Assalamualaikum wr. wb salam sejahtera buat pembaca blog stroom09,ok kali ini saya akn memposting sekilas tentang KH Zaini mun'im beliau adalah sosok santri mbah hasyim. yuk kita simak kisahnya.
Adalah KH. Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo. Ia berasal dari Desa Galis, Pamekasan Madura. Lahir pada tahun 1906 silam, putra pertama dari dua bersaudara pasangan KH. Abdul Mun’im dan Ny. Hj. Hamidahini memiliki nama kecil Abdul Mughni.
Ayahnya, KH. Abdul Mun’im adalah putra Kiai Mudarik bin Kiai Ismail yang merupakan generasi kedua penerus Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan Madura. Sedangkan ibunya, Ny. Hj. Hamidah merupakan keturunan Raja Pamekasan melalui jalur KH. Bujuk Azhar atau dikenal dengan Ratoh Sidabulangan, penguasa Kraton Pamekasan Madura.
Tahun 1937, Lora Abdul Mughni, yang juga dikenal dengan nama KH. Zaini Mun’im ini menikah dengan keponakan Kiai Abdul Majid Banyuanyar, Nafi’ah. Dari pernikahannya, ia dikaruniai enam putra dan satu putri. Yaitu, KH. Moh. Hasyim, BA, Alm. Drs. KH. A. Wahid Zaini, SH, Nyai Hj. Aisyah, KH. Fadlurrahman, BA, KH. Moh. Zuhri Zaini, BA, Alm. KH. Abdul Haq Zaini, Lc dan Drs. KH. Nur Chotim Zaini.
Sejak kecil, KH. Zaini Mun’im mendapatkan pendidikan agama dari kedua orang tuanya. Menginjak usia 11 tahun, pada masa penjajahan Belanda, ia sekolah Wolk School (Sekolah Rakyat) selama empat tahun (1917-1921). Selanjutnya, ia memperdalam Al-Qur’an beserta tajwidnya kepada KH. M. Kholil dan KH. Muntaha, menantu Kiai Kholil di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura.
Dan tahun 1922, ia melanjutkan ke Pesantren Banyuanyar Pamekasan yang diasuh oleh KH. R. Abdul Hamid dan putranya KH. Abdul Majid. Pada tahun 1925, merantau ke Jawa dan mondok di Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Disini KH. Zaini Mun’im hanya belajar satu tahun, karena ayah tercintanya wafat. Sebagai putra sulung, ia harus pulang ke Madura untuk menggantikan posisi ayahnya.
Di usia 22 tahun, KH. Zaini Mun’im mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Di pesantren ini, ia mempertajam ilmu agama dan ilmu bahasa Arab. Pertengahan tahun 1928, ia berangkat ke Mekah untuk berhaji dan menetap di Sifirlain untuk menuntut ilmu, selama lima tahun. Sebelum pulang ke tanah air, ia sempat bermukim di Madinah selama enam bulan untuk ikut berbagai pengajian di Masjid Nabawi dari beberapa ulama terkemuka saat itu.
Ketika awal kedatangannya di Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, KH. Zaini Mun’im tidak bermaksud mendirikan lembaga pendidikan pesantren. Ia hanya ingin mengisolasi diri dari keserakahan dan kekejaman penjajah untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta, menemui teman seperjuangannya.
Tapi sebelum cita-cita luhur itu terealisasi, KH. Zaini Mun’im mendapat amanah dua orang santri. Keduanya mengaji di surau kecil yang berfungsi sebagai tempat shalat, juga ruang tamu, mengajar dan tempat tidur santri. Karena itulah, ia mengurungkan niatnya dan menetap di Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo hingga akhirnya mendirikan Pesantren Nurul Jadid. wassalam
referensi; nu.or.id
koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 11, 2013
Sabtu, Mei 18, 2013
kisah hasan besari
|
||
Pada abad ke XV M. bumi nusantara
ini di bawah naungan kerajaan Majapahit, dan seluruh masyarakatnya
masih memeluk agama Hindu atau Budha. Begitu juga daerah Wengker selatan
atau di sebut juga Pesisir selatan ( Pacitan ) yang pada waktu itu
daerah tersebut masih di kuasai seorang sakti beragama Hindu yang
bernama Ki Ageng Buwana Keling, yang di kenal sebagai cikal bakal daerah
Pacitan.
Menurut silsilah, asal usul KI Ageng Buwana
Keling adalah putra Pejajaran yang di kawinkan dengan salah satu putri
Brawijaya V yang bernama putri Togati. setelah menjadi menantu Majapahit
maka KI Ageng Buwana Keling mendapat hadiah tanah di pesisir selatan
dan di haruskan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. KI Ageng Buwana
Keling berputra tunggal bernama Raden Purbengkoro yang setelah tua
bernama KI Ageng Bana Keling. Kegoncangan masyarakat KI Ageng Buwana
Keling di Pesisir selatan terjadi setelah datangnya Muballigh Islam dari
kerajaan Demak Bintara, yang di pimpin oleh KI Ageng Petung ( R. Jaka
Deleg / Kyai Geseng ), KI Ageng Posong ( R. Jaka Puring Mas / KI Ampok
Boyo ) dan sahabat mereka Syekh Maulana Maghribi. Yang meminta KI Ageng
Buwana Keling beserta semua rakyat di wengker selatan untuk mengikuti
atau memeluk ajaran Islam.
Namun setelah KI Ageng Buwana Keling menolak
dengan keras dan tetap tidak menganut agama baru yaitu agama Islam, maka
tanpa dapat dikendalikan lagi terjadilah peperangan antara kedua belah
pihak. Peperangan antara penganut agama Hindu yang dipimpin oleh Ki
Ageng Buwana Keling dengan penganut agama Islam yang dipimpin oleh Ki
Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeikh Maulana Maghribi memakan waktu
yang cukup lama , karena kedua belah pihak, memang terdiri dari
orang-orang sakti. Namun akhirnya dengan keuletan dan kepandaian serta
kesaktian para muballigh tersebut peperangan itu dapat dimenangkan Ki
Ageng Petung dan pengikut-pengikutnya setelah dibantu oleh prajurit dari
Adipati Ponorogo yang pada waktu itu bernama Raden Betoro Katong (
Putra Brawijaya V ).
Dari saat itulah maka daerah Wengker selatan
atau Pacitan dapat dikuasai oleh Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan
Syeikh Maulana Maghribi, sehingga dengan mudah dapat menyiarkan agama
Islam secara menyeluruh kepada rakyat hingga wafatnya, dan dimakamkan di
daerah Pacitan.
Demikianlah dari tahun ke tahun sampai Bupati
Jagakarya I berkuasa ( tahun 1826 ), perkembangan agama Islam di Pacitan
maju dengan pesatnya, bahkan tiga tahun kemudian putra dari Demang
Semanten yang bernama Bagus Darso kembali dari perantauannya mencari dan
mendalami ilmu agama Islam di pondok pesantren Tegalsari Ponorogo di
bawah asuhan Kyai Hasan Besari. Sekembalinya beliau dari pondok tersebut
di bawah bimbingan ayahnya R. Ngabehi Dipomenggolo mulai mendirikan
pondok di desa Semanten ( 2 Km arah utara kota Pacitan ). setelah kurang
lebih satu tahun kemudian pindah ke daerah Tremas, maka dari saat
itulah mulai berdiri Pondok Tremas.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa KH. Abdul
Manan pada masa kecilnya bernama Bagus Darso. Sejak kecil beliau sudah
terkenal cerdas dan sangat tertarik terhadap masalah-masalah keagamaan.
Dalam masa remajanya beliau dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren
Tegalsari Ponorogo untuk mempelajari dan memperdalam pengetahua agama
Islam di bawah bimbingan Kyai Hasan Besari. Selama disana Bagus Darso
selalu belajar dengan rajin dan tekun. Karena ketekunannya, kerajinannya
serta kecerdasan yang dibawanya semenjak kecil itulah maka kepandaian
Bagus Darso didalam menguasai dan memahami ilmu yang dipelajarinya
melebihi kawan-kawan sebayanya, sehingga tersebutlah sampai sekarang
kisah-kisah tentang kelebihan beliau. Diantara kisah tersebut adalah
sebagai berikut :
Pada suatu malam yang dingin dimana waktu itu
para santri Pondok Tegalsari sedang tidur pulas, sebagaimana biasasnya
Kyai Hasasn Besari keluar untuk sekedar menjengu anak-anak didiknya yang
sedang tidur di asrama maupun di serambi masjid. Pada waktu beliau
memeriksa serambi masjid yang penuh ditiduri oleh para santri itu,
tiba-tiba pandangan Kyai tertumbuk pada suatu pemandangan aneh berupa
cahaya yang bersinar, dalam hati beliau bertanya, apakah gerangan cahaya
aneh itu. Kalau cahaya kunang tentu tidak demikian, apalagi cahaya api
tentu tidak mungkin, sebab cahaya ini mempunyai kelainan. kemudian
dengan hati-hati, agar tidak sampai para santri yang sedang tidur, Kyai
mendekati cahaya aneh itu. Makin dekat dengan cahaya aneh tersebut
keheranan Kyai bertambah, sebab cahaya itu semakin menunjukkan
tanda-tanda yang aneh. Dan kemudian apa yang disaksikan Kyai adalah
suatu pemandangan yang sungguh luar biasa, ssebab cahaya itu keluar dari
ubun-ubun salah satu santrinya. Kemudian diperiksanya siapakah
sesungguhnya santri yang mendapat anugerah itu.Tetapi kegelapan malam
dan pandangan mata yang sudah kabur terbawa usia lanjut menyebabkan
usaha beliau gagal. Namun Kyai Hasan Ali tidak kehilangan akal, dengan
hati-hati sekali ujung ikat kepala santri itu diikat sebagai tanda untuk
mengetahui besok pagi kalau hari sudah mulai terang. Esoknya sehabis
sembahyang Subuh, para santri yang tidur di serambi masjid disuruh
menghadap beliau. Setelah mereka menghadap, dipandangnya satu demi satu
santri tersebut dengan tidak lupa memperhatikan ikat kepala
masing-masing. Disinilah beliau mengetahui bahwa sinar aneh yang semalam
keluar dari ubun-ubun salah satu santri nya berasal dari salah satu
santri muda pantai selatan ( Pacitan ) yang tidak lain adalah Bagus
Darso. Dan semenjak itu perhatian Kyai Hasan Ali dalam mendidik Bagus
Darso semakin bertambah, sebab beliau merasa mendapat amanat untuk
mendidik seorang anak yang kelak kemudian hari akan menjadi pemuka dan
pemimpin umat.
Demikianlah salah satu kisah KH. Abdul Manan
pada waktu mudanya di Pondok Tegalsari dalam cerita. Dan setelah Bagus
Darso dianggap cukup ilmuyang diperolehnya di Pondok Pesantren
Tegalsari, beliau kembali pulang ke Semanten. Di desa inilah beliau
kemudian menyelenggarakan pengajian yang sudah barang tentu bermula
dengan sangat sederhana. Dankarena semenjak di Pondok Tegalsari beliau
sudah terkenal sebagai seorang santri yang tinggi ilmunya, maka
banyaklah orang Pacitan yang mengaji pada beliau. Dari sinilah kemudian
di sekitar masjid didirikan pondok untuk para santri yang datang dari
jauh. Namun beberapa waktu kemudian pondok tersebut pindah ke daerah
Tremas setelah oleh ayahnya beliau dikawinkan dengan Putri Demang Tremas
R. Ngabehi Hongggowijoyo. Sedang R. Ngabehi Honggowijoyo itu sendiri
adalah kakak kandung R. Ngabehi Dipomenggolo.
Diantara faktor yang menjadi penyebab
perpindahan Kyai Abdul Manan dari daerah Semanten ke desa Tremas, yang
paling pokok adalah pertimbangan kekeluargaan yang dianggap lebih baik
beliu pindah ke daerah Tremas. Pertimbangan tersebut antara adalah,
karena mertua dan istri beliau menyediakan daerah yang jauh dari
keramaian atau pusat pemerintahan, sehingga merupakan daerah yang sangat
cocok bagi para santri yang ingin belajar dan memperdalam ilmu agama.
Berdasarkan pertimbangan itulah maka beliau
kemudian memutuskan pindah dari Semanten ke daerah Tremas, dan
mendirikan pondok pesantren yang kemudian disebut “ Pondok Tremas “.
Demikianlah sedikit sejarah berdirinya Pondok Tremas yang dipelopori
oleh beliau KH. Abdul Manan pada tahun 1830 M
|
pangeran jayakarta
ASAL-usul
Pangeran Jayakarta, atau Jayakerta, masih samar. Dalam situs internet
Pemerintah Jakarta Timur disebutkan, Pangeran Jayakarta adalah nama lain
dari Pangeran Akhmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari
Kesultanan Banten.
Namun, menurut sebuah sumber sejarah lain, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.
Pangeran
Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang
sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan
pulang ke Banten (Banten Lama sekarang) setelah berhasil merebut
pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527.
Waktu itu, ia juga berhasil menghalau pasukan Portugis yang juga
berambisi menguasai bandar samudra nan ramai itu.
Jayakerta
atau Jayakarta adalah nama yang diberikan Fatahillah bagi pelabuhan
yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa. Nama baru disahkan pada 22 Juni
1527, tanggal yang hingga kini dianggap sebagai hari jadi Kota Jakarta.
Sejarah
mencacat, di bawah kepemimpinan Pangeran Jayakarta kota bandar itu maju
pesat, terutama di bidang perdagangan hasil bumi. Hal itu membuat
Belanda, lewat perusahaan dagang Vereenigde Oostindische Compagnie
(VOC), ingin berusaha di sana. VOC sebelumnya sudah malang-melintang dan
menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Pada
November 1610, Belanda berhasil mendapat hak atas tanah seluas 94 meter
persegi di sisi timur muara Kali Ciliwung. Sebagai imbalan, kepada
Pangeran Jayakarta Belanda membayar sebesar 2.700 florin atau 1.200
real. Namun, di pelabuhan yang ketika itu juga disebut Jakerta, Belanda
mempraktikkan sistem dagang monopoli yang licik, yang merugikan Pangeran
Jayakarta. Perselisihan pun pecah dan merebak antara tahun 1610-1619.
Dalam
konflik itu, Pangeran Jayakarta dibantu pasukan kiriman Sultan Banten
yang juga merasa dicurangi serta pasukan Inggris, yang waktu itu juga
sudah punya markas di sisi barat muara Ciliwung. Tak tahan dikeroyok,
Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen kabur ke Ambon, meminta
tambahan pasukan.
Saat
Coen masih di Maluku dan pasukan kompeni (VOC) sudah terpojok, muncul
konflik baru antara Banten dan Inggris, yang berakhir dengan terusirnya
Inggris dari Jayakarta. Akan tetapi, pada saat sama, Coen tiba-tiba
muncul lagi dengan membawa pasukan yang masih segar dari Ambon.
Mengusung
semboyan “despereet niet” (jangan putus asa) Coen langsung
memorakporandakan pasukan koalisi Banten-Jayakarta yang sudah loyo
gara-gara pertempuran dengan Inggris. Bala tentara Banten melarikan diri
ke arah barat dan selatan, sementara Pangeran Jayakarta dan para
pengikutnya mundur ke arah tenggara. Setelah menguasai Jakerta pada 12
Maret 1619, Coen mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Batavia.
Mengecoh dengan jubah
Meski
terusir dari Jakerta, Pangeran Jayakarta belum menyerah. Ajakan Belanda
untuk berdamai selalu ia tolak. Pangeran Jayakarta bahkan terus
melancarkan perlawanan. Dalam sebuah pertempuran yang terjadi di daerah
Mangga Dua, ia kehilangan Syekh Badar Alwi Alidrus, panglima perangnya
yang tertangkap dan dikuliti anak buah JP Coen.
Dalam
pertempuran pada sekitar Mei 1619 itu, pasukan Pangeran Jayakarta
dikabarkan terdesak. Mereka dikepung pasukan Belanda dari arah Senen,
Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Tanjung Priok. Menurut cerita Raden
Jayanegara, juga keturunan Pangeran Jayakarta, menyebut, saat jadi
buronan Belanda, kakek moyangnya itu berhasil mengelabui tentara kompeni
dengan melepas jubah dan sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah
sumur di Mangga Dua. Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah
menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan
Pangeran Jayakarta dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)