koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Tampilkan postingan dengan label majalah alkisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah alkisah. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 03, 2014

K.H. Achmad Burhanuddin, Bukateja, Purbalingga

Setiap Jum’at Pahing malam Sabtu Pon, Majelis Ta’lim dan Mujahadah Nighayatul Mustaghfirin Kecamatan Buka­teja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mengadakan mujahadah akbar di Masjid Agung Nurul Falah Kecamatan Bukateja, diikuti jama’ah yang datang dari daerah Purbalingga dan sekitarnya.

Acara mujahadah itu, yang banyak di­ikuti  jama’ah Nahdlatul Ulama Keca­matan Bukateja, tidak saja diikuti warga Buka­teja, tapi juga warga nahdhliyin dari Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, Ba­nyumas dan sekitarnya.

Acara berlangsung selepas shalat Isya. Biasanya acara dimulai dengan shalat dan dzikir bersama, baru dilanjut­kan dengan mauizhah hasanah. Namun lain pada malam Sabtu tanggal 3 Mei 2013, acara mujahadah majelis dzikir Nighayatul Mustaghfirin langsung diisi dengan taushiyah oleh K.H. Achmad Bur­hanuddin, pengasuh Panti Asuhan Al-Khaerat, Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.

Dalam kesempatan itu K.H. Achmad Burhanuddin menyampaikan pentingnya bulan Rajab. Bulan Rajab itu adalah bu­lan yang amat diberkahi oleh Allah SWT, se­hingga Rasulullah SAW berdoa, ”Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan (Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).”

Selanjutnya K.H. A. Burhanuddin, yang kerap disapa oleh jama’ah ”Eyang Bur”, memberikan ijazah wirid harian pada bulan Rajab kepada jama’ah. Pada awal bulan Rajab mulai tanggal 1-10 wirid hariannya adalah Subhanal Ahadish Shamad. Pada tanggal 11-20 bulan Ra­jab wiridnya Subhanal Hayyul Qay­yum. Dan pada akhir bulan Rajab dari tanggal 21-30 Rajab wiridnya adalah Subhanal­lahur Ra’uf.

Ini adalah amalan-amalan yang baik untuk dunia dan akhirat. Inilah amalan-amalan untuk cepat mendapat ampunan dari Allah SWT. ”Mereka yang mendapat ampunan dari Allah SWT itu menjadi ca­lon penghuni surga,” kata K.H. Achmad Burhanuddin.

Pada zaman Rasulullah SAW ada orang kafir yang kaya, muda, dan gan­teng. Namanya Hidyatuts Tsalabi. Ra­sulullah SAW selalu berdoa kepada Allah SWT agar ia masuk Islam. Tak lama berselang, Hidayatuts Tsalabi men­dapat hidayah dari Allah SWT ka­rena terpesona melihat keluhuran akhlaq Rasulullah SAW, ia akhirnya mengucap syahadat. Rasulullah SAW sangat ber­bahagia. Orang kafir yang masuk Islam dijamin Allah SWT mendapat ampunan dan masuk surga.

Amalan kedua agar mendapat am­pun­an Allah SWT yakni taubat.

Amalan yang ketiga adalah beramal dengan ikhlas.

Amalan keempat yakni menyempur­na­kan wudhu pada waktu-waktu yang dingin. Misalnya pada malam hari di saat orang-orang banyak tidur.

Amalan kelima yaitu menanti shalat jama’ah setelah melakukan shalat sun­nah.

Amalan yang keenam adalah me­laku­kan puasa sunnah di bulan Rajab. ”Rasulullah SAW bahkan sering ber­puasa secara berturut-turut selama tiga bulan, mulai Rajab, Sya’ban, dan Ra­madhan, ini karena keagungan pada bu­lan-ulan itu, agar mendapat ampunan Allah SWT,” kata Eyang Bur.

Bulan Rajab, dua bulan menjelang bu­lan Ramadhan, adalah bulan taubat.

Tak terasa sudah satu setengah jam K.H. Achmad Burhanuddin menyam­pai­kan taushiyah kepada jama’ah. Sekitar pukul 21.30 acara berlanjut dengan sha­lat Hajat dan mujahadah bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar hajat-hajat jama’ah terkabul, dipimpin oleh K.H. Mukhlasin dari Majasari, Bukateja, Kabupaten Purbalingga.

Acara mujahadah di Majelis Ta’lim Nighayatul Mustaghfirin Kecamatan Bukateja ini berlangsung rutin, selapan­an hari, tiap hari Jum’at Pahing malam Sabtu Pon, dengan penceramah ber­ganti-ganti.



Siap Menghadapi Tantangan Zaman

K.H. Achmad Burhanuddin adalah so­sok yang begitu sederhana. Ia kelahir­an Bukateja 9 November 1960.

Sampai tahun 1973 ia mengenyam pendidikan dasar di Bukateja. Selepas itu ia melanjutkan pendidikan ke Pondok API Tegalrejo di bawah asuhan K.H. Abdur­rahman Chudhary sampai tingkat Tsana­wiyah. Dari tahun 1985 ia melan­jut­kan pendidikan tingkat Aliyah di Pon­pes Tang­gir, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di bawah asuhan K.H. Soim Muslih.

Putra keempat dari delapan bersau­dara H. Soleh dan Hj. Rodiyah ini, sele­pas menuntut ilmu, mulai pertengahan 1980-an mulai memberikan ta’lim di wila­yah Bukateja dan sekitarnya. Mulai ta­hun 1990 ia membuka panti asuhan anak yatim piatu di Desa Majasari, Ke­camatan Bukateja, Al-Khaerat. Saat ini panti Al-Khaerat mempunyai lembaga Ta­man Pendidikan Al-Qur’an Al-Huda khusus bagi santri-santri yang ingin meng­hafal Al-Qur’an.

Panti Al-Khaerat ini memang khusus untuk anak yatim piatu dan santri-santri yang ingin belajar agama. Yayasan panti ini di bawah binaan Habib Ali bin Umar Alquthban, Syuriah Majelis Wakil Ca­bang Nahdlatul Ulama Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Anak-anak asuhannya memang di­didik bekal agama yang kuat agar men­jadi generasi bangsa yang siap meng­hadapi tantangan zaman. Selain dididik materi agama Islam, seperti nahwu, sha­raf, balaghah, akhlaq, tauhid, fiqih, juga dibekali dengan pendidikan keterampil­an, yakni ilmu-ilmu cara berkebun, ber­tani, beternak, termasuk perikanan.

Kepada santri senior, bapak empat putra ini, satu perempuan dan tiga laki-laki, mengajar kitab-kitab berat, Ihya Ulumiddin, Tafsir Jalalayn, Fathul Wah­hab, dan Shahih Bukhari.

Menurut ketua Musta’syar Jami’ah Ma­jelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purba­lingga, Jawa Tengah, ini tantangan dak­wah sekarang semakin berat karena per­gaulan bebas memang merajalela, khu­susnya di kalangan generasi muda. “Ka­renanya peran majelis ta’lim, masjid, dan pesantren menjadi sangat penting, untuk memfilter arus kebudayaan global,” kata­nya menutup perbincangan.

sumber:
Aji Setiawan, Bukateja
majalah alkisah.com

Senin, Oktober 14, 2013

sebuah pelajaran hikmah dari mendawamkan thoharoh


www.majalah-alkisah.comHendaklah setiap kita, bila hendak mengambil wudhu, mengingat-ingat ungkapan ini. “Aku mati dalam keadaan suci.”
Segala puji hanya milik Allah, Yang mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga senantiasa tercurahkan atas imam para ahli thaha­rah, penghulu kami, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat­nya.
Pada pelajaran kali ini kita telah sam­pai pada pelajaran tentang kesiapan un­tuk melakukan penyucian lahir, setelah penjelasan tentang penyucian hati dari berbagai penyakitnya. Meskipun se­sung­guhnya penjelasan tentang penya­kit-penyakit hati, terutama tentang induk dari segala penyakit hati, yakni al-kibr (sombong), ar-riya’ (riya’), dan al-hasad (dengki), tidaklah cukup tiga majelis yang telah lalu untuk menguraikannya. Karena sesungguhnya kesemuanya itu merupakan inti masalah yang dihadapi para peniti jalan menuju Allah SWT, bahkan inti masalah yang dihadapi umat, dan bahkan merupakan inti masalah yang dihadapi kemanusiaan di zaman kita sekarang ini.
Tujuan dari pelajaran tentang induk-induk penyakit hati ini tidak lain adalah memberikan penerangan terhadap inti-inti permasalahan perjalanan menuju Allah SWT, yang dari sana sempurnalah penitian di atas bab demi bab perma­sa­lahan-permasalahan perjalanan menuju Allah SWT. Dan selanjutnya di belakang setiap majelis dan pelajaran itu tidak lain adalah cabang-cabang, yang, bila saja hati kita sadar dan tidak terlelap untuk melakukan perjalanan menuju Allah SWT, niscaya kita merasakan kebutuh­an yang teramat sangat kepada setiap cabang itu.
Dan pelajaran-pelajaran kita terda­hulu dimaksudkan untuk menghilangkan kesamaran dalam pembahasan-pemba­hasan penting itu. Akan tetapi hendaklah kalian kembali dan mengkaji kitab-kitab yang dikhususkan dalam hal ini. Ini ber­arti setiap orang hendaknya memiliki ke­sadaran terhadap satu hal, yakni di an­tara peranan para pendahulu dari ka­langan salafush shalih dan generasi se­telah mereka adalah bahwa mereka te­lah mengkhususkan ilmu tentang perja­lanan menuju Allah SWT dan penyucian diri sebagai satu disiplin ilmu tersendiri.
Itulah sebabnya, seorang penuntut ilmu dan juga peniti jalan menuju Allah SWT, sebagaimana ia mempelajari ilmu, sebut saja di antaranya ilmu fiqih, tauhid, ushul, hadits, ulumul Qur’an, dan ca­bang-cabangnya, seperti ilmu ushul taf­sir, tafsir, asbabun nuzul, nasikh man­sukh, semestinya pun memperdalam ilmu tentang penyucian diri, karena ter­amat sentral, penting, dan tingginya ke­dudukan makna penyucian diri di dalam agama kita.
Seratus tahun atau seratus limah pu­luh tahun ke belakang telah tersebar me­rata adanya pengesampingan terhadap ilmu ini di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Inilah yang kemudian men­jadi salah satu penyebab dari kemun­dur­an umat. Karenanya kembali kepada ilmu ini adalah satu kemestian. Ilmu yang memberikan perhatian terhadap penyu­cian hati.
Namakan ilmu ini ilmu ihsan, atau na­makanlah ia ilmu tazkiah, dan atau apa pun itu. Kami tidak ingin masuk dalam perdebatan mengenai nama bagi ilmu ini, karena yang kami inginkan adalah apa yang dinamakan dengannya itu, bukan namanya.
Yang jelas, setelah pelajaran penting tentang perbaikan hati dan penyucian­nya setelah menutup jendela-jendela yang darinya masuk berbagai keburukan dan kegelapan ke dalam hati, selan­jut­nya yang harus menjadi perhatian kita berikutnya adalah penyucian lahir, ka­rena di antara keagungan agama kita adalah bahwa Islam membangun manu­sia seutuhnya, lahir dan bathinnya. Islam tidak menghendaki hanya bangunan lahir yang kokoh, sementara bathinya rapuh. Dan tidak pula hanya bangunan bathinya yang kokoh, sedangkan lahir­nya rapuh. Islam membangun manusia lahir dan bathin.
Yang dimaksud dengan penyucian lahir adalah kebersihan anggota tubuh dan pakaian, yakni kebersihannya dari najis dan dari kotoran. Nabi SAW ber­sabda, “Sesungguhnya Allah Maha­indah, mencintai keindahan, Maha­bersih, mencintai kebersihan.”
Allah SWT berfirman, “Pakailah pa­kai­anmu yang indah di setiap (mema­suki) masjid.” — QS Al-A`raf: 31.
Dari sini kita diajari bahwa seorang mukmin tidaklah rela berada dalam ke­adaan yang pada tubuhnya atau pakai­annya terdapat sesuatu yang najis, ka­rena seorang mukmin senantiasa dalam keadaan hadir bersama Allah SWT.
Wahai murid, sangat penting bagimu bahwa engkau senantiasa dalam keada­an hadir bersama Allah SWT dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya dan merasakan agungnya berhubungan de­ngan-Nya. Najis dan apa yang bersama­nya dari kotoran yang menempel di ba­dan atau mengotori pakaian, yang diri kita sendiri merasa jijik terhadapnya, adalah juga termasuk tempat masuknya kegelapan ke dalam diri manusia. Najis memiliki hubungan dengan kegelapan, sebagaimana kebersihan memiliki hu­bungan dengan cahaya.
Karenanya, pertama, tidaklah patut bagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT untuk berada dalam satu kondisi pakaian, badan, atau tempatnya terkotori najis. Jika terkena sesuatu dari najis, hendaklah segera membersih­kan­nya dengan membasuhnya. Ini selanjut­nya mengingatkan kita kepada satu mak­na bahwa kita butuh mempelajari hukum syari’at dalam muamalah kita dengan kebersihan dan najis, karena sesung­guh­nya perjalanan menuju Allah SWT ti­dak akan dapat dilakukan dengan ke­bodohan. Ulama berkata, “Tidaklah sekali-kali Allah menjadikan walinya dari seorang yang bodoh, dan jika pun Allah mengambilnya niscaya Dia mengajari­nya ilmu.”
Itulah sebabnya, kita teramat butuh untuk memberikan perhatian yang besar terhadap kebersihan lahir.
Selain itu kita pun teramat butuh mem­berikan perhatian terhadap sisi maknawi dari kebersihan lahir, yakni terangkatnya hadats besar (al-hadats al-akbar) dan hadats kecil (al-hadats al-ashghar). Maknanya, seorang murid tidaklah rela apabila berlalu darinya satu saat sedangkan dirinya berada dalam keadaan berhadats.
Karenanya, apabila ia terkena ha­dats kecil yang dapat membatalkan wu­dhu, ia bersegera mengambil wudhu; dan apabila ia terkena hadats besar yang mewajibkan mandi, ia bersegera mandi untuk menghilangkannya. Jika ia menggauli istrinya atau terbangun dari tidur dalam keadaan junub, ia bersegera mandi untuk menghilangkannya.
Dan jika ia menghadapi sesuatu yang menyebabkan mengakhirkan man­dinya, minimal ia melakukan wudhu. Demikian pula pada keadaan-keadaan berat dan darurat, seperti merasakan le­tih yang teramat berat, sehingga tidak dapat segera mandi karenanya, maka hendaklah ia bertayammum, sekalipun pada tembok (yang berdebu), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyi­dah Aisyah RA. Di saat-saat seperti itu, paling tidak jangan engkau tinggalkan me­nempelkan telapak tanganmu di tem­bok dengan niat tayammum. Kemudian engkau bertayammum agar tidaklah engkau tidur melainkan engkau berada pada salah satu bentuk thaharah. Ada­pun bila engkau hendak keluar dari ru­mah, tidaklah patut engkau keluar dari rumahmu melainkan dalam keadaan suci dan di atas thaharah.
Di antara manfaat dari mudawamah thaharah (senantiasa dalam keadaan suci) adalah, pertama, penjagaan dan pemeliharaan.
Salah seorang bertanya kepada saya, apakah yang dapat memperkuat dan mem­perbanyak datangnya lintasan-lintasan kebajikan yang datang dari Allah SWT sebagai ilham atau dari bisikan (lummah) malaikat, dan dapat memi­ni­malisir datangnya lintasan keburukan yang datang dari setan, nafsu, atau se­bagai istijraj.
Ingatkah kalian tentang pelajaran yang telah lalu? Sekarang seseorang ber­tanya tentang hal itu. Bagaimana lintasan-lintasan kebaikan itu akan dapat bertambah?
Salah satu jawaban dari pertanyaan ini adalah apa yang tengah kita bicara­kan pada pelajaran kali ini. Seorang mu­rid yang senantiasa menjaga dirinya da­lam keadaan suci akan memperbanyak datangnya lintasan-lintasan kebaikan ke dalam hatinya dan meminimalisir da­tang­nya lintasan keburukan.
Pada saat seorang murid, peniti dan pencari jalan dan kedekatan kepada Allah SWT, keadaannya tidak dalam wudhu dan suci, akan banyak datang kepadanya lintasan-lintasan keburukan, bisikan setan, dan bisikan hawa nafsu, yang terus semakin kuat lintasan-lintas­an itu di dalam hatinya. Akan tetapi, bila keadaannya senantiasa berada dalam wudhu dan thaharah, selama itu pula ia hidup dalam lingkaran cahaya, yang akan memeliharanya dan melindunginya dari masuknya lintasan-lintasan buruk ke dalam hatinya. Memeliharanya pula dari gangguan setan, baik setan manusia ataupun jin. Menjaganya dari dengki dan juga memeliharanya dari sihir. Inilah pen­jagaan dan pemeliharaan yang sem­purna bagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT. Yakni senantiasa berada dalam keadaan wudhu dan tha­harah.
Kedua, penguat keyakinan di dalam hati.
“Adakah pengaruhnya dari air yang aku gunakan untuk membasuh wajahku, kedua tanganku hingga kedua siku, mengusap rambutku, dan membasuh kedua kakiku hingga mata kaki, terhadap bertambah kuatnya keyakinan, yang merupakan dasar agama?”
Para ulama menjawab, “Benar.”
Seseorang yang senantiasa ber­sungguh-sungguh menjaga keadaannya dalam wudhu, ia tengah mempersiapkan dirinya untuk dapat bertemu Allah SWT di setiap saat dan waktunya. Orang yang senantiasa bersungguh-sungguh men­jaga keadaannya dalam thaharah, ber­arti ia telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu Allah SWT di setiap saat dari waktu-waktunya.
Di antara perkara yang senantiasa para guru kami memotivasinya dan mem­bangkitkan semangat kita untuk selalu menjaga thaharah dan selalu berada dalam keadaan thaharah adalah bahwa mereka berkata, “Kapan pun datang ke­matian kepadamu, engkau dalam keada­an suci.”
Itulah sebabnya, hendaklah setiap kita, bila hendak mengambil wudhu, meng­ingat-ingat ungkapan ini. “Aku mati dalam keadaan suci.” Bila seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT senan­tiasa mengingat mati, hatinya terpenuhi ingatan akan kematian dan kesiapan un­tuk mati, maka niscaya dunia tidak akan dapat mempermainkan hatinya, setan pun tidak dapat menggodanya, dan naf­su pun tidak akan dapat mendiktenya.
Bila pun sesekali ia tersalah, niscaya ia akan segera ingat dan sadar untuk ke­mudian bertaubat kepada Allah SWT, ka­rena ia selalu dalam keadaan meng­ingat kematian. Dan orang yang berbuat amal karena mengingat akan kematian, sesung­guhnya ingat akan kematian itu telah men­jadikannya bangkit untuk se­nan­tiasa ber­buat amal dan amal. Ia bangkit untuk meng­ambil wudhu, selalu mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kemati­an. Dan perbuatan yang dilakukan dalam rangka memper­siapkan diri agar siap me­nyambut da­tangnya kematian akan me­nambah kuat keyakinan di dalam hatinya. Demikian­lah, mudawamah dalam wudhu dan tha­harah akan menambah kuat ke­yakinan dalam hati.

mengendalikandiri dari banyak makan

Imam Malik RA makan hanya sekali dalam sehari, ia pun buang hajat sekali dalam sehari. Imam Malik RA juga tidak pernah buang hajat di Madinah, karena menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sungguh aku malu untuk membuang kotoranku di tempat yang mungkin Rasulullah SAW pernah menapakkan kaki di atasnya atau duduk padanya.”
Setelah menjelaskan panjang lebar ihwal makna-makna yang terdapat dalam penampilan, sebagai kilas balik se­kaligus pendalaman terhadap makna-makna dalam pelajaran tentang keber­sihan lahir dan kaitannya dengan makna-makna bathin, pengasuh melanjutkan pe­nuturannya tentang menjaga diri dari ba­nyak makan sebagai bentuk kemestian untuk dapat melazimkan diri bagi seorang salik di atas kebersihan lahir.
Pembicaraan kita masih seputar ma­salah kesucian dan kebersihan lahir. Kait­annya dengan hal ini, sebagaimana telah kita singgung pada awal pelajaran ini (edisi yang lalu), untuk dapat senantiasa menjaga kesucian lahir, adalah menjadi ke­mestian bahwa kita hendaknya me­minimalkan makan, minum, tidur, dan bi­cara, sehingga sedikit pula kebutuhan kita untuk mendatangi kamar peturasan.
Agar jarang berhadats, kita harus ma­kan sebatas kebutuhan kita saja. Rasul­ullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menguatkan tulang punggungnya.”
Inilah kebutuhan dasar itu. Yakni yang dapat menguatkan tulang punggung, yang dengannya engkau dapat melaku­kan aktivitas sehari-hari dengan baik. Pada awalnya, ketika para ulama men­je­laskan hal ini, dikatakan kepada mereka, “Mengapa kalian melarang manusia dari menikmati semua yang halal. Ini semua adalah nikmat Allah SWT!” Sampai ke­mudian para tabib menjelaskan bahaya lemak, makanan yang berkolesterol, dan makanan yang memabukkan.
Setelah itu datang pula penyakit gula, obesitas, penyakit lambung, dan sebagai­nya, sehingga manusia sibuk mencari se­babnya dan mereka mulai menerapkan tata cara pencegahan dini agar terhindar dari semua penyakit itu. Padahal, sesung­guhnya pencegahan semacam itu sudah lebih dahulu disampaikan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para ulama se­peninggal beliau SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam be­berapa suap yang dapat menguatkan tu­lang punggungnya.” Nabi SAW juga ber­sabda, “Dan jika ia harus memenuhi lam­bungnya, hendaklah sepertiga untuk ma­kanan, sepertiga untuk minuman, dan se­pertiga untuk napasnya.”
Apakah kalian ingin mengetahui haki­kat sesungguhnya dari apa yang disam­paikan oleh Rasulullah SAW ini? Keten­tuan sepertiga ini diperuntukkan bagi umumnya kaum muslimin. Adapun bagi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT, secara khusus ketentuannya ber­beda. Seorang peniti jalan menuju Allah ada­lah bagian dari orang-orang yang mengonsumsi makanan hanya beberapa suap. Inilah kebutuhan dasar itu, sebagai­mana dijelaskan oleh hadits Nabi SAW.
Seorang salik hendaklah mening­gal­kan makanannya di saat ia masih berse­lera terhadap makanan yang diingin­kan­nya. Ia meninggalkannya karena Allah SWT. Ia meninggalkan makanannya di saat nafsunya masih sangat berselera ter­hadapnya. Tapi, bukan berarti ia me­ninggalkan makanannya itu di atas piring lalu kemudian dibuang sia-sia. Tidak de­mikian. Melainkan ia tinggalkan dari asal­nya, yakni dengan cara mengambil ma­kanan hanya sebatas kebutuhannya.
Ketahuilah, sesungguhnya nafsu itu, bila sudah terbiasa engkau tundukkan sebelum ia puas melampiaskan ke­ingin­an­nya, niscaya ia akan mudah tun­duk kepadamu dan tidak sukar untuk eng­kau kendalikan. Akan tetapi apabila eng­kau selalu membiarkannya sampai puas dalam melampiaskan keinginan dan se­leranya, niscaya akan terbuka lebar ber­bagai keinginan dalam nafsumu yang akan sulit untuk engkau kendalikan. Ibarat banjir bandang yang datang menerjang dan akan merusak segalanya.
Engkau berikan terhadap nafsumu semua yang diinginkannya dari berupa-rupa macam makanan, misalnya, dengan jumlah yang dikehendakinya, niscaya eng­kau akan terkena sakit pencernaan. Engkau pun akan sering didatangi rasa ngantuk, sehingga dengan mudahnya eng­kau tertidur. Di saat datang waktu untuk qiyamul lail, engkau tak mampu bangun malam, demikian pula shalat Su­buh, mungkin engkau akan sangat kesu­litan untuk dapat bangun di waktu subuh.
Selanjutnya engkau pun akan kesu­sahan untuk mengisi waktu-waktumu dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak makan dan banyak minum akan mem­ben­tuk tabiat-tabiat berikutnya, yakni ge­mar bicara yang tidak ada ujung pang­kalnya. Bermula dari setengah jam, satu jam, dua jam, hingga berjam-jam ia ha­biskan untuk membicarakan hal-hal yang tidak ada ujung pangkalnya. Lalu apa yang tersisa darinya dari perjalanan menuju Allah SWT apabila waktunya di­habiskan untuk makan, minum, tidur, dan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Semuanya kesia-siaan. Semuanya tak bermanfaat. Bagaimana ia akan me­niti jalan menuju Allah SWT?
Berkaitan dengan masalah ini, ke­tahuilah, Imam Malik bin Anas RA hanya ma­kan satu kali dalam sehari, ia juga ha­nya sekali masuk ke kamar peturasan da­lam sehari.
Kisah Imam Malik ini terkait dengan pembahasan penitian jalan menuju Allah SWT dan berkaitan pula dengan makna yang dalam yang dituju oleh para ahli dzauq (pemilik rasa yang teramat tinggi) dalam meniti jalan menuju Allah SWT, yang merupakan makna paling dalam pada pembahasan ini.
Negeri apakah yang di dalamnya Say­yidina Imam  Malik tinggal? Negeri itu tidak lain adalah Madinah Al-Munaw­warah – semoga Allah SWT melimpah­kan shalawat dan salam atas paling mu­lianya penghuninya dan mengaruniai kita semua ziarah kepada beliau, kebersa­maan bersama beliau, dan semoga Allah menjadikan tempat peristirahatan terakhir kita di Baqi‘.
Imam Malik RA makan hanya sekali da­lam sehari dan ia pun hanya buang ha­jat sekali dalam sehari. Dan ia tak pernah buang hajat di Madinah, ka­rena menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sungguh aku malu un­tuk membuang ko­toranku di tempat yang mungkin Rasul­ullah SAW pernah mena­pakkan kaki di atasnya atau duduk pada­nya.”
Imam Malik pun tak pernah meng­gunakan alas kaki di Madinah dan tidak pernah pula mengendarai hewan tung­gangannya di sekitarnya, untuk menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia hanya sekali berada di atas hewan tunggangan di Madinah pada saat ditangkap untuk dipenjarakan secara zhalim oleh pe­ngua­sa kala itu. Imam Malik RA di­naik­kan di atas hewan tunggangan de­ngan kondisi badan terbalik, tak beralas kaki, dan kepala terbuka, untuk diper­malukan di sepanjang jalan kota Madi­nah.
Bila datang waktu untuk buang hajat, Imam Malik RA senantiasa keluar dari Madinah atau akhir dari batas Masjid Nabawi saat ini, karena Masjid Nabawi saat ini telah meluas dan hampir meliputi keseluruhan kota Madinah tempo dulu.
Demikianlah Imam Malik, begitu kuat ia menjaga nafsu makan dan ia pun tak ti­dur kecuali se­kadarnya.

sebuah pelajaran tentang penampilaan seseorang

Adalah suatu kehinaan bagi siapa yang mengetahui bahwa ia tengah  berjalan meniti jalan menuju Allah SWT dan mengetahui bahwa Allah senantiasa memandang kepada dirinya merasa gundah gulana di saat berubahnya pandangan manusia terhadap dirinya.
Sering kali nafsu berbohong kepada pemiliknya. Karenanya, hati-hatilah engkau diperdaya oleh nafsumu. Dia akan berkata kepadamu, “Sungguh aku ti­dak mengenakan pakaian ini untuk ber­bangga-bangga atau untuk pamer. Akan tetapi karena Allah menyukai untuk me­lihat perwujudan nikmat-Nya pada ham­ba-hamba-Nya.”
Apakah ada keinginan dalam benak­mu untuk meyakinkan ungkapan ini be­nar demikian adanya? Bila tidak, si pe­nyuruh kepada keburukan yang pembo­hong telah berbohong kepadamu! Siapa dia, si penyuruh kepada keburukan itu? Dia adalah nafsumu!!
Apakah engkau ingin mengetahui ungkapan itu benar atau dusta? Engkau bisa mengetahui itu dari tanda-tandanya. Apakah tanda-tandanya?
Pada saat engkau tidak mampu me­menuhi kecenderunganmu sampai pada tingkatan yang engkau kehendaki, apa­kah keadaannya akan berubah?
Apakah engkau merasa ragu-ragu dan maju-mundur untuk mengenakan­nya? Mengapa engkau ragu-ragu? Ka­rena apa engkau maju-mundur? Atau bah­kan engkau merasa kurang dan malu di mata yang lain?
Ini adalah masalah. Karena nafsumu telah membuat pandanganmu tertuju kepada bentuk dan rupa lahir serta ter­penjarakan olehnya. Nilaimu telah eng­kau gadaikan dengan pandangan manu­sia kepadamu. Bila mereka membesar­kanmu, engkau merasa menjadi besar. Dan jika mereka mengecilkanmu, eng­kau pun merasa menjadi kecil. Engkau men­jadi budak siapa? Engkau telah men­jadi budak pandangan manusia.
Dan seorang peniti jalan menuju Allah SWT tidak pernah rela menjadi bu­dak siapa pun selain menjadi hamba Tu­hannya, Allah SWT. Adalah suatu ke­hinaan bagi siapa yang mengetahui bah­wa ia tengah berjalan meniti jalan me­nuju Allah SWT dan mengetahui bahwa Allah senantiasa memandang kepada dirinya merasa gundah gulana di saat ber­ubahnya pandangan manusia terha­dap dirinya. Itu pun kehinaan bagi siapa yang Allah jadikan nilai kemuliaan pada­nya berupa ruh yang Allah tiupkan dari ruh-Nya (dan Aku tiupkan padanya dari ruh-Ku).
Engkau adalah manusia yang dimu­liakan di sisi Allah SWT, bagaimana mung­kin engkau rela derajatmu turun dan ja­tuh kepada derajat yang derajatmu jatuh dari derajat nafkhah rabbaniyah (ditiup­kannya ruh dari sisi Allah SWT) kepada derajat yang kadar nilainya berdasarkan secarik kain fana yang engkau kenakan. Bila kain yang engkau kenakan dengan mode ini, misalkan, engkau memiliki ni­lai. Tapi bila tidak mengenakannya, eng­kau pun tidak memiliki nilai apa pun.
Ada kisah tentang Maula Nashruddin Juha. Bila seseorang mendengar nama Juha, pasti ia akan tertawa, karena yang dia tahu hanyalah bahwa Juha adalah seorang humoris. Padahal sesungguh­nya ia adalah seorang cendekiawan, pe­mikir, filosof, dan juga seorang dai. Akan tetapi memang ia sangat pandai mem­buat lelucon dan dagelan yang meng­isya­rat­kan pada maksud dan makna dari pesan yang ia ingin sampaikan.
Pada suatu ketika Nashruddin diun­dang ke sebuah acara perjamuan. Ia pun hadir ke pertemuan itu dengan menge­nakan pakaian sederhana, ala kadarnya. Oleh penjaga, Nashruddin didudukkan di pojok ruangan yang jauh dari meja hi­dangan yang telah dipenuhi beraneka makanan dan minuman yang lezat.
Mengalami perlakuan seperti itu, Nashruddin merangsek ke arah pintu dan segera pergi meninggalkan ruangan kembali ke rumahnya. Ia pun menyewa se­buah jubah yang mahal dan mewah.
Setelah kembali ke tempat perjamu­an semula, orang-orang segera me­nyam­butnya dan sangat menghormatinya. Ia pun diantar untuk duduk di tengah sofa-sofa tamu khusus yang dipasang berha­dapan persis di depan meja hidangan.
Nashruddin pun mengambil bebe­rapa potong daging kambing guling yang ada di hadapannya. Ia hanya menyantap sedikit dari daging panggang yang ada di tangannya, sedang sisanya yang lain ia letakkan di jubah mewahnya seraya ber­kata, “Makanlah! Penghormatan ini se­sungguhnya untukmu, bukan untuk diriku.”
Jangan pernah ridha kadar nilaimu terletak pada selembar kain yang eng­kau kenakan. Jangan pernah ridha nilai­mu terletak pada mesin tak bernyawa yang engkau kendarai. Jangan pernah rela derajatmu berada pada rumah, pada kayu-kayu yang engkau gunakan untuk mem­perindah tempat tinggalmu. Jangan pernah ridha nilai dan derajatmu berada pada profesi atau pada restoran yang men­jadi tempatmu menyantap makanan atau memesannya. Nilai dan derajatmu adalah bahwa engkau memiliki hati yang Allah senantiasa memandangnya. Ja­ngan pernah sekali-kali engkau rela dan ridha untuk turun dan jatuh dari derajat kemuliaan itu.
Banyak di antara para pembesar arifin, mereka dalam kondisi lusuh dan dekil, yang, bila seseorang bertemu me­reka, niscaya tidak akan menoleh ke arah mereka. Apakah kita katakan, me­reka salah dengan berpenampilan se­perti itu?
Tidak! Karena demikianlah kemam­puan mereka. Mereka tidak dapat mem­beli pakaian layak yang semestinya. Me­reka sangat mengetahui bahwa nilai me­reka terletak pada hati, dan bukan pada selembar pakaian yang mereka ke­nakan.
Apakah orang-orang seperti mereka mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT?
Benar. Tidakkah engkau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Berapa ba­nyak orang yang berambut lusuh, ber­pakaian usang, tidak dipedulikan dan kehadirannya ditolak orang, bila hendak menikahi, niscaya tidak dinikahkan, dan bila meminta bantuan, niscaya tidak di­bantu, tapi, apabila ia bersumpah ke­pada Allah, niscaya Allah akan melak­sanakan sumpahnya.”
Misalkan, ia berkata “Wahai Tuhan­ku, aku bersumpah kepada-Mu agar Eng­kau membalik tanah yang subur ini menjadi tanah gersang berdebu”, nis­caya Allah akan melakukan hal itu.
Jadi, sangat mungkin bahwa orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu adalah dari kalangan muqarrabin.
Memang benar, sebagian orang me­nyikapi persoalan penampilan ini dengan cara yang salah. Mereka mengatakan, agama kita adalah agama kebersihan. Tidak pernah ada dalam agama ini ke­dekilan dan kelusuhan.
Sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan penghambaan kepada hal-hal lahir dan yang dapat terlihat kasat­mata. Agama telah memerdekakan kita dari penyembahan kepada yang terlihat kepada penyembahan Yang Maha Ter­sembunyi (Al-Bathin) dan Yang Maha-Nyata, Allah SWT.
Jadi, sejauh mana kita dapat berpe­nampilan dengan penampilan yang baik dan terindah, selama tidak sampai pada batas memaksakan diri, hal itu adalah utama. Namun, bila hal itu di luar ke­mampuan, berpenampilanlah sesuai ke­mampuan yang ada. Dan bahkan, untuk waktu-waktu tertentu, seorang murid per­lu berpenampilan yang lusuh dan kumal untuk dapat mengalahkan nafsu­nya. Untuk mengobati penyakit menoleh kepada pandangan manusia. Akan te­tapi tentu hal itu dilakukan dengan kadar yang benar dan kembali kepada bim­bingan para guru mursyid.
Di samping itu, banyak pula orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu sesungguhnya adalah para pembesar ahli dunia. Ia menduga, dirinya adalah bagian dari orang-orang yang zuhud ter­hadap dunia, tapi sesungguhnya ia ada­lah salah seorang pembesar ahli dunia yang hatinya melekat padanya. Menga­pa? Karena penampilannya seperti pe­nampilan orang-orang faqir yang zuhud sedangkan hatinya sangat dekat dan melekat pada dunia. Ia selalu menanti dan menunggu-nunggu kapan datang­nya dunia dan kapan meraupnya.
Salah seorang shalihin mempunyai murid yang selalu berada di bawah pen­didikan dan bimbingannya. Murid ini ada­lah seorang pedagang yang selalu ber­niaga ke berbagai negara untuk menjual barang dagangannya. Suatu ketika ia menghadap sang guru untuk meminta restu dan doa hendak melakukan per­jalanan niaga ke negeri Fulan. Ia berkata kepada gurunya, “Wahai Guru, berikan­lah nasihat kepada kami.”
“Baiklah. Di negeri yang hendak eng­kau tuju itu terdapat Syaikh Fulan. Beliau adalah salah seorang pembesar awliya shalihin. Datanglah kepadanya dan min­talah doa untukmu dan juga untukku. Sam­paikan padanya, ‘Wahai Syaikh, guruku, Fulan, menyampaikan salam ke­padamu dan mohon doa’.”
Beberapa waktu kemudian sampai­lah murid itu ke negeri yang dituju. Ia pun se­gera bertanya kepada orang yang di­jumpainya, di mana gerangan majelis Syaikh Fulan berada. Orang yang di­tanya pun tertawa dan menjelaskan bah­wa Syaikh Fulan yang dimaksud tinggal di dalam istana.
Terperanjatlah ia mendengar penje­lasan orang yang ditanyainya bahwa Syaikh Fulan yang dikatakan sebagai pem­besar para wali oleh gurunya ter­nyata tinggal di dalam istana. Namun, tidak ingin berlama-lama dalam keheran­annya, tanpa berpikir panjang, ia kembali menanyakan di mana istana yang di­mak­sud itu.
Ia pun diantar oleh beberapa orang menuju istana. Ia mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa ia bermaksud untuk menjumpai Syaikh Fulan untuk menyampaikan amanah dari sang guru.
“Syaikh sedang diundang jamuan makan malam bersama Raja,” beberapa pelayan menjelaskan.
Hatinya semakin bertanya-tanya, “Ba­gaimana mungkin?? Syaikh Fulan tinggal di istana bersama Raja, sedang guruku menyuruhku untuk meminta doa darinya??”
Meski dipenuhi keheranan dan ke­bingungan, ia tetap berusaha sabar demi menjalankan amanah  gurunya. Ia mulai membayangkan apa yang ada dalam be­naknya tentang gambaran orang shalih.
“Orang shalih seharusnya adalah orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki tempat tinggal yang layak, tidak bercampur dengan manusia dan men­jauhi dunia…. Bila tidak demikian ada­nya, bukanlah ia orang shalih.”
Kala itu datanglah Syaikh bersama rombongan dengan para pengawal yang berada di setiap sisinya. Ia pun meminta izin untuk masuk dan menemui Syaikh. Di dalam hatinya sudah tidak ada lagi setitik husnuzhan kepada sang Syaikh. Namun ia memaksakan masuk mene­muinya, sekali lagi demi melaksanakan amanah dari sang guru.
“Wahai Syaikh, guruku, Fulan, mengi­rim salam kepadamu dan meminta ke­padamu agar tidak lupa mendoakan­nya,” kata pemuda itu kepada Syaikh.
“Apakah benar gurumu Syaikh Fulan?”
“Benar, Tuan Syaikh.”
“Kalau begitu, sampaikan kepada­nya bahwa saudaranya, Fulan, menyam­paikan salam dan katakan kepadanya, ‘Sampai kapan hatimu bergantung kepa­da dunia? Belumkah datang waktunya un­tuk memutuskan kebergantungan hati­mu dari dunia?.”
Alangkah terkejutnya pemuda tadi mendengar apa yang diucapkan oleh Syaikh, bahkan terlintas dalam hatinya untuk mengangkat tangan dan memukul wajah sang Syaikh, kalau saja tidak mengingat pesan gurunya agar menjaga adab terhadapnya, karena beliau adalah seorang shalihin.
“Guruku yang hidup apa adanya, ma­kan hanya sekali dalam sehari, senan­tiasa berpuasa, dan tidak memiliki apa pun dari harta benda dunia, lalu dia yang tinggal di istana, diiringi para pengawal, ingin mengajari guruku??”
Tak ada sesuatu yang mencegahnya untuk berbuat yang tidak patut dilakukan ter­hadap Syaikh, kecuali adab terhadap pe­san sang guru bahwa yang dihadap­annya saat itu adalah salah seorang shalihin.
Setelah selesai urusannya di negeri itu, sang pemuda pun kembali ke negeri­nya dan segera mengunjungi sang guru. Di hadapan sang guru ia langsung me­ngadukan apa yang dipesankan oleh Syaikh untuk disampaikan kepadanya.
“Wahai Guru, bagaimana mungkin Syaikh Fulan adalah seorang arif billah, se­orang waliyullah, sedangkan dia ting­gal di dalam istana, makan malam ber­sama Raja, sedang dia berkata kepada­ku, ‘Sampaikan salamku kepada sau­daraku, Fulan, dan katakan padanya, ‘Sampai kapan hatimu selalu bergantung kepada dunia??’.”
Mendengar hal itu sang guru pun me­nangis sejadi-jadinya.
“Apa benar ia mengatakan itu kepa­damu untukku?”
“Benar, wahai Guru.”
Mendadak sang guru pun pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah siuman, sang guru menangis lagi sepanjang hari.
Keesokannya si pemuda kembali mengunjungi gurunya. Ia pun bertanya kepada sang guru, “Wahai Guru, jelas­kanlah kepadaku apa yang sesung­guh­nya terjadi?”
“Baiklah. Ketahuilah, Syaikh Fulan yang engkau lihat bergelimang dunia itu sesungguhnya tidak ada sedikit pun di hatinya tolehan kepada dunia. Tak ada dunia sedikit pun di dalam hatinya. Se­dangkan diriku, terkadang datang lintas­an-lintasan ke dalam hatiku, kapan aku memiliki sesuatu dari dunia. Saudaraku, Syaikh Fulan, yang arif billah, yang me­ngi­rim pesan ini untukku, telah diberi fi­rasat oleh Allah SWT untuk mengingat­kanku terhadap adanya aib yang ada di dalam diriku.”
Dari pelajaran ini kita dapat menge­tahui bahwa persoalan sesungguhnya bu­kanlah terletak pada bentuk dan pe­nampilan, dan jangan sampai kita diper­daya oleh nafsu kita karenanya. Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyu­ruh kepada keburukan.
Jangan pernah engkau katakan, “Pe­nampilanku baik, tapi sungguh hatiku tidak bergantung kepadanya.”
Ketahuilah, awal mula pengakuan yang engkau nyatakan itu menunjukkan bahwa engkau tidaklah demikian ada­nya. Karena mengaku-ngaku bukanlah tanda kebenaran.

penguasaan diri

Pada pelajaran kali ini, ada dua penguasaan yang mesti engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, sehingga keduanya akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni, pertama, penguasaan diri dalam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas keseharian kita.
Segala puji bagi dan hanya milik Allah SWT dengan pujian hamba yang tenggelam  dalam karunia-Nya, kebajik­an-Nya, kemurahannya, dan pemberian-Nya, pujian hamba yang teramat lemah dari menunaikan syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya, pujian hamba yang mengakui dengan segala ke­teledorannya serta buruk dan kejinya segala amal dan keberanian dirinya da­lam berbuat kedurhakaan terhadap-Nya, pujian hamba yang penuh harap ke­pada karunia Allah, kebajikan-Nya, dan juga kemurahan-Nya.
Shalawat serta salam semoga senan­tiasa Allah curahkan dan limpahkan ke­pada penghulu dan junjungan kita, Say­yidina Muhammad, insan paling agung dalam menunjukkan jalan menuju Allah SWT, pintu yang tiada duanya menuju Allah SWT. “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan meng­ampuni kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah senantiasa mencurah­kan shalawat, salam, dan keberkahan atas beliau, ahli baytnya, para sahabat­nya, para tabi‘in dan pengikut-pengikut me­reka dalam kebajikan hingga hari Kiamat.
Semoga sejak pelajaran yang lalu kita semua telah memantapkan langkah un­tuk menguasai nafsu kita. Berhadats, engkau kembali mengambil air wudhu. Atau janabah, engkau pun mandi hadats besar untuk menghilangkannya. Engkau telah menguasai hatimu dalam perkara penampilan lahirmu atau engkau sudah berusaha melakukan semua itu dan kini engkau tengah berada di jalan menuju itu semua.
Pada pelajaran kali ini, ada dua pe­nguasaan yang mesti engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, se­hingga keduanya akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni, pertama, penguasaan diri da­lam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas ke­seharian kita.
Pada pelajaran yang lalu kita telah sama-sama berbicara bahwa penguasa­an diri terhadap kesucian lahir memiliki kaitan yang sangat erat dan tak terpisah­kan dengan penerangan terhadap per­kara-perkara bathin (ruhani). Dan kesuci­an bathin berkaitan erat dengan memi­nimkan makanan, tidur, dan pembicara­an. Namun yang demikian itu, guru-guru kita — semoga Allah memberikan balas­an terindah kepada mereka semua atas segala jasa mereka kepada kita — me­ngatakan, sedikit makan, tidur, dan ber­bicara tidaklah dapat diterapkan dan di­lakukan secara spontan dan tiba-tiba be­gitu saja.

Penguasaan Diri dalam Hal Makan
Penguasaan diri terhadap makanan tidaklah datang secara tiba-tiba atau di­lakukan secara spontan tanpa latihan dan pembiasaan sebelumnya.Tidak mungkin dalam sehari-semalam seseorang dapat mengubah pola makannya menjadi satu suap begitu saja. Rasulullah SAW ber­sabda, “Sesungguhnya agama ini adalah agama yang kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan kelemahlembutan. Karena sesungguhnya perjalanan tanpa henti itu tidak akan pernah menyampai­kan kepada tujuan dan tidak pula mem­buat punggung nyaman karenanya.”
Lalu langkah apa yang harus dilaku­kan agar hal ini berhasil?
Pertama, berlatih untuk melakukan puasa. Pada saat puasa itulah kita ber­usaha untuk sederhana ketika berbuka, mencoba untuk makan dua kali, yakni ketika berbuka dan sahur, dan kita belajar me­nyederhanakan macam-macam ma­kan­an pada keduanya.
Kedua, pada majelis yang lalu kita telah berkata, “Aku akan berhenti makan di saat masih berselera terhadapnya.” Kita meninggalkannya karena Allah SWT.
Ketiga, kita meningkat lagi dalam pem­belajaran ini, yaitu dengan mengu­rangi jumlah atau kuantitas makanan yang kita makan dalam sekali makan. Ke­mudian kita membiasakan diri untuk mengurangi yang kita inginkan dengan cara lebih mengutamakan yang kita tidak berselera terhadapnya daripada yang kita berselera terhadapnya. Demikianlah kait­annya dengan makanan.
Penguasaan Diri dalam Hal Tidur
Berapa jam engkau tidur dari sehari semalam? Mari kita menata segala urus­an kita. Bukankah kita telah mengatakan bahwa kita semua adalah muridul akhirah (pengharap negeri akhirat).
Seorang murid peniti jalan menuju Allah yang tidak tahu berapa lama mesti ia tidur dan berapa lama seharusnya ia jaga, bukanlah ia seorang murid.
Berapa jamkah yang cukup untukmu? Delapan jam? Lebih dari delapan jam, ini sama sekali tidak dapat diterima. Lebih dari delapan jam untuk tidur dari dua pu­luh empat jam tidaklah mungkin diterima bagi seorang muslim awam, terlebih lagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT.
Akan tetapi, bagi orang yang terbiasa tidak mengatur waktunya, kami katakan, “Mulailah dengan dari delapan jam untuk waktu tidur.” Adapun yang sudah ter­biasa, mulailah dari enam jam, niscaya itu sudah cukup baginya. Namun, bila eng­kau tidak mampu untuk melakukan­nya, mulailah dari delapan jam, kemudian se­telah itu kurangi seperempat jam.
Setelah satu bulan berlalu dan eng­kau kuasai dirimu dengan delapan jam waktu untuk tidur ini maknanya bahwa engkau telah membiasakan tubuhmu un­tuk cukup dengan delapan jam untuk wak­tu tidur. Maknanya, engkau telah memiliki kemampuan tidur tidak melebihi waktu yang ditentukan. Karena melebihi dari kadar tertentu yang telah ditentukan untuk tidur akan menimbulkan kelemahan pada jiwa. Karenanya jiwa pun akan men­jadi lemah, dan lahirlah malas, enggan, tidak bersemangat, dan terus semakin lemah semangatnya.
Jangan pernah ada delapan jam se­tengah atau delapan jam seperempat ber­lalu dari dirimu dalam satu bulan itu sam­pai melekat keteraturan itu pada diri­mu dan nafsumu menjadi terbiasa de­ngan­nya. Setelah itu, kurangi lagi sepe­rempat jam….
Saat ini engkau adalah seorang yang terikat dan teratur dengan waktu. Bagimu sudah ada perbedaan antara tidur se­tengah jam dan seperempat jam. Sebe­lum itu, mungkin engkau tidur setengah jam atau seperempat jam melebihi kadar tertentu tidak ada masalah. Akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Seka­rang engkau adalah seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Seperempat jam ter­amat berharga untukmu. Karenanya ku­rangilah seperempat jam dari waktu ti­durmu. Demikian seterusnya hinga di­kurangi seperempat jam yang kedua, ke­tiga, dan seterusnya hingga sampai ke­pada enam jam. Ketahuilah, pertengah­an tidur bagi seorang salik adalah enam jam. Dan bila engkau memiliki semangat yang lebih tinggi lagi setelah terbiasa de­ngan itu, boleh juga engkau kurangi lagi seperempat jam.
Perhatikan! Seperempat jam yang eng­kau kurangi ini dan seperempat jam be­rikutnya hingga sampai kepada enam jam haruslah disertai pula dengan hari yang tertata. Dalam arti bahwa seperem­pat jam yang engkau kurangi dari waktu tidurmu itu haruslah engkau pergunakan un­tuk kegiatan berharga untuk mengisi­nya, dan jangan engkau isi dengan ke­bingungan atau kesia-siaan membuang-buang waktu percuma.
Sebagian anak muda berkata, “Mari kita pergi menghabiskan waktu!”
Sesungguhnya engkau tidaklah di­ciptakan untuk membuang dan mengha­bis-habiskan waktu. Sesungguhnya eng­kau diciptakan untuk meraih keberun­tungan kekayaan waktu. Seorang murid akan merasa napasnya bernilai apabila napasnya berlalu dalam dzikir, dakwah kepada Allah SWT, atau memberikan manfaat lain bagi hamba-hamba Allah SWT.
Bila engkau dapat memenuhi aktivitas di siang hari dengan perbuatan-perbuat­an yang semestinya, niscaya engkau akan dapat menata waktu-waktu tidurmu. Akan tetapi bila engkau biarkan waktu jagamu terbuang begitu saja, sudah ba­rang tentu engkau tidak akan pernah da­pat menata tidurmu selama-lamanya. An­tara keduanya terdapat hubungan, kese­imbangan, dan saling menyempurnakan. Di saat engkau menata waktu jagamu, niscaya engkau akan merasa butuh untuk menyedikitkan waktu tidurmu. Dari sana terciptalah penguasaan diri dalam hal menyedikitkan tidur.
Perhatikan baik-baik! Jangan engkau beranjak dengan semangat yang meng­gebu-gebu kemudian engkau putuskan bahwa mulai malam ini engkau akan mengurangi waktu tidurmu dari sepuluh jam menjadi dua jam, misalnya. Perkara suluk ini tidaklah demikian adanya, me­lainkan semuanya dilakukan dengan ber­tahap dan perlahan.              

pengendalian nafsu

ni adalah buah dari perjalanan menuju Allah SWT. Yakni buah perjalanan yang kita harapkan akan dapat menembus batas adat kebiasaan nafsumu, dan ini lebih penting daripada karamah-karamah, seperti si Fulan bisa terbang atau berjalan di atas air.
Kisah Imam Malik yang telah lalu pada pelajaran sebelumnya, kesemuanya adalah pada masa­lah mengalahkan nafsu dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Imam Malik RA telah sampai pada batas kemampuan un­tuk menguasai nafsunya. Imam Malik telah keluar dari kebiasaan dan menem­bus batas adat kebiasaan manusia pada umumnya.
Para ulama menyebutkan bahwa di ma­jelisnya, di Raudhah, bila ingin me­nyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, Imam Malik mengajarkannya begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal ha­dits Rasulullah SAW atau dimintai suatu hadits Nabi SAW, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan berkata, “Nafi` telah menuturkan kepadaku dari Ibnu Umar dari yang bersemayam di makam ini SAW… — hadits musalsal, yang jalur ini dikenal dengan assilsilatudz-dzahabiyyah (jalur emas), yakni riwayat Imam Malik dari Nafi` dari Ibnu Umar.”
Suatu hari Imam Malik menyam­pai­kan hadits Nabi SAW, tiba-tiba tampak wajahnya berubah menjadi pucat dan memerah, keringat pun bercucuran di wajahnya. Akan tetapi Sayyidina Imam Malik tidak menghentikan pelajarannya menyampaikan hadits Rasulullah SAW hingga selesai.
Setelah usai menyampaikan hadits Nabi SAW, Imam Malik berkata kepada sa­lah satu murid yang jaraknya paling de­kat dari tempatnya duduk, “Coba lihat apa yang ada di balik bajuku ini.”
Murid itu pun dengan segera melihat punggung Imam Malik, ternyata betapa terkejutnya si murid karena ia mendapati seekor kalajengking telah menggigit pung­gung Imam Malik dengan tujuh be­las gigitan di tempat yang berbeda. Mu­rid-murid pun terperanjat menyaksikan ke­jadian itu. Mereka berkata, “Wahai Guru, mengapa engkau tidak memberi tahu kami ketika kalajengking itu baru menggigitmu?”
Imam Malik berkata, “Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadits Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking.”
Bila saja lalat hinggap di hidungmu di saat shalat, apakah gerangan yang akan engkau lakukan?
Sebagian orang akan berkata, “Ini sudah di luar batas kebiasaan…ini tidak mungkin!!”
Benar, sungguh aku memahami dan mengetahui mengapa akalmu tidak da­pat menerima ini semua. Karena engkau belum meniti jalan menuju Allah SWT. Bila saja engkau sudah meniti jalan ini dan engkau telah melewati tahapan dari dikalahkan nafsu kepada tahapan eng­kau yang mengalahkan nafsumu, nis­caya engkau akan sangat memahami de­ngan baik bagaimana mereka dapat dan mampu menguasai nafsu-nafsu me­reka.
Aku ingin kembali menyebutkan kisah berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Kisah ini terjadi ketika aku berusia kurang lebih empat belas tahun. Jangan engkau berkata, “Tentu saja Imam Malik adalah generasi pertama kalangan salafush shalih, untuk zaman ini siapa yang mampu berlaku seperti itu?”
Perhatikanlah, aku akan mencerita­kan satu kisah kepada kalian. Ketika aku berusia empat belas atau enam belas tahun kala itu, aku ikut serta bersama gu­ruku, Habib Abdul Qadir Assegaf, sa­lah seorang guru besarku di antara guru-guruku yang aku mengambil ilmu dari mereka. Setelah usai mengikuti salah satu majelis sha­lawat, kami pun keluar dari majelis dan kembali ke mobil.
Setelah menutup pintu depan mobil, aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang guruku, Habib Abdul Qadir.
Belum lagi berangkat, seorang mu­hibbin datang tergopoh-gopoh, mem­buka pintu mobil dan meminta doa ke­pada beliau. Setelah didoakan, muhibbin itu pun mencium tangan Guru dan menu­tup kembali pintu mobil.
Baru pergi beberapa langkah, muhib­bin itu kembali lagi dan mengetuk kaca mobil.
Sopir pun menurunkan kaca mobil.
Muhibbin itu kembali berbicara se­suatu kepada guruku dan guruku me­nanggapinya dengan sebaik-baiknya.
Setelah pembicaraan usai, muhibbin itu pun mohon diri dan melangkah pergi dan tak lagi terlihat. Maka sopir sudah kembali merapatkan kaca mobil, tapi tiba-tiba guruku berkata, “Ali!”
Aku menjawab, “Labbaik.”
“Sepertinya orang tadi menutup pintu mengenai jemariku sebelum sopir me­nurunkan jendela mobil.”
Aku pun segera turun dan keluar dari mobil dan membuka pintu mobil. Ter­nyata darah bercucuran dari jari-jemari guruku. Aku pun berkata kepada beliau, “Guru, mengapa engkau tidak memberi­tahukan kepada orang tadi ketika baru menutup pintu, melainkan engkau mem­biarkannya (bahkan) hingga orang tadi kembali datang dan usai panjang lebar berbicara denganmu?”
“Bila aku memberitahukannya, pasti hal itu akan terasa sangat berat baginya ke­tika tahu bahwa ia menutup pintu mengenai jari-jemariku.”
Apakah kita telah sampai pada mak­na-makna yang teramat halus dan lem­but dalam perihal muamalah seperti ini? Ini akan menjadi pembahasan tersendiri insya Allah pada pelajaran yang akan datang.
Yang menjadi bukti dari kisah ini da­lam pembahasan kita kali ini adalah ba­gaimana beliau mampu menguasai diri­nya bahkan sampai pada rasa. Tabiat yang ada pada manusia pada umumnya, ketika ada sesuatu menimpa tangannya, misalkan, ia akan berkata, “Awwh!!
Ungkapan “awwh!!” seperti ini sudah menjadi pembawaan tabiat kita sebagai manusia. Akan tetapi, bagaimana beliau, yang juga seorang manusia, dan bukan dari generasi awal, para sahabat, bukan pula dari generasi kedua, para tabi`in, bukan pula dari generasi ketiga, para tabi`it tabi`in, serta bukan pula dari gene­rasi keempat, tidak pula kelima atau ke­enam, melainkan dari generasi kita, yang kita hadir dan duduk bersamanya? Ba­gaimana beliau mampu mengalahkan nafsunya?
Ini adalah buah dari perjalanan me­nu­ju Allah SWT. Yakni buah perjalanan yang kita harapkan akan dapat menem­bus batas adat kebiasaan nafsumu, yang lebih penting daripada karamah-karamah, seperti si Fulan bisa terbang atau berjalan di atas air.
Kita mengimani bahwa yang demiki­an itu benar adanya dan bahwa Allah menganugerahkan itu semua kepada para shalihin. Akan tetapi hal-hal sema­cam itu bukanlah hakikat karamah, me­lainkan gambaran dari karamah. Hakikat karamah yang sesungguhnya adalah bah­wa engkau mampu menembus batas adat kebiasaan nafsumu sehingga eng­kau dapat menguasai dan mengendali­kan nafsumu karena Allah SWT.
Bila hidup seperti ini, niscaya engkau akan dapat menjadi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT.
Apa kaitannya persoalan ini dengan pembahasan yang sedang kita bicara­kan?
Di awal pelajaran ini, kita telah ber­bi­cara tentang pakaian dan mendawam­kan wudhu, ini berarti kita sedang masuk ke­pada pembasan penguasaan nafsu. Dan itu merupakan permulaan dari per­kara-per­kara sederhana yang berkaitan de­ngan suluk menuju Allah SWT namun te­rasa berat bagi nafsu untuk menjalani­nya.
Malas? Berdiri, dan ambillah wudhu. Ngantuk? Berdiri dan ambillah wudhu. Ber­hadats? Di hadapanmu tersedia tem­pat wudhu. Alhamdulillah, engkau tidak dituntut untuk menimba air dari sumur agar dapat berwudhu seperti halnya orang-orang dahulu. Engkau hanya cu­kup menggerakkan keran. Seberat apa­kah hal itu untuk engkau lakukan?
Lantas apa yang menyebabkan berat di saat engkau mengambil air wudhu?
Penyebabnya adalah keengganan naf­su yang ada dalam dirimu. Karena­nya, lawan, perangi, dan kekang nafsu­mu pada segala apa yang berat bagi nafsumu dari perkara-perkara yang se­derhaa seperti itu.
Lihatlah, ini semua adalah permula­an-(bidayah)-nya. Jalani semua ini agar kelak engkau dapat sampai kepada ujung (nihayah)-nya, sebagaimana kisah Imam Malik dan Habib Abdul Qadir Assegaf tersebut. Aku telah menyebut­kan permulaannya dan juga ujungnya, agar engkau dapat mengetahui ke ma­na­kah sesungguhnya engkau berjalan. Apakah engkau sudah mengendalikan naf­sumu agar dapat menjaga wudhu, men­jaga thaharah, menjaga kebersihan, dan menjaga hatimu dalam penampilan­mu sehingga sedapat mungkin berpa­kaian hanya sebatas kemampuanmu?
Perhatikanlah perkara ini dan tang­gunglah beban dan kesulitan sederhana ini, agar engkau dapat menanggung be­ban dan kesulitan yang besar nantinya. Setelah itu, tanpa beban dan kesulitan, se­muanya akan menjadi kenikmatan. Se­suatu yang kita pandang di luar adat kebiasaan dalam menanggung beban, rasa sakit, dan perih, seperti yang mere­ka rasakan, sesungguhnya bagi mereka itu adalah kenikmatan mendapatkan ridha Allah SWT. Cari dan gapailah se­mua itu. Sesungguhnya semua itu, demi Allah, dan aku tidak ingin banyak ber­sumpah, akan tetapi di sini aku bersum­pah, sungguh diciptakan untukmu. Ini se­mua tidaklah diciptakan untuk para sadat kita semua dari kalangan malaikat —‘alaihimus-salam, karena sesungguhnya mereka telah diciptakan dengan sifat taat kepada Allah SWT. Mereka tidak memi­liki nafsu. Ini semuanya tercipta untuk­mu, semua derajat-derajat ini pun dicip­takan untukmu. Dan semua karunia agung ini, kalianlah yang dimaksudkan untuk mendapatkan dan meraihnya.
Engkaulah dzat sesungguhnya yang ditiupkan kepadanya dari ruh Allah SWT. Pada dirimu terdapat hati yang padanya terdapat nur-nur La ilaha illallah.
Tahukah engkau nilai dari semua ini?
Engkau berjalan di atas bumi dengan jasad yang kecil, yang jasad itu bukanlah sesuatu apa pun di hadapan alam se­mes­ta. Wahai yang teramat kecil, wahai titik yang ada di alam se­mesta, atau lebih kecil lagi dari titik, ke­tahuilah bahwa pada dirimu terdapat se­suatu yang sendainya semua lapis langit dan bumi ini diletakkan di telapak tangan yang satu, dan sesuatu yang ada pada dirimu itu diletakkan pada telapak tangan yang lain, niscaya sesuatu yang diletakkan pada telapak tangan lainnya itu akan lebih berat dibandingkan semua lapis langit dan bumi. Sesuatu itu adalah La ilaha illallah.
Wahai yang di hatinya terdapat ca­haya-cahaya La ilaha illallah, jangan anggap remeh anugerah ini. Dan makna “jangan menganggap re­meh anu­gerah ini” adalah jangan meng­anggap perjalan­an menuju Allah se­bagai beban sehingga engkau ber­kata, “Tidak!”
Sesungguhnya makna suluk menuju Allah SWT ini untukmu, diciptakan untuk dirimu, dan ia pun berada dalam kesang­gupan serta kemampuanmu.
Pahamilah dengan pemahaman yang benar firman Allah SWT, “Tidaklah Allah memberikan taklif  (beban syari’at) kepada suatu jiwa kecuali sekadar ke­mampuannya.” – QS Al-Baqarah: 286. Sebagian orang memahami firman Allah ini dengan kebalikannya. Ia berkata, “Allah tidak mem­berikan taklif kepada suatu jiwa ke­cuali sekadar kemampuan­nya”, karena­nya aku tidak melakukan, ka­rena aku ti­dak mampu melakukannya.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah te­lah memberimu taklif, dan tidaklah Allah memberikan taklif kepadamu kecuali taklif itu dalam batas kemampuanmu. Jadi pe­mahaman ayat ini sebagaimana ungkap­annya, yakni, “Tidaklah Allah memberi­kan taklif kepada suatu jiwa kecuali de­ngan kadar kemampuannya.”

Minggu, Agustus 04, 2013

dzikir dan tasbih

stroom09.blogspot.com
Add caption
Assalamualaikum wr wb.salam sejahtera buat pembaca blog stroom09 yg setia hadir membaca artikel-artikel blog stroom09.kali ini saya akan mencoba memposting dzikir  dan tasbih.yuk simak bersama artikelnya.
Islam adalah agama yang me­merint­ahkan para penganut­nya untuk selalu ber­dzikir kepada Allah SWT, sebagai sa­lah satu bentuk ibadah, guna mendekat­kan diri kepada Allah. Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191 Allah SWT ber­firman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (ber­dzikir) sambil berdiri, duduk, dan ber­baring.” Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang arti­nya, “Hai orang-orang yang beriman, ber­dzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertas­bih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah SWT berfirman yang artinya, “Ber­dzikirlah kamu kepada Allah dengan dzi­kir yang banyak, agar kalian mendapat­kan keberuntungan.”
Selanjutnya di dalam hadits riwayat Mus­lim diterangkan sebagai berikut, “Ra­sulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa se­tiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supa­ya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mul­ku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosa­nya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
Dari uraian hadits itu dapatlah di­ketahui adanya penetapan waktu dan jumlah dzikir, yakni usai shalat membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alham­dulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, dan dilengkapi menjadi 100 dengan kalimat di atas.
Selain itu, terdapat pula hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan mem­baca dzikir dengan jumlah sepuluh atau seratus kali. Maka dengan adanya hadits-hadits yang menetapkan jumlah dzikir seperti itu, dengan sendirinya orang yang berdzikir perlu mengetahui jumlah dzikirnya secara pasti. Lalu cara apakah yang dapat ditempuh untuk itu?
Untuk menghitung jumlah dzikir, Islam tidak menetapkan cara tertentu. Hal itu diserahkan kepada masing-ma­sing orang yang berdzikir. Cara apa saja tidak dilarang, asal tidak bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah Rasul­ullah SAW.
Banyak di antara kita yang berdzikir de­ngan tasbih, atau dengan alat-alat peng­hitung yang lain. Tasbih, yang da­lam bahasa Arab-nya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga me­riwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, ka­rena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”
Namun perintah menghitung dengan jari tidak berarti melarang orang berdzikir dengan cara lain. At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ath-Thabarani meriwayatkan se­buah hadits dari Shafiyah yang menga­ta­kan bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW datang ke rumahnya. Beliau me­lihat 4.000 butir biji kurma yang biasa di­gunakan oleh Shafiyah untuk meng­hi­tung dzikir. Nabi SAW bertanya, “Hai bin­ti Huyay, apa itu?”
Shafiyah menjawab, “Itulah alat yang aku gunakan untuk menghitung dzikir.”
Nabi SAW bersabda, “Sesungguh­nya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu!”
Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku.”
Rasulullah kemudian berkata, “Ucap­kan­lah Subhanallah `adada khalqihi… (dan seterusnya).”
Abu Daud dan At-Tirmidzi meri­wa­yatkan sebuah hadits dari Sa‘ad bin Abi Waqqash yang mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah singgah di rumah seorang wanita. Beliau melihat banyak batu kerikil yang biasa diguna­kan oleh wanita itu untuk menghitung dzikir. Beliau bertanya, “Maukah engkau kuberi tahu cara yang lebih mudah dari itu dan lebih afdhal? Sebut sajalah kali­mat-kalimat berikut:

Subhânallâh sebanyak makhluk-Nya yang di langit. Subhânallâh sebanyak makhluk-Nya yang di bumi. Subhânallâh sebanyak ciptaan-Nya yang ada di antara itu. Allâhu Akbar seperti itu. Alhamdulillâh seperti itu. Lâ ilâha illallâh seperti itu, dan Lâ quwwata illâ billâh seperti itu.

Banyak sahabat Nabi SAW dan sala­fush shalih yang menggunakan biji kur­ma, batu-batu kerikil, buntelan-buntelan benang, dan sebagainya, untuk menghi­tung dzikir, dan ternyata tidak ada yang menyalahkan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayat­kan, seorang sahabat Nabi yang ber­nama Abu Shafiyah menghitung dzikir­nya dengan batu-batu kerikil. Abu Daud meriwayatkan bahwa Abu Hurairah me­miliki sebuah kantung berisi batu kerikil. Ia duduk bersimpuh di atas tempat tidur­nya ditunggui seorang hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah berdzikir dan menghitungnya dengan batu-batu kerikil yang ada di dalam kantung. Bila batu-batu kerikil itu telah habis diguna­kan, hamba sahayanya menyerahkan kembali batu-batu kerikil itu kepadanya. Abu Syaibah juga mengutip riwayat Ikrimah yang mengatakan bahwa Abu Hurairah mempunyai seutas benang dengan buntelan seribu buah. Ia baru tidur setelah berdzikir dua belas ribu kali.
Bentuk tasbih yang kita kenal seka­rang baru digunakan orang pada abad ke-2 Hijriyyah. Kemudian sejak abad ke-5 penggunaan tasbih makin meluas di kalangan muslimin, termasuk juga kaum wanitanya yang tekun berubadah. Tidak ada berita atau riwayat, baik dari salaf maupun khalaf, yang menyebutkan ada­nya larangan menggunakan tasbih, dan tidak ada pula yang memandangnya se­bagai perbuatan makruh atau tercela.
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, jelaslah bahwa menghitung dzikir de­ngan selain jari adalah boleh. Dan apa pun benda yang digunakan untuk meng­hitung dzikir, orang tetap menggunakan jari juga. Yang penting diingat, dalam berdzikir yang harus diperhatikan adalah kemantapan dan kekhusyu’an dalam hati, karena yang dipandang Allah ada­lah hati orang yang berdzikir, bukan pe­nampilan dan benda yang digunakan untuk berdzikir.

referensi majalah alkisah.com

ulama-ulama guru bangsa part 1

Assalamualaikum wr wb.salam sejahtera buat pembaca blog stroom09 yg setia hadir membaca artikel-artikel blog stroom09.kali ini saya akan mencoba memposting sekilas ulama pendidik,pendidik ulama.yuk kita simak bareng2 artikel di bawah ini semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah  perjuangan ulama tersebut.biar gagh penasaran langsung saja ya.

Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan paham keagamaan mayoritas umat Islam di Indonesia. Kehadiran As­waja di Indonesia seiring dengan kehadir­an agama Islam itu sendiri yang kemudi­an diaplikasikan lebih lanjut oleh Wali­sanga dan ulama-ulama setelahnya. Belakangan ini istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah” kembali mencuat ke permuka­an setelah datangnya ideologi-ideologi Islam transnasionalis yang diimpor dari Timur Tengah.
Konsep Aswaja yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok anyar ini sangat rigid dan cenderung menyalahkan kelompok lainnya yang berbeda paham dengan me­reka. Mereka ingin mengubah berbagai laku ritual dan pemahaman agama mayo­ritas umat muslim di Indonesia yang su­dah mapan dengan dalih telah menyalahi aturan yang ditetapkan oleh Al-Qur’an.
Mereka lupa, wajah Indonesia yang begitu ramah tidak lain adalah karena jasa-jasa para ulama terdahulu yang telah membentuk karakter putra-putri bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan keragam­an, sebagai ciri utama ke-Aswaja-an itu sendiri, melalui pendidikan yang mereka terapkan di Bumi Pertiwi tercinta ini.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, setiap ulama dalam Islam adalah para pendidik, yang mata rantai keilmuannya sampai kepada Rasulullah SAW. Itulah sebabnya, Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta, dan senantiasa shalihun li fi kulli makanin wa li kulli zamanin, shalih di setiap tempat dan zaman, tak pernah putus dari melahirkan ulama-ulama yang tampil sebagai tokoh pembaharu di setiap masa dan waktu. Sehingga wajah Islam yang damai dan penuh kasih sayang akan selalu menghiasi bumi ini hingga da­tangnya hari Kiamat.
Dalam rangka menyambut datangnya tahun ajaran baru, 2012-2013, alKisah me­nampilkan kembali “tiga” guru bangsa dari tiga organisasi Islam terbesar di Indo­nesia, yang merupakan benteng utama Aswaja di negeri ini, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah).
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari adalah putra dan penerus pendiri NU, K.H. Hasyim Asy‘ari.
Puluhan santri dan warga Tebuireng berdesakan di masjid pondok pesantren. Mereka tengah menggelar pengajian yang rutin digelar setiap Jum‘at seusai shalat Isya. Suara mereka terdengar hing­ga ke dalam kasepuhan, yang ber­jarak sekitar 10 meter dari masjid. Ka­sepuhan adalah tempat bermukim ke­luarga besar Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy‘ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan sekaligus pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Malam itu, 1 Juni 1914, suasana di dalam kasepuhan tak kalah ramai. Nyai Nafiqah, istri K.H. Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Ash‘ari, tengah menahan rasa sakit lantaran detik-detik kelahiran bayi yang dikandungnya makin dekat. Ia di­kelilingi sejumlah kerabat dan pelayan dekat.
Menjelang malam, dari dalam kase­puh­an melengking tangis bayi. Nyai Nafi­qah melahirkan bayi laki-laki. Air mata ba­hagia pun keluar dari putri Kiai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan, Madiun, itu.
Kiai Hasyim memberi nama putranya yang baru lahir itu “Muhammad Asy`ari”. Nama ini diambil dari nama ayah Kiai Hasyim sendiri. Kiai Hasyim mewariskan nama itu kepada sang bayi karena empat kakaknya semuanya perempuan.
Tapi sebulan kemudian, nama ini diganti, karena Asy‘ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin lama makin ku­rus. Nama itu dianggap terlalu berat di­sandang sang bayi. Kiai Hasyim kemudi­an mengganti nama putra pertamanya itu dengan “Abdul Wahid Hasyim”.
Karena ia anak lelaki pertama, hal itu merisaukan ibundanya, Nyai Nafiqah. Sang ibu pun bernazar, pada usia tiga bulan Wahid akan dibawa ke guru ayah­nya, K.H. Cholil, di Bangkalan, Madura.
Ketika waktu itu tiba, Bangkalan se­dang diguyur hujan lebat. Petir sambar-menyambar. Bukannya membukakan pintu, Kiai Cholil malah meminta tamu dan bayinya itu menunggu di halaman rumah.
Karena cemas melihat bayinya kehu­janan, Nyai Nafiqah menggendong sang bayi berteduh di emper sambil berdoa.
Tuan rumah tidak tampak kasihan, tapi malah memerintahkan membawa sang bayi kembali ke halaman.
Beberapa waktu kemudian, Kiai Cholil meminta bayi itu dibawa pulang.
Kisah ini menjadi isyarat, kelak sang bayi akan menjadi orang besar.
Dari sejak kecil, Wahid sudah terlihat me­miliki kemampuan yang tak sama de­ngan anak-anak lain sebayanya. Sang ayah tak menyekolahkannya ke Holandsch Indische School, layaknya putra seorang to­koh pada zaman itu. Kiai Hasyim me­mang dikenal anti sekolah yang didirikan pen­jajah. Ia memilih untuk mengajar anak­nya sendiri. Karena cerdas, Wahid cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan.
Umur lima tahun, Wahid sudah bel­ajar membaca Al-Qur’an. Kiai Hasyim sendiri yang mengajar putranya ini setiap seusai shalat Zhuhur dan Magrhrib. Untuk pengetahuan agama lainnya, Wahid bel­ajar di Ponpes Tebuireng pada pagi hari. Karena cepatnya ia menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan, pada umur tujuh tahun ia sudah mampu mempelajari banyak kitab yang diajarkan di pesantren, antara lain Fathul Qarib, Minhajul Qawim, Mutam­mimah.
Meskipun aktivitas belajarnya padat, Wahid pun tetap bermain-main selayak­nya anak-anak di usianya. Meskipun anak kiai,  ia tidak pernah memilih-milih teman. Wahid bermain dengan semua anak. Di antara kebiasaannya di waktu kecil, ia suka membagi-bagikan pisang goreng, makanan kesukaannya, kepada teman-temannya.
Seperti anak-anak lainnya, Wahid pun sering dimarahi oleh ayahnya jika ber­salah. Tapi jika yang memarahi ibunya, biasanya ia menangis. Di saat itulah sang ibu segera berusaha menenangkannya dan kerap berkata, “Kamu jangan suka nangis, karena nanti kalau sudah besar bakal jadi menteri.” Ucapan yang kelak memang benar nyata, terbukti.
Keistimewaan khusus yang juga su­dah terlihat sejak kecil, pernah suatu ke­tika Wahid masuk ke dalam kandang hari­mau milik ayahnya yang berada di bawah pohon besar yang terletak beberapa me­ter di samping masjid. Ternyata raja hutan yang ganas itu diam tidak melawan pada saat Wahid menungganginya.
Keistimewaan lain yang dimiliki Wahid kecil, ia mampu menyerap pelajaran di saat asyik bermain. Saat bermain Wahid gemar berlari ke sana-kemari. Ini pulalah yang dilakukannya saat ayahnya meng­ajar para santri. Dengan santainya Wahid berlari-lari dan menggelendot pada ayah­nya. Sembari bermain seperti ini, ia menguping dan menyerap pelajaran yang disampaikan ayahnya kepada para santri itu.
Karena cepatnya ia menyerap ilmu itu pulalah, pada usia 12 tahun ia sudah bisa mengajar. Murid pertamanya adalah adik­nya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Sambil mengajar adiknya pada malam hari, biasanya ia belajar dan membaca buku-buku dalam bahasa Arab.
Di usia 12 tahun itu Gus Wahid lulus dari Madrasah Tebuireng. Di sela-sela pelajaran agama, ia menghafal syair-syair berbahasa Arab.
Setahun kemudian, ia meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara ke sejumlah pesantren.
Dalam pengembaraan ke sejumlah pe­santren-pesantren, Wahid selalu meng­gunakan oto, sebutan mobil zaman dulu, yang disetirnya sendiri. Selain da­lam usia belasan tahun sudah mahir me­nyetir mobil, ia juga piawai mengendarai sepeda motor.
Pernah suatu ketika, karena ngebut, ia dan sepeda motornya nyemplung ke kali di depan pesantren. Lebar kali itu hampir empat meter dan arusnya deras. Tapi ia tak kesulitan saat naik ke jalan. Mesin sepeda motornya tetap menyala dan tubuh serta pakaiannya tidak basah. Menurut penuturan salah seorang abdi dalem pesantren, waktu itu Wahid meng­aku perasaannya tidak masuk ke kali, melainkan masih di jalan raya.
Wahid mulai pengembaraan dengan menyantri di Pondok Siwalan, Panji, Sido­arjo, selama 25 hari, 1-25 Ramadhan. Kemudian ia pindah ke Pondok Pesan­tren Lirboyo, Kediri, yang didirikan oleh K.H. Abdul Karim, alumnus Tebuireng dan kawan dekat ayahnya.
Dari Lirboyo, Gus Wahid meneruskan pengembaraannya ke sejumlah pondok pesantren di sekitar Jawa Timur. Selama dua tahun ia berpindah-pindah pesantren, kemudian pulang ke Tebuireng.
(Bersambung)

referensi:majalah aliksah.com

ulama-ulama guru bangsa part 2




sambungan dari kisah, ulama-ulama guru bangsa part 1

Gus Wahid, oleh ayahnya, sengaja tak dimasukkan ke sekolah Belanda, ka­rena sang ayah khawatir hal itu akan me­nimbulkan kontroversi di kalangan ulama, yang ketika tengah gigih-gigihnya me­lawan kolonialis Belanda.
Setelah kembali ke Tebuireng, Gus Wahid mulai mengenal huruf Latin. Huruf Latin pada masa itu tidak diajarkan di pondok. Yang ingin bisa menulis Latin harus belajar sendiri. Kecerdasan dan bakat kemampuan ilmiah yang dimiliki Gus Wahid yang luar biasa membuatnya dengan mudah menguasai pelajaran apa pun. Demikian pula halnya dengan ke­mampuan baca-tulis Latin.
Tak mengheranka, di usia 15 tahun, walau tak pernah duduk di bangku se­kolah umum, Gus Wahid sudah mahir baca-tulis huruf latin dan menguasai dua bahasa asing, Inggris dan Belanda. Ke­dua bahasa asing itu dipelajarinya sendiri melalui majalah dalam dan luar negeri. Dan untuk lebih menguasai lagi kedua bahasa asing itu, sang ibunda, Nyai Na­fiqah, meminta kepada orang Eropa yang bekerja sebagai manajer di pabrik gula se­tempat untuk mengajari putranya ba­hasa Inggris dan Belanda. Hal itu di­maksudkan agar Gus Wahid kelak bisa masuk pergaulan elite di perkotaan.
Maka sejak saat itu, bukan hanya kitab-kitab berbahasa Arab yang dilalap­nya — sering kali ia tinggal di ruang per­pustakaan sang ayah berhari-hari lama­nya hanya untuk membaca, apa pun yang ada di di perpustakaan mini itu dibacanya. Tetapi buku-buku yang berbahasa Ing­gris, Jerman, dan Belanda, serta mate­ma­tika, ilmu bumi, dan pengetahuan umum, juga ia baca.
Pada tahun 1932, di usia 18 tahun, Gus Wahid pergi ke Tanah Suci Makkah, didampingi sepupunya, Muhammad Ilyas. Sembari menunaikan ibadah haji, mereka berdua diminta untuk mendalami tafsir, hadits, nahwu, sharaf, dan fiqih.
Dua tahun kemudian Gus Wahid kem­bali ke Jombang.
Kehadirannya di pondok membawa pencerahan. Ia mengusulkan kepada ayah­nya perombakan kurikulum pendi­dik­an pesantren, dari klasikal ke tutorial. Bukan hanya mengubah sistemnya, Gus Wahid, yang kala itu baru berusia 19 ta­hun, juga mengusulkan memperbanyak pen­didikan non-agama. Alasannya se­der­hana, toh sebagian murid tidak akan menjadi ulama, lebih baik mereka dibekali keterampilan praktis. Ide semacam ini me­rupakan lompatan besar bagi kalang­an pesantren pada saat itu.
Ide itu pada awalnya sempat ditolak, tapi kemudian bisa diterima. Maka sejak saat itu, Tebuireng merupakan pesantren pertama yang menerapkan sistem pen­didikan seperti ini, dengan memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum. Bahkan Gus Wahid pun mema­sukkan materi bahasa Inggris dan bahasa Jerman ke pesantren.
Kebesaran Gus Wahid tak hanya ter­bukti dan diakui di lingkungan pesantren. Pada usia 27 tahun, Gus Wahid sudah dipercaya menjadi pemimpin pertama Majelis Islam A‘la Indonesia (MIAI), sebagai federasi perkumpulan kelompok Islam kala itu, yang didirikan oleh K.H. Abdul Wahab, K.H. Mas Mansyur, K.H. Ahmad Dahlan, dan W. Wondoamiseno di Surabaya pada tahun 1937. MIAI merupakan perkumpulan gabungan dari 13 organisasi Islam dalam perjuangan menghadapi tekanan penjajah Belanda.
Di bawah kepemimpinan K.H. Wahid Hasyim, dalam waktu singkat MIAI sudah membuahkan berbagai keputusan pen­ting. Misalnya, pembentukan Komisi Pemberantasan Penghinaan Islam, juga berhasil memulangkan lebih dari 900 orang Islam Indonesia yang telantar di Makkah. Puncaknya, saat kongres di Solo, MIAI di bawah kepemimpinan Kiai Wahid Hasyim memutuskan pelarangan bantuan milis untuk Belanda, melarang transfer darah untuk membantu pepe­rangan Belanda. Selain itu, MIAI juga menuntut perubahan tata negara: Indo­nesia berparlemen berdasarkan Islam.
Di masa pendudukan Jepang, MIAI merupakan satu-satunya perkumpulan yang diperbolehkan berdiri di negeri ini. Di luar itu, Kiai Wahid adalah tokoh yang relatif lebih diterima oleh Jepang diban­ding tokoh-tokoh lainnya. Terlebih lagi se­telah keberhasilannya melobi dan meya­kinkan pembesar Jepang untuk membe­baskan K.H. Hasyim Asy‘ari, yang di­tang­kap mendadak oleh pemerintah Jepang dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1942. Sejak saat itu Jepang ber­ubah pan­dangan: organisasi keagamaan bukan ancaman bagi pendudukan mere­ka. Lobi intensif Kiai Wahid membuahkan hasil.
Kiai Wahid mendekati Jepang bukan tanpa alasan. Ia bercita-cita kelompok Islam terus eksis dan bersatu di tengah penjajahan. Kiai Wahid sadar, persatuan kelompok Islam akan membantu per­juang­an mencapai kemerdekaan. Maka jadilah Kiai Wahid menerapkan politik santun kepada Jepang. Bermanis-manis di depan Jepang tapi menghimpun ke­kuatan di belakang.
Tahun 1941, Kiai Wahid Hasyim me­ngundurkan diri dari MIAI karena pang­gilan ayahnya untuk mengasuh pesan­tren.
Waktu itu, selain menjabat ketua Dewan MIAI, Kiai Wahid juga menjadi ke­tua Departemen Ma‘arif, atau departe­men pendidikan, di NU, yang waktu itu masih berpusat di Surabaya.
Selama memimpin departemen pen­di­dikan, Kiai Wahid melakukan re­orga­nisasi internal. Program lainnya adalah menambah jumlah madrasah di seluruh Indonesia serta meningkatkan kualitas guru serta materi pelajarannya. Ia mema­sukkan materi pelajaran umum dalam ku­rikulum madrasah NU. Kiai Wahid berke­yakinan, ilmu pengetahuan akan menjadi sen­jata bagi umat Islam di masa yang akan datang.
Dalam pengembangan pendidikan, Kiai Wahid berinisiatif mengadakan per­temuan khusus yang membahas penting­nya mendirikan perguruan tinggi. Konfe­rensi Daerah Jawa Timur II di Malang menghasilkan rancangan peraturan ru­mah tangga NU bagian perguruan dan pendidikan. Inilah yang menjadi cikal bakal universitas dan institut agama Islam yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada tahun 1946, Kiai Wahid Hasyim di­pilih menjadi ketua Tanfidziyah Nahdla­tul Ulama, menggantikan K.H. Machfud Shiddiq.
Untuk menggalang dukungan dari para kiai, Jepang membentuk Shumubu, kantor urusan agama. Lembaga ini awal­nya dipimpin oleh Kolonel Horie, perwira Jepang yang dianggap tahu soal Islam.
Namun, di bawah kepemimpinan Kolonel Horie, Shumubu tak menghasil­kan apa pun. Maka Jepang pun meng­gan­tikannya dengan Hoesein Djaja­ningrat.
Tapi, di bawah Hoesein, Shumubu tak juga memberikan pengaruh pada kaum Islam sebagaimana yang semestinya di­harapkan oleh Jepang. Maka Jepang pun menggantikannya dengan K.H. Hasyim Asy‘ari, yang kemudian jabatan itu diserah­kan kepada putranya, K.H. Wahid Hayim.
Maka, sejak saat itu Kiai Wahid Hasyim menjadi pemimpin Shumubu, yang sesungguhnya adalah embrio ke­menterian agama di kemudian hari. Oleh Kiai Wahid, Shumubu dijadikan sebagai jembatan untuk mengatasi perbedaan antar-umat, agar tidak terpecah.
Hubungan Kiai Wahid dengan Je­pang menjadikannya sibuk di Jakarta se­bagai “kepanjangan tangan” Negeri Matahari Terbit dengan para tokoh per­gerakan ke arah kemerdekaan dan untuk urusan yang berhubungan dengan agama Islam.
Kiai Wahid memiliki kedudukan yang terhormat menjadi anggota Chuo Sangi In, biasa dibaca Chusang In, Dewan Pe­nasihat Pusat Pemerintah Militer Jepang, yang dipimpin oleh Soekarno, juga pena­sihat Kantor Urusan Agama Jepang.
Pada tahun 1943, Kiai Wahid Hasyim ditunjuk menjadi salah seorang pemimpin Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyu­mi), pengganti MIAI.
Saat menjadi wakil ketua Masyumi, Kiai Wahid merintis pembentukan Baris­an Hizbullah, yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan.
Menjelang kemerdekaan, Kiai Wahid menjadi anggota Badan Penyelidik Usa­ha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang dibentuk Jepang pada 29 April 1945. Dalam rapat perumusan yang teramat alot mengenai dasar ne­gara, Kiai Wahid diakui oleh para pakar se­jarah tampil sebagai sosok yang ter­depan untuk menyuarakan syari’at Islam agar menjadi bagian mutlak dalam un­dang-undang dasar, dan bahkan meng­usulkan agar tercantum di dalam undang-undang dasar ketentuan bahwa yang boleh menjadi presiden dan wakil presi­den hanya orang Indonesia asli yang ber­agama Islam.
Pada usia 35 tahun, Kiai Wahid men­duduki posisi penting sebagai menteri aga­ma. Dalam periode yang singkat (1949-1950), sejumlah gagasan tentang pendi­dikan agama yang selama ini ter­tahan dalam benaknya lantas mengucur deras. Saat menjadi menteri agama itu­lah, Kiai Wahid menelurkan kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi sistem pendidikan Indonesia hingga saat ini. Di antaranya, pada tanggal 20 Januari 1950, ia menge­luarkan peraturan pemerintah yang me­wajibkan pendidikan dan peng­ajaran aga­ma di lingkungan sekolah umum sebagai bagian dari kurikulum pen­didikan nasional, baik negeri maupun swasta.
Sebelum menjadi menteri agama, Kiai Wahid mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia, Jakarta, pada tahun 1944. Dari sekolah inilah bermacam per­guruan tinggi Islam yang ada di negeri ini berhulu. Dan sekolah ini pula yang men­jadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Indonesia dan Universitas Islam Negeri (UIN), yang dahulu Institut Agama Islam Negeri (IAIN), di kemudian hari.
Pada hari Sabtu, 18 April 1953, Kiai Wahid Hasyim berangkat dari Jakarta me­nuju Sumedang, Jawa Barat, untuk meng­hadiri rapat NU. Di Kampung Cimin­di, di antara Bandung dan Cimahi, hujan lebat mengguyur jalanan yang dilalui oleh kendaraan yang ditunggangi oleh Kiai Wa­hid dan rombongan. Ban Chevrolet, yang ditunggangi Kiai Wahid, selip dan sang sopir tak mampu mengendalikan­nya. Mobil pun melaju zig-zag. Di depan, sebuah truk mengerem. Bagian belakang mobil Kiai Wahid membentur truk itu de­ngan keras. Tubuh Kiai Wahid terlempar ke luar dan terlindas truk. Keesokan hari­nya, 19 April 1953, guru bangsa, ulama pendidik, dan pendidik ulama itu wafat di rumah sakit Borromeus, Bandung, dalam usia 39 tahun. Bangsa Indonesia pun di hari itu dipenuhi air mata kesedihan yang teramat mendalam. Bumi Pertiwi diting­gal­kan salah satu putra terbaiknya.

ulama-ulama guru bangsa part3

Assalamualaikum wr wb.salam sejahtera buat pembaca blog stroom09 yg setia hadir membaca artikel-artikel blog stroom09.kali ini saya akan mencoba memposting sekilas ulama pendidik,pendidik ulama.yuk kita simak bareng2 artikel di bawah ini semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah  perjuangan ulama tersebut.biar gagh penasaran langsung saja ya.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Tuan Guru K.H. Muhammad Zainud­din Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW), lahir di Desa Pancor, Lom­bok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1316 H, ber­tepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 M, dari perkawinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid, yang termasyhur dengan pang­gilan “Guru Mukminah” atau “Guru Mi­nah”, dengan seorang wanita shalihah, Hj. Halimah As-Sa`diyah.
Nama kecilnya adalah Muhammad Saggaf, nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik un­tuk dicermati. Yakni, tiga hari sebelum ia dilahirkan, ayahnya, T.G.H. Abdul Madjid, didatangi orang waliyullah dari Hadhra­maut dan Maghribi. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni “Saqqaf”. Kedua waliyullah ter­sebut berpesan kepada T.G.H. Abdul Madjid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama “Saqqaf”.
Setelah menunaikan ibadah haji, nama kecilnya tersebut diganti dengan “Muhammad Zainuddin”. Nama ini pun di­berikan oleh ayahnya sendiri yang diambil dari nama seorang ulama besar yang mengajar di Masjid Al-Haram. Akhlaq dan kepribadian ulama besar itu sangat me­narik hati sang ayah. Ulama besar itu ada­lah Syaikh Muhammad Zainuddin Se­rawak, dari Serawak, Malaysia.
Sejak kecil T.G.K.H. Muhammad Zai­nuddin terkenal sangat jujur dan cerdas. Karena itu tidaklah mengherankan bila ayah-bundanya memberikan perhatian isti­mewa dan menumpahkan kasih sa­yang begitu besar kepadanya.
Ketika melawat ke Tanah Suci Mak­kah untuk melanjutkan studi, ayah-bun­danya ikut mengantar ke Tanah Suci.
Ayahnya yang mencarikan guru tem­pat ia belajar pertama kali di Masjidil Ha­ram dan sempat menemaninya di Tanah Suci sampai dua kali musim haji. Sedang­kan ibunya, Hj. Halimatus Sa’diyah, ikut bermukim di Tanah Suci mendampingi dan mengasuhnya sampai ibunda ter­cin­tanya itu berpulang ke rahmatullah tiga se­tengah tahun kemudian dan dimakam­kan di Mu’alla, Makkah.
Dengan demikian, tampak jelaslah be­tapa besar perhatian ayah-bundanya terhadap pendidikannya. Hal ini juga ter­cermin dari sikap ibunya setiap kali ia berangkat untuk menuntut ilmu. Sambil mengulurkan tangannya untuk dicium sang putra tercinta, ibunya selalu men­doakan dengan ucapan, “Mudah-mudah­an engkau mendapat ilmu yang barakah.” Dan sang ibu terus memperhatikan ke­pergiannya sampai ia tidak terlihat lagi oleh pandangan mata.
Pernah suatu ketika, Guru Zainuddin lupa pamit kepada ibunya. Ia sudah jauh berjalan sampai ke pintu gerbang, baru sang ibu melihatnya dan kemudian me­manggilnya untuk kembali, “Gep, Gep, Gep (nama panggilan masa kecilnya).... Kok lupa bersalaman?” ucap sang ibunda dengan suara yang cukup keras.
Akhirnya, ia pun kembali menemui ibu­nya sembari meminta maaf dan men­cium tangannya. Lalu sang ibu pun men­doakannya, “Mudah-mudahan anakku men­dapatkan ilmu yang barakah.” Sete­lah itu barulah ia berangkat ke sekolah.
Ini merupakan pertanda, betapa be­sar kesadaran ibunya akan penting dan mustajabnya doa seorang ibu untuk sang anak, sebagaimana dituntunkan dan di­ajarkan oleh Rasulullah SAW.
Pengembaraan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menuntut ilmu pengetahuan ber­awal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) dan berbagai ilmu agama lain­nya, yang diajarkan langsung oleh ayah­nya, yang dimulai sejak ia berusia lima tahun.
Setelah berusia sembilan tahun, ia memasuki pendidikan formal, yang di­sebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M.
Setelah menamatkan pendidikan for­malnya, ia diserahkan oleh ayahnya un­tuk menuntut ilmu agama yang lebih luas dari beberapa tuan guru termasyhur di dae­rahnya saat itu, antara lain T.G.H. Syarafudin dan T.G.H. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Desa Kelayu, Lombok Timur.
Di samping didampingi kedua orang­tuanya, ketika belajar di Makkah Muham­mad Zainuddin remaja juga diantar ke­menakan dan beberapa anggota keluar­ga, termasuk T.G.H. Syarafuddin. Pada saat itu, yaitu menjelang musim haji tahun 1341 H/1923 M, ia berusia 15 tahun.
Guru pertama yang ditemuinya di Makkah adalah Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjid Haram. Di samping itu ia juga bel­ajar ilmu sastra kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin Al-Kutbi.
Ketika ayah T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pulang ke Lom­bok, ia berhenti belajar mengaji kepada Syaikh Marzuki, dan melanjutkan mencari guru yang lain. Namun, belum sempat ia men­dapatkan guru, sudah terjadi perang saudara antara kekuasaan Syarif Husein dan golongan Wahabi.
Dua tahun setelah terjadinya huru-hara tersebut, Muhammad Zainuddin muda berkenalan dengan Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia di­ajak masuk belajar di Madrasah Shau­latiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah.
Madrasah Shaulatiyah adalah madra­sah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaung­nya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama besar dunia.
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap santri yang hendak masuk di Madrasah Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi kemampuannya. Demikian pula dengan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin, ia juga dites terlebih dahulu. Secara kebetulan ia diuji langsung oleh Direktur  Shaula­tiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad Al-Masy­syath. Hasil tes menentukan, ia berada di kelas 3.
Mendengar keputusan itu, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin minta diperkenan­kan masuk kelas 2, dengan alasan ingin men­dalami mata pelajaran ilmu nahwu dan sharaf.
Semula Syaikh Hasan bersikeras agar T.G.K.H. Muhammad Zainuddin ma­suk kelas 3, tetapi pada akhirnya beliau melunak dan mengabulkan permohonan itu. Dan sejak itu T.G.K.H. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah Shaulatiyah mulai dari kelas 2.
Prestasi akademisnya sangat isti­mewa. Ia berhasil meraih peringkat per­tama dan juara umum. Dengan kecer­dasan yang luar biasa, T.G.K.H. Muham­mad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya enam tahun, padahal normalnya adalah sembilan tahun. Dari kelas 2, ia diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8, dan 9.
Setelah menyelesaikan studi di Madrasah Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H/27 Maret 1935 M, dengan predikat “mumtaz” (summa cum laude), ia tidak langsung pulang ke Lombok, melainkan bermukim lagi di Mak­kah selama dua tahun sambil me­nung­gu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu ia manfaatkan untuk belajar lagi, an­tara lain belajar ilmu fiqih kepada Syaikh Abdul Hamid Abdul­lah Al-Yamani. De­ngan demikian T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menun­tut ilmu di Makkah se­lama 12 tahun dan ia telah menunaikan haji sebanyak 13 kali haji.
Setelah selesai menuntut ilmu di Mak­kah dan kembali ke tanah air, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin lang­sung melaku­kan safari dakwah ke berbagai tempat di Pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya “Tuan Guru Bajang”.
Semula, pada tahun 1934, ia mendiri­kan Pesantren Al-Mujahidin sebagai tem­pat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1356 H/22 Agustus 1937 ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940 H/1941 M.
Penghargaan kepada mahaguru yang paling dicintai dan disayangi, Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath, ia  wujudkan dalam bentuk pendirian Pondok Pesantren Hasaniyah NW di Jenggik, Lombok Timur. Demikian pula penghargaan kepada mahaguru Maulana Syaikh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi, diwujudkannya dalam ben­tuk pendirian Pondok Pesantren Amini­yah NW di Bonjeruk, Lombok Tengah.
Kepemimpinan yang ia contohkan di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang dalam serta pemimpin yang memiliki ke­arifan dan kebijaksanaan.
Demikian pula tentang pendekatan yang ia lakukan, selalu mengandung nilai-nilai pendidikan. Ia tidak mau bahkan tidak pernah bersikap sebagai pembesar yang disegani. Ia selalu bertindak sebagai pengayom yang berada di tengah-tengah jama’ah dan senantiasa menempatkan diri sesuai dengan keberadaan dan ke­mampuan mereka. Demikian juga halnya di kala ia memberikan fatwanya, selalu di­sesuaikan dengan kondisi dan jangkau­an alam pikiran murid dan santrinya.
Pembawaan dan sikap hidupnya se­lalu menunjukkan kesederhanaan. Inilah yang membuatnya selalu dekat dengan para warganya dan murid-muridnya, de­ngan tidak berkurang kewibawaan dan kharismanya. Keluhan yang disampaikan para warga dan muridnya ditampung, di­dengar, dan dicarikan jalan penyelesai­annya dengan penuh kearifan dan kebi­jaksanaan, tanpa merugikan salah satu pihak.
Untuk melanjutkan dan mengem­bang­kan perjuangan Nahdlatul Wathan di masa datang, ia sangat mendambakan munculnya kader-kader yang memiliki potensi, militansi, serta loyalitas yang tinggi, baik dari segi semangat, wawasan, maupun bobot keilmuan. Dalam banyak kesempatan ia sering menyampaikan keinginannya agar murid dan santrinya memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bah­kan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang ia miliki. Demiki­an motivasi yang selalu ia kumandangkan supaya murid dan santrinya lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu penge­tahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nah­dlatul Wathan, ia tidak pernah membe­dakan yang satu dan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberi perhatian dan kasih sa­yang yang sama besarnya, bagaikan cin­ta dan kasih sayang seorang ayah ke­pada anak-anaknya.
Untuk membina dan memonitor kua­litas kader-kader Nahdlatul Wathan, ia mengeluarkan wasiat dalam bahasa Arab, yang artinya:
“Dengan menyebut nama Allah dan dengan memuji-Nya, semoga keselamat­an tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan, dan ridha-Nya.
Anak-anak yang setia dan murid-mu­ridku yang berakal, sesungguhnya se­mulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk per­juangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan.
Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, kemudian ber­juanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara. Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang sha­lih dan mukhlish, baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.
Semoga Allah membukakan pintu rah­mat untuk kami dan kamu, dan se­moga Dia menganugerahi kami dan kamu serta para simpatisan Nahdlatul Wathan masuk surga dan nikmat tam­bahan yang tiada taranya, yaitu melihat Dzat-Nya dari dalam surga.
Pada tahun 1952, madrasah-madra­sah cabang NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah)-NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) yang didirikan oleh para alumnus di berbagai daerah te­lah berjumlah 66 buah. Maka untuk meng­koordinir, membina, dan mengem­bangkan madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1372 H/1 Maret 1953 M.
Sampai dengan tahun 1997 lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi Nahdlatul Wathan telah ber­jumlah lebih dari 747 buah dari tingkat ta­man kanak-kanak sampai dengan per­guruan tinggi. Begitu juga lembaga sosial dan dakwah Islamiyah Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB, melainkan juga di berbagai dae­rah di Indonesia, seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara, seperti Malaysia, Singa­pura, Brunei Darussalam.
Pada zaman penjajahan, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bang­sa, yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madra­sah NWDI-NBDI membentuk suatu ge­rakan yang diberi nama “Gerakan Al-Mujahidin”. Gerakan Al-Mujahidin ini ber­gabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan ke­merdekaan dan keutuhan bangsa Indo­nesia.
Pada tanggal 7 Juli 1946, T.G.H. Muhammad Faizal Abdul Majid, adik kandung T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, da­lam penyerbuan itu gugurlah T.G.H. Mu­hammad Faisal Abdul Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai syuhada.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Ab­dul Madjid, sebagai ulama, pendidik, dan pemimpin umat, telah menorehkan ber­ba­gai jasa, antara laian mendirikan Pe­santren Al-Mujahidin (1934), mendirikan Madrasah NWDI (1937), mendirikan Madrasah NBDI (1943), menjadi pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok (1945), pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur (1946), menjadi amirul haj dari Negara Indonesia Timur (1947/1948), menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi (1948/1949), konsulat NU Sunda Kecil (1950), ketua Badan Penasihat Masyumi Daerah Lombok (1952), mendirikan Or­ga­nisasi Nahdlatul Wathan (1953), ketua umum PBNW Pertama (1953), merestui terbentuknya partai NU dan PSII di Lom­bok (1953), merestui terbentuknya Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Cabang Lombok (1954), menjadi anggota Konsti­tuante RI hasil Pemilu I 1955 (1955), men­dirikan Akademi Pedagogik NW (1964), menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung (1964), mendiri­kan Ma’had Dar Al-Qur’an wa Al-Hadits Al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan (1965), anggota MPR RI hasil pemilu II dan III 1972-1982, penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (1971-1982), mendirikan Ma’had li Al-Banat (1974), ketua Penasihat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mata­ram (1975-1997), mendirikan Universitas Hamzanwadi (1977), menjadi rektor Uni­versitas Hamzanwadi (1977), mendirikan Fakul­tas Tarbiyah Universitas Hamzan­wadi (1977), mendirikan STKIP Hamzan­wadi (1978), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi (1978), men­dirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (1982), mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Hamzanwadi (1990), mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri (1994), mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi (1996).
Oleh karena jasa-jasanya itulah, pada tahun 1995 ia dianugerahi Piagam Peng­hargaan dan medali Pejuang Pemba­ngunan oleh pemerintah.
Tarikh akhir 1997 menjadi masa ke­labu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M/20 Ju­madil Akhirah 1418 H, dalam usia 99 ta­hun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriyyah, ulama karis­matis, Tuan Guru Haji Muhammad Zai­nuddin Abdul Madjid, berpulang ke rah­matullah sekitar pukul 19.53 WITA di ke­diamannya di Desa Pancor, Lombok Ti­mur. Tiga warisan besar yang ia tinggal­kan adalah ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelem­bagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman