Setiap Jum’at Pahing malam Sabtu Pon, Majelis Ta’lim dan Mujahadah Nighayatul Mustaghfirin Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mengadakan mujahadah akbar di Masjid Agung Nurul Falah Kecamatan Bukateja, diikuti jama’ah yang datang dari daerah Purbalingga dan sekitarnya.
Acara mujahadah itu, yang banyak diikuti jama’ah Nahdlatul Ulama Kecamatan Bukateja, tidak saja diikuti warga Bukateja, tapi juga warga nahdhliyin dari Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, Banyumas dan sekitarnya.
Acara berlangsung selepas shalat Isya. Biasanya acara dimulai dengan shalat dan dzikir bersama, baru dilanjutkan dengan mauizhah hasanah. Namun lain pada malam Sabtu tanggal 3 Mei 2013, acara mujahadah majelis dzikir Nighayatul Mustaghfirin langsung diisi dengan taushiyah oleh K.H. Achmad Burhanuddin, pengasuh Panti Asuhan Al-Khaerat, Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.
Dalam kesempatan itu K.H. Achmad Burhanuddin menyampaikan pentingnya bulan Rajab. Bulan Rajab itu adalah bulan yang amat diberkahi oleh Allah SWT, sehingga Rasulullah SAW berdoa, ”Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan (Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).”
Selanjutnya K.H. A. Burhanuddin, yang kerap disapa oleh jama’ah ”Eyang Bur”, memberikan ijazah wirid harian pada bulan Rajab kepada jama’ah. Pada awal bulan Rajab mulai tanggal 1-10 wirid hariannya adalah Subhanal Ahadish Shamad. Pada tanggal 11-20 bulan Rajab wiridnya Subhanal Hayyul Qayyum. Dan pada akhir bulan Rajab dari tanggal 21-30 Rajab wiridnya adalah Subhanallahur Ra’uf.
Ini adalah amalan-amalan yang baik untuk dunia dan akhirat. Inilah amalan-amalan untuk cepat mendapat ampunan dari Allah SWT. ”Mereka yang mendapat ampunan dari Allah SWT itu menjadi calon penghuni surga,” kata K.H. Achmad Burhanuddin.
Pada zaman Rasulullah SAW ada orang kafir yang kaya, muda, dan ganteng. Namanya Hidyatuts Tsalabi. Rasulullah SAW selalu berdoa kepada Allah SWT agar ia masuk Islam. Tak lama berselang, Hidayatuts Tsalabi mendapat hidayah dari Allah SWT karena terpesona melihat keluhuran akhlaq Rasulullah SAW, ia akhirnya mengucap syahadat. Rasulullah SAW sangat berbahagia. Orang kafir yang masuk Islam dijamin Allah SWT mendapat ampunan dan masuk surga.
Amalan kedua agar mendapat ampunan Allah SWT yakni taubat.
Amalan yang ketiga adalah beramal dengan ikhlas.
Amalan keempat yakni menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang dingin. Misalnya pada malam hari di saat orang-orang banyak tidur.
Amalan kelima yaitu menanti shalat jama’ah setelah melakukan shalat sunnah.
Amalan yang keenam adalah melakukan puasa sunnah di bulan Rajab. ”Rasulullah SAW bahkan sering berpuasa secara berturut-turut selama tiga bulan, mulai Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, ini karena keagungan pada bulan-ulan itu, agar mendapat ampunan Allah SWT,” kata Eyang Bur.
Bulan Rajab, dua bulan menjelang bulan Ramadhan, adalah bulan taubat.
Tak terasa sudah satu setengah jam K.H. Achmad Burhanuddin menyampaikan taushiyah kepada jama’ah. Sekitar pukul 21.30 acara berlanjut dengan shalat Hajat dan mujahadah bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar hajat-hajat jama’ah terkabul, dipimpin oleh K.H. Mukhlasin dari Majasari, Bukateja, Kabupaten Purbalingga.
Acara mujahadah di Majelis Ta’lim Nighayatul Mustaghfirin Kecamatan Bukateja ini berlangsung rutin, selapanan hari, tiap hari Jum’at Pahing malam Sabtu Pon, dengan penceramah berganti-ganti.
Siap Menghadapi Tantangan Zaman
K.H. Achmad Burhanuddin adalah sosok yang begitu sederhana. Ia kelahiran Bukateja 9 November 1960.
Sampai tahun 1973 ia mengenyam pendidikan dasar di Bukateja. Selepas itu ia melanjutkan pendidikan ke Pondok API Tegalrejo di bawah asuhan K.H. Abdurrahman Chudhary sampai tingkat Tsanawiyah. Dari tahun 1985 ia melanjutkan pendidikan tingkat Aliyah di Ponpes Tanggir, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, di bawah asuhan K.H. Soim Muslih.
Putra keempat dari delapan bersaudara H. Soleh dan Hj. Rodiyah ini, selepas menuntut ilmu, mulai pertengahan 1980-an mulai memberikan ta’lim di wilayah Bukateja dan sekitarnya. Mulai tahun 1990 ia membuka panti asuhan anak yatim piatu di Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Al-Khaerat. Saat ini panti Al-Khaerat mempunyai lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Huda khusus bagi santri-santri yang ingin menghafal Al-Qur’an.
Panti Al-Khaerat ini memang khusus untuk anak yatim piatu dan santri-santri yang ingin belajar agama. Yayasan panti ini di bawah binaan Habib Ali bin Umar Alquthban, Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Anak-anak asuhannya memang dididik bekal agama yang kuat agar menjadi generasi bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman. Selain dididik materi agama Islam, seperti nahwu, sharaf, balaghah, akhlaq, tauhid, fiqih, juga dibekali dengan pendidikan keterampilan, yakni ilmu-ilmu cara berkebun, bertani, beternak, termasuk perikanan.
Kepada santri senior, bapak empat putra ini, satu perempuan dan tiga laki-laki, mengajar kitab-kitab berat, Ihya Ulumiddin, Tafsir Jalalayn, Fathul Wahhab, dan Shahih Bukhari.
Menurut ketua Musta’syar Jami’ah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, ini tantangan dakwah sekarang semakin berat karena pergaulan bebas memang merajalela, khususnya di kalangan generasi muda. “Karenanya peran majelis ta’lim, masjid, dan pesantren menjadi sangat penting, untuk memfilter arus kebudayaan global,” katanya menutup perbincangan.
sumber:
Aji Setiawan, Bukateja
majalah alkisah.com
koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Tampilkan postingan dengan label majalah alkisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah alkisah. Tampilkan semua postingan
Senin, Februari 03, 2014
Senin, Oktober 14, 2013
sebuah pelajaran hikmah dari mendawamkan thoharoh
Pada pelajaran kali ini kita telah sampai pada pelajaran tentang kesiapan untuk melakukan penyucian lahir, setelah penjelasan tentang penyucian hati dari berbagai penyakitnya. Meskipun sesungguhnya penjelasan tentang penyakit-penyakit hati, terutama tentang induk dari segala penyakit hati, yakni al-kibr (sombong), ar-riya’ (riya’), dan al-hasad (dengki), tidaklah cukup tiga majelis yang telah lalu untuk menguraikannya. Karena sesungguhnya kesemuanya itu merupakan inti masalah yang dihadapi para peniti jalan menuju Allah SWT, bahkan inti masalah yang dihadapi umat, dan bahkan merupakan inti masalah yang dihadapi kemanusiaan di zaman kita sekarang ini.
Tujuan dari pelajaran tentang induk-induk penyakit hati ini tidak lain adalah memberikan penerangan terhadap inti-inti permasalahan perjalanan menuju Allah SWT, yang dari sana sempurnalah penitian di atas bab demi bab permasalahan-permasalahan perjalanan menuju Allah SWT. Dan selanjutnya di belakang setiap majelis dan pelajaran itu tidak lain adalah cabang-cabang, yang, bila saja hati kita sadar dan tidak terlelap untuk melakukan perjalanan menuju Allah SWT, niscaya kita merasakan kebutuhan yang teramat sangat kepada setiap cabang itu.
Dan pelajaran-pelajaran kita terdahulu dimaksudkan untuk menghilangkan kesamaran dalam pembahasan-pembahasan penting itu. Akan tetapi hendaklah kalian kembali dan mengkaji kitab-kitab yang dikhususkan dalam hal ini. Ini berarti setiap orang hendaknya memiliki kesadaran terhadap satu hal, yakni di antara peranan para pendahulu dari kalangan salafush shalih dan generasi setelah mereka adalah bahwa mereka telah mengkhususkan ilmu tentang perjalanan menuju Allah SWT dan penyucian diri sebagai satu disiplin ilmu tersendiri.
Itulah sebabnya, seorang penuntut ilmu dan juga peniti jalan menuju Allah SWT, sebagaimana ia mempelajari ilmu, sebut saja di antaranya ilmu fiqih, tauhid, ushul, hadits, ulumul Qur’an, dan cabang-cabangnya, seperti ilmu ushul tafsir, tafsir, asbabun nuzul, nasikh mansukh, semestinya pun memperdalam ilmu tentang penyucian diri, karena teramat sentral, penting, dan tingginya kedudukan makna penyucian diri di dalam agama kita.
Seratus tahun atau seratus limah puluh tahun ke belakang telah tersebar merata adanya pengesampingan terhadap ilmu ini di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab dari kemunduran umat. Karenanya kembali kepada ilmu ini adalah satu kemestian. Ilmu yang memberikan perhatian terhadap penyucian hati.
Namakan ilmu ini ilmu ihsan, atau namakanlah ia ilmu tazkiah, dan atau apa pun itu. Kami tidak ingin masuk dalam perdebatan mengenai nama bagi ilmu ini, karena yang kami inginkan adalah apa yang dinamakan dengannya itu, bukan namanya.
Yang jelas, setelah pelajaran penting tentang perbaikan hati dan penyuciannya setelah menutup jendela-jendela yang darinya masuk berbagai keburukan dan kegelapan ke dalam hati, selanjutnya yang harus menjadi perhatian kita berikutnya adalah penyucian lahir, karena di antara keagungan agama kita adalah bahwa Islam membangun manusia seutuhnya, lahir dan bathinnya. Islam tidak menghendaki hanya bangunan lahir yang kokoh, sementara bathinya rapuh. Dan tidak pula hanya bangunan bathinya yang kokoh, sedangkan lahirnya rapuh. Islam membangun manusia lahir dan bathin.
Yang dimaksud dengan penyucian lahir adalah kebersihan anggota tubuh dan pakaian, yakni kebersihannya dari najis dan dari kotoran. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahaindah, mencintai keindahan, Mahabersih, mencintai kebersihan.”
Allah SWT berfirman, “Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” — QS Al-A`raf: 31.
Dari sini kita diajari bahwa seorang mukmin tidaklah rela berada dalam keadaan yang pada tubuhnya atau pakaiannya terdapat sesuatu yang najis, karena seorang mukmin senantiasa dalam keadaan hadir bersama Allah SWT.
Wahai murid, sangat penting bagimu bahwa engkau senantiasa dalam keadaan hadir bersama Allah SWT dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya dan merasakan agungnya berhubungan dengan-Nya. Najis dan apa yang bersamanya dari kotoran yang menempel di badan atau mengotori pakaian, yang diri kita sendiri merasa jijik terhadapnya, adalah juga termasuk tempat masuknya kegelapan ke dalam diri manusia. Najis memiliki hubungan dengan kegelapan, sebagaimana kebersihan memiliki hubungan dengan cahaya.
Karenanya, pertama, tidaklah patut bagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT untuk berada dalam satu kondisi pakaian, badan, atau tempatnya terkotori najis. Jika terkena sesuatu dari najis, hendaklah segera membersihkannya dengan membasuhnya. Ini selanjutnya mengingatkan kita kepada satu makna bahwa kita butuh mempelajari hukum syari’at dalam muamalah kita dengan kebersihan dan najis, karena sesungguhnya perjalanan menuju Allah SWT tidak akan dapat dilakukan dengan kebodohan. Ulama berkata, “Tidaklah sekali-kali Allah menjadikan walinya dari seorang yang bodoh, dan jika pun Allah mengambilnya niscaya Dia mengajarinya ilmu.”
Itulah sebabnya, kita teramat butuh untuk memberikan perhatian yang besar terhadap kebersihan lahir.
Selain itu kita pun teramat butuh memberikan perhatian terhadap sisi maknawi dari kebersihan lahir, yakni terangkatnya hadats besar (al-hadats al-akbar) dan hadats kecil (al-hadats al-ashghar). Maknanya, seorang murid tidaklah rela apabila berlalu darinya satu saat sedangkan dirinya berada dalam keadaan berhadats.
Karenanya, apabila ia terkena hadats kecil yang dapat membatalkan wudhu, ia bersegera mengambil wudhu; dan apabila ia terkena hadats besar yang mewajibkan mandi, ia bersegera mandi untuk menghilangkannya. Jika ia menggauli istrinya atau terbangun dari tidur dalam keadaan junub, ia bersegera mandi untuk menghilangkannya.
Dan jika ia menghadapi sesuatu yang menyebabkan mengakhirkan mandinya, minimal ia melakukan wudhu. Demikian pula pada keadaan-keadaan berat dan darurat, seperti merasakan letih yang teramat berat, sehingga tidak dapat segera mandi karenanya, maka hendaklah ia bertayammum, sekalipun pada tembok (yang berdebu), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA. Di saat-saat seperti itu, paling tidak jangan engkau tinggalkan menempelkan telapak tanganmu di tembok dengan niat tayammum. Kemudian engkau bertayammum agar tidaklah engkau tidur melainkan engkau berada pada salah satu bentuk thaharah. Adapun bila engkau hendak keluar dari rumah, tidaklah patut engkau keluar dari rumahmu melainkan dalam keadaan suci dan di atas thaharah.
Di antara manfaat dari mudawamah thaharah (senantiasa dalam keadaan suci) adalah, pertama, penjagaan dan pemeliharaan.
Salah seorang bertanya kepada saya, apakah yang dapat memperkuat dan memperbanyak datangnya lintasan-lintasan kebajikan yang datang dari Allah SWT sebagai ilham atau dari bisikan (lummah) malaikat, dan dapat meminimalisir datangnya lintasan keburukan yang datang dari setan, nafsu, atau sebagai istijraj.
Ingatkah kalian tentang pelajaran yang telah lalu? Sekarang seseorang bertanya tentang hal itu. Bagaimana lintasan-lintasan kebaikan itu akan dapat bertambah?
Salah satu jawaban dari pertanyaan ini adalah apa yang tengah kita bicarakan pada pelajaran kali ini. Seorang murid yang senantiasa menjaga dirinya dalam keadaan suci akan memperbanyak datangnya lintasan-lintasan kebaikan ke dalam hatinya dan meminimalisir datangnya lintasan keburukan.
Pada saat seorang murid, peniti dan pencari jalan dan kedekatan kepada Allah SWT, keadaannya tidak dalam wudhu dan suci, akan banyak datang kepadanya lintasan-lintasan keburukan, bisikan setan, dan bisikan hawa nafsu, yang terus semakin kuat lintasan-lintasan itu di dalam hatinya. Akan tetapi, bila keadaannya senantiasa berada dalam wudhu dan thaharah, selama itu pula ia hidup dalam lingkaran cahaya, yang akan memeliharanya dan melindunginya dari masuknya lintasan-lintasan buruk ke dalam hatinya. Memeliharanya pula dari gangguan setan, baik setan manusia ataupun jin. Menjaganya dari dengki dan juga memeliharanya dari sihir. Inilah penjagaan dan pemeliharaan yang sempurna bagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT. Yakni senantiasa berada dalam keadaan wudhu dan thaharah.
Kedua, penguat keyakinan di dalam hati.
“Adakah pengaruhnya dari air yang aku gunakan untuk membasuh wajahku, kedua tanganku hingga kedua siku, mengusap rambutku, dan membasuh kedua kakiku hingga mata kaki, terhadap bertambah kuatnya keyakinan, yang merupakan dasar agama?”
Para ulama menjawab, “Benar.”
Seseorang yang senantiasa bersungguh-sungguh menjaga keadaannya dalam wudhu, ia tengah mempersiapkan dirinya untuk dapat bertemu Allah SWT di setiap saat dan waktunya. Orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menjaga keadaannya dalam thaharah, berarti ia telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu Allah SWT di setiap saat dari waktu-waktunya.
Di antara perkara yang senantiasa para guru kami memotivasinya dan membangkitkan semangat kita untuk selalu menjaga thaharah dan selalu berada dalam keadaan thaharah adalah bahwa mereka berkata, “Kapan pun datang kematian kepadamu, engkau dalam keadaan suci.”
Itulah sebabnya, hendaklah setiap kita, bila hendak mengambil wudhu, mengingat-ingat ungkapan ini. “Aku mati dalam keadaan suci.” Bila seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT senantiasa mengingat mati, hatinya terpenuhi ingatan akan kematian dan kesiapan untuk mati, maka niscaya dunia tidak akan dapat mempermainkan hatinya, setan pun tidak dapat menggodanya, dan nafsu pun tidak akan dapat mendiktenya.
Bila pun sesekali ia tersalah, niscaya ia akan segera ingat dan sadar untuk kemudian bertaubat kepada Allah SWT, karena ia selalu dalam keadaan mengingat kematian. Dan orang yang berbuat amal karena mengingat akan kematian, sesungguhnya ingat akan kematian itu telah menjadikannya bangkit untuk senantiasa berbuat amal dan amal. Ia bangkit untuk mengambil wudhu, selalu mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian. Dan perbuatan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri agar siap menyambut datangnya kematian akan menambah kuat keyakinan di dalam hatinya. Demikianlah, mudawamah dalam wudhu dan thaharah akan menambah kuat keyakinan dalam hati.
mengendalikandiri dari banyak makan
Imam Malik RA makan hanya sekali dalam sehari, ia pun
buang hajat sekali dalam sehari. Imam Malik RA juga tidak pernah buang
hajat di Madinah, karena menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia berkata,
“Sungguh aku malu untuk membuang kotoranku di tempat yang mungkin
Rasulullah SAW pernah menapakkan kaki di atasnya atau duduk padanya.”
Setelah menjelaskan panjang lebar ihwal makna-makna yang terdapat dalam penampilan, sebagai kilas balik sekaligus pendalaman terhadap makna-makna dalam pelajaran tentang kebersihan lahir dan kaitannya dengan makna-makna bathin, pengasuh melanjutkan penuturannya tentang menjaga diri dari banyak makan sebagai bentuk kemestian untuk dapat melazimkan diri bagi seorang salik di atas kebersihan lahir.
Pembicaraan kita masih seputar masalah kesucian dan kebersihan lahir. Kaitannya dengan hal ini, sebagaimana telah kita singgung pada awal pelajaran ini (edisi yang lalu), untuk dapat senantiasa menjaga kesucian lahir, adalah menjadi kemestian bahwa kita hendaknya meminimalkan makan, minum, tidur, dan bicara, sehingga sedikit pula kebutuhan kita untuk mendatangi kamar peturasan.
Agar jarang berhadats, kita harus makan sebatas kebutuhan kita saja. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menguatkan tulang punggungnya.”
Inilah kebutuhan dasar itu. Yakni yang dapat menguatkan tulang punggung, yang dengannya engkau dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Pada awalnya, ketika para ulama menjelaskan hal ini, dikatakan kepada mereka, “Mengapa kalian melarang manusia dari menikmati semua yang halal. Ini semua adalah nikmat Allah SWT!” Sampai kemudian para tabib menjelaskan bahaya lemak, makanan yang berkolesterol, dan makanan yang memabukkan.
Setelah itu datang pula penyakit gula, obesitas, penyakit lambung, dan sebagainya, sehingga manusia sibuk mencari sebabnya dan mereka mulai menerapkan tata cara pencegahan dini agar terhindar dari semua penyakit itu. Padahal, sesungguhnya pencegahan semacam itu sudah lebih dahulu disampaikan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para ulama sepeninggal beliau SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menguatkan tulang punggungnya.” Nabi SAW juga bersabda, “Dan jika ia harus memenuhi lambungnya, hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”
Apakah kalian ingin mengetahui hakikat sesungguhnya dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW ini? Ketentuan sepertiga ini diperuntukkan bagi umumnya kaum muslimin. Adapun bagi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT, secara khusus ketentuannya berbeda. Seorang peniti jalan menuju Allah adalah bagian dari orang-orang yang mengonsumsi makanan hanya beberapa suap. Inilah kebutuhan dasar itu, sebagaimana dijelaskan oleh hadits Nabi SAW.
Seorang salik hendaklah meninggalkan makanannya di saat ia masih berselera terhadap makanan yang diinginkannya. Ia meninggalkannya karena Allah SWT. Ia meninggalkan makanannya di saat nafsunya masih sangat berselera terhadapnya. Tapi, bukan berarti ia meninggalkan makanannya itu di atas piring lalu kemudian dibuang sia-sia. Tidak demikian. Melainkan ia tinggalkan dari asalnya, yakni dengan cara mengambil makanan hanya sebatas kebutuhannya.
Ketahuilah, sesungguhnya nafsu itu, bila sudah terbiasa engkau tundukkan sebelum ia puas melampiaskan keinginannya, niscaya ia akan mudah tunduk kepadamu dan tidak sukar untuk engkau kendalikan. Akan tetapi apabila engkau selalu membiarkannya sampai puas dalam melampiaskan keinginan dan seleranya, niscaya akan terbuka lebar berbagai keinginan dalam nafsumu yang akan sulit untuk engkau kendalikan. Ibarat banjir bandang yang datang menerjang dan akan merusak segalanya.
Engkau berikan terhadap nafsumu semua yang diinginkannya dari berupa-rupa macam makanan, misalnya, dengan jumlah yang dikehendakinya, niscaya engkau akan terkena sakit pencernaan. Engkau pun akan sering didatangi rasa ngantuk, sehingga dengan mudahnya engkau tertidur. Di saat datang waktu untuk qiyamul lail, engkau tak mampu bangun malam, demikian pula shalat Subuh, mungkin engkau akan sangat kesulitan untuk dapat bangun di waktu subuh.
Selanjutnya engkau pun akan kesusahan untuk mengisi waktu-waktumu dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak makan dan banyak minum akan membentuk tabiat-tabiat berikutnya, yakni gemar bicara yang tidak ada ujung pangkalnya. Bermula dari setengah jam, satu jam, dua jam, hingga berjam-jam ia habiskan untuk membicarakan hal-hal yang tidak ada ujung pangkalnya. Lalu apa yang tersisa darinya dari perjalanan menuju Allah SWT apabila waktunya dihabiskan untuk makan, minum, tidur, dan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Semuanya kesia-siaan. Semuanya tak bermanfaat. Bagaimana ia akan meniti jalan menuju Allah SWT?
Berkaitan dengan masalah ini, ketahuilah, Imam Malik bin Anas RA hanya makan satu kali dalam sehari, ia juga hanya sekali masuk ke kamar peturasan dalam sehari.
Kisah Imam Malik ini terkait dengan pembahasan penitian jalan menuju Allah SWT dan berkaitan pula dengan makna yang dalam yang dituju oleh para ahli dzauq (pemilik rasa yang teramat tinggi) dalam meniti jalan menuju Allah SWT, yang merupakan makna paling dalam pada pembahasan ini.
Negeri apakah yang di dalamnya Sayyidina Imam Malik tinggal? Negeri itu tidak lain adalah Madinah Al-Munawwarah – semoga Allah SWT melimpahkan shalawat dan salam atas paling mulianya penghuninya dan mengaruniai kita semua ziarah kepada beliau, kebersamaan bersama beliau, dan semoga Allah menjadikan tempat peristirahatan terakhir kita di Baqi‘.
Imam Malik RA makan hanya sekali dalam sehari dan ia pun hanya buang hajat sekali dalam sehari. Dan ia tak pernah buang hajat di Madinah, karena menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sungguh aku malu untuk membuang kotoranku di tempat yang mungkin Rasulullah SAW pernah menapakkan kaki di atasnya atau duduk padanya.”
Imam Malik pun tak pernah menggunakan alas kaki di Madinah dan tidak pernah pula mengendarai hewan tunggangannya di sekitarnya, untuk menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia hanya sekali berada di atas hewan tunggangan di Madinah pada saat ditangkap untuk dipenjarakan secara zhalim oleh penguasa kala itu. Imam Malik RA dinaikkan di atas hewan tunggangan dengan kondisi badan terbalik, tak beralas kaki, dan kepala terbuka, untuk dipermalukan di sepanjang jalan kota Madinah.
Bila datang waktu untuk buang hajat, Imam Malik RA senantiasa keluar dari Madinah atau akhir dari batas Masjid Nabawi saat ini, karena Masjid Nabawi saat ini telah meluas dan hampir meliputi keseluruhan kota Madinah tempo dulu.
Demikianlah Imam Malik, begitu kuat ia menjaga nafsu makan dan ia pun tak tidur kecuali sekadarnya.
Setelah menjelaskan panjang lebar ihwal makna-makna yang terdapat dalam penampilan, sebagai kilas balik sekaligus pendalaman terhadap makna-makna dalam pelajaran tentang kebersihan lahir dan kaitannya dengan makna-makna bathin, pengasuh melanjutkan penuturannya tentang menjaga diri dari banyak makan sebagai bentuk kemestian untuk dapat melazimkan diri bagi seorang salik di atas kebersihan lahir.
Pembicaraan kita masih seputar masalah kesucian dan kebersihan lahir. Kaitannya dengan hal ini, sebagaimana telah kita singgung pada awal pelajaran ini (edisi yang lalu), untuk dapat senantiasa menjaga kesucian lahir, adalah menjadi kemestian bahwa kita hendaknya meminimalkan makan, minum, tidur, dan bicara, sehingga sedikit pula kebutuhan kita untuk mendatangi kamar peturasan.
Agar jarang berhadats, kita harus makan sebatas kebutuhan kita saja. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menguatkan tulang punggungnya.”
Inilah kebutuhan dasar itu. Yakni yang dapat menguatkan tulang punggung, yang dengannya engkau dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Pada awalnya, ketika para ulama menjelaskan hal ini, dikatakan kepada mereka, “Mengapa kalian melarang manusia dari menikmati semua yang halal. Ini semua adalah nikmat Allah SWT!” Sampai kemudian para tabib menjelaskan bahaya lemak, makanan yang berkolesterol, dan makanan yang memabukkan.
Setelah itu datang pula penyakit gula, obesitas, penyakit lambung, dan sebagainya, sehingga manusia sibuk mencari sebabnya dan mereka mulai menerapkan tata cara pencegahan dini agar terhindar dari semua penyakit itu. Padahal, sesungguhnya pencegahan semacam itu sudah lebih dahulu disampaikan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para ulama sepeninggal beliau SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menguatkan tulang punggungnya.” Nabi SAW juga bersabda, “Dan jika ia harus memenuhi lambungnya, hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”
Apakah kalian ingin mengetahui hakikat sesungguhnya dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW ini? Ketentuan sepertiga ini diperuntukkan bagi umumnya kaum muslimin. Adapun bagi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT, secara khusus ketentuannya berbeda. Seorang peniti jalan menuju Allah adalah bagian dari orang-orang yang mengonsumsi makanan hanya beberapa suap. Inilah kebutuhan dasar itu, sebagaimana dijelaskan oleh hadits Nabi SAW.
Seorang salik hendaklah meninggalkan makanannya di saat ia masih berselera terhadap makanan yang diinginkannya. Ia meninggalkannya karena Allah SWT. Ia meninggalkan makanannya di saat nafsunya masih sangat berselera terhadapnya. Tapi, bukan berarti ia meninggalkan makanannya itu di atas piring lalu kemudian dibuang sia-sia. Tidak demikian. Melainkan ia tinggalkan dari asalnya, yakni dengan cara mengambil makanan hanya sebatas kebutuhannya.
Ketahuilah, sesungguhnya nafsu itu, bila sudah terbiasa engkau tundukkan sebelum ia puas melampiaskan keinginannya, niscaya ia akan mudah tunduk kepadamu dan tidak sukar untuk engkau kendalikan. Akan tetapi apabila engkau selalu membiarkannya sampai puas dalam melampiaskan keinginan dan seleranya, niscaya akan terbuka lebar berbagai keinginan dalam nafsumu yang akan sulit untuk engkau kendalikan. Ibarat banjir bandang yang datang menerjang dan akan merusak segalanya.
Engkau berikan terhadap nafsumu semua yang diinginkannya dari berupa-rupa macam makanan, misalnya, dengan jumlah yang dikehendakinya, niscaya engkau akan terkena sakit pencernaan. Engkau pun akan sering didatangi rasa ngantuk, sehingga dengan mudahnya engkau tertidur. Di saat datang waktu untuk qiyamul lail, engkau tak mampu bangun malam, demikian pula shalat Subuh, mungkin engkau akan sangat kesulitan untuk dapat bangun di waktu subuh.
Selanjutnya engkau pun akan kesusahan untuk mengisi waktu-waktumu dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak makan dan banyak minum akan membentuk tabiat-tabiat berikutnya, yakni gemar bicara yang tidak ada ujung pangkalnya. Bermula dari setengah jam, satu jam, dua jam, hingga berjam-jam ia habiskan untuk membicarakan hal-hal yang tidak ada ujung pangkalnya. Lalu apa yang tersisa darinya dari perjalanan menuju Allah SWT apabila waktunya dihabiskan untuk makan, minum, tidur, dan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Semuanya kesia-siaan. Semuanya tak bermanfaat. Bagaimana ia akan meniti jalan menuju Allah SWT?
Berkaitan dengan masalah ini, ketahuilah, Imam Malik bin Anas RA hanya makan satu kali dalam sehari, ia juga hanya sekali masuk ke kamar peturasan dalam sehari.
Kisah Imam Malik ini terkait dengan pembahasan penitian jalan menuju Allah SWT dan berkaitan pula dengan makna yang dalam yang dituju oleh para ahli dzauq (pemilik rasa yang teramat tinggi) dalam meniti jalan menuju Allah SWT, yang merupakan makna paling dalam pada pembahasan ini.
Negeri apakah yang di dalamnya Sayyidina Imam Malik tinggal? Negeri itu tidak lain adalah Madinah Al-Munawwarah – semoga Allah SWT melimpahkan shalawat dan salam atas paling mulianya penghuninya dan mengaruniai kita semua ziarah kepada beliau, kebersamaan bersama beliau, dan semoga Allah menjadikan tempat peristirahatan terakhir kita di Baqi‘.
Imam Malik RA makan hanya sekali dalam sehari dan ia pun hanya buang hajat sekali dalam sehari. Dan ia tak pernah buang hajat di Madinah, karena menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Sungguh aku malu untuk membuang kotoranku di tempat yang mungkin Rasulullah SAW pernah menapakkan kaki di atasnya atau duduk padanya.”
Imam Malik pun tak pernah menggunakan alas kaki di Madinah dan tidak pernah pula mengendarai hewan tunggangannya di sekitarnya, untuk menjaga adab kepada Rasulullah SAW. Ia hanya sekali berada di atas hewan tunggangan di Madinah pada saat ditangkap untuk dipenjarakan secara zhalim oleh penguasa kala itu. Imam Malik RA dinaikkan di atas hewan tunggangan dengan kondisi badan terbalik, tak beralas kaki, dan kepala terbuka, untuk dipermalukan di sepanjang jalan kota Madinah.
Bila datang waktu untuk buang hajat, Imam Malik RA senantiasa keluar dari Madinah atau akhir dari batas Masjid Nabawi saat ini, karena Masjid Nabawi saat ini telah meluas dan hampir meliputi keseluruhan kota Madinah tempo dulu.
Demikianlah Imam Malik, begitu kuat ia menjaga nafsu makan dan ia pun tak tidur kecuali sekadarnya.
sebuah pelajaran tentang penampilaan seseorang
Adalah suatu kehinaan bagi siapa yang mengetahui bahwa ia
tengah berjalan meniti jalan menuju Allah SWT dan mengetahui bahwa
Allah senantiasa memandang kepada dirinya merasa gundah gulana di saat
berubahnya pandangan manusia terhadap dirinya.
Sering kali nafsu berbohong kepada pemiliknya. Karenanya, hati-hatilah engkau diperdaya oleh nafsumu. Dia akan berkata kepadamu, “Sungguh aku tidak mengenakan pakaian ini untuk berbangga-bangga atau untuk pamer. Akan tetapi karena Allah menyukai untuk melihat perwujudan nikmat-Nya pada hamba-hamba-Nya.”
Apakah ada keinginan dalam benakmu untuk meyakinkan ungkapan ini benar demikian adanya? Bila tidak, si penyuruh kepada keburukan yang pembohong telah berbohong kepadamu! Siapa dia, si penyuruh kepada keburukan itu? Dia adalah nafsumu!!
Apakah engkau ingin mengetahui ungkapan itu benar atau dusta? Engkau bisa mengetahui itu dari tanda-tandanya. Apakah tanda-tandanya?
Pada saat engkau tidak mampu memenuhi kecenderunganmu sampai pada tingkatan yang engkau kehendaki, apakah keadaannya akan berubah?
Apakah engkau merasa ragu-ragu dan maju-mundur untuk mengenakannya? Mengapa engkau ragu-ragu? Karena apa engkau maju-mundur? Atau bahkan engkau merasa kurang dan malu di mata yang lain?
Ini adalah masalah. Karena nafsumu telah membuat pandanganmu tertuju kepada bentuk dan rupa lahir serta terpenjarakan olehnya. Nilaimu telah engkau gadaikan dengan pandangan manusia kepadamu. Bila mereka membesarkanmu, engkau merasa menjadi besar. Dan jika mereka mengecilkanmu, engkau pun merasa menjadi kecil. Engkau menjadi budak siapa? Engkau telah menjadi budak pandangan manusia.
Dan seorang peniti jalan menuju Allah SWT tidak pernah rela menjadi budak siapa pun selain menjadi hamba Tuhannya, Allah SWT. Adalah suatu kehinaan bagi siapa yang mengetahui bahwa ia tengah berjalan meniti jalan menuju Allah SWT dan mengetahui bahwa Allah senantiasa memandang kepada dirinya merasa gundah gulana di saat berubahnya pandangan manusia terhadap dirinya. Itu pun kehinaan bagi siapa yang Allah jadikan nilai kemuliaan padanya berupa ruh yang Allah tiupkan dari ruh-Nya (dan Aku tiupkan padanya dari ruh-Ku).
Engkau adalah manusia yang dimuliakan di sisi Allah SWT, bagaimana mungkin engkau rela derajatmu turun dan jatuh kepada derajat yang derajatmu jatuh dari derajat nafkhah rabbaniyah (ditiupkannya ruh dari sisi Allah SWT) kepada derajat yang kadar nilainya berdasarkan secarik kain fana yang engkau kenakan. Bila kain yang engkau kenakan dengan mode ini, misalkan, engkau memiliki nilai. Tapi bila tidak mengenakannya, engkau pun tidak memiliki nilai apa pun.
Ada kisah tentang Maula Nashruddin Juha. Bila seseorang mendengar nama Juha, pasti ia akan tertawa, karena yang dia tahu hanyalah bahwa Juha adalah seorang humoris. Padahal sesungguhnya ia adalah seorang cendekiawan, pemikir, filosof, dan juga seorang dai. Akan tetapi memang ia sangat pandai membuat lelucon dan dagelan yang mengisyaratkan pada maksud dan makna dari pesan yang ia ingin sampaikan.
Pada suatu ketika Nashruddin diundang ke sebuah acara perjamuan. Ia pun hadir ke pertemuan itu dengan mengenakan pakaian sederhana, ala kadarnya. Oleh penjaga, Nashruddin didudukkan di pojok ruangan yang jauh dari meja hidangan yang telah dipenuhi beraneka makanan dan minuman yang lezat.
Mengalami perlakuan seperti itu, Nashruddin merangsek ke arah pintu dan segera pergi meninggalkan ruangan kembali ke rumahnya. Ia pun menyewa sebuah jubah yang mahal dan mewah.
Setelah kembali ke tempat perjamuan semula, orang-orang segera menyambutnya dan sangat menghormatinya. Ia pun diantar untuk duduk di tengah sofa-sofa tamu khusus yang dipasang berhadapan persis di depan meja hidangan.
Nashruddin pun mengambil beberapa potong daging kambing guling yang ada di hadapannya. Ia hanya menyantap sedikit dari daging panggang yang ada di tangannya, sedang sisanya yang lain ia letakkan di jubah mewahnya seraya berkata, “Makanlah! Penghormatan ini sesungguhnya untukmu, bukan untuk diriku.”
Jangan pernah ridha kadar nilaimu terletak pada selembar kain yang engkau kenakan. Jangan pernah ridha nilaimu terletak pada mesin tak bernyawa yang engkau kendarai. Jangan pernah rela derajatmu berada pada rumah, pada kayu-kayu yang engkau gunakan untuk memperindah tempat tinggalmu. Jangan pernah ridha nilai dan derajatmu berada pada profesi atau pada restoran yang menjadi tempatmu menyantap makanan atau memesannya. Nilai dan derajatmu adalah bahwa engkau memiliki hati yang Allah senantiasa memandangnya. Jangan pernah sekali-kali engkau rela dan ridha untuk turun dan jatuh dari derajat kemuliaan itu.
Banyak di antara para pembesar arifin, mereka dalam kondisi lusuh dan dekil, yang, bila seseorang bertemu mereka, niscaya tidak akan menoleh ke arah mereka. Apakah kita katakan, mereka salah dengan berpenampilan seperti itu?
Tidak! Karena demikianlah kemampuan mereka. Mereka tidak dapat membeli pakaian layak yang semestinya. Mereka sangat mengetahui bahwa nilai mereka terletak pada hati, dan bukan pada selembar pakaian yang mereka kenakan.
Apakah orang-orang seperti mereka mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT?
Benar. Tidakkah engkau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berambut lusuh, berpakaian usang, tidak dipedulikan dan kehadirannya ditolak orang, bila hendak menikahi, niscaya tidak dinikahkan, dan bila meminta bantuan, niscaya tidak dibantu, tapi, apabila ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan melaksanakan sumpahnya.”
Misalkan, ia berkata “Wahai Tuhanku, aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau membalik tanah yang subur ini menjadi tanah gersang berdebu”, niscaya Allah akan melakukan hal itu.
Jadi, sangat mungkin bahwa orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu adalah dari kalangan muqarrabin.
Memang benar, sebagian orang menyikapi persoalan penampilan ini dengan cara yang salah. Mereka mengatakan, agama kita adalah agama kebersihan. Tidak pernah ada dalam agama ini kedekilan dan kelusuhan.
Sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan penghambaan kepada hal-hal lahir dan yang dapat terlihat kasatmata. Agama telah memerdekakan kita dari penyembahan kepada yang terlihat kepada penyembahan Yang Maha Tersembunyi (Al-Bathin) dan Yang Maha-Nyata, Allah SWT.
Jadi, sejauh mana kita dapat berpenampilan dengan penampilan yang baik dan terindah, selama tidak sampai pada batas memaksakan diri, hal itu adalah utama. Namun, bila hal itu di luar kemampuan, berpenampilanlah sesuai kemampuan yang ada. Dan bahkan, untuk waktu-waktu tertentu, seorang murid perlu berpenampilan yang lusuh dan kumal untuk dapat mengalahkan nafsunya. Untuk mengobati penyakit menoleh kepada pandangan manusia. Akan tetapi tentu hal itu dilakukan dengan kadar yang benar dan kembali kepada bimbingan para guru mursyid.
Di samping itu, banyak pula orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu sesungguhnya adalah para pembesar ahli dunia. Ia menduga, dirinya adalah bagian dari orang-orang yang zuhud terhadap dunia, tapi sesungguhnya ia adalah salah seorang pembesar ahli dunia yang hatinya melekat padanya. Mengapa? Karena penampilannya seperti penampilan orang-orang faqir yang zuhud sedangkan hatinya sangat dekat dan melekat pada dunia. Ia selalu menanti dan menunggu-nunggu kapan datangnya dunia dan kapan meraupnya.
Salah seorang shalihin mempunyai murid yang selalu berada di bawah pendidikan dan bimbingannya. Murid ini adalah seorang pedagang yang selalu berniaga ke berbagai negara untuk menjual barang dagangannya. Suatu ketika ia menghadap sang guru untuk meminta restu dan doa hendak melakukan perjalanan niaga ke negeri Fulan. Ia berkata kepada gurunya, “Wahai Guru, berikanlah nasihat kepada kami.”
“Baiklah. Di negeri yang hendak engkau tuju itu terdapat Syaikh Fulan. Beliau adalah salah seorang pembesar awliya shalihin. Datanglah kepadanya dan mintalah doa untukmu dan juga untukku. Sampaikan padanya, ‘Wahai Syaikh, guruku, Fulan, menyampaikan salam kepadamu dan mohon doa’.”
Beberapa waktu kemudian sampailah murid itu ke negeri yang dituju. Ia pun segera bertanya kepada orang yang dijumpainya, di mana gerangan majelis Syaikh Fulan berada. Orang yang ditanya pun tertawa dan menjelaskan bahwa Syaikh Fulan yang dimaksud tinggal di dalam istana.
Terperanjatlah ia mendengar penjelasan orang yang ditanyainya bahwa Syaikh Fulan yang dikatakan sebagai pembesar para wali oleh gurunya ternyata tinggal di dalam istana. Namun, tidak ingin berlama-lama dalam keheranannya, tanpa berpikir panjang, ia kembali menanyakan di mana istana yang dimaksud itu.
Ia pun diantar oleh beberapa orang menuju istana. Ia mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa ia bermaksud untuk menjumpai Syaikh Fulan untuk menyampaikan amanah dari sang guru.
“Syaikh sedang diundang jamuan makan malam bersama Raja,” beberapa pelayan menjelaskan.
Hatinya semakin bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin?? Syaikh Fulan tinggal di istana bersama Raja, sedang guruku menyuruhku untuk meminta doa darinya??”
Meski dipenuhi keheranan dan kebingungan, ia tetap berusaha sabar demi menjalankan amanah gurunya. Ia mulai membayangkan apa yang ada dalam benaknya tentang gambaran orang shalih.
“Orang shalih seharusnya adalah orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki tempat tinggal yang layak, tidak bercampur dengan manusia dan menjauhi dunia…. Bila tidak demikian adanya, bukanlah ia orang shalih.”
Kala itu datanglah Syaikh bersama rombongan dengan para pengawal yang berada di setiap sisinya. Ia pun meminta izin untuk masuk dan menemui Syaikh. Di dalam hatinya sudah tidak ada lagi setitik husnuzhan kepada sang Syaikh. Namun ia memaksakan masuk menemuinya, sekali lagi demi melaksanakan amanah dari sang guru.
“Wahai Syaikh, guruku, Fulan, mengirim salam kepadamu dan meminta kepadamu agar tidak lupa mendoakannya,” kata pemuda itu kepada Syaikh.
“Apakah benar gurumu Syaikh Fulan?”
“Benar, Tuan Syaikh.”
“Kalau begitu, sampaikan kepadanya bahwa saudaranya, Fulan, menyampaikan salam dan katakan kepadanya, ‘Sampai kapan hatimu bergantung kepada dunia? Belumkah datang waktunya untuk memutuskan kebergantungan hatimu dari dunia?.”
Alangkah terkejutnya pemuda tadi mendengar apa yang diucapkan oleh Syaikh, bahkan terlintas dalam hatinya untuk mengangkat tangan dan memukul wajah sang Syaikh, kalau saja tidak mengingat pesan gurunya agar menjaga adab terhadapnya, karena beliau adalah seorang shalihin.
“Guruku yang hidup apa adanya, makan hanya sekali dalam sehari, senantiasa berpuasa, dan tidak memiliki apa pun dari harta benda dunia, lalu dia yang tinggal di istana, diiringi para pengawal, ingin mengajari guruku??”
Tak ada sesuatu yang mencegahnya untuk berbuat yang tidak patut dilakukan terhadap Syaikh, kecuali adab terhadap pesan sang guru bahwa yang dihadapannya saat itu adalah salah seorang shalihin.
Setelah selesai urusannya di negeri itu, sang pemuda pun kembali ke negerinya dan segera mengunjungi sang guru. Di hadapan sang guru ia langsung mengadukan apa yang dipesankan oleh Syaikh untuk disampaikan kepadanya.
“Wahai Guru, bagaimana mungkin Syaikh Fulan adalah seorang arif billah, seorang waliyullah, sedangkan dia tinggal di dalam istana, makan malam bersama Raja, sedang dia berkata kepadaku, ‘Sampaikan salamku kepada saudaraku, Fulan, dan katakan padanya, ‘Sampai kapan hatimu selalu bergantung kepada dunia??’.”
Mendengar hal itu sang guru pun menangis sejadi-jadinya.
“Apa benar ia mengatakan itu kepadamu untukku?”
“Benar, wahai Guru.”
Mendadak sang guru pun pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah siuman, sang guru menangis lagi sepanjang hari.
Keesokannya si pemuda kembali mengunjungi gurunya. Ia pun bertanya kepada sang guru, “Wahai Guru, jelaskanlah kepadaku apa yang sesungguhnya terjadi?”
“Baiklah. Ketahuilah, Syaikh Fulan yang engkau lihat bergelimang dunia itu sesungguhnya tidak ada sedikit pun di hatinya tolehan kepada dunia. Tak ada dunia sedikit pun di dalam hatinya. Sedangkan diriku, terkadang datang lintasan-lintasan ke dalam hatiku, kapan aku memiliki sesuatu dari dunia. Saudaraku, Syaikh Fulan, yang arif billah, yang mengirim pesan ini untukku, telah diberi firasat oleh Allah SWT untuk mengingatkanku terhadap adanya aib yang ada di dalam diriku.”
Dari pelajaran ini kita dapat mengetahui bahwa persoalan sesungguhnya bukanlah terletak pada bentuk dan penampilan, dan jangan sampai kita diperdaya oleh nafsu kita karenanya. Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.
Jangan pernah engkau katakan, “Penampilanku baik, tapi sungguh hatiku tidak bergantung kepadanya.”
Ketahuilah, awal mula pengakuan yang engkau nyatakan itu menunjukkan bahwa engkau tidaklah demikian adanya. Karena mengaku-ngaku bukanlah tanda kebenaran.
Sering kali nafsu berbohong kepada pemiliknya. Karenanya, hati-hatilah engkau diperdaya oleh nafsumu. Dia akan berkata kepadamu, “Sungguh aku tidak mengenakan pakaian ini untuk berbangga-bangga atau untuk pamer. Akan tetapi karena Allah menyukai untuk melihat perwujudan nikmat-Nya pada hamba-hamba-Nya.”
Apakah ada keinginan dalam benakmu untuk meyakinkan ungkapan ini benar demikian adanya? Bila tidak, si penyuruh kepada keburukan yang pembohong telah berbohong kepadamu! Siapa dia, si penyuruh kepada keburukan itu? Dia adalah nafsumu!!
Apakah engkau ingin mengetahui ungkapan itu benar atau dusta? Engkau bisa mengetahui itu dari tanda-tandanya. Apakah tanda-tandanya?
Pada saat engkau tidak mampu memenuhi kecenderunganmu sampai pada tingkatan yang engkau kehendaki, apakah keadaannya akan berubah?
Apakah engkau merasa ragu-ragu dan maju-mundur untuk mengenakannya? Mengapa engkau ragu-ragu? Karena apa engkau maju-mundur? Atau bahkan engkau merasa kurang dan malu di mata yang lain?
Ini adalah masalah. Karena nafsumu telah membuat pandanganmu tertuju kepada bentuk dan rupa lahir serta terpenjarakan olehnya. Nilaimu telah engkau gadaikan dengan pandangan manusia kepadamu. Bila mereka membesarkanmu, engkau merasa menjadi besar. Dan jika mereka mengecilkanmu, engkau pun merasa menjadi kecil. Engkau menjadi budak siapa? Engkau telah menjadi budak pandangan manusia.
Dan seorang peniti jalan menuju Allah SWT tidak pernah rela menjadi budak siapa pun selain menjadi hamba Tuhannya, Allah SWT. Adalah suatu kehinaan bagi siapa yang mengetahui bahwa ia tengah berjalan meniti jalan menuju Allah SWT dan mengetahui bahwa Allah senantiasa memandang kepada dirinya merasa gundah gulana di saat berubahnya pandangan manusia terhadap dirinya. Itu pun kehinaan bagi siapa yang Allah jadikan nilai kemuliaan padanya berupa ruh yang Allah tiupkan dari ruh-Nya (dan Aku tiupkan padanya dari ruh-Ku).
Engkau adalah manusia yang dimuliakan di sisi Allah SWT, bagaimana mungkin engkau rela derajatmu turun dan jatuh kepada derajat yang derajatmu jatuh dari derajat nafkhah rabbaniyah (ditiupkannya ruh dari sisi Allah SWT) kepada derajat yang kadar nilainya berdasarkan secarik kain fana yang engkau kenakan. Bila kain yang engkau kenakan dengan mode ini, misalkan, engkau memiliki nilai. Tapi bila tidak mengenakannya, engkau pun tidak memiliki nilai apa pun.
Ada kisah tentang Maula Nashruddin Juha. Bila seseorang mendengar nama Juha, pasti ia akan tertawa, karena yang dia tahu hanyalah bahwa Juha adalah seorang humoris. Padahal sesungguhnya ia adalah seorang cendekiawan, pemikir, filosof, dan juga seorang dai. Akan tetapi memang ia sangat pandai membuat lelucon dan dagelan yang mengisyaratkan pada maksud dan makna dari pesan yang ia ingin sampaikan.
Pada suatu ketika Nashruddin diundang ke sebuah acara perjamuan. Ia pun hadir ke pertemuan itu dengan mengenakan pakaian sederhana, ala kadarnya. Oleh penjaga, Nashruddin didudukkan di pojok ruangan yang jauh dari meja hidangan yang telah dipenuhi beraneka makanan dan minuman yang lezat.
Mengalami perlakuan seperti itu, Nashruddin merangsek ke arah pintu dan segera pergi meninggalkan ruangan kembali ke rumahnya. Ia pun menyewa sebuah jubah yang mahal dan mewah.
Setelah kembali ke tempat perjamuan semula, orang-orang segera menyambutnya dan sangat menghormatinya. Ia pun diantar untuk duduk di tengah sofa-sofa tamu khusus yang dipasang berhadapan persis di depan meja hidangan.
Nashruddin pun mengambil beberapa potong daging kambing guling yang ada di hadapannya. Ia hanya menyantap sedikit dari daging panggang yang ada di tangannya, sedang sisanya yang lain ia letakkan di jubah mewahnya seraya berkata, “Makanlah! Penghormatan ini sesungguhnya untukmu, bukan untuk diriku.”
Jangan pernah ridha kadar nilaimu terletak pada selembar kain yang engkau kenakan. Jangan pernah ridha nilaimu terletak pada mesin tak bernyawa yang engkau kendarai. Jangan pernah rela derajatmu berada pada rumah, pada kayu-kayu yang engkau gunakan untuk memperindah tempat tinggalmu. Jangan pernah ridha nilai dan derajatmu berada pada profesi atau pada restoran yang menjadi tempatmu menyantap makanan atau memesannya. Nilai dan derajatmu adalah bahwa engkau memiliki hati yang Allah senantiasa memandangnya. Jangan pernah sekali-kali engkau rela dan ridha untuk turun dan jatuh dari derajat kemuliaan itu.
Banyak di antara para pembesar arifin, mereka dalam kondisi lusuh dan dekil, yang, bila seseorang bertemu mereka, niscaya tidak akan menoleh ke arah mereka. Apakah kita katakan, mereka salah dengan berpenampilan seperti itu?
Tidak! Karena demikianlah kemampuan mereka. Mereka tidak dapat membeli pakaian layak yang semestinya. Mereka sangat mengetahui bahwa nilai mereka terletak pada hati, dan bukan pada selembar pakaian yang mereka kenakan.
Apakah orang-orang seperti mereka mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT?
Benar. Tidakkah engkau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berambut lusuh, berpakaian usang, tidak dipedulikan dan kehadirannya ditolak orang, bila hendak menikahi, niscaya tidak dinikahkan, dan bila meminta bantuan, niscaya tidak dibantu, tapi, apabila ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan melaksanakan sumpahnya.”
Misalkan, ia berkata “Wahai Tuhanku, aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau membalik tanah yang subur ini menjadi tanah gersang berdebu”, niscaya Allah akan melakukan hal itu.
Jadi, sangat mungkin bahwa orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu adalah dari kalangan muqarrabin.
Memang benar, sebagian orang menyikapi persoalan penampilan ini dengan cara yang salah. Mereka mengatakan, agama kita adalah agama kebersihan. Tidak pernah ada dalam agama ini kedekilan dan kelusuhan.
Sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan penghambaan kepada hal-hal lahir dan yang dapat terlihat kasatmata. Agama telah memerdekakan kita dari penyembahan kepada yang terlihat kepada penyembahan Yang Maha Tersembunyi (Al-Bathin) dan Yang Maha-Nyata, Allah SWT.
Jadi, sejauh mana kita dapat berpenampilan dengan penampilan yang baik dan terindah, selama tidak sampai pada batas memaksakan diri, hal itu adalah utama. Namun, bila hal itu di luar kemampuan, berpenampilanlah sesuai kemampuan yang ada. Dan bahkan, untuk waktu-waktu tertentu, seorang murid perlu berpenampilan yang lusuh dan kumal untuk dapat mengalahkan nafsunya. Untuk mengobati penyakit menoleh kepada pandangan manusia. Akan tetapi tentu hal itu dilakukan dengan kadar yang benar dan kembali kepada bimbingan para guru mursyid.
Di samping itu, banyak pula orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu sesungguhnya adalah para pembesar ahli dunia. Ia menduga, dirinya adalah bagian dari orang-orang yang zuhud terhadap dunia, tapi sesungguhnya ia adalah salah seorang pembesar ahli dunia yang hatinya melekat padanya. Mengapa? Karena penampilannya seperti penampilan orang-orang faqir yang zuhud sedangkan hatinya sangat dekat dan melekat pada dunia. Ia selalu menanti dan menunggu-nunggu kapan datangnya dunia dan kapan meraupnya.
Salah seorang shalihin mempunyai murid yang selalu berada di bawah pendidikan dan bimbingannya. Murid ini adalah seorang pedagang yang selalu berniaga ke berbagai negara untuk menjual barang dagangannya. Suatu ketika ia menghadap sang guru untuk meminta restu dan doa hendak melakukan perjalanan niaga ke negeri Fulan. Ia berkata kepada gurunya, “Wahai Guru, berikanlah nasihat kepada kami.”
“Baiklah. Di negeri yang hendak engkau tuju itu terdapat Syaikh Fulan. Beliau adalah salah seorang pembesar awliya shalihin. Datanglah kepadanya dan mintalah doa untukmu dan juga untukku. Sampaikan padanya, ‘Wahai Syaikh, guruku, Fulan, menyampaikan salam kepadamu dan mohon doa’.”
Beberapa waktu kemudian sampailah murid itu ke negeri yang dituju. Ia pun segera bertanya kepada orang yang dijumpainya, di mana gerangan majelis Syaikh Fulan berada. Orang yang ditanya pun tertawa dan menjelaskan bahwa Syaikh Fulan yang dimaksud tinggal di dalam istana.
Terperanjatlah ia mendengar penjelasan orang yang ditanyainya bahwa Syaikh Fulan yang dikatakan sebagai pembesar para wali oleh gurunya ternyata tinggal di dalam istana. Namun, tidak ingin berlama-lama dalam keheranannya, tanpa berpikir panjang, ia kembali menanyakan di mana istana yang dimaksud itu.
Ia pun diantar oleh beberapa orang menuju istana. Ia mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa ia bermaksud untuk menjumpai Syaikh Fulan untuk menyampaikan amanah dari sang guru.
“Syaikh sedang diundang jamuan makan malam bersama Raja,” beberapa pelayan menjelaskan.
Hatinya semakin bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin?? Syaikh Fulan tinggal di istana bersama Raja, sedang guruku menyuruhku untuk meminta doa darinya??”
Meski dipenuhi keheranan dan kebingungan, ia tetap berusaha sabar demi menjalankan amanah gurunya. Ia mulai membayangkan apa yang ada dalam benaknya tentang gambaran orang shalih.
“Orang shalih seharusnya adalah orang yang tidak memiliki harta, tidak memiliki tempat tinggal yang layak, tidak bercampur dengan manusia dan menjauhi dunia…. Bila tidak demikian adanya, bukanlah ia orang shalih.”
Kala itu datanglah Syaikh bersama rombongan dengan para pengawal yang berada di setiap sisinya. Ia pun meminta izin untuk masuk dan menemui Syaikh. Di dalam hatinya sudah tidak ada lagi setitik husnuzhan kepada sang Syaikh. Namun ia memaksakan masuk menemuinya, sekali lagi demi melaksanakan amanah dari sang guru.
“Wahai Syaikh, guruku, Fulan, mengirim salam kepadamu dan meminta kepadamu agar tidak lupa mendoakannya,” kata pemuda itu kepada Syaikh.
“Apakah benar gurumu Syaikh Fulan?”
“Benar, Tuan Syaikh.”
“Kalau begitu, sampaikan kepadanya bahwa saudaranya, Fulan, menyampaikan salam dan katakan kepadanya, ‘Sampai kapan hatimu bergantung kepada dunia? Belumkah datang waktunya untuk memutuskan kebergantungan hatimu dari dunia?.”
Alangkah terkejutnya pemuda tadi mendengar apa yang diucapkan oleh Syaikh, bahkan terlintas dalam hatinya untuk mengangkat tangan dan memukul wajah sang Syaikh, kalau saja tidak mengingat pesan gurunya agar menjaga adab terhadapnya, karena beliau adalah seorang shalihin.
“Guruku yang hidup apa adanya, makan hanya sekali dalam sehari, senantiasa berpuasa, dan tidak memiliki apa pun dari harta benda dunia, lalu dia yang tinggal di istana, diiringi para pengawal, ingin mengajari guruku??”
Tak ada sesuatu yang mencegahnya untuk berbuat yang tidak patut dilakukan terhadap Syaikh, kecuali adab terhadap pesan sang guru bahwa yang dihadapannya saat itu adalah salah seorang shalihin.
Setelah selesai urusannya di negeri itu, sang pemuda pun kembali ke negerinya dan segera mengunjungi sang guru. Di hadapan sang guru ia langsung mengadukan apa yang dipesankan oleh Syaikh untuk disampaikan kepadanya.
“Wahai Guru, bagaimana mungkin Syaikh Fulan adalah seorang arif billah, seorang waliyullah, sedangkan dia tinggal di dalam istana, makan malam bersama Raja, sedang dia berkata kepadaku, ‘Sampaikan salamku kepada saudaraku, Fulan, dan katakan padanya, ‘Sampai kapan hatimu selalu bergantung kepada dunia??’.”
Mendengar hal itu sang guru pun menangis sejadi-jadinya.
“Apa benar ia mengatakan itu kepadamu untukku?”
“Benar, wahai Guru.”
Mendadak sang guru pun pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah siuman, sang guru menangis lagi sepanjang hari.
Keesokannya si pemuda kembali mengunjungi gurunya. Ia pun bertanya kepada sang guru, “Wahai Guru, jelaskanlah kepadaku apa yang sesungguhnya terjadi?”
“Baiklah. Ketahuilah, Syaikh Fulan yang engkau lihat bergelimang dunia itu sesungguhnya tidak ada sedikit pun di hatinya tolehan kepada dunia. Tak ada dunia sedikit pun di dalam hatinya. Sedangkan diriku, terkadang datang lintasan-lintasan ke dalam hatiku, kapan aku memiliki sesuatu dari dunia. Saudaraku, Syaikh Fulan, yang arif billah, yang mengirim pesan ini untukku, telah diberi firasat oleh Allah SWT untuk mengingatkanku terhadap adanya aib yang ada di dalam diriku.”
Dari pelajaran ini kita dapat mengetahui bahwa persoalan sesungguhnya bukanlah terletak pada bentuk dan penampilan, dan jangan sampai kita diperdaya oleh nafsu kita karenanya. Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.
Jangan pernah engkau katakan, “Penampilanku baik, tapi sungguh hatiku tidak bergantung kepadanya.”
Ketahuilah, awal mula pengakuan yang engkau nyatakan itu menunjukkan bahwa engkau tidaklah demikian adanya. Karena mengaku-ngaku bukanlah tanda kebenaran.
penguasaan diri
Pada pelajaran kali ini, ada dua penguasaan yang mesti
engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, sehingga keduanya
akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang
lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni,
pertama, penguasaan diri dalam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan
diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas
keseharian kita.
Segala puji bagi dan hanya milik Allah SWT dengan pujian hamba yang tenggelam dalam karunia-Nya, kebajikan-Nya, kemurahannya, dan pemberian-Nya, pujian hamba yang teramat lemah dari menunaikan syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya, pujian hamba yang mengakui dengan segala keteledorannya serta buruk dan kejinya segala amal dan keberanian dirinya dalam berbuat kedurhakaan terhadap-Nya, pujian hamba yang penuh harap kepada karunia Allah, kebajikan-Nya, dan juga kemurahan-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan dan limpahkan kepada penghulu dan junjungan kita, Sayyidina Muhammad, insan paling agung dalam menunjukkan jalan menuju Allah SWT, pintu yang tiada duanya menuju Allah SWT. “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan atas beliau, ahli baytnya, para sahabatnya, para tabi‘in dan pengikut-pengikut mereka dalam kebajikan hingga hari Kiamat.
Semoga sejak pelajaran yang lalu kita semua telah memantapkan langkah untuk menguasai nafsu kita. Berhadats, engkau kembali mengambil air wudhu. Atau janabah, engkau pun mandi hadats besar untuk menghilangkannya. Engkau telah menguasai hatimu dalam perkara penampilan lahirmu atau engkau sudah berusaha melakukan semua itu dan kini engkau tengah berada di jalan menuju itu semua.
Pada pelajaran kali ini, ada dua penguasaan yang mesti engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, sehingga keduanya akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni, pertama, penguasaan diri dalam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas keseharian kita.
Pada pelajaran yang lalu kita telah sama-sama berbicara bahwa penguasaan diri terhadap kesucian lahir memiliki kaitan yang sangat erat dan tak terpisahkan dengan penerangan terhadap perkara-perkara bathin (ruhani). Dan kesucian bathin berkaitan erat dengan meminimkan makanan, tidur, dan pembicaraan. Namun yang demikian itu, guru-guru kita — semoga Allah memberikan balasan terindah kepada mereka semua atas segala jasa mereka kepada kita — mengatakan, sedikit makan, tidur, dan berbicara tidaklah dapat diterapkan dan dilakukan secara spontan dan tiba-tiba begitu saja.
Penguasaan Diri dalam Hal Makan
Penguasaan diri terhadap makanan tidaklah datang secara tiba-tiba atau dilakukan secara spontan tanpa latihan dan pembiasaan sebelumnya.Tidak mungkin dalam sehari-semalam seseorang dapat mengubah pola makannya menjadi satu suap begitu saja. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya agama ini adalah agama yang kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan kelemahlembutan. Karena sesungguhnya perjalanan tanpa henti itu tidak akan pernah menyampaikan kepada tujuan dan tidak pula membuat punggung nyaman karenanya.”
Lalu langkah apa yang harus dilakukan agar hal ini berhasil?
Pertama, berlatih untuk melakukan puasa. Pada saat puasa itulah kita berusaha untuk sederhana ketika berbuka, mencoba untuk makan dua kali, yakni ketika berbuka dan sahur, dan kita belajar menyederhanakan macam-macam makanan pada keduanya.
Kedua, pada majelis yang lalu kita telah berkata, “Aku akan berhenti makan di saat masih berselera terhadapnya.” Kita meninggalkannya karena Allah SWT.
Ketiga, kita meningkat lagi dalam pembelajaran ini, yaitu dengan mengurangi jumlah atau kuantitas makanan yang kita makan dalam sekali makan. Kemudian kita membiasakan diri untuk mengurangi yang kita inginkan dengan cara lebih mengutamakan yang kita tidak berselera terhadapnya daripada yang kita berselera terhadapnya. Demikianlah kaitannya dengan makanan.
Penguasaan Diri dalam Hal Tidur
Berapa jam engkau tidur dari sehari semalam? Mari kita menata segala urusan kita. Bukankah kita telah mengatakan bahwa kita semua adalah muridul akhirah (pengharap negeri akhirat).
Seorang murid peniti jalan menuju Allah yang tidak tahu berapa lama mesti ia tidur dan berapa lama seharusnya ia jaga, bukanlah ia seorang murid.
Berapa jamkah yang cukup untukmu? Delapan jam? Lebih dari delapan jam, ini sama sekali tidak dapat diterima. Lebih dari delapan jam untuk tidur dari dua puluh empat jam tidaklah mungkin diterima bagi seorang muslim awam, terlebih lagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT.
Akan tetapi, bagi orang yang terbiasa tidak mengatur waktunya, kami katakan, “Mulailah dengan dari delapan jam untuk waktu tidur.” Adapun yang sudah terbiasa, mulailah dari enam jam, niscaya itu sudah cukup baginya. Namun, bila engkau tidak mampu untuk melakukannya, mulailah dari delapan jam, kemudian setelah itu kurangi seperempat jam.
Setelah satu bulan berlalu dan engkau kuasai dirimu dengan delapan jam waktu untuk tidur ini maknanya bahwa engkau telah membiasakan tubuhmu untuk cukup dengan delapan jam untuk waktu tidur. Maknanya, engkau telah memiliki kemampuan tidur tidak melebihi waktu yang ditentukan. Karena melebihi dari kadar tertentu yang telah ditentukan untuk tidur akan menimbulkan kelemahan pada jiwa. Karenanya jiwa pun akan menjadi lemah, dan lahirlah malas, enggan, tidak bersemangat, dan terus semakin lemah semangatnya.
Jangan pernah ada delapan jam setengah atau delapan jam seperempat berlalu dari dirimu dalam satu bulan itu sampai melekat keteraturan itu pada dirimu dan nafsumu menjadi terbiasa dengannya. Setelah itu, kurangi lagi seperempat jam….
Saat ini engkau adalah seorang yang terikat dan teratur dengan waktu. Bagimu sudah ada perbedaan antara tidur setengah jam dan seperempat jam. Sebelum itu, mungkin engkau tidur setengah jam atau seperempat jam melebihi kadar tertentu tidak ada masalah. Akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Sekarang engkau adalah seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Seperempat jam teramat berharga untukmu. Karenanya kurangilah seperempat jam dari waktu tidurmu. Demikian seterusnya hinga dikurangi seperempat jam yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampai kepada enam jam. Ketahuilah, pertengahan tidur bagi seorang salik adalah enam jam. Dan bila engkau memiliki semangat yang lebih tinggi lagi setelah terbiasa dengan itu, boleh juga engkau kurangi lagi seperempat jam.
Perhatikan! Seperempat jam yang engkau kurangi ini dan seperempat jam berikutnya hingga sampai kepada enam jam haruslah disertai pula dengan hari yang tertata. Dalam arti bahwa seperempat jam yang engkau kurangi dari waktu tidurmu itu haruslah engkau pergunakan untuk kegiatan berharga untuk mengisinya, dan jangan engkau isi dengan kebingungan atau kesia-siaan membuang-buang waktu percuma.
Sebagian anak muda berkata, “Mari kita pergi menghabiskan waktu!”
Sesungguhnya engkau tidaklah diciptakan untuk membuang dan menghabis-habiskan waktu. Sesungguhnya engkau diciptakan untuk meraih keberuntungan kekayaan waktu. Seorang murid akan merasa napasnya bernilai apabila napasnya berlalu dalam dzikir, dakwah kepada Allah SWT, atau memberikan manfaat lain bagi hamba-hamba Allah SWT.
Bila engkau dapat memenuhi aktivitas di siang hari dengan perbuatan-perbuatan yang semestinya, niscaya engkau akan dapat menata waktu-waktu tidurmu. Akan tetapi bila engkau biarkan waktu jagamu terbuang begitu saja, sudah barang tentu engkau tidak akan pernah dapat menata tidurmu selama-lamanya. Antara keduanya terdapat hubungan, keseimbangan, dan saling menyempurnakan. Di saat engkau menata waktu jagamu, niscaya engkau akan merasa butuh untuk menyedikitkan waktu tidurmu. Dari sana terciptalah penguasaan diri dalam hal menyedikitkan tidur.
Perhatikan baik-baik! Jangan engkau beranjak dengan semangat yang menggebu-gebu kemudian engkau putuskan bahwa mulai malam ini engkau akan mengurangi waktu tidurmu dari sepuluh jam menjadi dua jam, misalnya. Perkara suluk ini tidaklah demikian adanya, melainkan semuanya dilakukan dengan bertahap dan perlahan.
Segala puji bagi dan hanya milik Allah SWT dengan pujian hamba yang tenggelam dalam karunia-Nya, kebajikan-Nya, kemurahannya, dan pemberian-Nya, pujian hamba yang teramat lemah dari menunaikan syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya, pujian hamba yang mengakui dengan segala keteledorannya serta buruk dan kejinya segala amal dan keberanian dirinya dalam berbuat kedurhakaan terhadap-Nya, pujian hamba yang penuh harap kepada karunia Allah, kebajikan-Nya, dan juga kemurahan-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan dan limpahkan kepada penghulu dan junjungan kita, Sayyidina Muhammad, insan paling agung dalam menunjukkan jalan menuju Allah SWT, pintu yang tiada duanya menuju Allah SWT. “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan atas beliau, ahli baytnya, para sahabatnya, para tabi‘in dan pengikut-pengikut mereka dalam kebajikan hingga hari Kiamat.
Semoga sejak pelajaran yang lalu kita semua telah memantapkan langkah untuk menguasai nafsu kita. Berhadats, engkau kembali mengambil air wudhu. Atau janabah, engkau pun mandi hadats besar untuk menghilangkannya. Engkau telah menguasai hatimu dalam perkara penampilan lahirmu atau engkau sudah berusaha melakukan semua itu dan kini engkau tengah berada di jalan menuju itu semua.
Pada pelajaran kali ini, ada dua penguasaan yang mesti engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, sehingga keduanya akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni, pertama, penguasaan diri dalam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas keseharian kita.
Pada pelajaran yang lalu kita telah sama-sama berbicara bahwa penguasaan diri terhadap kesucian lahir memiliki kaitan yang sangat erat dan tak terpisahkan dengan penerangan terhadap perkara-perkara bathin (ruhani). Dan kesucian bathin berkaitan erat dengan meminimkan makanan, tidur, dan pembicaraan. Namun yang demikian itu, guru-guru kita — semoga Allah memberikan balasan terindah kepada mereka semua atas segala jasa mereka kepada kita — mengatakan, sedikit makan, tidur, dan berbicara tidaklah dapat diterapkan dan dilakukan secara spontan dan tiba-tiba begitu saja.
Penguasaan Diri dalam Hal Makan
Penguasaan diri terhadap makanan tidaklah datang secara tiba-tiba atau dilakukan secara spontan tanpa latihan dan pembiasaan sebelumnya.Tidak mungkin dalam sehari-semalam seseorang dapat mengubah pola makannya menjadi satu suap begitu saja. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya agama ini adalah agama yang kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan kelemahlembutan. Karena sesungguhnya perjalanan tanpa henti itu tidak akan pernah menyampaikan kepada tujuan dan tidak pula membuat punggung nyaman karenanya.”
Lalu langkah apa yang harus dilakukan agar hal ini berhasil?
Pertama, berlatih untuk melakukan puasa. Pada saat puasa itulah kita berusaha untuk sederhana ketika berbuka, mencoba untuk makan dua kali, yakni ketika berbuka dan sahur, dan kita belajar menyederhanakan macam-macam makanan pada keduanya.
Kedua, pada majelis yang lalu kita telah berkata, “Aku akan berhenti makan di saat masih berselera terhadapnya.” Kita meninggalkannya karena Allah SWT.
Ketiga, kita meningkat lagi dalam pembelajaran ini, yaitu dengan mengurangi jumlah atau kuantitas makanan yang kita makan dalam sekali makan. Kemudian kita membiasakan diri untuk mengurangi yang kita inginkan dengan cara lebih mengutamakan yang kita tidak berselera terhadapnya daripada yang kita berselera terhadapnya. Demikianlah kaitannya dengan makanan.
Penguasaan Diri dalam Hal Tidur
Berapa jam engkau tidur dari sehari semalam? Mari kita menata segala urusan kita. Bukankah kita telah mengatakan bahwa kita semua adalah muridul akhirah (pengharap negeri akhirat).
Seorang murid peniti jalan menuju Allah yang tidak tahu berapa lama mesti ia tidur dan berapa lama seharusnya ia jaga, bukanlah ia seorang murid.
Berapa jamkah yang cukup untukmu? Delapan jam? Lebih dari delapan jam, ini sama sekali tidak dapat diterima. Lebih dari delapan jam untuk tidur dari dua puluh empat jam tidaklah mungkin diterima bagi seorang muslim awam, terlebih lagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT.
Akan tetapi, bagi orang yang terbiasa tidak mengatur waktunya, kami katakan, “Mulailah dengan dari delapan jam untuk waktu tidur.” Adapun yang sudah terbiasa, mulailah dari enam jam, niscaya itu sudah cukup baginya. Namun, bila engkau tidak mampu untuk melakukannya, mulailah dari delapan jam, kemudian setelah itu kurangi seperempat jam.
Setelah satu bulan berlalu dan engkau kuasai dirimu dengan delapan jam waktu untuk tidur ini maknanya bahwa engkau telah membiasakan tubuhmu untuk cukup dengan delapan jam untuk waktu tidur. Maknanya, engkau telah memiliki kemampuan tidur tidak melebihi waktu yang ditentukan. Karena melebihi dari kadar tertentu yang telah ditentukan untuk tidur akan menimbulkan kelemahan pada jiwa. Karenanya jiwa pun akan menjadi lemah, dan lahirlah malas, enggan, tidak bersemangat, dan terus semakin lemah semangatnya.
Jangan pernah ada delapan jam setengah atau delapan jam seperempat berlalu dari dirimu dalam satu bulan itu sampai melekat keteraturan itu pada dirimu dan nafsumu menjadi terbiasa dengannya. Setelah itu, kurangi lagi seperempat jam….
Saat ini engkau adalah seorang yang terikat dan teratur dengan waktu. Bagimu sudah ada perbedaan antara tidur setengah jam dan seperempat jam. Sebelum itu, mungkin engkau tidur setengah jam atau seperempat jam melebihi kadar tertentu tidak ada masalah. Akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Sekarang engkau adalah seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Seperempat jam teramat berharga untukmu. Karenanya kurangilah seperempat jam dari waktu tidurmu. Demikian seterusnya hinga dikurangi seperempat jam yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampai kepada enam jam. Ketahuilah, pertengahan tidur bagi seorang salik adalah enam jam. Dan bila engkau memiliki semangat yang lebih tinggi lagi setelah terbiasa dengan itu, boleh juga engkau kurangi lagi seperempat jam.
Perhatikan! Seperempat jam yang engkau kurangi ini dan seperempat jam berikutnya hingga sampai kepada enam jam haruslah disertai pula dengan hari yang tertata. Dalam arti bahwa seperempat jam yang engkau kurangi dari waktu tidurmu itu haruslah engkau pergunakan untuk kegiatan berharga untuk mengisinya, dan jangan engkau isi dengan kebingungan atau kesia-siaan membuang-buang waktu percuma.
Sebagian anak muda berkata, “Mari kita pergi menghabiskan waktu!”
Sesungguhnya engkau tidaklah diciptakan untuk membuang dan menghabis-habiskan waktu. Sesungguhnya engkau diciptakan untuk meraih keberuntungan kekayaan waktu. Seorang murid akan merasa napasnya bernilai apabila napasnya berlalu dalam dzikir, dakwah kepada Allah SWT, atau memberikan manfaat lain bagi hamba-hamba Allah SWT.
Bila engkau dapat memenuhi aktivitas di siang hari dengan perbuatan-perbuatan yang semestinya, niscaya engkau akan dapat menata waktu-waktu tidurmu. Akan tetapi bila engkau biarkan waktu jagamu terbuang begitu saja, sudah barang tentu engkau tidak akan pernah dapat menata tidurmu selama-lamanya. Antara keduanya terdapat hubungan, keseimbangan, dan saling menyempurnakan. Di saat engkau menata waktu jagamu, niscaya engkau akan merasa butuh untuk menyedikitkan waktu tidurmu. Dari sana terciptalah penguasaan diri dalam hal menyedikitkan tidur.
Perhatikan baik-baik! Jangan engkau beranjak dengan semangat yang menggebu-gebu kemudian engkau putuskan bahwa mulai malam ini engkau akan mengurangi waktu tidurmu dari sepuluh jam menjadi dua jam, misalnya. Perkara suluk ini tidaklah demikian adanya, melainkan semuanya dilakukan dengan bertahap dan perlahan.
pengendalian nafsu
ni adalah buah dari perjalanan menuju Allah SWT. Yakni
buah perjalanan yang kita harapkan akan dapat menembus batas adat
kebiasaan nafsumu, dan ini lebih penting daripada karamah-karamah,
seperti si Fulan bisa terbang atau berjalan di atas air.
Kisah Imam Malik yang telah lalu pada pelajaran sebelumnya, kesemuanya adalah pada masalah mengalahkan nafsu dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Imam Malik RA telah sampai pada batas kemampuan untuk menguasai nafsunya. Imam Malik telah keluar dari kebiasaan dan menembus batas adat kebiasaan manusia pada umumnya.
Para ulama menyebutkan bahwa di majelisnya, di Raudhah, bila ingin menyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, Imam Malik mengajarkannya begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal hadits Rasulullah SAW atau dimintai suatu hadits Nabi SAW, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan berkata, “Nafi` telah menuturkan kepadaku dari Ibnu Umar dari yang bersemayam di makam ini SAW… — hadits musalsal, yang jalur ini dikenal dengan assilsilatudz-dzahabiyyah (jalur emas), yakni riwayat Imam Malik dari Nafi` dari Ibnu Umar.”
Suatu hari Imam Malik menyampaikan hadits Nabi SAW, tiba-tiba tampak wajahnya berubah menjadi pucat dan memerah, keringat pun bercucuran di wajahnya. Akan tetapi Sayyidina Imam Malik tidak menghentikan pelajarannya menyampaikan hadits Rasulullah SAW hingga selesai.
Setelah usai menyampaikan hadits Nabi SAW, Imam Malik berkata kepada salah satu murid yang jaraknya paling dekat dari tempatnya duduk, “Coba lihat apa yang ada di balik bajuku ini.”
Murid itu pun dengan segera melihat punggung Imam Malik, ternyata betapa terkejutnya si murid karena ia mendapati seekor kalajengking telah menggigit punggung Imam Malik dengan tujuh belas gigitan di tempat yang berbeda. Murid-murid pun terperanjat menyaksikan kejadian itu. Mereka berkata, “Wahai Guru, mengapa engkau tidak memberi tahu kami ketika kalajengking itu baru menggigitmu?”
Imam Malik berkata, “Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadits Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking.”
Bila saja lalat hinggap di hidungmu di saat shalat, apakah gerangan yang akan engkau lakukan?
Sebagian orang akan berkata, “Ini sudah di luar batas kebiasaan…ini tidak mungkin!!”
Benar, sungguh aku memahami dan mengetahui mengapa akalmu tidak dapat menerima ini semua. Karena engkau belum meniti jalan menuju Allah SWT. Bila saja engkau sudah meniti jalan ini dan engkau telah melewati tahapan dari dikalahkan nafsu kepada tahapan engkau yang mengalahkan nafsumu, niscaya engkau akan sangat memahami dengan baik bagaimana mereka dapat dan mampu menguasai nafsu-nafsu mereka.
Aku ingin kembali menyebutkan kisah berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Kisah ini terjadi ketika aku berusia kurang lebih empat belas tahun. Jangan engkau berkata, “Tentu saja Imam Malik adalah generasi pertama kalangan salafush shalih, untuk zaman ini siapa yang mampu berlaku seperti itu?”
Perhatikanlah, aku akan menceritakan satu kisah kepada kalian. Ketika aku berusia empat belas atau enam belas tahun kala itu, aku ikut serta bersama guruku, Habib Abdul Qadir Assegaf, salah seorang guru besarku di antara guru-guruku yang aku mengambil ilmu dari mereka. Setelah usai mengikuti salah satu majelis shalawat, kami pun keluar dari majelis dan kembali ke mobil.
Setelah menutup pintu depan mobil, aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang guruku, Habib Abdul Qadir.
Belum lagi berangkat, seorang muhibbin datang tergopoh-gopoh, membuka pintu mobil dan meminta doa kepada beliau. Setelah didoakan, muhibbin itu pun mencium tangan Guru dan menutup kembali pintu mobil.
Baru pergi beberapa langkah, muhibbin itu kembali lagi dan mengetuk kaca mobil.
Sopir pun menurunkan kaca mobil.
Muhibbin itu kembali berbicara sesuatu kepada guruku dan guruku menanggapinya dengan sebaik-baiknya.
Setelah pembicaraan usai, muhibbin itu pun mohon diri dan melangkah pergi dan tak lagi terlihat. Maka sopir sudah kembali merapatkan kaca mobil, tapi tiba-tiba guruku berkata, “Ali!”
Aku menjawab, “Labbaik.”
“Sepertinya orang tadi menutup pintu mengenai jemariku sebelum sopir menurunkan jendela mobil.”
Aku pun segera turun dan keluar dari mobil dan membuka pintu mobil. Ternyata darah bercucuran dari jari-jemari guruku. Aku pun berkata kepada beliau, “Guru, mengapa engkau tidak memberitahukan kepada orang tadi ketika baru menutup pintu, melainkan engkau membiarkannya (bahkan) hingga orang tadi kembali datang dan usai panjang lebar berbicara denganmu?”
“Bila aku memberitahukannya, pasti hal itu akan terasa sangat berat baginya ketika tahu bahwa ia menutup pintu mengenai jari-jemariku.”
Apakah kita telah sampai pada makna-makna yang teramat halus dan lembut dalam perihal muamalah seperti ini? Ini akan menjadi pembahasan tersendiri insya Allah pada pelajaran yang akan datang.
Yang menjadi bukti dari kisah ini dalam pembahasan kita kali ini adalah bagaimana beliau mampu menguasai dirinya bahkan sampai pada rasa. Tabiat yang ada pada manusia pada umumnya, ketika ada sesuatu menimpa tangannya, misalkan, ia akan berkata, “Awwh!!
Ungkapan “awwh!!” seperti ini sudah menjadi pembawaan tabiat kita sebagai manusia. Akan tetapi, bagaimana beliau, yang juga seorang manusia, dan bukan dari generasi awal, para sahabat, bukan pula dari generasi kedua, para tabi`in, bukan pula dari generasi ketiga, para tabi`it tabi`in, serta bukan pula dari generasi keempat, tidak pula kelima atau keenam, melainkan dari generasi kita, yang kita hadir dan duduk bersamanya? Bagaimana beliau mampu mengalahkan nafsunya?
Ini adalah buah dari perjalanan menuju Allah SWT. Yakni buah perjalanan yang kita harapkan akan dapat menembus batas adat kebiasaan nafsumu, yang lebih penting daripada karamah-karamah, seperti si Fulan bisa terbang atau berjalan di atas air.
Kita mengimani bahwa yang demikian itu benar adanya dan bahwa Allah menganugerahkan itu semua kepada para shalihin. Akan tetapi hal-hal semacam itu bukanlah hakikat karamah, melainkan gambaran dari karamah. Hakikat karamah yang sesungguhnya adalah bahwa engkau mampu menembus batas adat kebiasaan nafsumu sehingga engkau dapat menguasai dan mengendalikan nafsumu karena Allah SWT.
Bila hidup seperti ini, niscaya engkau akan dapat menjadi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT.
Apa kaitannya persoalan ini dengan pembahasan yang sedang kita bicarakan?
Di awal pelajaran ini, kita telah berbicara tentang pakaian dan mendawamkan wudhu, ini berarti kita sedang masuk kepada pembasan penguasaan nafsu. Dan itu merupakan permulaan dari perkara-perkara sederhana yang berkaitan dengan suluk menuju Allah SWT namun terasa berat bagi nafsu untuk menjalaninya.
Malas? Berdiri, dan ambillah wudhu. Ngantuk? Berdiri dan ambillah wudhu. Berhadats? Di hadapanmu tersedia tempat wudhu. Alhamdulillah, engkau tidak dituntut untuk menimba air dari sumur agar dapat berwudhu seperti halnya orang-orang dahulu. Engkau hanya cukup menggerakkan keran. Seberat apakah hal itu untuk engkau lakukan?
Lantas apa yang menyebabkan berat di saat engkau mengambil air wudhu?
Penyebabnya adalah keengganan nafsu yang ada dalam dirimu. Karenanya, lawan, perangi, dan kekang nafsumu pada segala apa yang berat bagi nafsumu dari perkara-perkara yang sederhaa seperti itu.
Lihatlah, ini semua adalah permulaan-(bidayah)-nya. Jalani semua ini agar kelak engkau dapat sampai kepada ujung (nihayah)-nya, sebagaimana kisah Imam Malik dan Habib Abdul Qadir Assegaf tersebut. Aku telah menyebutkan permulaannya dan juga ujungnya, agar engkau dapat mengetahui ke manakah sesungguhnya engkau berjalan. Apakah engkau sudah mengendalikan nafsumu agar dapat menjaga wudhu, menjaga thaharah, menjaga kebersihan, dan menjaga hatimu dalam penampilanmu sehingga sedapat mungkin berpakaian hanya sebatas kemampuanmu?
Perhatikanlah perkara ini dan tanggunglah beban dan kesulitan sederhana ini, agar engkau dapat menanggung beban dan kesulitan yang besar nantinya. Setelah itu, tanpa beban dan kesulitan, semuanya akan menjadi kenikmatan. Sesuatu yang kita pandang di luar adat kebiasaan dalam menanggung beban, rasa sakit, dan perih, seperti yang mereka rasakan, sesungguhnya bagi mereka itu adalah kenikmatan mendapatkan ridha Allah SWT. Cari dan gapailah semua itu. Sesungguhnya semua itu, demi Allah, dan aku tidak ingin banyak bersumpah, akan tetapi di sini aku bersumpah, sungguh diciptakan untukmu. Ini semua tidaklah diciptakan untuk para sadat kita semua dari kalangan malaikat —‘alaihimus-salam, karena sesungguhnya mereka telah diciptakan dengan sifat taat kepada Allah SWT. Mereka tidak memiliki nafsu. Ini semuanya tercipta untukmu, semua derajat-derajat ini pun diciptakan untukmu. Dan semua karunia agung ini, kalianlah yang dimaksudkan untuk mendapatkan dan meraihnya.
Engkaulah dzat sesungguhnya yang ditiupkan kepadanya dari ruh Allah SWT. Pada dirimu terdapat hati yang padanya terdapat nur-nur La ilaha illallah.
Tahukah engkau nilai dari semua ini?
Engkau berjalan di atas bumi dengan jasad yang kecil, yang jasad itu bukanlah sesuatu apa pun di hadapan alam semesta. Wahai yang teramat kecil, wahai titik yang ada di alam semesta, atau lebih kecil lagi dari titik, ketahuilah bahwa pada dirimu terdapat sesuatu yang sendainya semua lapis langit dan bumi ini diletakkan di telapak tangan yang satu, dan sesuatu yang ada pada dirimu itu diletakkan pada telapak tangan yang lain, niscaya sesuatu yang diletakkan pada telapak tangan lainnya itu akan lebih berat dibandingkan semua lapis langit dan bumi. Sesuatu itu adalah La ilaha illallah.
Wahai yang di hatinya terdapat cahaya-cahaya La ilaha illallah, jangan anggap remeh anugerah ini. Dan makna “jangan menganggap remeh anugerah ini” adalah jangan menganggap perjalanan menuju Allah sebagai beban sehingga engkau berkata, “Tidak!”
Sesungguhnya makna suluk menuju Allah SWT ini untukmu, diciptakan untuk dirimu, dan ia pun berada dalam kesanggupan serta kemampuanmu.
Pahamilah dengan pemahaman yang benar firman Allah SWT, “Tidaklah Allah memberikan taklif (beban syari’at) kepada suatu jiwa kecuali sekadar kemampuannya.” – QS Al-Baqarah: 286. Sebagian orang memahami firman Allah ini dengan kebalikannya. Ia berkata, “Allah tidak memberikan taklif kepada suatu jiwa kecuali sekadar kemampuannya”, karenanya aku tidak melakukan, karena aku tidak mampu melakukannya.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memberimu taklif, dan tidaklah Allah memberikan taklif kepadamu kecuali taklif itu dalam batas kemampuanmu. Jadi pemahaman ayat ini sebagaimana ungkapannya, yakni, “Tidaklah Allah memberikan taklif kepada suatu jiwa kecuali dengan kadar kemampuannya.”
Kisah Imam Malik yang telah lalu pada pelajaran sebelumnya, kesemuanya adalah pada masalah mengalahkan nafsu dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Imam Malik RA telah sampai pada batas kemampuan untuk menguasai nafsunya. Imam Malik telah keluar dari kebiasaan dan menembus batas adat kebiasaan manusia pada umumnya.
Para ulama menyebutkan bahwa di majelisnya, di Raudhah, bila ingin menyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, Imam Malik mengajarkannya begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal hadits Rasulullah SAW atau dimintai suatu hadits Nabi SAW, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan berkata, “Nafi` telah menuturkan kepadaku dari Ibnu Umar dari yang bersemayam di makam ini SAW… — hadits musalsal, yang jalur ini dikenal dengan assilsilatudz-dzahabiyyah (jalur emas), yakni riwayat Imam Malik dari Nafi` dari Ibnu Umar.”
Suatu hari Imam Malik menyampaikan hadits Nabi SAW, tiba-tiba tampak wajahnya berubah menjadi pucat dan memerah, keringat pun bercucuran di wajahnya. Akan tetapi Sayyidina Imam Malik tidak menghentikan pelajarannya menyampaikan hadits Rasulullah SAW hingga selesai.
Setelah usai menyampaikan hadits Nabi SAW, Imam Malik berkata kepada salah satu murid yang jaraknya paling dekat dari tempatnya duduk, “Coba lihat apa yang ada di balik bajuku ini.”
Murid itu pun dengan segera melihat punggung Imam Malik, ternyata betapa terkejutnya si murid karena ia mendapati seekor kalajengking telah menggigit punggung Imam Malik dengan tujuh belas gigitan di tempat yang berbeda. Murid-murid pun terperanjat menyaksikan kejadian itu. Mereka berkata, “Wahai Guru, mengapa engkau tidak memberi tahu kami ketika kalajengking itu baru menggigitmu?”
Imam Malik berkata, “Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadits Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking.”
Bila saja lalat hinggap di hidungmu di saat shalat, apakah gerangan yang akan engkau lakukan?
Sebagian orang akan berkata, “Ini sudah di luar batas kebiasaan…ini tidak mungkin!!”
Benar, sungguh aku memahami dan mengetahui mengapa akalmu tidak dapat menerima ini semua. Karena engkau belum meniti jalan menuju Allah SWT. Bila saja engkau sudah meniti jalan ini dan engkau telah melewati tahapan dari dikalahkan nafsu kepada tahapan engkau yang mengalahkan nafsumu, niscaya engkau akan sangat memahami dengan baik bagaimana mereka dapat dan mampu menguasai nafsu-nafsu mereka.
Aku ingin kembali menyebutkan kisah berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Kisah ini terjadi ketika aku berusia kurang lebih empat belas tahun. Jangan engkau berkata, “Tentu saja Imam Malik adalah generasi pertama kalangan salafush shalih, untuk zaman ini siapa yang mampu berlaku seperti itu?”
Perhatikanlah, aku akan menceritakan satu kisah kepada kalian. Ketika aku berusia empat belas atau enam belas tahun kala itu, aku ikut serta bersama guruku, Habib Abdul Qadir Assegaf, salah seorang guru besarku di antara guru-guruku yang aku mengambil ilmu dari mereka. Setelah usai mengikuti salah satu majelis shalawat, kami pun keluar dari majelis dan kembali ke mobil.
Setelah menutup pintu depan mobil, aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang guruku, Habib Abdul Qadir.
Belum lagi berangkat, seorang muhibbin datang tergopoh-gopoh, membuka pintu mobil dan meminta doa kepada beliau. Setelah didoakan, muhibbin itu pun mencium tangan Guru dan menutup kembali pintu mobil.
Baru pergi beberapa langkah, muhibbin itu kembali lagi dan mengetuk kaca mobil.
Sopir pun menurunkan kaca mobil.
Muhibbin itu kembali berbicara sesuatu kepada guruku dan guruku menanggapinya dengan sebaik-baiknya.
Setelah pembicaraan usai, muhibbin itu pun mohon diri dan melangkah pergi dan tak lagi terlihat. Maka sopir sudah kembali merapatkan kaca mobil, tapi tiba-tiba guruku berkata, “Ali!”
Aku menjawab, “Labbaik.”
“Sepertinya orang tadi menutup pintu mengenai jemariku sebelum sopir menurunkan jendela mobil.”
Aku pun segera turun dan keluar dari mobil dan membuka pintu mobil. Ternyata darah bercucuran dari jari-jemari guruku. Aku pun berkata kepada beliau, “Guru, mengapa engkau tidak memberitahukan kepada orang tadi ketika baru menutup pintu, melainkan engkau membiarkannya (bahkan) hingga orang tadi kembali datang dan usai panjang lebar berbicara denganmu?”
“Bila aku memberitahukannya, pasti hal itu akan terasa sangat berat baginya ketika tahu bahwa ia menutup pintu mengenai jari-jemariku.”
Apakah kita telah sampai pada makna-makna yang teramat halus dan lembut dalam perihal muamalah seperti ini? Ini akan menjadi pembahasan tersendiri insya Allah pada pelajaran yang akan datang.
Yang menjadi bukti dari kisah ini dalam pembahasan kita kali ini adalah bagaimana beliau mampu menguasai dirinya bahkan sampai pada rasa. Tabiat yang ada pada manusia pada umumnya, ketika ada sesuatu menimpa tangannya, misalkan, ia akan berkata, “Awwh!!
Ungkapan “awwh!!” seperti ini sudah menjadi pembawaan tabiat kita sebagai manusia. Akan tetapi, bagaimana beliau, yang juga seorang manusia, dan bukan dari generasi awal, para sahabat, bukan pula dari generasi kedua, para tabi`in, bukan pula dari generasi ketiga, para tabi`it tabi`in, serta bukan pula dari generasi keempat, tidak pula kelima atau keenam, melainkan dari generasi kita, yang kita hadir dan duduk bersamanya? Bagaimana beliau mampu mengalahkan nafsunya?
Ini adalah buah dari perjalanan menuju Allah SWT. Yakni buah perjalanan yang kita harapkan akan dapat menembus batas adat kebiasaan nafsumu, yang lebih penting daripada karamah-karamah, seperti si Fulan bisa terbang atau berjalan di atas air.
Kita mengimani bahwa yang demikian itu benar adanya dan bahwa Allah menganugerahkan itu semua kepada para shalihin. Akan tetapi hal-hal semacam itu bukanlah hakikat karamah, melainkan gambaran dari karamah. Hakikat karamah yang sesungguhnya adalah bahwa engkau mampu menembus batas adat kebiasaan nafsumu sehingga engkau dapat menguasai dan mengendalikan nafsumu karena Allah SWT.
Bila hidup seperti ini, niscaya engkau akan dapat menjadi seorang salik, peniti jalan menuju Allah SWT.
Apa kaitannya persoalan ini dengan pembahasan yang sedang kita bicarakan?
Di awal pelajaran ini, kita telah berbicara tentang pakaian dan mendawamkan wudhu, ini berarti kita sedang masuk kepada pembasan penguasaan nafsu. Dan itu merupakan permulaan dari perkara-perkara sederhana yang berkaitan dengan suluk menuju Allah SWT namun terasa berat bagi nafsu untuk menjalaninya.
Malas? Berdiri, dan ambillah wudhu. Ngantuk? Berdiri dan ambillah wudhu. Berhadats? Di hadapanmu tersedia tempat wudhu. Alhamdulillah, engkau tidak dituntut untuk menimba air dari sumur agar dapat berwudhu seperti halnya orang-orang dahulu. Engkau hanya cukup menggerakkan keran. Seberat apakah hal itu untuk engkau lakukan?
Lantas apa yang menyebabkan berat di saat engkau mengambil air wudhu?
Penyebabnya adalah keengganan nafsu yang ada dalam dirimu. Karenanya, lawan, perangi, dan kekang nafsumu pada segala apa yang berat bagi nafsumu dari perkara-perkara yang sederhaa seperti itu.
Lihatlah, ini semua adalah permulaan-(bidayah)-nya. Jalani semua ini agar kelak engkau dapat sampai kepada ujung (nihayah)-nya, sebagaimana kisah Imam Malik dan Habib Abdul Qadir Assegaf tersebut. Aku telah menyebutkan permulaannya dan juga ujungnya, agar engkau dapat mengetahui ke manakah sesungguhnya engkau berjalan. Apakah engkau sudah mengendalikan nafsumu agar dapat menjaga wudhu, menjaga thaharah, menjaga kebersihan, dan menjaga hatimu dalam penampilanmu sehingga sedapat mungkin berpakaian hanya sebatas kemampuanmu?
Perhatikanlah perkara ini dan tanggunglah beban dan kesulitan sederhana ini, agar engkau dapat menanggung beban dan kesulitan yang besar nantinya. Setelah itu, tanpa beban dan kesulitan, semuanya akan menjadi kenikmatan. Sesuatu yang kita pandang di luar adat kebiasaan dalam menanggung beban, rasa sakit, dan perih, seperti yang mereka rasakan, sesungguhnya bagi mereka itu adalah kenikmatan mendapatkan ridha Allah SWT. Cari dan gapailah semua itu. Sesungguhnya semua itu, demi Allah, dan aku tidak ingin banyak bersumpah, akan tetapi di sini aku bersumpah, sungguh diciptakan untukmu. Ini semua tidaklah diciptakan untuk para sadat kita semua dari kalangan malaikat —‘alaihimus-salam, karena sesungguhnya mereka telah diciptakan dengan sifat taat kepada Allah SWT. Mereka tidak memiliki nafsu. Ini semuanya tercipta untukmu, semua derajat-derajat ini pun diciptakan untukmu. Dan semua karunia agung ini, kalianlah yang dimaksudkan untuk mendapatkan dan meraihnya.
Engkaulah dzat sesungguhnya yang ditiupkan kepadanya dari ruh Allah SWT. Pada dirimu terdapat hati yang padanya terdapat nur-nur La ilaha illallah.
Tahukah engkau nilai dari semua ini?
Engkau berjalan di atas bumi dengan jasad yang kecil, yang jasad itu bukanlah sesuatu apa pun di hadapan alam semesta. Wahai yang teramat kecil, wahai titik yang ada di alam semesta, atau lebih kecil lagi dari titik, ketahuilah bahwa pada dirimu terdapat sesuatu yang sendainya semua lapis langit dan bumi ini diletakkan di telapak tangan yang satu, dan sesuatu yang ada pada dirimu itu diletakkan pada telapak tangan yang lain, niscaya sesuatu yang diletakkan pada telapak tangan lainnya itu akan lebih berat dibandingkan semua lapis langit dan bumi. Sesuatu itu adalah La ilaha illallah.
Wahai yang di hatinya terdapat cahaya-cahaya La ilaha illallah, jangan anggap remeh anugerah ini. Dan makna “jangan menganggap remeh anugerah ini” adalah jangan menganggap perjalanan menuju Allah sebagai beban sehingga engkau berkata, “Tidak!”
Sesungguhnya makna suluk menuju Allah SWT ini untukmu, diciptakan untuk dirimu, dan ia pun berada dalam kesanggupan serta kemampuanmu.
Pahamilah dengan pemahaman yang benar firman Allah SWT, “Tidaklah Allah memberikan taklif (beban syari’at) kepada suatu jiwa kecuali sekadar kemampuannya.” – QS Al-Baqarah: 286. Sebagian orang memahami firman Allah ini dengan kebalikannya. Ia berkata, “Allah tidak memberikan taklif kepada suatu jiwa kecuali sekadar kemampuannya”, karenanya aku tidak melakukan, karena aku tidak mampu melakukannya.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memberimu taklif, dan tidaklah Allah memberikan taklif kepadamu kecuali taklif itu dalam batas kemampuanmu. Jadi pemahaman ayat ini sebagaimana ungkapannya, yakni, “Tidaklah Allah memberikan taklif kepada suatu jiwa kecuali dengan kadar kemampuannya.”
Minggu, Agustus 04, 2013
dzikir dan tasbih
| Add caption |
Islam adalah agama yang memerintahkan para penganutnya untuk selalu berdzikir kepada Allah SWT, sebagai salah satu bentuk ibadah, guna mendekatkan diri kepada Allah. Di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 191 Allah SWT berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah (berdzikir) sambil berdiri, duduk, dan berbaring.” Begitu juga dengan firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 41 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
Sedangkan dalam surah Al-Jumu‘ah Allah SWT berfirman yang artinya, “Berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang banyak, agar kalian mendapatkan keberuntungan.”
Selanjutnya di dalam hadits riwayat Muslim diterangkan sebagai berikut, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa setiap selesai shalat membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali, lalu supaya cukup seratus ia membaca Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarika lah, lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa `ala kulli syay-in qadîr, niscaya dihapuskan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan’.”
Dari uraian hadits itu dapatlah diketahui adanya penetapan waktu dan jumlah dzikir, yakni usai shalat membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, dan dilengkapi menjadi 100 dengan kalimat di atas.
Selain itu, terdapat pula hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan membaca dzikir dengan jumlah sepuluh atau seratus kali. Maka dengan adanya hadits-hadits yang menetapkan jumlah dzikir seperti itu, dengan sendirinya orang yang berdzikir perlu mengetahui jumlah dzikirnya secara pasti. Lalu cara apakah yang dapat ditempuh untuk itu?
Untuk menghitung jumlah dzikir, Islam tidak menetapkan cara tertentu. Hal itu diserahkan kepada masing-masing orang yang berdzikir. Cara apa saja tidak dilarang, asal tidak bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Banyak di antara kita yang berdzikir dengan tasbih, atau dengan alat-alat penghitung yang lain. Tasbih, yang dalam bahasa Arab-nya disebut subhah, adalah butiran-butiran yang dirangkai untuk menghitung banyaknya jumlah dzikir yang diucapkan oleh seseorang, baik dzikir dengan lidah maupun dzikir dengan hati.
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW menghitung dzikirnya dengan jari-jari dan menyuruh para sahabatnya supaya mengikuti cara beliau. Para imam ahli hadits juga meriwayatkan hadits dari seorang wanita Muhajirin yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir, bertahlil, dan bertaqdis. Janganlah sampai kalian lalai, karena nanti bisa melupakan tauhid. Hitunglah dzikir kalian dengan jari, karena kelak jari-jari akan ditanya dan akan diminta berbicara.”
Namun perintah menghitung dengan jari tidak berarti melarang orang berdzikir dengan cara lain. At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ath-Thabarani meriwayatkan sebuah hadits dari Shafiyah yang mengatakan bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW datang ke rumahnya. Beliau melihat 4.000 butir biji kurma yang biasa digunakan oleh Shafiyah untuk menghitung dzikir. Nabi SAW bertanya, “Hai binti Huyay, apa itu?”
Shafiyah menjawab, “Itulah alat yang aku gunakan untuk menghitung dzikir.”
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya engkau dapat berdzikir lebih banyak dari itu!”
Shafiyah berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku.”
Rasulullah kemudian berkata, “Ucapkanlah Subhanallah `adada khalqihi… (dan seterusnya).”
Abu Daud dan At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Sa‘ad bin Abi Waqqash yang mengatakan bahwa pada suatu hari Rasulullah singgah di rumah seorang wanita. Beliau melihat banyak batu kerikil yang biasa digunakan oleh wanita itu untuk menghitung dzikir. Beliau bertanya, “Maukah engkau kuberi tahu cara yang lebih mudah dari itu dan lebih afdhal? Sebut sajalah kalimat-kalimat berikut:
Subhânallâh sebanyak makhluk-Nya yang di langit. Subhânallâh sebanyak makhluk-Nya yang di bumi. Subhânallâh sebanyak ciptaan-Nya yang ada di antara itu. Allâhu Akbar seperti itu. Alhamdulillâh seperti itu. Lâ ilâha illallâh seperti itu, dan Lâ quwwata illâ billâh seperti itu.
Banyak sahabat Nabi SAW dan salafush shalih yang menggunakan biji kurma, batu-batu kerikil, buntelan-buntelan benang, dan sebagainya, untuk menghitung dzikir, dan ternyata tidak ada yang menyalahkan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan, seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Shafiyah menghitung dzikirnya dengan batu-batu kerikil. Abu Daud meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki sebuah kantung berisi batu kerikil. Ia duduk bersimpuh di atas tempat tidurnya ditunggui seorang hamba sahaya berkulit hitam. Abu Hurairah berdzikir dan menghitungnya dengan batu-batu kerikil yang ada di dalam kantung. Bila batu-batu kerikil itu telah habis digunakan, hamba sahayanya menyerahkan kembali batu-batu kerikil itu kepadanya. Abu Syaibah juga mengutip riwayat Ikrimah yang mengatakan bahwa Abu Hurairah mempunyai seutas benang dengan buntelan seribu buah. Ia baru tidur setelah berdzikir dua belas ribu kali.
Bentuk tasbih yang kita kenal sekarang baru digunakan orang pada abad ke-2 Hijriyyah. Kemudian sejak abad ke-5 penggunaan tasbih makin meluas di kalangan muslimin, termasuk juga kaum wanitanya yang tekun berubadah. Tidak ada berita atau riwayat, baik dari salaf maupun khalaf, yang menyebutkan adanya larangan menggunakan tasbih, dan tidak ada pula yang memandangnya sebagai perbuatan makruh atau tercela.
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, jelaslah bahwa menghitung dzikir dengan selain jari adalah boleh. Dan apa pun benda yang digunakan untuk menghitung dzikir, orang tetap menggunakan jari juga. Yang penting diingat, dalam berdzikir yang harus diperhatikan adalah kemantapan dan kekhusyu’an dalam hati, karena yang dipandang Allah adalah hati orang yang berdzikir, bukan penampilan dan benda yang digunakan untuk berdzikir.
referensi majalah alkisah.com
ulama-ulama guru bangsa part 1
Assalamualaikum wr wb.salam sejahtera buat pembaca blog stroom09
yg setia hadir membaca artikel-artikel blog stroom09.kali ini saya akan
mencoba memposting sekilas ulama pendidik,pendidik ulama.yuk kita simak
bareng2 artikel di bawah ini semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil
dari kisah perjuangan ulama tersebut.biar gagh penasaran langsung saja
ya.
Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan paham keagamaan mayoritas umat Islam di Indonesia. Kehadiran Aswaja di Indonesia seiring dengan kehadiran agama Islam itu sendiri yang kemudian diaplikasikan lebih lanjut oleh Walisanga dan ulama-ulama setelahnya. Belakangan ini istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah” kembali mencuat ke permukaan setelah datangnya ideologi-ideologi Islam transnasionalis yang diimpor dari Timur Tengah.
Konsep Aswaja yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok anyar ini sangat rigid dan cenderung menyalahkan kelompok lainnya yang berbeda paham dengan mereka. Mereka ingin mengubah berbagai laku ritual dan pemahaman agama mayoritas umat muslim di Indonesia yang sudah mapan dengan dalih telah menyalahi aturan yang ditetapkan oleh Al-Qur’an.
Mereka lupa, wajah Indonesia yang begitu ramah tidak lain adalah karena jasa-jasa para ulama terdahulu yang telah membentuk karakter putra-putri bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan keragaman, sebagai ciri utama ke-Aswaja-an itu sendiri, melalui pendidikan yang mereka terapkan di Bumi Pertiwi tercinta ini.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, setiap ulama dalam Islam adalah para pendidik, yang mata rantai keilmuannya sampai kepada Rasulullah SAW. Itulah sebabnya, Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta, dan senantiasa shalihun li fi kulli makanin wa li kulli zamanin, shalih di setiap tempat dan zaman, tak pernah putus dari melahirkan ulama-ulama yang tampil sebagai tokoh pembaharu di setiap masa dan waktu. Sehingga wajah Islam yang damai dan penuh kasih sayang akan selalu menghiasi bumi ini hingga datangnya hari Kiamat.
Dalam rangka menyambut datangnya tahun ajaran baru, 2012-2013, alKisah menampilkan kembali “tiga” guru bangsa dari tiga organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang merupakan benteng utama Aswaja di negeri ini, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah).
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari adalah putra dan penerus pendiri NU, K.H. Hasyim Asy‘ari.
Puluhan santri dan warga Tebuireng berdesakan di masjid pondok pesantren. Mereka tengah menggelar pengajian yang rutin digelar setiap Jum‘at seusai shalat Isya. Suara mereka terdengar hingga ke dalam kasepuhan, yang berjarak sekitar 10 meter dari masjid. Kasepuhan adalah tempat bermukim keluarga besar Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy‘ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan sekaligus pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Malam itu, 1 Juni 1914, suasana di dalam kasepuhan tak kalah ramai. Nyai Nafiqah, istri K.H. Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Ash‘ari, tengah menahan rasa sakit lantaran detik-detik kelahiran bayi yang dikandungnya makin dekat. Ia dikelilingi sejumlah kerabat dan pelayan dekat.
Menjelang malam, dari dalam kasepuhan melengking tangis bayi. Nyai Nafiqah melahirkan bayi laki-laki. Air mata bahagia pun keluar dari putri Kiai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan, Madiun, itu.
Kiai Hasyim memberi nama putranya yang baru lahir itu “Muhammad Asy`ari”. Nama ini diambil dari nama ayah Kiai Hasyim sendiri. Kiai Hasyim mewariskan nama itu kepada sang bayi karena empat kakaknya semuanya perempuan.
Tapi sebulan kemudian, nama ini diganti, karena Asy‘ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin lama makin kurus. Nama itu dianggap terlalu berat disandang sang bayi. Kiai Hasyim kemudian mengganti nama putra pertamanya itu dengan “Abdul Wahid Hasyim”.
Karena ia anak lelaki pertama, hal itu merisaukan ibundanya, Nyai Nafiqah. Sang ibu pun bernazar, pada usia tiga bulan Wahid akan dibawa ke guru ayahnya, K.H. Cholil, di Bangkalan, Madura.
Ketika waktu itu tiba, Bangkalan sedang diguyur hujan lebat. Petir sambar-menyambar. Bukannya membukakan pintu, Kiai Cholil malah meminta tamu dan bayinya itu menunggu di halaman rumah.
Karena cemas melihat bayinya kehujanan, Nyai Nafiqah menggendong sang bayi berteduh di emper sambil berdoa.
Tuan rumah tidak tampak kasihan, tapi malah memerintahkan membawa sang bayi kembali ke halaman.
Beberapa waktu kemudian, Kiai Cholil meminta bayi itu dibawa pulang.
Kisah ini menjadi isyarat, kelak sang bayi akan menjadi orang besar.
Dari sejak kecil, Wahid sudah terlihat memiliki kemampuan yang tak sama dengan anak-anak lain sebayanya. Sang ayah tak menyekolahkannya ke Holandsch Indische School, layaknya putra seorang tokoh pada zaman itu. Kiai Hasyim memang dikenal anti sekolah yang didirikan penjajah. Ia memilih untuk mengajar anaknya sendiri. Karena cerdas, Wahid cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan.
Umur lima tahun, Wahid sudah belajar membaca Al-Qur’an. Kiai Hasyim sendiri yang mengajar putranya ini setiap seusai shalat Zhuhur dan Magrhrib. Untuk pengetahuan agama lainnya, Wahid belajar di Ponpes Tebuireng pada pagi hari. Karena cepatnya ia menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan, pada umur tujuh tahun ia sudah mampu mempelajari banyak kitab yang diajarkan di pesantren, antara lain Fathul Qarib, Minhajul Qawim, Mutammimah.
Meskipun aktivitas belajarnya padat, Wahid pun tetap bermain-main selayaknya anak-anak di usianya. Meskipun anak kiai, ia tidak pernah memilih-milih teman. Wahid bermain dengan semua anak. Di antara kebiasaannya di waktu kecil, ia suka membagi-bagikan pisang goreng, makanan kesukaannya, kepada teman-temannya.
Seperti anak-anak lainnya, Wahid pun sering dimarahi oleh ayahnya jika bersalah. Tapi jika yang memarahi ibunya, biasanya ia menangis. Di saat itulah sang ibu segera berusaha menenangkannya dan kerap berkata, “Kamu jangan suka nangis, karena nanti kalau sudah besar bakal jadi menteri.” Ucapan yang kelak memang benar nyata, terbukti.
Keistimewaan khusus yang juga sudah terlihat sejak kecil, pernah suatu ketika Wahid masuk ke dalam kandang harimau milik ayahnya yang berada di bawah pohon besar yang terletak beberapa meter di samping masjid. Ternyata raja hutan yang ganas itu diam tidak melawan pada saat Wahid menungganginya.
Keistimewaan lain yang dimiliki Wahid kecil, ia mampu menyerap pelajaran di saat asyik bermain. Saat bermain Wahid gemar berlari ke sana-kemari. Ini pulalah yang dilakukannya saat ayahnya mengajar para santri. Dengan santainya Wahid berlari-lari dan menggelendot pada ayahnya. Sembari bermain seperti ini, ia menguping dan menyerap pelajaran yang disampaikan ayahnya kepada para santri itu.
Karena cepatnya ia menyerap ilmu itu pulalah, pada usia 12 tahun ia sudah bisa mengajar. Murid pertamanya adalah adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Sambil mengajar adiknya pada malam hari, biasanya ia belajar dan membaca buku-buku dalam bahasa Arab.
Di usia 12 tahun itu Gus Wahid lulus dari Madrasah Tebuireng. Di sela-sela pelajaran agama, ia menghafal syair-syair berbahasa Arab.
Setahun kemudian, ia meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara ke sejumlah pesantren.
Dalam pengembaraan ke sejumlah pesantren-pesantren, Wahid selalu menggunakan oto, sebutan mobil zaman dulu, yang disetirnya sendiri. Selain dalam usia belasan tahun sudah mahir menyetir mobil, ia juga piawai mengendarai sepeda motor.
Pernah suatu ketika, karena ngebut, ia dan sepeda motornya nyemplung ke kali di depan pesantren. Lebar kali itu hampir empat meter dan arusnya deras. Tapi ia tak kesulitan saat naik ke jalan. Mesin sepeda motornya tetap menyala dan tubuh serta pakaiannya tidak basah. Menurut penuturan salah seorang abdi dalem pesantren, waktu itu Wahid mengaku perasaannya tidak masuk ke kali, melainkan masih di jalan raya.
Wahid mulai pengembaraan dengan menyantri di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo, selama 25 hari, 1-25 Ramadhan. Kemudian ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang didirikan oleh K.H. Abdul Karim, alumnus Tebuireng dan kawan dekat ayahnya.
Dari Lirboyo, Gus Wahid meneruskan pengembaraannya ke sejumlah pondok pesantren di sekitar Jawa Timur. Selama dua tahun ia berpindah-pindah pesantren, kemudian pulang ke Tebuireng.
(Bersambung)
referensi:majalah aliksah.com
Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan paham keagamaan mayoritas umat Islam di Indonesia. Kehadiran Aswaja di Indonesia seiring dengan kehadiran agama Islam itu sendiri yang kemudian diaplikasikan lebih lanjut oleh Walisanga dan ulama-ulama setelahnya. Belakangan ini istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah” kembali mencuat ke permukaan setelah datangnya ideologi-ideologi Islam transnasionalis yang diimpor dari Timur Tengah.
Konsep Aswaja yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok anyar ini sangat rigid dan cenderung menyalahkan kelompok lainnya yang berbeda paham dengan mereka. Mereka ingin mengubah berbagai laku ritual dan pemahaman agama mayoritas umat muslim di Indonesia yang sudah mapan dengan dalih telah menyalahi aturan yang ditetapkan oleh Al-Qur’an.
Mereka lupa, wajah Indonesia yang begitu ramah tidak lain adalah karena jasa-jasa para ulama terdahulu yang telah membentuk karakter putra-putri bangsa ini menjadi pribadi-pribadi yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan keragaman, sebagai ciri utama ke-Aswaja-an itu sendiri, melalui pendidikan yang mereka terapkan di Bumi Pertiwi tercinta ini.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, setiap ulama dalam Islam adalah para pendidik, yang mata rantai keilmuannya sampai kepada Rasulullah SAW. Itulah sebabnya, Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta, dan senantiasa shalihun li fi kulli makanin wa li kulli zamanin, shalih di setiap tempat dan zaman, tak pernah putus dari melahirkan ulama-ulama yang tampil sebagai tokoh pembaharu di setiap masa dan waktu. Sehingga wajah Islam yang damai dan penuh kasih sayang akan selalu menghiasi bumi ini hingga datangnya hari Kiamat.
Dalam rangka menyambut datangnya tahun ajaran baru, 2012-2013, alKisah menampilkan kembali “tiga” guru bangsa dari tiga organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang merupakan benteng utama Aswaja di negeri ini, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah).
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari
K.H. Wahid Hasyim Asy‘ari adalah putra dan penerus pendiri NU, K.H. Hasyim Asy‘ari.
Puluhan santri dan warga Tebuireng berdesakan di masjid pondok pesantren. Mereka tengah menggelar pengajian yang rutin digelar setiap Jum‘at seusai shalat Isya. Suara mereka terdengar hingga ke dalam kasepuhan, yang berjarak sekitar 10 meter dari masjid. Kasepuhan adalah tempat bermukim keluarga besar Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy‘ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan sekaligus pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Malam itu, 1 Juni 1914, suasana di dalam kasepuhan tak kalah ramai. Nyai Nafiqah, istri K.H. Hadhratusy Syaikh K.H. Hasyim Ash‘ari, tengah menahan rasa sakit lantaran detik-detik kelahiran bayi yang dikandungnya makin dekat. Ia dikelilingi sejumlah kerabat dan pelayan dekat.
Menjelang malam, dari dalam kasepuhan melengking tangis bayi. Nyai Nafiqah melahirkan bayi laki-laki. Air mata bahagia pun keluar dari putri Kiai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan, Madiun, itu.
Kiai Hasyim memberi nama putranya yang baru lahir itu “Muhammad Asy`ari”. Nama ini diambil dari nama ayah Kiai Hasyim sendiri. Kiai Hasyim mewariskan nama itu kepada sang bayi karena empat kakaknya semuanya perempuan.
Tapi sebulan kemudian, nama ini diganti, karena Asy‘ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin lama makin kurus. Nama itu dianggap terlalu berat disandang sang bayi. Kiai Hasyim kemudian mengganti nama putra pertamanya itu dengan “Abdul Wahid Hasyim”.
Karena ia anak lelaki pertama, hal itu merisaukan ibundanya, Nyai Nafiqah. Sang ibu pun bernazar, pada usia tiga bulan Wahid akan dibawa ke guru ayahnya, K.H. Cholil, di Bangkalan, Madura.
Ketika waktu itu tiba, Bangkalan sedang diguyur hujan lebat. Petir sambar-menyambar. Bukannya membukakan pintu, Kiai Cholil malah meminta tamu dan bayinya itu menunggu di halaman rumah.
Karena cemas melihat bayinya kehujanan, Nyai Nafiqah menggendong sang bayi berteduh di emper sambil berdoa.
Tuan rumah tidak tampak kasihan, tapi malah memerintahkan membawa sang bayi kembali ke halaman.
Beberapa waktu kemudian, Kiai Cholil meminta bayi itu dibawa pulang.
Kisah ini menjadi isyarat, kelak sang bayi akan menjadi orang besar.
Dari sejak kecil, Wahid sudah terlihat memiliki kemampuan yang tak sama dengan anak-anak lain sebayanya. Sang ayah tak menyekolahkannya ke Holandsch Indische School, layaknya putra seorang tokoh pada zaman itu. Kiai Hasyim memang dikenal anti sekolah yang didirikan penjajah. Ia memilih untuk mengajar anaknya sendiri. Karena cerdas, Wahid cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan.
Umur lima tahun, Wahid sudah belajar membaca Al-Qur’an. Kiai Hasyim sendiri yang mengajar putranya ini setiap seusai shalat Zhuhur dan Magrhrib. Untuk pengetahuan agama lainnya, Wahid belajar di Ponpes Tebuireng pada pagi hari. Karena cepatnya ia menyerap ilmu-ilmu yang diajarkan, pada umur tujuh tahun ia sudah mampu mempelajari banyak kitab yang diajarkan di pesantren, antara lain Fathul Qarib, Minhajul Qawim, Mutammimah.
Meskipun aktivitas belajarnya padat, Wahid pun tetap bermain-main selayaknya anak-anak di usianya. Meskipun anak kiai, ia tidak pernah memilih-milih teman. Wahid bermain dengan semua anak. Di antara kebiasaannya di waktu kecil, ia suka membagi-bagikan pisang goreng, makanan kesukaannya, kepada teman-temannya.
Seperti anak-anak lainnya, Wahid pun sering dimarahi oleh ayahnya jika bersalah. Tapi jika yang memarahi ibunya, biasanya ia menangis. Di saat itulah sang ibu segera berusaha menenangkannya dan kerap berkata, “Kamu jangan suka nangis, karena nanti kalau sudah besar bakal jadi menteri.” Ucapan yang kelak memang benar nyata, terbukti.
Keistimewaan khusus yang juga sudah terlihat sejak kecil, pernah suatu ketika Wahid masuk ke dalam kandang harimau milik ayahnya yang berada di bawah pohon besar yang terletak beberapa meter di samping masjid. Ternyata raja hutan yang ganas itu diam tidak melawan pada saat Wahid menungganginya.
Keistimewaan lain yang dimiliki Wahid kecil, ia mampu menyerap pelajaran di saat asyik bermain. Saat bermain Wahid gemar berlari ke sana-kemari. Ini pulalah yang dilakukannya saat ayahnya mengajar para santri. Dengan santainya Wahid berlari-lari dan menggelendot pada ayahnya. Sembari bermain seperti ini, ia menguping dan menyerap pelajaran yang disampaikan ayahnya kepada para santri itu.
Karena cepatnya ia menyerap ilmu itu pulalah, pada usia 12 tahun ia sudah bisa mengajar. Murid pertamanya adalah adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Sambil mengajar adiknya pada malam hari, biasanya ia belajar dan membaca buku-buku dalam bahasa Arab.
Di usia 12 tahun itu Gus Wahid lulus dari Madrasah Tebuireng. Di sela-sela pelajaran agama, ia menghafal syair-syair berbahasa Arab.
Setahun kemudian, ia meminta izin kepada ayahnya untuk mengembara ke sejumlah pesantren.
Dalam pengembaraan ke sejumlah pesantren-pesantren, Wahid selalu menggunakan oto, sebutan mobil zaman dulu, yang disetirnya sendiri. Selain dalam usia belasan tahun sudah mahir menyetir mobil, ia juga piawai mengendarai sepeda motor.
Pernah suatu ketika, karena ngebut, ia dan sepeda motornya nyemplung ke kali di depan pesantren. Lebar kali itu hampir empat meter dan arusnya deras. Tapi ia tak kesulitan saat naik ke jalan. Mesin sepeda motornya tetap menyala dan tubuh serta pakaiannya tidak basah. Menurut penuturan salah seorang abdi dalem pesantren, waktu itu Wahid mengaku perasaannya tidak masuk ke kali, melainkan masih di jalan raya.
Wahid mulai pengembaraan dengan menyantri di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo, selama 25 hari, 1-25 Ramadhan. Kemudian ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang didirikan oleh K.H. Abdul Karim, alumnus Tebuireng dan kawan dekat ayahnya.
Dari Lirboyo, Gus Wahid meneruskan pengembaraannya ke sejumlah pondok pesantren di sekitar Jawa Timur. Selama dua tahun ia berpindah-pindah pesantren, kemudian pulang ke Tebuireng.
(Bersambung)
referensi:majalah aliksah.com
ulama-ulama guru bangsa part 2
sambungan dari kisah, ulama-ulama guru bangsa part 1
Gus Wahid, oleh ayahnya, sengaja tak dimasukkan ke sekolah Belanda, karena sang ayah khawatir hal itu akan menimbulkan kontroversi di kalangan ulama, yang ketika tengah gigih-gigihnya melawan kolonialis Belanda.
Setelah kembali ke Tebuireng, Gus Wahid mulai mengenal huruf Latin. Huruf Latin pada masa itu tidak diajarkan di pondok. Yang ingin bisa menulis Latin harus belajar sendiri. Kecerdasan dan bakat kemampuan ilmiah yang dimiliki Gus Wahid yang luar biasa membuatnya dengan mudah menguasai pelajaran apa pun. Demikian pula halnya dengan kemampuan baca-tulis Latin.
Tak mengheranka, di usia 15 tahun, walau tak pernah duduk di bangku sekolah umum, Gus Wahid sudah mahir baca-tulis huruf latin dan menguasai dua bahasa asing, Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajarinya sendiri melalui majalah dalam dan luar negeri. Dan untuk lebih menguasai lagi kedua bahasa asing itu, sang ibunda, Nyai Nafiqah, meminta kepada orang Eropa yang bekerja sebagai manajer di pabrik gula setempat untuk mengajari putranya bahasa Inggris dan Belanda. Hal itu dimaksudkan agar Gus Wahid kelak bisa masuk pergaulan elite di perkotaan.
Maka sejak saat itu, bukan hanya kitab-kitab berbahasa Arab yang dilalapnya — sering kali ia tinggal di ruang perpustakaan sang ayah berhari-hari lamanya hanya untuk membaca, apa pun yang ada di di perpustakaan mini itu dibacanya. Tetapi buku-buku yang berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda, serta matematika, ilmu bumi, dan pengetahuan umum, juga ia baca.
Pada tahun 1932, di usia 18 tahun, Gus Wahid pergi ke Tanah Suci Makkah, didampingi sepupunya, Muhammad Ilyas. Sembari menunaikan ibadah haji, mereka berdua diminta untuk mendalami tafsir, hadits, nahwu, sharaf, dan fiqih.
Dua tahun kemudian Gus Wahid kembali ke Jombang.
Kehadirannya di pondok membawa pencerahan. Ia mengusulkan kepada ayahnya perombakan kurikulum pendidikan pesantren, dari klasikal ke tutorial. Bukan hanya mengubah sistemnya, Gus Wahid, yang kala itu baru berusia 19 tahun, juga mengusulkan memperbanyak pendidikan non-agama. Alasannya sederhana, toh sebagian murid tidak akan menjadi ulama, lebih baik mereka dibekali keterampilan praktis. Ide semacam ini merupakan lompatan besar bagi kalangan pesantren pada saat itu.
Ide itu pada awalnya sempat ditolak, tapi kemudian bisa diterima. Maka sejak saat itu, Tebuireng merupakan pesantren pertama yang menerapkan sistem pendidikan seperti ini, dengan memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum. Bahkan Gus Wahid pun memasukkan materi bahasa Inggris dan bahasa Jerman ke pesantren.
Kebesaran Gus Wahid tak hanya terbukti dan diakui di lingkungan pesantren. Pada usia 27 tahun, Gus Wahid sudah dipercaya menjadi pemimpin pertama Majelis Islam A‘la Indonesia (MIAI), sebagai federasi perkumpulan kelompok Islam kala itu, yang didirikan oleh K.H. Abdul Wahab, K.H. Mas Mansyur, K.H. Ahmad Dahlan, dan W. Wondoamiseno di Surabaya pada tahun 1937. MIAI merupakan perkumpulan gabungan dari 13 organisasi Islam dalam perjuangan menghadapi tekanan penjajah Belanda.
Di bawah kepemimpinan K.H. Wahid Hasyim, dalam waktu singkat MIAI sudah membuahkan berbagai keputusan penting. Misalnya, pembentukan Komisi Pemberantasan Penghinaan Islam, juga berhasil memulangkan lebih dari 900 orang Islam Indonesia yang telantar di Makkah. Puncaknya, saat kongres di Solo, MIAI di bawah kepemimpinan Kiai Wahid Hasyim memutuskan pelarangan bantuan milis untuk Belanda, melarang transfer darah untuk membantu peperangan Belanda. Selain itu, MIAI juga menuntut perubahan tata negara: Indonesia berparlemen berdasarkan Islam.
Di masa pendudukan Jepang, MIAI merupakan satu-satunya perkumpulan yang diperbolehkan berdiri di negeri ini. Di luar itu, Kiai Wahid adalah tokoh yang relatif lebih diterima oleh Jepang dibanding tokoh-tokoh lainnya. Terlebih lagi setelah keberhasilannya melobi dan meyakinkan pembesar Jepang untuk membebaskan K.H. Hasyim Asy‘ari, yang ditangkap mendadak oleh pemerintah Jepang dan dijebloskan ke penjara pada tahun 1942. Sejak saat itu Jepang berubah pandangan: organisasi keagamaan bukan ancaman bagi pendudukan mereka. Lobi intensif Kiai Wahid membuahkan hasil.
Kiai Wahid mendekati Jepang bukan tanpa alasan. Ia bercita-cita kelompok Islam terus eksis dan bersatu di tengah penjajahan. Kiai Wahid sadar, persatuan kelompok Islam akan membantu perjuangan mencapai kemerdekaan. Maka jadilah Kiai Wahid menerapkan politik santun kepada Jepang. Bermanis-manis di depan Jepang tapi menghimpun kekuatan di belakang.
Tahun 1941, Kiai Wahid Hasyim mengundurkan diri dari MIAI karena panggilan ayahnya untuk mengasuh pesantren.
Waktu itu, selain menjabat ketua Dewan MIAI, Kiai Wahid juga menjadi ketua Departemen Ma‘arif, atau departemen pendidikan, di NU, yang waktu itu masih berpusat di Surabaya.
Selama memimpin departemen pendidikan, Kiai Wahid melakukan reorganisasi internal. Program lainnya adalah menambah jumlah madrasah di seluruh Indonesia serta meningkatkan kualitas guru serta materi pelajarannya. Ia memasukkan materi pelajaran umum dalam kurikulum madrasah NU. Kiai Wahid berkeyakinan, ilmu pengetahuan akan menjadi senjata bagi umat Islam di masa yang akan datang.
Dalam pengembangan pendidikan, Kiai Wahid berinisiatif mengadakan pertemuan khusus yang membahas pentingnya mendirikan perguruan tinggi. Konferensi Daerah Jawa Timur II di Malang menghasilkan rancangan peraturan rumah tangga NU bagian perguruan dan pendidikan. Inilah yang menjadi cikal bakal universitas dan institut agama Islam yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada tahun 1946, Kiai Wahid Hasyim dipilih menjadi ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama, menggantikan K.H. Machfud Shiddiq.
Untuk menggalang dukungan dari para kiai, Jepang membentuk Shumubu, kantor urusan agama. Lembaga ini awalnya dipimpin oleh Kolonel Horie, perwira Jepang yang dianggap tahu soal Islam.
Namun, di bawah kepemimpinan Kolonel Horie, Shumubu tak menghasilkan apa pun. Maka Jepang pun menggantikannya dengan Hoesein Djajaningrat.
Tapi, di bawah Hoesein, Shumubu tak juga memberikan pengaruh pada kaum Islam sebagaimana yang semestinya diharapkan oleh Jepang. Maka Jepang pun menggantikannya dengan K.H. Hasyim Asy‘ari, yang kemudian jabatan itu diserahkan kepada putranya, K.H. Wahid Hayim.
Maka, sejak saat itu Kiai Wahid Hasyim menjadi pemimpin Shumubu, yang sesungguhnya adalah embrio kementerian agama di kemudian hari. Oleh Kiai Wahid, Shumubu dijadikan sebagai jembatan untuk mengatasi perbedaan antar-umat, agar tidak terpecah.
Hubungan Kiai Wahid dengan Jepang menjadikannya sibuk di Jakarta sebagai “kepanjangan tangan” Negeri Matahari Terbit dengan para tokoh pergerakan ke arah kemerdekaan dan untuk urusan yang berhubungan dengan agama Islam.
Kiai Wahid memiliki kedudukan yang terhormat menjadi anggota Chuo Sangi In, biasa dibaca Chusang In, Dewan Penasihat Pusat Pemerintah Militer Jepang, yang dipimpin oleh Soekarno, juga penasihat Kantor Urusan Agama Jepang.
Pada tahun 1943, Kiai Wahid Hasyim ditunjuk menjadi salah seorang pemimpin Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), pengganti MIAI.
Saat menjadi wakil ketua Masyumi, Kiai Wahid merintis pembentukan Barisan Hizbullah, yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan.
Menjelang kemerdekaan, Kiai Wahid menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang dibentuk Jepang pada 29 April 1945. Dalam rapat perumusan yang teramat alot mengenai dasar negara, Kiai Wahid diakui oleh para pakar sejarah tampil sebagai sosok yang terdepan untuk menyuarakan syari’at Islam agar menjadi bagian mutlak dalam undang-undang dasar, dan bahkan mengusulkan agar tercantum di dalam undang-undang dasar ketentuan bahwa yang boleh menjadi presiden dan wakil presiden hanya orang Indonesia asli yang beragama Islam.
Pada usia 35 tahun, Kiai Wahid menduduki posisi penting sebagai menteri agama. Dalam periode yang singkat (1949-1950), sejumlah gagasan tentang pendidikan agama yang selama ini tertahan dalam benaknya lantas mengucur deras. Saat menjadi menteri agama itulah, Kiai Wahid menelurkan kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi sistem pendidikan Indonesia hingga saat ini. Di antaranya, pada tanggal 20 Januari 1950, ia mengeluarkan peraturan pemerintah yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional, baik negeri maupun swasta.
Sebelum menjadi menteri agama, Kiai Wahid mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia, Jakarta, pada tahun 1944. Dari sekolah inilah bermacam perguruan tinggi Islam yang ada di negeri ini berhulu. Dan sekolah ini pula yang menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Indonesia dan Universitas Islam Negeri (UIN), yang dahulu Institut Agama Islam Negeri (IAIN), di kemudian hari.
Pada hari Sabtu, 18 April 1953, Kiai Wahid Hasyim berangkat dari Jakarta menuju Sumedang, Jawa Barat, untuk menghadiri rapat NU. Di Kampung Cimindi, di antara Bandung dan Cimahi, hujan lebat mengguyur jalanan yang dilalui oleh kendaraan yang ditunggangi oleh Kiai Wahid dan rombongan. Ban Chevrolet, yang ditunggangi Kiai Wahid, selip dan sang sopir tak mampu mengendalikannya. Mobil pun melaju zig-zag. Di depan, sebuah truk mengerem. Bagian belakang mobil Kiai Wahid membentur truk itu dengan keras. Tubuh Kiai Wahid terlempar ke luar dan terlindas truk. Keesokan harinya, 19 April 1953, guru bangsa, ulama pendidik, dan pendidik ulama itu wafat di rumah sakit Borromeus, Bandung, dalam usia 39 tahun. Bangsa Indonesia pun di hari itu dipenuhi air mata kesedihan yang teramat mendalam. Bumi Pertiwi ditinggalkan salah satu putra terbaiknya.
ulama-ulama guru bangsa part3
Assalamualaikum wr wb.salam sejahtera buat pembaca blog stroom09
yg setia hadir membaca artikel-artikel blog stroom09.kali ini saya akan
mencoba memposting sekilas ulama pendidik,pendidik ulama.yuk kita simak
bareng2 artikel di bawah ini semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil
dari kisah perjuangan ulama tersebut.biar gagh penasaran langsung saja
ya.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Tuan Guru K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW), lahir di Desa Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1316 H, bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 M, dari perkawinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid, yang termasyhur dengan panggilan “Guru Mukminah” atau “Guru Minah”, dengan seorang wanita shalihah, Hj. Halimah As-Sa`diyah.
Nama kecilnya adalah Muhammad Saggaf, nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik untuk dicermati. Yakni, tiga hari sebelum ia dilahirkan, ayahnya, T.G.H. Abdul Madjid, didatangi orang waliyullah dari Hadhramaut dan Maghribi. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni “Saqqaf”. Kedua waliyullah tersebut berpesan kepada T.G.H. Abdul Madjid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama “Saqqaf”.
Setelah menunaikan ibadah haji, nama kecilnya tersebut diganti dengan “Muhammad Zainuddin”. Nama ini pun diberikan oleh ayahnya sendiri yang diambil dari nama seorang ulama besar yang mengajar di Masjid Al-Haram. Akhlaq dan kepribadian ulama besar itu sangat menarik hati sang ayah. Ulama besar itu adalah Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak, dari Serawak, Malaysia.
Sejak kecil T.G.K.H. Muhammad Zainuddin terkenal sangat jujur dan cerdas. Karena itu tidaklah mengherankan bila ayah-bundanya memberikan perhatian istimewa dan menumpahkan kasih sayang begitu besar kepadanya.
Ketika melawat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studi, ayah-bundanya ikut mengantar ke Tanah Suci.
Ayahnya yang mencarikan guru tempat ia belajar pertama kali di Masjidil Haram dan sempat menemaninya di Tanah Suci sampai dua kali musim haji. Sedangkan ibunya, Hj. Halimatus Sa’diyah, ikut bermukim di Tanah Suci mendampingi dan mengasuhnya sampai ibunda tercintanya itu berpulang ke rahmatullah tiga setengah tahun kemudian dan dimakamkan di Mu’alla, Makkah.
Dengan demikian, tampak jelaslah betapa besar perhatian ayah-bundanya terhadap pendidikannya. Hal ini juga tercermin dari sikap ibunya setiap kali ia berangkat untuk menuntut ilmu. Sambil mengulurkan tangannya untuk dicium sang putra tercinta, ibunya selalu mendoakan dengan ucapan, “Mudah-mudahan engkau mendapat ilmu yang barakah.” Dan sang ibu terus memperhatikan kepergiannya sampai ia tidak terlihat lagi oleh pandangan mata.
Pernah suatu ketika, Guru Zainuddin lupa pamit kepada ibunya. Ia sudah jauh berjalan sampai ke pintu gerbang, baru sang ibu melihatnya dan kemudian memanggilnya untuk kembali, “Gep, Gep, Gep (nama panggilan masa kecilnya).... Kok lupa bersalaman?” ucap sang ibunda dengan suara yang cukup keras.
Akhirnya, ia pun kembali menemui ibunya sembari meminta maaf dan mencium tangannya. Lalu sang ibu pun mendoakannya, “Mudah-mudahan anakku mendapatkan ilmu yang barakah.” Setelah itu barulah ia berangkat ke sekolah.
Ini merupakan pertanda, betapa besar kesadaran ibunya akan penting dan mustajabnya doa seorang ibu untuk sang anak, sebagaimana dituntunkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Pengembaraan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahnya, yang dimulai sejak ia berusia lima tahun.
Setelah berusia sembilan tahun, ia memasuki pendidikan formal, yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M.
Setelah menamatkan pendidikan formalnya, ia diserahkan oleh ayahnya untuk menuntut ilmu agama yang lebih luas dari beberapa tuan guru termasyhur di daerahnya saat itu, antara lain T.G.H. Syarafudin dan T.G.H. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Desa Kelayu, Lombok Timur.
Di samping didampingi kedua orangtuanya, ketika belajar di Makkah Muhammad Zainuddin remaja juga diantar kemenakan dan beberapa anggota keluarga, termasuk T.G.H. Syarafuddin. Pada saat itu, yaitu menjelang musim haji tahun 1341 H/1923 M, ia berusia 15 tahun.
Guru pertama yang ditemuinya di Makkah adalah Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjid Haram. Di samping itu ia juga belajar ilmu sastra kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin Al-Kutbi.
Ketika ayah T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pulang ke Lombok, ia berhenti belajar mengaji kepada Syaikh Marzuki, dan melanjutkan mencari guru yang lain. Namun, belum sempat ia mendapatkan guru, sudah terjadi perang saudara antara kekuasaan Syarif Husein dan golongan Wahabi.
Dua tahun setelah terjadinya huru-hara tersebut, Muhammad Zainuddin muda berkenalan dengan Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak masuk belajar di Madrasah Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah.
Madrasah Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama besar dunia.
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap santri yang hendak masuk di Madrasah Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi kemampuannya. Demikian pula dengan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin, ia juga dites terlebih dahulu. Secara kebetulan ia diuji langsung oleh Direktur Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath. Hasil tes menentukan, ia berada di kelas 3.
Mendengar keputusan itu, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin minta diperkenankan masuk kelas 2, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran ilmu nahwu dan sharaf.
Semula Syaikh Hasan bersikeras agar T.G.K.H. Muhammad Zainuddin masuk kelas 3, tetapi pada akhirnya beliau melunak dan mengabulkan permohonan itu. Dan sejak itu T.G.K.H. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah Shaulatiyah mulai dari kelas 2.
Prestasi akademisnya sangat istimewa. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya enam tahun, padahal normalnya adalah sembilan tahun. Dari kelas 2, ia diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8, dan 9.
Setelah menyelesaikan studi di Madrasah Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H/27 Maret 1935 M, dengan predikat “mumtaz” (summa cum laude), ia tidak langsung pulang ke Lombok, melainkan bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu ia manfaatkan untuk belajar lagi, antara lain belajar ilmu fiqih kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah Al-Yamani. Dengan demikian T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menuntut ilmu di Makkah selama 12 tahun dan ia telah menunaikan haji sebanyak 13 kali haji.
Setelah selesai menuntut ilmu di Makkah dan kembali ke tanah air, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin langsung melakukan safari dakwah ke berbagai tempat di Pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya “Tuan Guru Bajang”.
Semula, pada tahun 1934, ia mendirikan Pesantren Al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1356 H/22 Agustus 1937 ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940 H/1941 M.
Penghargaan kepada mahaguru yang paling dicintai dan disayangi, Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath, ia wujudkan dalam bentuk pendirian Pondok Pesantren Hasaniyah NW di Jenggik, Lombok Timur. Demikian pula penghargaan kepada mahaguru Maulana Syaikh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi, diwujudkannya dalam bentuk pendirian Pondok Pesantren Aminiyah NW di Bonjeruk, Lombok Tengah.
Kepemimpinan yang ia contohkan di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang dalam serta pemimpin yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan.
Demikian pula tentang pendekatan yang ia lakukan, selalu mengandung nilai-nilai pendidikan. Ia tidak mau bahkan tidak pernah bersikap sebagai pembesar yang disegani. Ia selalu bertindak sebagai pengayom yang berada di tengah-tengah jama’ah dan senantiasa menempatkan diri sesuai dengan keberadaan dan kemampuan mereka. Demikian juga halnya di kala ia memberikan fatwanya, selalu disesuaikan dengan kondisi dan jangkauan alam pikiran murid dan santrinya.
Pembawaan dan sikap hidupnya selalu menunjukkan kesederhanaan. Inilah yang membuatnya selalu dekat dengan para warganya dan murid-muridnya, dengan tidak berkurang kewibawaan dan kharismanya. Keluhan yang disampaikan para warga dan muridnya ditampung, didengar, dan dicarikan jalan penyelesaiannya dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan, tanpa merugikan salah satu pihak.
Untuk melanjutkan dan mengembangkan perjuangan Nahdlatul Wathan di masa datang, ia sangat mendambakan munculnya kader-kader yang memiliki potensi, militansi, serta loyalitas yang tinggi, baik dari segi semangat, wawasan, maupun bobot keilmuan. Dalam banyak kesempatan ia sering menyampaikan keinginannya agar murid dan santrinya memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang ia miliki. Demikian motivasi yang selalu ia kumandangkan supaya murid dan santrinya lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan, ia tidak pernah membedakan yang satu dan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberi perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya, bagaikan cinta dan kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya.
Untuk membina dan memonitor kualitas kader-kader Nahdlatul Wathan, ia mengeluarkan wasiat dalam bahasa Arab, yang artinya:
“Dengan menyebut nama Allah dan dengan memuji-Nya, semoga keselamatan tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan, dan ridha-Nya.
Anak-anak yang setia dan murid-muridku yang berakal, sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan.
Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara. Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang shalih dan mukhlish, baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.
Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu, dan semoga Dia menganugerahi kami dan kamu serta para simpatisan Nahdlatul Wathan masuk surga dan nikmat tambahan yang tiada taranya, yaitu melihat Dzat-Nya dari dalam surga.”
Pada tahun 1952, madrasah-madrasah cabang NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah)-NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) yang didirikan oleh para alumnus di berbagai daerah telah berjumlah 66 buah. Maka untuk mengkoordinir, membina, dan mengembangkan madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1372 H/1 Maret 1953 M.
Sampai dengan tahun 1997 lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi Nahdlatul Wathan telah berjumlah lebih dari 747 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Begitu juga lembaga sosial dan dakwah Islamiyah Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB, melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia, seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.
Pada zaman penjajahan, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa, yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama “Gerakan Al-Mujahidin”. Gerakan Al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.
Pada tanggal 7 Juli 1946, T.G.H. Muhammad Faizal Abdul Majid, adik kandung T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, dalam penyerbuan itu gugurlah T.G.H. Muhammad Faisal Abdul Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai syuhada.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sebagai ulama, pendidik, dan pemimpin umat, telah menorehkan berbagai jasa, antara laian mendirikan Pesantren Al-Mujahidin (1934), mendirikan Madrasah NWDI (1937), mendirikan Madrasah NBDI (1943), menjadi pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok (1945), pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur (1946), menjadi amirul haj dari Negara Indonesia Timur (1947/1948), menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi (1948/1949), konsulat NU Sunda Kecil (1950), ketua Badan Penasihat Masyumi Daerah Lombok (1952), mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan (1953), ketua umum PBNW Pertama (1953), merestui terbentuknya partai NU dan PSII di Lombok (1953), merestui terbentuknya Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Cabang Lombok (1954), menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I 1955 (1955), mendirikan Akademi Pedagogik NW (1964), menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung (1964), mendirikan Ma’had Dar Al-Qur’an wa Al-Hadits Al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan (1965), anggota MPR RI hasil pemilu II dan III 1972-1982, penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (1971-1982), mendirikan Ma’had li Al-Banat (1974), ketua Penasihat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (1975-1997), mendirikan Universitas Hamzanwadi (1977), menjadi rektor Universitas Hamzanwadi (1977), mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi (1977), mendirikan STKIP Hamzanwadi (1978), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi (1978), mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (1982), mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Hamzanwadi (1990), mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri (1994), mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi (1996).
Oleh karena jasa-jasanya itulah, pada tahun 1995 ia dianugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang Pembangunan oleh pemerintah.
Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M/20 Jumadil Akhirah 1418 H, dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriyyah, ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediamannya di Desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar yang ia tinggalkan adalah ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Tuan Guru K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW), lahir di Desa Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1316 H, bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 M, dari perkawinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid, yang termasyhur dengan panggilan “Guru Mukminah” atau “Guru Minah”, dengan seorang wanita shalihah, Hj. Halimah As-Sa`diyah.
Nama kecilnya adalah Muhammad Saggaf, nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik untuk dicermati. Yakni, tiga hari sebelum ia dilahirkan, ayahnya, T.G.H. Abdul Madjid, didatangi orang waliyullah dari Hadhramaut dan Maghribi. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni “Saqqaf”. Kedua waliyullah tersebut berpesan kepada T.G.H. Abdul Madjid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama “Saqqaf”.
Setelah menunaikan ibadah haji, nama kecilnya tersebut diganti dengan “Muhammad Zainuddin”. Nama ini pun diberikan oleh ayahnya sendiri yang diambil dari nama seorang ulama besar yang mengajar di Masjid Al-Haram. Akhlaq dan kepribadian ulama besar itu sangat menarik hati sang ayah. Ulama besar itu adalah Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak, dari Serawak, Malaysia.
Sejak kecil T.G.K.H. Muhammad Zainuddin terkenal sangat jujur dan cerdas. Karena itu tidaklah mengherankan bila ayah-bundanya memberikan perhatian istimewa dan menumpahkan kasih sayang begitu besar kepadanya.
Ketika melawat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studi, ayah-bundanya ikut mengantar ke Tanah Suci.
Ayahnya yang mencarikan guru tempat ia belajar pertama kali di Masjidil Haram dan sempat menemaninya di Tanah Suci sampai dua kali musim haji. Sedangkan ibunya, Hj. Halimatus Sa’diyah, ikut bermukim di Tanah Suci mendampingi dan mengasuhnya sampai ibunda tercintanya itu berpulang ke rahmatullah tiga setengah tahun kemudian dan dimakamkan di Mu’alla, Makkah.
Dengan demikian, tampak jelaslah betapa besar perhatian ayah-bundanya terhadap pendidikannya. Hal ini juga tercermin dari sikap ibunya setiap kali ia berangkat untuk menuntut ilmu. Sambil mengulurkan tangannya untuk dicium sang putra tercinta, ibunya selalu mendoakan dengan ucapan, “Mudah-mudahan engkau mendapat ilmu yang barakah.” Dan sang ibu terus memperhatikan kepergiannya sampai ia tidak terlihat lagi oleh pandangan mata.
Pernah suatu ketika, Guru Zainuddin lupa pamit kepada ibunya. Ia sudah jauh berjalan sampai ke pintu gerbang, baru sang ibu melihatnya dan kemudian memanggilnya untuk kembali, “Gep, Gep, Gep (nama panggilan masa kecilnya).... Kok lupa bersalaman?” ucap sang ibunda dengan suara yang cukup keras.
Akhirnya, ia pun kembali menemui ibunya sembari meminta maaf dan mencium tangannya. Lalu sang ibu pun mendoakannya, “Mudah-mudahan anakku mendapatkan ilmu yang barakah.” Setelah itu barulah ia berangkat ke sekolah.
Ini merupakan pertanda, betapa besar kesadaran ibunya akan penting dan mustajabnya doa seorang ibu untuk sang anak, sebagaimana dituntunkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Pengembaraan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahnya, yang dimulai sejak ia berusia lima tahun.
Setelah berusia sembilan tahun, ia memasuki pendidikan formal, yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M.
Setelah menamatkan pendidikan formalnya, ia diserahkan oleh ayahnya untuk menuntut ilmu agama yang lebih luas dari beberapa tuan guru termasyhur di daerahnya saat itu, antara lain T.G.H. Syarafudin dan T.G.H. Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Desa Kelayu, Lombok Timur.
Di samping didampingi kedua orangtuanya, ketika belajar di Makkah Muhammad Zainuddin remaja juga diantar kemenakan dan beberapa anggota keluarga, termasuk T.G.H. Syarafuddin. Pada saat itu, yaitu menjelang musim haji tahun 1341 H/1923 M, ia berusia 15 tahun.
Guru pertama yang ditemuinya di Makkah adalah Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjid Haram. Di samping itu ia juga belajar ilmu sastra kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin Al-Kutbi.
Ketika ayah T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pulang ke Lombok, ia berhenti belajar mengaji kepada Syaikh Marzuki, dan melanjutkan mencari guru yang lain. Namun, belum sempat ia mendapatkan guru, sudah terjadi perang saudara antara kekuasaan Syarif Husein dan golongan Wahabi.
Dua tahun setelah terjadinya huru-hara tersebut, Muhammad Zainuddin muda berkenalan dengan Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak masuk belajar di Madrasah Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah.
Madrasah Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama besar dunia.
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap santri yang hendak masuk di Madrasah Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi kemampuannya. Demikian pula dengan T.G.K.H. Muhammad Zainuddin, ia juga dites terlebih dahulu. Secara kebetulan ia diuji langsung oleh Direktur Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath. Hasil tes menentukan, ia berada di kelas 3.
Mendengar keputusan itu, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin minta diperkenankan masuk kelas 2, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran ilmu nahwu dan sharaf.
Semula Syaikh Hasan bersikeras agar T.G.K.H. Muhammad Zainuddin masuk kelas 3, tetapi pada akhirnya beliau melunak dan mengabulkan permohonan itu. Dan sejak itu T.G.K.H. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah Shaulatiyah mulai dari kelas 2.
Prestasi akademisnya sangat istimewa. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya enam tahun, padahal normalnya adalah sembilan tahun. Dari kelas 2, ia diloncatkan ke kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8, dan 9.
Setelah menyelesaikan studi di Madrasah Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H/27 Maret 1935 M, dengan predikat “mumtaz” (summa cum laude), ia tidak langsung pulang ke Lombok, melainkan bermukim lagi di Makkah selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu ia manfaatkan untuk belajar lagi, antara lain belajar ilmu fiqih kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah Al-Yamani. Dengan demikian T.G.K.H. Muhammad Zainuddin menuntut ilmu di Makkah selama 12 tahun dan ia telah menunaikan haji sebanyak 13 kali haji.
Setelah selesai menuntut ilmu di Makkah dan kembali ke tanah air, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin langsung melakukan safari dakwah ke berbagai tempat di Pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya “Tuan Guru Bajang”.
Semula, pada tahun 1934, ia mendirikan Pesantren Al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1356 H/22 Agustus 1937 ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940 H/1941 M.
Penghargaan kepada mahaguru yang paling dicintai dan disayangi, Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath, ia wujudkan dalam bentuk pendirian Pondok Pesantren Hasaniyah NW di Jenggik, Lombok Timur. Demikian pula penghargaan kepada mahaguru Maulana Syaikh Sayyid Muhammad Amin Al-Kutbi, diwujudkannya dalam bentuk pendirian Pondok Pesantren Aminiyah NW di Bonjeruk, Lombok Tengah.
Kepemimpinan yang ia contohkan di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang dalam serta pemimpin yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan.
Demikian pula tentang pendekatan yang ia lakukan, selalu mengandung nilai-nilai pendidikan. Ia tidak mau bahkan tidak pernah bersikap sebagai pembesar yang disegani. Ia selalu bertindak sebagai pengayom yang berada di tengah-tengah jama’ah dan senantiasa menempatkan diri sesuai dengan keberadaan dan kemampuan mereka. Demikian juga halnya di kala ia memberikan fatwanya, selalu disesuaikan dengan kondisi dan jangkauan alam pikiran murid dan santrinya.
Pembawaan dan sikap hidupnya selalu menunjukkan kesederhanaan. Inilah yang membuatnya selalu dekat dengan para warganya dan murid-muridnya, dengan tidak berkurang kewibawaan dan kharismanya. Keluhan yang disampaikan para warga dan muridnya ditampung, didengar, dan dicarikan jalan penyelesaiannya dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan, tanpa merugikan salah satu pihak.
Untuk melanjutkan dan mengembangkan perjuangan Nahdlatul Wathan di masa datang, ia sangat mendambakan munculnya kader-kader yang memiliki potensi, militansi, serta loyalitas yang tinggi, baik dari segi semangat, wawasan, maupun bobot keilmuan. Dalam banyak kesempatan ia sering menyampaikan keinginannya agar murid dan santrinya memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang ia miliki. Demikian motivasi yang selalu ia kumandangkan supaya murid dan santrinya lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan, ia tidak pernah membedakan yang satu dan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberi perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya, bagaikan cinta dan kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya.
Untuk membina dan memonitor kualitas kader-kader Nahdlatul Wathan, ia mengeluarkan wasiat dalam bahasa Arab, yang artinya:
“Dengan menyebut nama Allah dan dengan memuji-Nya, semoga keselamatan tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan, dan ridha-Nya.
Anak-anak yang setia dan murid-muridku yang berakal, sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan, dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuangan Nahdlatul Wathan.
Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara. Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah SWT tergolong pejuang agama, orang shalih dan mukhlish, baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.
Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu, dan semoga Dia menganugerahi kami dan kamu serta para simpatisan Nahdlatul Wathan masuk surga dan nikmat tambahan yang tiada taranya, yaitu melihat Dzat-Nya dari dalam surga.”
Pada tahun 1952, madrasah-madrasah cabang NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah)-NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) yang didirikan oleh para alumnus di berbagai daerah telah berjumlah 66 buah. Maka untuk mengkoordinir, membina, dan mengembangkan madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhirah 1372 H/1 Maret 1953 M.
Sampai dengan tahun 1997 lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi Nahdlatul Wathan telah berjumlah lebih dari 747 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Begitu juga lembaga sosial dan dakwah Islamiyah Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB, melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia, seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.
Pada zaman penjajahan, T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa, yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama “Gerakan Al-Mujahidin”. Gerakan Al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.
Pada tanggal 7 Juli 1946, T.G.H. Muhammad Faizal Abdul Majid, adik kandung T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, dalam penyerbuan itu gugurlah T.G.H. Muhammad Faisal Abdul Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai syuhada.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sebagai ulama, pendidik, dan pemimpin umat, telah menorehkan berbagai jasa, antara laian mendirikan Pesantren Al-Mujahidin (1934), mendirikan Madrasah NWDI (1937), mendirikan Madrasah NBDI (1943), menjadi pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok (1945), pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur (1946), menjadi amirul haj dari Negara Indonesia Timur (1947/1948), menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi (1948/1949), konsulat NU Sunda Kecil (1950), ketua Badan Penasihat Masyumi Daerah Lombok (1952), mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan (1953), ketua umum PBNW Pertama (1953), merestui terbentuknya partai NU dan PSII di Lombok (1953), merestui terbentuknya Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Cabang Lombok (1954), menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I 1955 (1955), mendirikan Akademi Pedagogik NW (1964), menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung (1964), mendirikan Ma’had Dar Al-Qur’an wa Al-Hadits Al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan (1965), anggota MPR RI hasil pemilu II dan III 1972-1982, penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (1971-1982), mendirikan Ma’had li Al-Banat (1974), ketua Penasihat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (1975-1997), mendirikan Universitas Hamzanwadi (1977), menjadi rektor Universitas Hamzanwadi (1977), mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi (1977), mendirikan STKIP Hamzanwadi (1978), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi (1978), mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (1982), mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi (1987), mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Hamzanwadi (1990), mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri (1994), mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi (1996).
Oleh karena jasa-jasanya itulah, pada tahun 1995 ia dianugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang Pembangunan oleh pemerintah.
Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M/20 Jumadil Akhirah 1418 H, dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriyyah, ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediamannya di Desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar yang ia tinggalkan adalah ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.
Langganan:
Postingan (Atom)
