koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Senin, Maret 11, 2013

bung karno




Sosok Bung Karno selalu kita kenang. Tokoh ini tidak akan pernah dilupakan negeri ini. Namanya selalu melekat erat dalam setiap mengulas sejarah bangsa ini.
Ada banyak kisah mistik yang menyelimuti sosok Bung Karno. Pembaca pun sudah terbiasa membaca kisah mistik beliau. Tetapi kali ini saya ingin mengulas sesuatu yang berbeda, yaitu mistik pluralis.
Maksud mistik pluralis ini adalah kemampuan mistik Bung Karno menyatukan beragam manusia dengan adat dan istiadat berbeda dalam satu wadah bernama Republik Indonesia. Kemampuan mistiknya ini juga merupakan perpaduan antara kecerdasan lahiriah dan kecerdasan batiniah.
Sebagaimana diketahui, membentuk sebuah negara itu tergolong mudah. Sebuah negara dapat dibentuk di atas meja. Hanya dengan menggaris wilayah-wilayah tertentu di dalam peta, maka terbentuklah batas-batas negara. Lalu wilayah yang masuk dalam garis batas tadi diberi nama sebuah negara dan diproklamirkan.

Menggaris peta wilayah di atas kertas itu mudah, tetapi menerapkannya di lapangan sungguh sangat tidak mudah. Ada banyak negara yang terbentuk utuh di atas kertas, tetapi yang terjadi di lapangan adalah peperangan atau perang saudara. Manusia-manusia yang berada dalam wadah yang sama itu memiliki karakter berbeda, memiliki adat dan budaya berbeda. Semuanya mengklaim keunggulan ada pada kelompoknya.
Tetapi Bung Karno berhasil menyatukan perbedaan itu semua berkat kemampuan mistik pluralisnya yang mumpuni.
Doa Bung Karno
Bung Karno tahu benar bahwa rangkaian wilayah yang ada di Nusantara ini sangat banyak.  Ribuan pulau yang berserakan dalam batas wilayahnya sendiri-sendiri. Masing-masing wilayah itu memiliki raja atau penguasa yang juga memiliki aturan sendiri. Bung Karno ingin menyatukan semua itu dalam satu wadah. Bahkan lebih jauh dari itu, beliau tidak ingin wadah itu retak, apalagi pecah berantakan.
Sejak berusia dua puluhan, Bung Karno sudah memikirkan hal itu. Memikirkan sebuah wadah yang kuat untuk menampung puluhan juta manusia yang memiliki beragam suku, adat-istiadat, dan beragam agama dan kepercayaan.  Menampung masyarakat yang rukun dan damai dalam satu wadah yang kokoh dan tidak akan pernah retak.
Sejak muda Bung Karno selalu memohon kepada Tuhan agar diperbolehkan ikut membentuk masyarakat di dalam wadah itu. Hasrat Bung Karno itu didasari pula oleh keyakinannya bahwa jika kelak dirinya meninggal dunia, maka Para Malaikat akan menghampirinya dan meminta pertanggung jawaban, “Sukarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Apa pekerjaan yang paling engkau cintai? Apa pekerjaan yang paling engkau kagumi? Apa pekerjaan yang paling engkau ucapkan syukur kepada Allah SWT?”
“Ketika aku hidup didunia ini, aku telah ikut membentuk negara Republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia,” demikian pertanggung jawaban Bung Karno.
Mistik Pluralis Bung Karno
Tentu saja Bung Karno tidak sendirian dalam memikirkan wadah yang bernama negara Republik Indonesia. Ada banyak manusia sezamannya yang juga memiliki pikiran dan keinginan yang sama. Tetapi sejarah mencatat, Bung Karno berada di garis depan dalam mewujudkan terbentuknya wadah bernama Republik Indonesia.
Kemampuan seperti ini tidak pernah dimiliki oleh para tokoh-tokoh pendahulunya, bahkan hingga di era Kerajaan Majapahit. Tokoh sekaliber Gajah Mada memang memiliki impian yang sama untuk menyatukan masyarakat yang mendiami ribuan pulau yang berserakan. Tetapi Gajah Mada tidak pernah benar-benar berhasil merampungkan impiannya.
Meskipun Gajah Mada memiliki kekuatan atau kesaktian yang diejawantahkan dalam bentuk Sumpah Palapa, tetapi sumpah itu mengenyampingkan watak pluralis yang dimiliki masyarakat negeri ini. Sumpah Palapa lebih beraroma penjajahan terhadap kerajaan-kerajaan yang dianggap menyaingi Kerajaan Majapahit.
Sementara tokoh-tokoh yang lahir setelah Gajah Mada malahan tidak pernah menyamai prestasi yang diraih Gajah Mada, apalagi melebihinya.
Tetapi, tentu saja, Bung Karno belajar dari para pendahulunya itu. Di sinilah kemampuan Bung Karno dalam mengolah sisi spiritualis dalam jiwanya. Konsep dan praktek olah batinnya (baca: meditasi) ini jauh di atas orang pada masanya. Dan ini jauh dari aktivitas mistik yang biasa kita kenal.
Dalam hal ini Bung Karno pernah berkata,”itu (meditasi) adalah bagian dari kehidupan manusia yang ranahnya ada di dalam hati. Yang tentu saja tidak terpisahkan dari kehidupan dan akal yang ada.”
Mistik pluralis Bung Karno ini tidak mungkin menghasilkan beragam aneka macam keilmuan mistik yang konon katanya disematkan pada diri Bung Karno. Memang benar, dalam proses perjalanan hidupnya Bung Karno diyakini sering melakukan tirakat diberbagai tempat atau berguru kepada tokoh-tokoh spiritual yang mumpuni pada masanya itu. Semua itu bisa jadi benar adanya. Tetapi puncak dari semua itu adalah mistik pluralis yang melekat kuat dalam dirinya.
Kemampuan mistik pluralis Bung Karno inilah yang kemudian melahirkan Pancasila. Bung Karno tidak menciptakan Pancasila. Dia menggalinya dari seluruh wilayah negeri ini.  Bahkan bukan hanya menggali, tetapi menjadi pengikat wadah yang bernama Republik Indonesia.
Inilah prestasi tertinggi Bung Karno..
illa arwahi Sukarno…..al fatihah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman