama-ulama Indonesia pada tahun-tahun abad XIV adalah murid dari Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Khathib Minangkabau ini.” [Thabaqatus Syafi’iyah (hal. 406)]
Ucapan senada juga dinyatakan penulis Ensiklopedi Ulama Nusantara di banyak tempat.Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam Beberapa Aspek:Guru untuk Generasi Pertama Kau Muda. Namun demikian, tidak salah kiranya kita sebutkan di sini beberapa murid-muridnya yang menonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarkan, di antaranya adalah:
Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyyah-.
Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama-.
Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al Irsyad
Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
Muhammad Thaib ‘Umar
Dan lain-lain.
Pernikahan[sunting]
Di antara kebiasaan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah di mekkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjid Al Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekedar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko, Shalih Al Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.
Ketertarikan Shalih Al Kurdi terhadap Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dibuktikan dengan dijadikannya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai menantu. Ya. Setelah banyak mengetahui tentang prihal dan kepribadian Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang mulia itu, Shalih Al Kurdi pun menikahkannya dengan putrid pertamanya yang kata Hamka dalam Tafsir Al Azhar bernama Khadijah. Sebenarnya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sempat ragu menerima tawaran dari Al Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjaqdikannya menantu. Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah. Masya Allah. Jika karena bukan kepribadian Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.
Tentang pengambilan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai menantu Shalih Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Shalih, “Aku dengar Anda telah menikahkan putrid Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa ‘Arab kecuai setelah belajar di mekkah?” “Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertaqwa,” jawab Shalih seketika, “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, ‘Jika dating kepada kalian seseorang yang agama dan amanahnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia.’
Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim (1300-1357 H).
Ternyata pernikahan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.
Shalih Al Kurdi, sang mertua, untuk menikah kembali dengan purinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu:
‘Abdul Malik. Ketua redaksi koran Al Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di Al Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik.
‘Abdul Hamid Al Khathib –seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid Al Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan. Di antara karya ilmiahnya adalah Tafsir Al Khathib Al Makki 4 jilid, sebuah nazham (sya’ir) berjudulSirah Sayyid Walad Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al imam Al ‘Adil (sejarah dan biografi untuk Raja ‘Abdul ‘Aziz Alu Su’ud)-
Kesuksesan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi tokoh-tokoh berhasil bukanlah omong kosong belaka. Keberhasilan itu berawal dari sistem pendidikan yang mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam yang mulia terutama masalah ‘aqidah. Mari sejenak kita dengar langsung penuturan ‘Abdul Hamid Al Khathib tentang bagaimana Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menanamkan ‘aqidah pada anak-anaknya, “Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat-Mu.’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta .’
Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku, ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, yah?’ Ayah pun segera menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali juka kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang? Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.’ Aku pun segera menlakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”
Bagaimana pendidikan aqidah yang diberikan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah kepada anaknya ini. Pendidikan mana lagi yang lebih mulia dari penanaman ‘aqidah yang kuat pada diri seorang anak. Bukankah melukis di batu itu sulit namun hasilnya akan lebih kekal? Demikian juga dengan diri seorang anak. Seorang anak kecil itu bagaikan gelas kaca yang masih kosong. Ia tergantung dengan siapa yang pertama kali mengisinya. Pendidikan yang seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta yang tinggi kepada Allah, bersandar hanya kepada kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya semata bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Inilah pendidikan tauhid yang pernah dipraktekkan Rasulullah kepada keponakannya, Ibnu ‘Abbas, yang ketika itu usianya masih kanak-kanak, “Jika kamu meminta pertolongan, mintalah (pertolongan) kepada Allah.”
Potret lain dari pendidikan yang diberikan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah kepada keluarganya adalah beliau selalu menegur dan memperingati bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya dengan bermain-main dan berbagai hal yang dapat melalaikan termasuk alat-alat music dan nyanyian. Semua ini dilakukan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah karena bentuk rasa sayangnya terhadap keluarganya. Karena melarang tidak selamanya bermakna benci. Tidak seperti anggapan sementara sebagian orang dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada keluarganya. Mereka kira dengan membiarkan semua gerak-gerik dan tingkah laku keluarganya itulah yang disebut cinta. Padahal boleh jadi prilaku-prilaku itu mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi berbeda dengan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah, ia menyadari bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan Rabbul ‘alamin. Maka dengan segenap kemampuannya, Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menganjurkan kepada semua keluarganya untuk menjauhi semua hal-hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat saja. Tidakkah Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tanggungannya.” Sampai sabda beliau, “Dan laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya.”
Imam Besar Masjidil Haram Mekkah pertama dari orang non Arab[sunting]
Kealiman Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dibuktikan dengan dilangkatnya beliau menjadi imam dan khathib sekaligus staf pengajar di Masjid Al Haram. Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi.
Mengenai sebab pengangkatan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39). ‘Umar ‘Abdul Jabbar mencatat bahwa jabatan imam dan khathib itu diperoleh Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah berkat permintaan Shalih Al Kurdi, sang mertua, kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah menjadi imam & khathib. Sedangkan riwayat kedua dibawakan oleh Hamka rahimahullah dalam Ayahku, Riwayat Hidup Dr. ‘Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera yang kemudian dinukil oleh Dr. Akhria Nazwar dan Dadang A. Dahlan. Ustadz Hamka menyebutkan cerita ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah shalat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.
Gagasan-gagasan[sunting]
Perhatiannya terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam. Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal. Salah satu kritik Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.
Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan wahtu salat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintang tsabitah dan sayyarah, galaksi dan lainnya.
Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah juga pakar dalam geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuang dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab.
Karya[sunting]
Karya-karya tulis Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Al Quran & Sunnah.
Karya-karya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam bahasab ’Arab:
Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
Raudhatul Hussab
Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwam, sebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk nimbrung di Sarekat Islam (SI)
Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif
Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
Ar Riyadh Al Wardiyyah fi [Ushulit Tauhid wa] Al Fiqh Asy Syafi’i
Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
Izhhar Zughalil Kadzibin
Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
Al Jawi fin Nahw
Sulamun Nahw
Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu
Wafat[sunting]
Pada tanggal 9 Jumadil Ula tahun 1334 H, Allah ‘memanggil’ Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah ke hadhirat-Nya setelah sekian lama hidup di dunia yang fana ini. Ya, jatah beliau tinggal di dunia ini telah habis setelah mencetak kader-kader yang hingga detik ini masih disebut-sebut. Jasad beliau memang sudah tiada, namun kehadirannya seakan-akan masih bisa dirasakan karena keilmuan dan peninggalan-peninggalannya berupa murid-muridnya yang terus memperjuangkan misi-misinya dan terutama karya-karya ilmiahnya yang masih terus dibaca hingga hari ini. Rahimahullah wa askanahu fasiha jannatih.
Bacaan Rujukan[sunting]
‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403 H. Siyar wa Tarajim Ba’dhi ‘Ulamaina fil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihamah
Al-Hazimi, Ibrahim bin ‘Abdullah. 1419 H. Mausu’ah A’lamil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar wal Khamis ‘Asyar Al Hijri fil ‘Alam Al ‘Arabi wal Al Islami min 1301-1417. KSA: Dar Asy Syarif lin Nasyr wat Tauzi’
Al-Mu’allimi, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman. 1421 H. A’lamul Makkiyyin min Al Qarn At Tasi’ ilal Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar Al Hijri. KSA: Muassasah Al Furqan lit Turats Al Islami
Steenbrink, Dr. Karel A. 1984 M. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
Dahlan, Dadang A. 2007. Cahaya dan Perajut Persatuan Waliullah Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Suprapto, Muhammad Bibit. 2009. Ensiklopedi Ulama Nusantara. Jakarta: Glegar Media Indonesia
Amrullah, ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas
Ad-Dahlawi, ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab. 1430 H. Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’ Awailil Qarn Ats Tsalits ‘Asyar wat Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi
‘Abbas, Siradjuddin. 2011. Thabaqatus Syafi’iyah, Ulama Syafi’I dan Kitab-Kitabnya dari Abad ke Abad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru
Jumat, September 06, 2013
Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah
Muda, energik, dan berpikir positif, itulah ciri yang menonjol dari
Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah. Ditempa di Huraidhah dan
Tarim untuk menekuni dakwah membuatnya selalu berprasangka baik dalam
menyikapi persoalan yang menimpa umat Islam.
Masa kecilnya sampai kelas dua SD dihabiskannya di Arab Saudi, lalu ia pindah ke Indonesia dan bersekolah di Jamiat Kheir. Habib Ahmad juga sempat mencicipi sekolah Muhammadiyah sebelum akhirnya menuntut ilmu ke Huraidhah dan Tarim selama lima tahun lebih.
“Setamat SMA sebenarnya saya tertarik untuk melanjutkan kuliah, namun kedatangan Habib Muhammad Shaleh Alatas ke Jakarta yang menawarkan belajar di Huraidhah membuat saya berubah pikiran, apalagi pergaulan saya dan juga banyak saudara adalah dengan para pendakwah,” tutur pria berusia 25 tahun ini.
“Awalnya rencana di Hadhramaut hanya dua tahun, khawatir kalau tidak betah. Ternyata malah keasyikan menuntut ilmu di sana sampai hampir enam tahun. Saat kedatangan Habib Muhammad ke Jakarta, dia bilang bahwa dia punya tempat belajar tapi belum ada pondoknya. Silakan kalau mau belajar. Saya berangkat berempat dengan teman ke Huraidhah, ini adalah cabang pesantren Darul Musthafa yang diasuh oleh Habib Umar Bin Hafidz,” katanya.
Mulailah pengembaraan ilmu dan praktek dakwah yang sesungguhnya dilakukan di negeri para wali itu. Menurutnya, bekalnya hanyalah niat baik untuk menuntut ilmu dan sedikit bahasa Arab, karena ketika kecil dia sudah fasih berbahasa Arab.
“Saat itu kami belajar di masjid, tinggalnya mengontrak di rumah penduduk, setiap Kamis dan Jum’at kami dilepas untuk berdakwah masuk ke rumah penduduk. Di sana bertahan tiga tahun lalu saya pindah ke Rubath Tarim, asuhan Habib Salim Asy- Syathiri, sempat mengikuti pelajaran di tempat Habib Umar Bin Hafidz selama empat puluh hari. Di rubath Tarim dua setengah tahun, belajar fiqih, akhlaq, nahwu, lalu hafalan Al-Qur’an, sisa hari lainnya digunakan untuk terjun ke dunia dakwah sampai ke pelosok-pelosok Tarim,” ujar suami Zahara binti Hasan Alatas ini.
Ketika sudah bermukim di Huraidhah selama setahun barulah berdiri pesantren, dan santrinya mulai bertambah. Mereka yang masuk paling awal disuruh mengajar santri baru, termasuk Habib Ahmad. Dia pun ikut mengajarkan kitab Risalatul Jamiah, Safinatun Najah, dan kitab-kitab dasar lainnya. Menurut Habib Ahmad, santri juga diharuskan ikut program pesantren kilat (daurah) selama empat puluh hari di Pesantren Darul Musthafa di bawah bimbingan Habib Umar Bin Hafidz.
“Di Huraidhah kami hidup seperti orang zaman dahulu, hanya belajar dan beribadah, tidak boleh menonton, tidak boleh keluar pesantren, fasilitas modern seperti kipas angin atau AC tidak ada, padahal di sana musim panas sangat luar biasa, musim dingin juga esktrem dingin, yang kami dapatkan di situ adalah arti kehidupan. Kami paham, hidup itu seperti itu, jangan asal enak saja. Keberkahan ilmu kami mengertinya di situ,” tuturnya lagi mengisahkan pengalaman menjadi santri di Huraidhah dan Tarim.
Dengan suasana yang fokus seperti itu, menurutnya ilmu cepat masuk, para santri tidak tercemar dengan hal-hal yang membuat hilangnya keberkahan ilmu, seperti maksiat atau melihat hal-hal yang dilarang agama. “Tidak ada radio dan televisi, selama saya di pesantren tidak pernah melihat wanita, kecuali kalau terjun ke masyarakat,” ujarnya. Dia bersyukur bisa menuntut ilmu di dua kota ilmu itu, yaitu Huraidhah dan Tarim, karena menurutnya dua tempat itu sumber ilmu dan semua orang ingin ke sana untuk menuntut ilmu.
Ceramah Dadakan
Kesiapan mental adalah salah satu fokus yang sangat diperhatikan ketika menuntut ilmu di Huraidhah. Menurut Habib Ahmad, jadwal para santri diatur dengan ketat dan disiplin, mulai dari bangun sebelum subuh sampai nanti tidur lagi jam sebelas malam.
“Satu jam sebelum subuh para santri dibangunkan, lalu kami membaca adzkar (dzikir-dzikir), sampai adzan subuh. Sebelum shalat, menunggu iqamah, adzkar lagi. Setelah shalat Subuh, adzkar lagi, lalu membaca Wirdul Lathif dan wirid Habib Abubakar bin Salim.
Setelah itu kami belajar ilmu nahwu, balaghah, sampai makan pagi sekitar jam 09.00. Setelah makan pagi, kami rehat sejenak lalu nanti dibangunkan sekitar jam 10.30. Kemudian ada dars (pelajaran), yang materinya bergantian, tentang hadits, sirah, aqidah.
Setelah shalat Zhuhur, kami setor hafalan kepada guru dan pembimbing, lalu acara makan siang, dan dilanjutkan dengan istirahat,” ujar Habib Ahmad.
“Sebelum adzan ashar, kami sudah ada di masjid, menunggu imam datang, lalu berdzikir, membaca Wirdul Lathif, surah Al-Waqi’ah, kemudian rauhah, membahas kitab-kitab aqidah, tasawuf, akhlaq, yang berhubungan dengan kebersihan hati.
Jam lima sore ada waktu kosong. Biasanya santri memanfaatkan untuk main bola.
Sebelum maghrib, kami sudah ada di masjid lagi, bedzikir, shalat berjama’ah. Setelah itu kami membaca Al-Qur’an, tiap kelompok lima orang, satu hari satu juz. Targetnya setiap hari Kamis khatam Al-Qur’an.
Menunggu adzan isya, kami membaca Ratib Alatas, setelah itu membaca fiqih, sampai waktu iqamah.
Setelah shalat Isya berjama’ah, kami membaca hadits, sampai setengah sepuluh malam. Setelah itu muraja’ah, menyiapkan dan membaca apa yang akan dipelajari besok paginya.
Jam sebelas malam lampu dimatikan. Tidurnya ada yang menjaga secara bergiliran. Jadi dua jam lalu bangun, menjaga yang tidur, begitu terus sampai menjelang subuh. Jadi dalam pesantren kami tidak pernah berhenti dari dzikir dan orang yang beraktivitas menuntut ilmu.”
Tidak hanya di pesantren, para santri juga disuruh terjun ke masyarakat. Agar mental mereka terlatih dengan baik dan siap dengan segala kondisi apa pun. Habib Ahmad pernah kaget ketika baru empat bulan dia di sana langsung oleh Habib Muhammad diminta untuk memberikan mauizhah. Dia ingin memberikan alasan bahwa bahasa Arab-nya masih terpatah-patah, tapi belum sempat berbicara sudah ditinggal oleh gurunya itu.
Ketika saatnya datang, Habib Ahmad pun menyampaikan kepada hadirin yang memenuhi masjid bahwa ia mempunyai keterbatasan, jadi dia hanya berpidato sebentar.
Tapi ketika pulang, Habib Muhammad malah memuji ceramahnya. “Itu motivasi agar santri tidak patah semangat, walau saya tahu apa yang saya lakukan jauh dari harapan,” tutur Habib Ahmad sambil tertawa. Itulah yang membuatnya sampai sekarang tidak pernah takut menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, karena mentalnya sudah dilatih dengan baik.
“Wasiat dari guru, kita tidak ada waktu berhenti untuk berdakwah dan menuntut ilmu. Jadi kalau pulang jangan sampai berhenti belajar. Bisnis tidak apa tapi jangan sampai melupakan dakwah,” ujarnya menirukan gurunya, dan itu yang dipegangnya sebagai bekal berdakwah.
Dakwah Penuh Tanggung Jawab
Sepulang dari Hadhramaut, Habib Ahmad mulai berdakwah dengan lebih menonjolkan akhlaqul karimah. Dia berdakwah dengan tutur bahasa yang lemah lembut dan penuh kesabaran. Dia ingin mencontoh kesabaran Rasulullah SAW. Awalnya dia hanya mengisi ta’lim yang ustadznya berhalangan, namun setelah itu jama’ah makin banyak yang menyukai gaya berdakwahnya, terutama anak muda. Maka dibentuklah Majelis Ta’lim Ar-Ridwan, yang bermarkas di masjid dekat rumahnya di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Jadwal ta’limnya sehabis maghrib tiap Jum’at, dan yang dibahas masalah fiqih, lalu membaca Maulid Simthud Durar.
Selanjutnya di Gandaria, itu dua kali sebulan, yang dibahas aqidah, menggunakan kitab Aqidatul Awwam. Sedangkan di Condet di Majelis Ta’lim Muassasatul Bagir jadwalnya minggu pertama dan ketiga tiap bulan. Di samping itu dia juga mengisi manasik haji dan umrah di sebuah perusahaan travel dua kali sebulan, lalu sisanya mungkin ada undangan dari berbagai tempat.
Menurutnya, dakwah itu penuh tanggung jawab. “Masalah-masalah faktual kadang kita tahu jawabnya tapi takut mengutarakannya. Kalau Imam Syafi’i jika ditanya beliau diam lebih dulu. Lama sekali diam. ‘Kenapa tiap ditanya antum diam, ya Imam?’
Dia menjawab, ‘Kalau saya buru-buru menjawab, takut salah. Dia ingin memastikan bahwa jawaban itu tepat’,” kata Habib Ahmad.
Dia melanjutkan, dakwah saat ini adalah hasil dari perjuangan ulama-ulama dan habaib zaman dulu, yang penuh rintangan. Kita sekarang tinggal meneruskan. Ibarat kopi, memasak dan mengaduknya sudah dilakukan para pendahulu kita, yang sekarang tinggal meminumnya.
Dakwah yang dilakukannya terutama adalah kepada para pemuda, khususnya pemuda yang rusak, suka mabuk, dan sejenisnya. “Dakwah harus disampaikan dengan cara yang baik, jangan membuat orang antipati. Ada akhlaqnya dalam menegur orang, jangan sampai dia malu. Kita harus selalu berbaik sangka. Kalau ada yang masih suka mabuk, dia minum tiga botol sehari, misalnya, nasihati agar bisa mengurangi, doakan agar dia cepat sadar,” ujarnya.
“Nahi munkar dalam agama, kalau kita tidak bisa mengubah dengan tangan, dengan cara mengingatkan secara lembut. Seperti Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa AS agar mendakwahi Fir’aun dengan perkataan yang lembut, padahal Allah SWT Mahatahu bahwa Fir’aun akan mati dalam keadaan kafir....”
Di samping itu menurutnya penting juga terapi seperti yang dilakukan Habib Rizieq dengan FPI-nya. Kalau tidak, kemunkaran akan semakin leluasa. Jadi perlu sinergi. Melihat situasi dan kondisi sangat perlu dalam berdakwah. Ada saat tertentu diperlukan ketegasan.
Menurutnya, dakwah itu perlu kesabaran. Hanya itu tantangannya. Kalau ancaman fisik, tidak ada yang berarti. Tidak seperti di negara lain. “Kita harus mencontoh Rasulullah SAW. Pernah suatu ketika beliau mendapatkan seorang ibu tua yang sedang membawa barangnya setelah dari pasar, Rasulullah SAW kasihan melihat barang yang dibawanya tampak begitu berat, beliau lalu menawarkan diri untuk membawanya. Sampai ke tujuan rumahnya, si ibu tadi belum pernah melihat dan mengenal Rasulullah SAW, sampai di rumahnya dia berkata, ‘Wahai anak muda, aku ingin memberi nasihat kepadamu yang berguna untukmu dunia dan akhirat. Kalau suatu waktu nanti kamu berjumpa dengan seorang pemuda yang bernama Muhammad, jangan pernah sekali-kali kamu percaya, karena dia adalah pembohong besar.’ Padahal yang dihadapinya adalah Muhammad.
Kalau kita mungkin sudah naik pitam mendengar omongan orang tua itu. Sudah dibantu malah berkata seperti itu. Tapi dakwah itu adalah akhlaq, itu yang menarik orang. Akhlaq itu lebih fasih dari mulut. Lalu Rasulullah SAW dengan tenang mengatakan, ‘Bagaimana kalau anak muda itu adalah aku?’
Perempuan tua itu kaget dan memandang Rasulullah, tidak percaya. Setelah itu ia menangis, dan akhirnya wanita itu masuk Islam karena agungnya akhlaq Rasulullah SAW. Itulah Islam.
Kalau ada orang yang membenci dakwah kita, kita temui mereka seraya minta maaf. Hal itu akan membuat mereka malu dan nanti akan penasaran. Islam itu awalnya akhlaq, pertengahan akhlaq, dan akhirnya akhlaq.
Ada ulama yang mengarang buku dan bertanya, ‘Kenapa umat Islam tersingkir dari percaturan dunia?’
Salah satu jawabannya adalah karena orang kafir zaman sekarang menggunakan akhlaqnya orang Islam, dan sebaliknya orang Islam menggunakan akhlaq orang kafir. Coba perhatikan bagaimana perilaku orang di jalan raya, bagaimana akhlaq mereka,” kata Habib Ahmad.
Menurutnya, dakwah itu harus bersatu dari semua pihak, baik itu donatur, media, kekuasaan, semuanya harus bersatu. Media jangan hanya diisi oleh hal-hal yang dangkal, karena pengaruh media sangat luar biasa. Banyak masyarakat yang tidak tahu hal-hal elementer dalam agama, orang sekarang kan hanya ingin tahu yang populer, misalnya seperti perbedaan pendapat kelompok-kelompok. Bagaimana urusan akan beres kalau hal yang mendasar mereka tidak lakukan, ingin rizqi lancar dan berkah tapi shalat tidak pernah. Kita butuh kesabaran dan kebersamaan dalam dakwah.
Berbicara tentang kesabaran, manusia yang paling sabar adalah Rasulullah SAW. “Kunci kesabaran itu ingat kesabaran Rasulullah SAW saat berdakwah, diapakan saja beliau sabar. Jangan hanya karena diomongin lalu ada yang berhenti berdakwah.
Kita harus sadar, Islam itu satu. Kalau Islam bentrok, pasti ada munafik atau kafir yang melakukan adu domba. Tujuannya, tidak ingin Islam damai, ingin agar Islam hancur.
Kita harus introspeksi, mari kita pikirkan diri kita, mari belajar dari ulama-ulama terdahulu dalam menghormati ulama yang berbeda pendapat, bagaimana akhlaq mereka menghormati yang berbeda pendapat.
sumber: majalah alkisah
Masa kecilnya sampai kelas dua SD dihabiskannya di Arab Saudi, lalu ia pindah ke Indonesia dan bersekolah di Jamiat Kheir. Habib Ahmad juga sempat mencicipi sekolah Muhammadiyah sebelum akhirnya menuntut ilmu ke Huraidhah dan Tarim selama lima tahun lebih.
“Setamat SMA sebenarnya saya tertarik untuk melanjutkan kuliah, namun kedatangan Habib Muhammad Shaleh Alatas ke Jakarta yang menawarkan belajar di Huraidhah membuat saya berubah pikiran, apalagi pergaulan saya dan juga banyak saudara adalah dengan para pendakwah,” tutur pria berusia 25 tahun ini.
“Awalnya rencana di Hadhramaut hanya dua tahun, khawatir kalau tidak betah. Ternyata malah keasyikan menuntut ilmu di sana sampai hampir enam tahun. Saat kedatangan Habib Muhammad ke Jakarta, dia bilang bahwa dia punya tempat belajar tapi belum ada pondoknya. Silakan kalau mau belajar. Saya berangkat berempat dengan teman ke Huraidhah, ini adalah cabang pesantren Darul Musthafa yang diasuh oleh Habib Umar Bin Hafidz,” katanya.
Mulailah pengembaraan ilmu dan praktek dakwah yang sesungguhnya dilakukan di negeri para wali itu. Menurutnya, bekalnya hanyalah niat baik untuk menuntut ilmu dan sedikit bahasa Arab, karena ketika kecil dia sudah fasih berbahasa Arab.
“Saat itu kami belajar di masjid, tinggalnya mengontrak di rumah penduduk, setiap Kamis dan Jum’at kami dilepas untuk berdakwah masuk ke rumah penduduk. Di sana bertahan tiga tahun lalu saya pindah ke Rubath Tarim, asuhan Habib Salim Asy- Syathiri, sempat mengikuti pelajaran di tempat Habib Umar Bin Hafidz selama empat puluh hari. Di rubath Tarim dua setengah tahun, belajar fiqih, akhlaq, nahwu, lalu hafalan Al-Qur’an, sisa hari lainnya digunakan untuk terjun ke dunia dakwah sampai ke pelosok-pelosok Tarim,” ujar suami Zahara binti Hasan Alatas ini.
Ketika sudah bermukim di Huraidhah selama setahun barulah berdiri pesantren, dan santrinya mulai bertambah. Mereka yang masuk paling awal disuruh mengajar santri baru, termasuk Habib Ahmad. Dia pun ikut mengajarkan kitab Risalatul Jamiah, Safinatun Najah, dan kitab-kitab dasar lainnya. Menurut Habib Ahmad, santri juga diharuskan ikut program pesantren kilat (daurah) selama empat puluh hari di Pesantren Darul Musthafa di bawah bimbingan Habib Umar Bin Hafidz.
“Di Huraidhah kami hidup seperti orang zaman dahulu, hanya belajar dan beribadah, tidak boleh menonton, tidak boleh keluar pesantren, fasilitas modern seperti kipas angin atau AC tidak ada, padahal di sana musim panas sangat luar biasa, musim dingin juga esktrem dingin, yang kami dapatkan di situ adalah arti kehidupan. Kami paham, hidup itu seperti itu, jangan asal enak saja. Keberkahan ilmu kami mengertinya di situ,” tuturnya lagi mengisahkan pengalaman menjadi santri di Huraidhah dan Tarim.
Dengan suasana yang fokus seperti itu, menurutnya ilmu cepat masuk, para santri tidak tercemar dengan hal-hal yang membuat hilangnya keberkahan ilmu, seperti maksiat atau melihat hal-hal yang dilarang agama. “Tidak ada radio dan televisi, selama saya di pesantren tidak pernah melihat wanita, kecuali kalau terjun ke masyarakat,” ujarnya. Dia bersyukur bisa menuntut ilmu di dua kota ilmu itu, yaitu Huraidhah dan Tarim, karena menurutnya dua tempat itu sumber ilmu dan semua orang ingin ke sana untuk menuntut ilmu.
Ceramah Dadakan
Kesiapan mental adalah salah satu fokus yang sangat diperhatikan ketika menuntut ilmu di Huraidhah. Menurut Habib Ahmad, jadwal para santri diatur dengan ketat dan disiplin, mulai dari bangun sebelum subuh sampai nanti tidur lagi jam sebelas malam.
“Satu jam sebelum subuh para santri dibangunkan, lalu kami membaca adzkar (dzikir-dzikir), sampai adzan subuh. Sebelum shalat, menunggu iqamah, adzkar lagi. Setelah shalat Subuh, adzkar lagi, lalu membaca Wirdul Lathif dan wirid Habib Abubakar bin Salim.
Setelah itu kami belajar ilmu nahwu, balaghah, sampai makan pagi sekitar jam 09.00. Setelah makan pagi, kami rehat sejenak lalu nanti dibangunkan sekitar jam 10.30. Kemudian ada dars (pelajaran), yang materinya bergantian, tentang hadits, sirah, aqidah.
Setelah shalat Zhuhur, kami setor hafalan kepada guru dan pembimbing, lalu acara makan siang, dan dilanjutkan dengan istirahat,” ujar Habib Ahmad.
“Sebelum adzan ashar, kami sudah ada di masjid, menunggu imam datang, lalu berdzikir, membaca Wirdul Lathif, surah Al-Waqi’ah, kemudian rauhah, membahas kitab-kitab aqidah, tasawuf, akhlaq, yang berhubungan dengan kebersihan hati.
Jam lima sore ada waktu kosong. Biasanya santri memanfaatkan untuk main bola.
Sebelum maghrib, kami sudah ada di masjid lagi, bedzikir, shalat berjama’ah. Setelah itu kami membaca Al-Qur’an, tiap kelompok lima orang, satu hari satu juz. Targetnya setiap hari Kamis khatam Al-Qur’an.
Menunggu adzan isya, kami membaca Ratib Alatas, setelah itu membaca fiqih, sampai waktu iqamah.
Setelah shalat Isya berjama’ah, kami membaca hadits, sampai setengah sepuluh malam. Setelah itu muraja’ah, menyiapkan dan membaca apa yang akan dipelajari besok paginya.
Jam sebelas malam lampu dimatikan. Tidurnya ada yang menjaga secara bergiliran. Jadi dua jam lalu bangun, menjaga yang tidur, begitu terus sampai menjelang subuh. Jadi dalam pesantren kami tidak pernah berhenti dari dzikir dan orang yang beraktivitas menuntut ilmu.”
Tidak hanya di pesantren, para santri juga disuruh terjun ke masyarakat. Agar mental mereka terlatih dengan baik dan siap dengan segala kondisi apa pun. Habib Ahmad pernah kaget ketika baru empat bulan dia di sana langsung oleh Habib Muhammad diminta untuk memberikan mauizhah. Dia ingin memberikan alasan bahwa bahasa Arab-nya masih terpatah-patah, tapi belum sempat berbicara sudah ditinggal oleh gurunya itu.
Ketika saatnya datang, Habib Ahmad pun menyampaikan kepada hadirin yang memenuhi masjid bahwa ia mempunyai keterbatasan, jadi dia hanya berpidato sebentar.
Tapi ketika pulang, Habib Muhammad malah memuji ceramahnya. “Itu motivasi agar santri tidak patah semangat, walau saya tahu apa yang saya lakukan jauh dari harapan,” tutur Habib Ahmad sambil tertawa. Itulah yang membuatnya sampai sekarang tidak pernah takut menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, karena mentalnya sudah dilatih dengan baik.
“Wasiat dari guru, kita tidak ada waktu berhenti untuk berdakwah dan menuntut ilmu. Jadi kalau pulang jangan sampai berhenti belajar. Bisnis tidak apa tapi jangan sampai melupakan dakwah,” ujarnya menirukan gurunya, dan itu yang dipegangnya sebagai bekal berdakwah.
Dakwah Penuh Tanggung Jawab
Sepulang dari Hadhramaut, Habib Ahmad mulai berdakwah dengan lebih menonjolkan akhlaqul karimah. Dia berdakwah dengan tutur bahasa yang lemah lembut dan penuh kesabaran. Dia ingin mencontoh kesabaran Rasulullah SAW. Awalnya dia hanya mengisi ta’lim yang ustadznya berhalangan, namun setelah itu jama’ah makin banyak yang menyukai gaya berdakwahnya, terutama anak muda. Maka dibentuklah Majelis Ta’lim Ar-Ridwan, yang bermarkas di masjid dekat rumahnya di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Jadwal ta’limnya sehabis maghrib tiap Jum’at, dan yang dibahas masalah fiqih, lalu membaca Maulid Simthud Durar.
Selanjutnya di Gandaria, itu dua kali sebulan, yang dibahas aqidah, menggunakan kitab Aqidatul Awwam. Sedangkan di Condet di Majelis Ta’lim Muassasatul Bagir jadwalnya minggu pertama dan ketiga tiap bulan. Di samping itu dia juga mengisi manasik haji dan umrah di sebuah perusahaan travel dua kali sebulan, lalu sisanya mungkin ada undangan dari berbagai tempat.
Menurutnya, dakwah itu penuh tanggung jawab. “Masalah-masalah faktual kadang kita tahu jawabnya tapi takut mengutarakannya. Kalau Imam Syafi’i jika ditanya beliau diam lebih dulu. Lama sekali diam. ‘Kenapa tiap ditanya antum diam, ya Imam?’
Dia menjawab, ‘Kalau saya buru-buru menjawab, takut salah. Dia ingin memastikan bahwa jawaban itu tepat’,” kata Habib Ahmad.
Dia melanjutkan, dakwah saat ini adalah hasil dari perjuangan ulama-ulama dan habaib zaman dulu, yang penuh rintangan. Kita sekarang tinggal meneruskan. Ibarat kopi, memasak dan mengaduknya sudah dilakukan para pendahulu kita, yang sekarang tinggal meminumnya.
Dakwah yang dilakukannya terutama adalah kepada para pemuda, khususnya pemuda yang rusak, suka mabuk, dan sejenisnya. “Dakwah harus disampaikan dengan cara yang baik, jangan membuat orang antipati. Ada akhlaqnya dalam menegur orang, jangan sampai dia malu. Kita harus selalu berbaik sangka. Kalau ada yang masih suka mabuk, dia minum tiga botol sehari, misalnya, nasihati agar bisa mengurangi, doakan agar dia cepat sadar,” ujarnya.
“Nahi munkar dalam agama, kalau kita tidak bisa mengubah dengan tangan, dengan cara mengingatkan secara lembut. Seperti Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa AS agar mendakwahi Fir’aun dengan perkataan yang lembut, padahal Allah SWT Mahatahu bahwa Fir’aun akan mati dalam keadaan kafir....”
Di samping itu menurutnya penting juga terapi seperti yang dilakukan Habib Rizieq dengan FPI-nya. Kalau tidak, kemunkaran akan semakin leluasa. Jadi perlu sinergi. Melihat situasi dan kondisi sangat perlu dalam berdakwah. Ada saat tertentu diperlukan ketegasan.
Menurutnya, dakwah itu perlu kesabaran. Hanya itu tantangannya. Kalau ancaman fisik, tidak ada yang berarti. Tidak seperti di negara lain. “Kita harus mencontoh Rasulullah SAW. Pernah suatu ketika beliau mendapatkan seorang ibu tua yang sedang membawa barangnya setelah dari pasar, Rasulullah SAW kasihan melihat barang yang dibawanya tampak begitu berat, beliau lalu menawarkan diri untuk membawanya. Sampai ke tujuan rumahnya, si ibu tadi belum pernah melihat dan mengenal Rasulullah SAW, sampai di rumahnya dia berkata, ‘Wahai anak muda, aku ingin memberi nasihat kepadamu yang berguna untukmu dunia dan akhirat. Kalau suatu waktu nanti kamu berjumpa dengan seorang pemuda yang bernama Muhammad, jangan pernah sekali-kali kamu percaya, karena dia adalah pembohong besar.’ Padahal yang dihadapinya adalah Muhammad.
Kalau kita mungkin sudah naik pitam mendengar omongan orang tua itu. Sudah dibantu malah berkata seperti itu. Tapi dakwah itu adalah akhlaq, itu yang menarik orang. Akhlaq itu lebih fasih dari mulut. Lalu Rasulullah SAW dengan tenang mengatakan, ‘Bagaimana kalau anak muda itu adalah aku?’
Perempuan tua itu kaget dan memandang Rasulullah, tidak percaya. Setelah itu ia menangis, dan akhirnya wanita itu masuk Islam karena agungnya akhlaq Rasulullah SAW. Itulah Islam.
Kalau ada orang yang membenci dakwah kita, kita temui mereka seraya minta maaf. Hal itu akan membuat mereka malu dan nanti akan penasaran. Islam itu awalnya akhlaq, pertengahan akhlaq, dan akhirnya akhlaq.
Ada ulama yang mengarang buku dan bertanya, ‘Kenapa umat Islam tersingkir dari percaturan dunia?’
Salah satu jawabannya adalah karena orang kafir zaman sekarang menggunakan akhlaqnya orang Islam, dan sebaliknya orang Islam menggunakan akhlaq orang kafir. Coba perhatikan bagaimana perilaku orang di jalan raya, bagaimana akhlaq mereka,” kata Habib Ahmad.
Menurutnya, dakwah itu harus bersatu dari semua pihak, baik itu donatur, media, kekuasaan, semuanya harus bersatu. Media jangan hanya diisi oleh hal-hal yang dangkal, karena pengaruh media sangat luar biasa. Banyak masyarakat yang tidak tahu hal-hal elementer dalam agama, orang sekarang kan hanya ingin tahu yang populer, misalnya seperti perbedaan pendapat kelompok-kelompok. Bagaimana urusan akan beres kalau hal yang mendasar mereka tidak lakukan, ingin rizqi lancar dan berkah tapi shalat tidak pernah. Kita butuh kesabaran dan kebersamaan dalam dakwah.
Berbicara tentang kesabaran, manusia yang paling sabar adalah Rasulullah SAW. “Kunci kesabaran itu ingat kesabaran Rasulullah SAW saat berdakwah, diapakan saja beliau sabar. Jangan hanya karena diomongin lalu ada yang berhenti berdakwah.
Kita harus sadar, Islam itu satu. Kalau Islam bentrok, pasti ada munafik atau kafir yang melakukan adu domba. Tujuannya, tidak ingin Islam damai, ingin agar Islam hancur.
Kita harus introspeksi, mari kita pikirkan diri kita, mari belajar dari ulama-ulama terdahulu dalam menghormati ulama yang berbeda pendapat, bagaimana akhlaq mereka menghormati yang berbeda pendapat.
sumber: majalah alkisah
Jumat, Agustus 16, 2013
Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf
Habib Idrus
bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin Abdullah bin Husein bin Salim
bin Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Abu Bakar Aljufri bin
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Alwi bin Muhammad bin Alwi
bin Ali bin Muhammad Faqqqih Al-Muqaddam bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad
Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali AL-‘Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq
bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi
Thalib suami Fatimah Azzahrah binti Rasulullah shallahu alaihi wa
sallam.
Habib Idrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang fatwa-fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya Al-Imam Al-habib Abdurrahman Al-Masyhur.
Tatkala Habib Idrus menginjak usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.
Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah. Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau.
Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang kemudian dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun.
Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Habib Idrus bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Habib Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib Idrus memilih hijrah ke Indonesia.
Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi periode sekarang.
Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Habib Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah di kota Palu.
Setibanya di Manado, Habib Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu.
Dalam
perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib
Idrus. Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali.
Hal ini karena Habib Idrus mengadaptasi sistem pendidikan arab yang
pada umumnya tidak memungut biaya kepada para muridnya. Sehingga para
murid lebih fokus dalam belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para
guru dan staf sekolah dari hasilnya berdagang.
Habib Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya. Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu itu pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara.
Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat. Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi- sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Habib Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.
Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di kubur.
Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat danYayasan Al-khairaat, dibentuk pula Wanita Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Sumber: Ahlulkisa
Habib Idrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang fatwa-fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya Al-Imam Al-habib Abdurrahman Al-Masyhur.
Tatkala Habib Idrus menginjak usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.
Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah. Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau.
Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang kemudian dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun.
Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Habib Idrus bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Habib Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib Idrus memilih hijrah ke Indonesia.
Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi periode sekarang.
Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Habib Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah di kota Palu.
Setibanya di Manado, Habib Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu.
Dalam
perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib
Idrus. Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali.
Hal ini karena Habib Idrus mengadaptasi sistem pendidikan arab yang
pada umumnya tidak memungut biaya kepada para muridnya. Sehingga para
murid lebih fokus dalam belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para
guru dan staf sekolah dari hasilnya berdagang.Habib Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya. Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu itu pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara.
Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat. Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi- sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Habib Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.
Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di kubur.
Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat danYayasan Al-khairaat, dibentuk pula Wanita Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Sumber: Ahlulkisa
Senin, Mei 27, 2013
sunan kalijaga
Masjid Sunan Kalijaga ini berdiri di tengah-tengah masyarakat santri.
Beberapa meter di sebelah timur Kompleks Makam Sunan Kalijaga dan
keluarganya, di Kadilangu, Demak. Di situ terdapat madrasah dinniyah dan
TPA.
Sejauh ini, tidak diperoleh data akurat kapan persisnya masjid kuno ini dibangun untuk pertama kali. Namun, berdasarkan cerita mulut ke mulut, masjid itu dibangun Sunan Kalijaga pada suatu malam dan selesai malam itu juga, sebelum dilaksanakan shalat Subuh berjamaah pada tahun 1479 M. Wallahu ’alam.
Yang jelas, menurut prasasti yang tersimpan di sana, masjid itu mengalami renovasi pertama kali pada 1564 M oleh Pangeran Wijil. Namun, tidak pula terlacak Pangeran Wijil keberapa di antara lima Pangeran Wijil yang tercatat dalam sejarah....
Sunan Kalijaga hidup di zaman Kerajaan Islam Demak (sekitar abad ke-15). Semasa kecil, ia bernama Raden Said. Menurut hikayat, ia juga memiliki sejumlah nama penggilan, seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, atau Raden Abdurrahman. Menurut beberapa kalangan, dialah wali yang, karena memperoleh banyak julukan itu, namanya paling banyak disebut di kalangan masyarakat Jawa. Namun demikian, ia lebih dikenal dengan sebutan Kalijaga.
Memang terdapat beragam versi yang menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Berbagai sumber menyebutnya bahwa Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450 M. Kebanyakan masyarakat Cirebon berpendapat, nama “Kalijaga” berasal dari Dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Tapi kalangan masyarakat Jawa mengaitkan asal-usul namanya dengan kegemaran wali ini berendam (kungkum) di sungai (kali) atau “jaga kali”.
Pendapat lain menyebutkan, nama itu tidak diambil secara asal-asalan saja. Dipercaya, istilah itu berasal dari kata “qadli dzaqa”, yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Qadli, artinya pelaksana, penghulu; sedangkan dzaqa, artinya membersihkan. Jadi qodli dzaqa, atau yang kemudian, menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga, artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan atau kesucian dan kebenaran agama Islam.
Ayahnya adalah Arya Wilatikta, adipati Tuban, keturunan tokoh pemberontak Majapahit, Ranggalawe. Pada masa itu, Arya Wilatikta, yang leluhurnya beragama Hindu, diperkirakan telah memeluk Islam. Dalam riwayat dikatakan, Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Beliau dikaruniai tiga orang anak: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. -
Ketimpangan Sosial
Alkisah, Sunan Kalijaga sebenarnya mengenal ajaran Islam sejak kecil. Ia belajar dari seorang guru agama asal Kadipaten Tuban. Dari pelajaran-pelajarannya inilah, dia mulai melihat dan merasakan beragam kontradiksi kehidupan. Misalnya, ia menyadari bagaimana dirinya selama ini hidup berkecukupan di lingkungan keraton, sementara di sekitarnya kehidupan rakyat justru perih dan serba kekurangan.
Tak tahan melihat kondisi itu, Raden Said memberanikan diri bertanya kepada ayahnya mengenai hal-ihwal ketimpangan sosial tersebut. Sang ayah menjawab bahwa semua merupakan kenyataan hidup. Dan itu wajar, terutama saat Kerajaan Majapahit membutuhkan dana banyak guna meredam pemberontakan.
Jawaban itu tidak memuaskan Raden Said. Sehingga, ketika beranjak dewasa, secara diam-diam ia mulai bergaul dan menolong rakyat jelata. Bahkan dia pun berani mengambil sebagian barang di gudang milik ayahnya, dan membagikannya kepada rakyat yang membutuhkan. Lama-kelamaan, ulahnya ini diketahui oleh orangtuanya, hingga ia dihukum cambuk 200 kali dan disekap beberapa hari.
Tetapi, hukuman tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus membantu rakyat kecil. Ia kemudian pergi dari rumah tanpa pamit. Syahdan, kepada para sahabat-sahabatnya, ia menyatakan tidak bisa menerima realitas ketimpangan sosial yang ada di depan matanya. Maka ia pun lantas mencuri barang milik orang kaya, yang dilakukannya dengan memakai topeng. Hasil jarahannya dia bagikan kepada rakyat jelata.
Namun tak lama, ia tertangkap dan terpaksa diusir oleh ayahnya dari kadipaten. Ia lantas memilih tinggal di hutan Jatiwangi. Syahdan ia tetap melakukan kegiatan yang sama: merampok harta orang kaya dan membagikannya kepada kalangan fakir miskin. Masyarakat akhirnya menjulukinya “Brandal Lokajaya”.
Kegiatannya ini berakhir tatkala, suatu hari, ia berjumpa dengan Sunan Bonang. Dalam pertemuan tersebut ia memperoleh banyak pelajaran tentang filosofi hidup. Dan, karena ketertarikannya pada pelajaran Sunan Bonang, ia ikut ke Tuban untuk nyantri, memperdalam agama Islam.
Selepas menuntut ilmu, Raden Said berubah seratus delapan puluh derajat: ia menjadi pengembara untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.
Kabarnya, Sunan Kalijaga dikaruniai umur panjang, umurnya mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian, ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan Kerajaan Pajang (1546), serta awal Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.
Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon. Di samping tentu saja Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (dari sisa kayu) yang merupakan salah satu dari empat tiang utama (sakaguru) Masjid Demak adalah salah satu karamah Sunan Kalijaga.
-
Dai Kelana
Pola dakwahnya juga simpatik. Sejalan dengan gaya dakwah mentor, guru, dan sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang, wali yang satu ini pun memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat toleran pada budaya lokal. Beliau yakin, masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya secara frontal. Karenanya, diperlukan pendekatan bertahap: mengikuti mereka sambil mempengaruhinya.
Pada hemat Sunan Kalijaga, kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya jika Islam sudah dipahami. Karenanya, beliau kemudian menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beliaulah pencipta berbagai tradisi, seperti baju taqwa, Perayaan Sekatenan, Grebeg Maulud, bahkan berbagai lakon wayang – di antaranya Layang Kalimasada.
Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai seorang wali yang sangat merakyat, sehingga sering dijuluki sebagai muballigh keliling atau dai kelana. Tak cuma wong cilik yang suka mendengar wejangannya, kaum bangsawan dan cendekiawan pun amat simpati kepada beliau, karena caranya mensyiarkan agama Islam yang disesuaikan dengan keadaan dan zaman. Namun, terlepas dari sikap tolerannya, Sunan Kalijaga juga seorang wali yang kritis.
Metode dakwah yang terkesan sinkretis tersebut kemudian terbukti sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogya).
Tahun wafat Sunan Kalijaga tak tercatat. Beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, termasuk daerah Kabupaten Demak, yang terletak di sebelah timur laut kota Bintoro Demak.
Sejauh ini, tidak diperoleh data akurat kapan persisnya masjid kuno ini dibangun untuk pertama kali. Namun, berdasarkan cerita mulut ke mulut, masjid itu dibangun Sunan Kalijaga pada suatu malam dan selesai malam itu juga, sebelum dilaksanakan shalat Subuh berjamaah pada tahun 1479 M. Wallahu ’alam.
Yang jelas, menurut prasasti yang tersimpan di sana, masjid itu mengalami renovasi pertama kali pada 1564 M oleh Pangeran Wijil. Namun, tidak pula terlacak Pangeran Wijil keberapa di antara lima Pangeran Wijil yang tercatat dalam sejarah....
Sunan Kalijaga hidup di zaman Kerajaan Islam Demak (sekitar abad ke-15). Semasa kecil, ia bernama Raden Said. Menurut hikayat, ia juga memiliki sejumlah nama penggilan, seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, atau Raden Abdurrahman. Menurut beberapa kalangan, dialah wali yang, karena memperoleh banyak julukan itu, namanya paling banyak disebut di kalangan masyarakat Jawa. Namun demikian, ia lebih dikenal dengan sebutan Kalijaga.
Memang terdapat beragam versi yang menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Berbagai sumber menyebutnya bahwa Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450 M. Kebanyakan masyarakat Cirebon berpendapat, nama “Kalijaga” berasal dari Dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Tapi kalangan masyarakat Jawa mengaitkan asal-usul namanya dengan kegemaran wali ini berendam (kungkum) di sungai (kali) atau “jaga kali”.
Pendapat lain menyebutkan, nama itu tidak diambil secara asal-asalan saja. Dipercaya, istilah itu berasal dari kata “qadli dzaqa”, yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Qadli, artinya pelaksana, penghulu; sedangkan dzaqa, artinya membersihkan. Jadi qodli dzaqa, atau yang kemudian, menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga, artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan atau kesucian dan kebenaran agama Islam.
Ayahnya adalah Arya Wilatikta, adipati Tuban, keturunan tokoh pemberontak Majapahit, Ranggalawe. Pada masa itu, Arya Wilatikta, yang leluhurnya beragama Hindu, diperkirakan telah memeluk Islam. Dalam riwayat dikatakan, Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Beliau dikaruniai tiga orang anak: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. -
Ketimpangan Sosial
Alkisah, Sunan Kalijaga sebenarnya mengenal ajaran Islam sejak kecil. Ia belajar dari seorang guru agama asal Kadipaten Tuban. Dari pelajaran-pelajarannya inilah, dia mulai melihat dan merasakan beragam kontradiksi kehidupan. Misalnya, ia menyadari bagaimana dirinya selama ini hidup berkecukupan di lingkungan keraton, sementara di sekitarnya kehidupan rakyat justru perih dan serba kekurangan.
Tak tahan melihat kondisi itu, Raden Said memberanikan diri bertanya kepada ayahnya mengenai hal-ihwal ketimpangan sosial tersebut. Sang ayah menjawab bahwa semua merupakan kenyataan hidup. Dan itu wajar, terutama saat Kerajaan Majapahit membutuhkan dana banyak guna meredam pemberontakan.
Jawaban itu tidak memuaskan Raden Said. Sehingga, ketika beranjak dewasa, secara diam-diam ia mulai bergaul dan menolong rakyat jelata. Bahkan dia pun berani mengambil sebagian barang di gudang milik ayahnya, dan membagikannya kepada rakyat yang membutuhkan. Lama-kelamaan, ulahnya ini diketahui oleh orangtuanya, hingga ia dihukum cambuk 200 kali dan disekap beberapa hari.
Tetapi, hukuman tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus membantu rakyat kecil. Ia kemudian pergi dari rumah tanpa pamit. Syahdan, kepada para sahabat-sahabatnya, ia menyatakan tidak bisa menerima realitas ketimpangan sosial yang ada di depan matanya. Maka ia pun lantas mencuri barang milik orang kaya, yang dilakukannya dengan memakai topeng. Hasil jarahannya dia bagikan kepada rakyat jelata.
Namun tak lama, ia tertangkap dan terpaksa diusir oleh ayahnya dari kadipaten. Ia lantas memilih tinggal di hutan Jatiwangi. Syahdan ia tetap melakukan kegiatan yang sama: merampok harta orang kaya dan membagikannya kepada kalangan fakir miskin. Masyarakat akhirnya menjulukinya “Brandal Lokajaya”.
Kegiatannya ini berakhir tatkala, suatu hari, ia berjumpa dengan Sunan Bonang. Dalam pertemuan tersebut ia memperoleh banyak pelajaran tentang filosofi hidup. Dan, karena ketertarikannya pada pelajaran Sunan Bonang, ia ikut ke Tuban untuk nyantri, memperdalam agama Islam.
Selepas menuntut ilmu, Raden Said berubah seratus delapan puluh derajat: ia menjadi pengembara untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.
Kabarnya, Sunan Kalijaga dikaruniai umur panjang, umurnya mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian, ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan Kerajaan Pajang (1546), serta awal Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.
Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon. Di samping tentu saja Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (dari sisa kayu) yang merupakan salah satu dari empat tiang utama (sakaguru) Masjid Demak adalah salah satu karamah Sunan Kalijaga.
-
Dai Kelana
Pola dakwahnya juga simpatik. Sejalan dengan gaya dakwah mentor, guru, dan sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang, wali yang satu ini pun memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat toleran pada budaya lokal. Beliau yakin, masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya secara frontal. Karenanya, diperlukan pendekatan bertahap: mengikuti mereka sambil mempengaruhinya.
Pada hemat Sunan Kalijaga, kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya jika Islam sudah dipahami. Karenanya, beliau kemudian menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beliaulah pencipta berbagai tradisi, seperti baju taqwa, Perayaan Sekatenan, Grebeg Maulud, bahkan berbagai lakon wayang – di antaranya Layang Kalimasada.
Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai seorang wali yang sangat merakyat, sehingga sering dijuluki sebagai muballigh keliling atau dai kelana. Tak cuma wong cilik yang suka mendengar wejangannya, kaum bangsawan dan cendekiawan pun amat simpati kepada beliau, karena caranya mensyiarkan agama Islam yang disesuaikan dengan keadaan dan zaman. Namun, terlepas dari sikap tolerannya, Sunan Kalijaga juga seorang wali yang kritis.
Metode dakwah yang terkesan sinkretis tersebut kemudian terbukti sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogya).
Tahun wafat Sunan Kalijaga tak tercatat. Beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, termasuk daerah Kabupaten Demak, yang terletak di sebelah timur laut kota Bintoro Demak.
Senin, April 22, 2013
syeikh samman
Tarekat Sammaniyah adalah tarekat yang sangat terkenal di Indonesia. Pendirinya adalah Muhammad bin Abdul Karim Al-Madani Al-Syafi’i Al-Samman. Ia, yang lebih populer dipanggil ”Syaikh Samman”, adalah seorang ulama besar dan sekaligus sufi.
Tarekat Sammaniyah muncul di Aceh, Sumatera Barat, Banten dan Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta beberapa kantung muslim di Indonesia. Tarekat ini meninggalkan banyak warisan kepada bangsa Indonesia, di antaranya Tari Samman, yang di dalamnya menggelora semangat berjihad melawan penjajah.
Magnet bagi para Pencari Ilmu
Siapa sebenarnya Syaikh Samman? Dalam kitab manaqib Syaikh Al-Waliy Al-Syahir Muhammad Samman maupun hikayat Syaikh Muhammad Samman, disebutkan, pria alim ini lahir di Madinah dari keluarga Quraisy pada 1130/1718.
Sejak kecil terdapat keganjilan dalam kehidupannya.
Suatu ketika orangtuanya menghidangkan makanan untuk Syaikh Samman kecil di atas meja makan. Beberapa waktu kemudian, orangtuanya membuka tutup saji dan mendapatkan makanan itu utuh tak dimakan. Setiap kali orangtuanya menghidangkan makanan untuknya, mereka selalu mendapati makanan itu tak berkurang sedikit pun.
Karena merasa kawatir dengan perilaku anaknya tersebut, orangtuanya melaporkan kepada guru yang mendidik anaknya.
Guru itu menjawab, “Jangan khawatir, anakmu itu akan menjadi seorang wali.”
Jika Syaikh Samman tidur dengan bantal empuk, ia selalu berkeluh kesah seperti orang sakit. Sementara ketika orangtuanya tidur, ia bangun tengah malam dan mengambil air wudhu, sedang kala itu musim dingin di Madinah. Ia selalu shalat hingga datang waktu subuh.
Setelah shalat Subuh, ia membaca ratib sampai matahari terbit. Kemudian ia shalat sunnah Isyraq.
Menjelang siang hari, ia shalat Dhuha.
Setiap hari ia berpuasa sunnah dan melakukan riyadhah.
Rutinitas kegiatan ini dilakukan Syaikh Samman pada masa sebelum baligh.
Semasa kanak-kanak ia belajar agama kepada para ulama yang berada di sekitar Madinah dan dalam usia delapan tahun ia sudah hafal Al-Qur’an.
Ketika remaja dan setelah menjadi guru di Madrasah Sanjariyah Madinah, ia belajar hukum Islam kepada lima ulama fiqih terkenal: Muhammad Ad-Daqqaq, Sayyid Ali Al-Aththar, Ali Al-Kurdi, Abdul Wahhab Al-Thanthawi (di Makkah), dan Said Hilal Al-Makki. Ia juga pernah berguru kepada Muhammad Hayyat, seorang muhaddits dan pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.
Ketika mengaji kepada Muhammad Hayyat, ia bertemu murid lain yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Wahabbiyah.
Syaikh Samman juga berguru kepada Muhammad Sulaiman Al-Kurdi Al-Syafi’i (1125-1194/1713-1780), yang juga guru bagi sekelompok murid Melayu-Indonesia pada abad ke-18. Mungkin hal ini yang kemudian membentuk dirinya menjadi pengikut Madzhab Syafi’iyah.
Ia juga berguru kepada Abu Thahir Al-Kurani, Abdullah Al-Bashri, dan Musthafa bin Kamaluddin Al-Bakri. Di antara gurunya itu, yang disebutkan terakhir ini rupanya yang paling mengesankan. Musthafa Al-Bakri (1749), yang juga syaikh Tarekat Khalwatiyah, adalah guru untuk bidang tasawuf dan tauhid. Ia berasal dari Damaskus dan menjadi pengarang yang sangat produktif. Pada waktu muda, Syaikh Samman terpengaruh Tarekat Khalwatiyah dan karena itulah ia menambah ilmu dari dua guru Khalwatiyah, yaitu Muhammad bin Salim Al-Hifnawi dan Muhammad Al-Kurdi.
Akhirnya Syaikh Samman membuka cabang Tarekat Khalwatiyah, tetapi ia memberikan nama tarekat itu ”Al-Muhammadiyah”, yang berarti jalan Nabi Muhammad SAW.
Gabungan antara Khalwatiyah dan Sammaniyah inilah yang kemudian menarik para pengikut tarekat ini di Sulawesi Selatan. Para pengikut Syaikh Yusuf Al-Makassari kini menamakan tarekatnya ”Khalwatiyah Sammaniyah”. Syaikh Yusuf sendiri adalah pengikut Tarekat Khalwatiyah.
Sebenarnya Syaikh Samman tidak hanya belajar Tarekat Khalwatiyah, ia juga belajar tarekat lainnya, seperti Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan Syadzaliyah. Semua tarekat itu mempengaruhi tarekat yang kemudian didirikannya, yaitu Tarekat Sammaniyah.
Syaikh Samman lebih banyak tinggal di Madinah. Semula ia mengajar di Madrasah Sanjariyah dan kemudian menjadi penjaga makam Nabi Muhammad SAW. Dua posisi ini menjadikan dirinya tokoh yang paling banyak ditemui kaum muslimin di seluruh dunia.
Sebagai tokoh tarekat yang zuhud, shalih, keramat, dan dengan segala karamah yang ada pada dirinya, ia menjadi magnet bagi para tamu untuk menimba ilmunya. Peziarah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia meminta untuk dijadikan muridnya. Syaikh Samman sendiri menganggap, kedatangan tamu-tamu itu sebagai karunia bagi dirinya sebagai penjaga makam Nabi.
Dalam Tarekat Sammaniyah, Syaikh Samman menyusun ratib, wirid-wirid, tawasul, serta berbagai suluk yang dipesankan kepada murid-muridnya dalam jama’ah tarekat dzikir Samman.
Tarekat ini kemudian menyebar hingga wilayah Sudan, Ethiopia, dan Asia Tenggara.
Dari sekian banyak murid Syaikh Samman, yang paling menonjol di antaranya adalah Syaikh Shiddiq bin Umar Khan Al-Madani, Syaikh Abdulrahman bin Abdul Aziz Al-Maghribi, Syaikh Abdul Karim (putra Syaikh Samman), Maulana Sayyid Ahmad Al-Baghdadi, Shuruddin Al-Qabuli, dan Abdul Wahhab Afifi Al-Mishri. Sementara murid yang berasal dari Indonesia di antaranya Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdulrahman Al-Fathani, dan tiga orang dari Palembang: Syaikh Abdul Shamad, Tuan Haji Ahmad, dan Muhyiddin bin Syihabuddin. Ada satu lagi murid Sammaniyah yang terkenal yaitu Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari, pengarang kitab Ad-Durr Al-Nafis. Namun ia tidak bertemu langsung dengan Syaikh Samman, ia mengambil ajaran Tarekat Sammaniyah dari Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi, murid Syaikh Samman di Madinah.
Berwasilah
Syaikh Samman pernah berkata, dirinya tidak mati, hanya pindah dari dunia ke tempat yang tersembunyi, alam barzakh. Kalaupun sekiranya ia dianggap mati, ia menyarankan untuk menziarahi kuburnya dan berdzikir di sana.
Ia berpesan kepada siapa pun agar berwasilah kepadanya jika menghadapi suasana terdesak.
Saat Muqran bin Abdul Mu’in berlayar dari negeri Suez ke negeri Hijaz, kapalnya diterjang angin topan hingga hampir karam. Saat itulah ia datang menolong.
Tawasul adalah memohon berkah kepada Allah SWT melalui wasilah atau perantara. Yakni Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabat, para wuliya’, para ulama fiqih, para ahli tarekat, para ahli ma’rifat, kedua orangtua, asma-asma Allah, dan lain-lain.
Tawasul lazim dipraktekkan dalam kegiatan tarekat. Begitu juga dalam Tarekat Sammaniyah. Dengan bersandar pada sebuah hadits yang berbunyi Dzikr al-awliya’ ’tanzil al-rahmah, yang artinya, ”Sebutlah karamah para wali Allah, maka akan turun rahmah.”
Syaikh Samman memang seorang sufi. Meski demikian, ia amat kuat dalam memegang syari’at.
Syaikh Samman sangat produktif menulis kitab, seperti Al-Futuhat Ilahiyyat fi Tawajjuhat al-Ruhiyyat, Al-Istighasat, Risalah al-Samman fi adz-Dzikr wa Kayfiyyatihi, Shalawat Nur Muhammad (Shalawat Sammaniyah), Al-Ainiyah.
Selain itu, banyak juga kitab Tarekat Sammaniyah yang dikarang oleh murid dan pengikutnya. Seperti Hikayat Syaikh Muhammad Samman, yang ditulis oleh Muhyiddin bin Syihabudiin Al-Falimbani, Ad-Durr Al-Nafis, karya Muhammad Nafis Al-Banjari.
Syaikh Samman meninggal pada hari Rabu, 2 Dzulhijjah 1189 H/1775 M, dalam usia 57 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Baqi’, Madinah.
SB, dari berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)
