Syekh
Bayanullah (Adik Syekh Nurjati) Mendirikan Pondok Pesantren
Quro di Kuningan
Syekh Bayanullah tiba di Cirebon bersama Syekh Bentong (putra Syekh Quro
Karawang) setelah menunaikan ibadah haji. Syekh Bayanullah mendirikan Pondok
Pesantren Quro di Desa Sidapurna, Kuningan, setelah menikah dengan Nyi
Wandasari, putri Surayana, penguasa Sidapurna. Surayana adalah putra Prabu
Niskala Watu Kancana dari istri ketiganya. Dari perkawinan itu lahirlah Maulana
Arifin. Maulana Arifin kelak berjodoh dengan Ratu Selawati, Penguasa Kuningan.
Ratu Selawati adalah adik Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung) serta kakak
Bratawijaya (Arya Kemuning). Mereka adalah cucu Sri Baduga Maharaja yang kelak
di-Islamkan oleh uwaknya Pangeran Walangsungsang (19).
Kedatangan Pangeran Panjunan
Bagian
ini diselingi oleh cerita Sultan Sulaeman di Negeri Bagdad yang dilanda
kegundahan karena anaknya yang bernama Syarif Abdurrahman dan adik-adiknya,
Syarif Abdurrakhim, Syarifah Bagdad dan Syarif Khafid mempelajari Ilmu Tasawuf
yang tidak disukai oleh Sultan Sulaeman dan suka bermain rebana, yang kelak
menjadi cikal bakal kesenian Brai di Cirebon. Akhirnya, Syarif Abdurrahman
diusir dari kerajaan. Syarif Abdurrahman mengadukan pengusiran ayahnya kepada
gurunya, Syekh Juned. Menurut Syekh Juned, tidak ada tempat lain yang harus
dituju kecuali Cirebon, tempat yang tentram dan di masa yang akan datang akan
diduduki oleh para wali.
Sementara itu Haji Abdullah Iman berniat kembali ke tanah Jawa.
Dalam perjalanan kembali ke tanah Jawa, ia mengunjungi Syekh Ibrahim Akbar di
Campa dan dijodohkan dengan putrinya dan di bawa pulang ke Cirebon (18).
Kelak keduanya dikaruniai tujuh orang putri yang setelah dewasa bermukim di
beberapa tempat menjadi sesepuh desa.
Haji
Abdullah Iman membangun sebuah keraton di Cirebon yang diberi nama Keraton Pakungwati
yang diambil dari nama anaknya yang baru lahir buah perkawinannya dengan Nyi
Indang Geulis. Setelah pembangunan keraton selesai, Haji Abdullah Iman diangkat
oleh ayahnya, Prabu Siliwangi, menjadi Ratu Sri Mangana dan diberi payung
kebesaran.
Syarif
Abdurrakhman yang diusir ayahnya dari Bagdad melakukan perjalanan menuju Cirebon
sesuai dengan saran gurunya, Syekh Juned. Ia ditemani oleh tiga orang adiknya
dan 1.200 orang pengikutnya yang diangkut dengan empat buah kapal. Akhirnya
mereka tiba di Caruban. Setibanya di Caruban, mereka langsung menghadap Pangeran
Walangsungsang Cakrabuana dan minta izin untuk tinggal di Caruban. Kemudian
diizinkan dan ditempatkan di daerah Panjunan dan Syarif Abdurrakhman ini
dikenal dengan sebutan Pangeran Panjunan (20). Di tempat tersebut,
Pangeran Panjunan bersama para wali mendirikan sebuah masjid, yang sekarang
lebih dikenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan.
Masjid
Panjunan selain memiliki keunikan berwarna merah, juga memilki keunikan lain.
Arsitektur pada gapura masjid tersebut asimetri dan memilki candrasengkala
berupa srimpedan, yang juga dimiliki oleh Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Sedangkan Syarif Abdurrakhim bertempat tinggal di Kejaksan dan bergelar Pangeran
Kejaksan serta membuat masjid di tempat tersebut.
Mereka
bertemu ayahandanya, Syekh Nurjati di Gunung Jati. Syarif Khafid dan Syarifah
Bagdad menetap di Gunung Jati (21).Syarifah Bagdad kelak menikah
dengan Syarif Hidayatullah dan menjadi sekretaris pribadi dalam hal masalah
keagamaan sehingga bergelar Nyi Mas Penatagama Pesambangan yang sangat alim dan
berakhlak mulia, sehingga Sunan Gunung Jati sangat mencintainya dan putranya
diangkat menjadi putra mahkota. Namun kedua putranya baik Pangeran Jaya Kelana
maupun Pangeran Brata Kelana, meninggal/ syahid dalam usia muda.
Wejangan
Syekh Nurjati Kepada Syarif Hidayatullah dan Para Wali
Setelah berkelana menemui para wali di Jawa, Syarif Hidayatullah
pada tahun 1475 (Ada naskah yang menyebut 1470) mendarat di Amparan Jati dan
menemui uwaknya (Pangeran Walangsungsang) yang pada saat itu menjadi Kuwu
Cirebon. Uwaknya sangat gembira atas kedatangan keponakannya tersebut dan
mendukung niatnya. Tetapi sebelumnya Pangeran Walangsungsang memberi nasihat
agar sebelum melakukan syiar Islam, terlebih dahulu menemui Ki Guru, yakni Syekh
Nurjati di Gunung Jati. Syarif Hidayat agar meminta nasihat dan petujuk,
bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, mereka berdua berangkat menuju
Gunung Jati menemui Syekh Nurjati selama tiga hari tiga malam. Di tempat Syekh
Nurjati mereka menerima wejangan-wejangan yang berharga. Antara lain, Syekh
Nurjati berkata:
”Ketahuilah bahwa nanti di
zaman akhir, banyak orang yang terkena penyakit. Tiada seorangpun yang dapat
mengobati penyakit itu, kecuali dirinya sendiri karena penyakit itu terjadi
akibat perbuatannya sendiri. Ia
sembuh dari penyakit itu, kalau ia melepaskan perbuatannya itu. Dan ketahuilah
bahwa nanti di akhir zaman,
banyak orang yang kehilangan pangkat keturunannya, kehilangan harga diri, tidak
mempunyai sifat malu, karena dalam cara mereka mencari penghidupan sehari-hari
tidak baik dan kurang berhati-hati. Oleh karena itu
sekarang engkau jangan tergesa-gesa mendatangi orang-orang yang beragama Budha.
Baiklah engkau sekarang menemui
Sunan Ampel di Surabaya terlebih dahulu dan mintalah fatwa dan petunjuk dari
beliau untuk bekal usahamu itu. Ikutilah
petunjuk beliau, karena pada saat ini di tanah Jawa baru ada dua orang tokoh
dalam soal keislaman, ialah Sunan Ampel di Surabaya dan Syekh Quro di Karawang.
Mereka berdua masing-masing menghadapi Ratu Budha, yakni Pajajaran Siliwangi dan
Majapahit. Maka sudah sepatutnyalah sebelum engkau bertindak, datanglah kepada
beliau terlebih dahulu. Begitulah
adat kita orang Jawa harus saling menghargai, menghormati antara golongan tua
dan muda. Selain itu, dalam
usahamu nanti janganlah kamu meninggalkan dua macam sembahyang sunah, yaitu
sunah duha dan sunah tahajud. Di samping itu, engkau tetap berpegang teguh pada
empat perkara, yakni syare’at hakekat, tarekat, dan
ma’rifat” (22).
Demikian wejangan dari Syekh
Nurjati kepada Syarif Hidayatullah. Syekh Nurjati adalah tokoh
utama
penyebar agama Islam yang pertama di Cirebon. Tokoh yang lain adalah Maulana
Magribi, Pangeran Makdum,
Maulana Pangeran Panjunan, Maulana Pangeran Kejaksan, Maulana Syekh Bantah,
Syekh Majagung, Maulana Syekh Lemah Abang, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran
Cakrabuana),
dan Syarif Hidayatullah. Pada suatu ketika mereka berkumpul di
Pasanggrahan
Amparan Jati, di bawah pimpinan Syekh Nurjati. Mereka semua
murid-murid Syekh Nurjati. Dalam sidang
tersebut
Syekh Nurjati berfatwa
kepada murid-muridnya:
”Wahai murid-muridku,
sesungguhnya masih ada suatu rencana yang sesegera
mungkin kita laksanakan, ialah mewujudkan atau membentuk
masyarakat Islamiyah. Bagaimanakah
pendapat para murid semuanya dan bagaimana pula caranya kita membentuk
masyarakat Islamiyah itu?” (23).
Para murid dalam
anggota sidang mufakat atas rencana baik tersebut. Syarif Hidayatullah
berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat Islam sebaiknya diadakan usaha
memperbanyak tabligh di pelosok dengan cara yang baik dan teratur. Pendapat
ini mendapat dukungan penuh dari sidang, dan disepakati segera dilaksanakan
(24).
Sidang
inilah yang menjadi dasar dibentuknya organisasi dakwah dewan Wali Songo.
Sebelum
meninggal dunia, Syekh Nurjati berwasiat kepada anak bungsunya, Syekh Khafid,
“Ana sira ana ingsun”, yang artinya ada kamu ada saya. Maksudnya adalah
Syekh Nurjati berpesan bahwa Syekh Khafid adalah pengganati Syekh Nurjati
apabila berhalangan. Wasiat inilah yang memperkuat anggapan bahwa seolah-olah
Syekh Datuk Khafid adalah orang yang sama dengan Syekh Datul Kahfi (25).
Beberapa
saat kemudian Syarif Hidayatullah menggantikan Syekh Datuk Kahfi/Syekh Nurjati
yang meninggal dunia (26). Syarif Hidayatullah ketika menggantikan
kedudukan sebagai guru dan da’i di Amparan Jati diberi julukan Syekh Maulana
Jati, disingkat Syekh Jati.
Semasa hidupnya Syekh Nurjati senantiasa mengamanati setiap santri yang akan
meninggalkan Pangguron, dengan perkataan ’’settana’’ artinya pegang
teguhlah semua pelajaran yang diperoleh dari pengguron Islam Gunung Jati, jangan
sampai lepas.
Sejak saat itu orang menamakan Kampung Pesambangan
dengan nama Settana Gunung Jati. Namun karena pada akhirnya Gunung Jati
itu digunakan untuk pemakaman, terutama makam Syekh
Nurjati
sendiri, maka penduduk
Jawa Barat yang sebagian besar berbahasa Sunda, sebutan settana diganti
menjadi astana yang artinya kuburan. Walaupun demikian, penduduk
yang berbahasa Jawa Cirebon masih banyak yang menyebutnya settana. Dengan
demikian
Kampung Pesambangan
yang mencakup Gunung Jati sampai sekarang dinamakan Kampung atau Desa
Astana.
Sebagai bukti penghormatan umat Islam, yang berziarah ke Astana (baik ke komplek
pemakaman Gunung Jati maupun komplek pemakaman Gunung
Mursahadatillah, dan secara khusus disampaikan kepada ruh pemimpin dan penghulu
kami Syekh Datul Kahfi, dan kepada ruh Syekh Bayanillah, dan kepada seluruh ruh
para wali, sultan, ahli kubur yang disemanyamkan di Gunung Jati dan Gunung
Sembung, dan orang tua mereka, para pendoa mereka, dan orang-orang yang
mengambil pelajaran dari mereka, Yaa Allah ....tolonglah kami semua dengan
perantaraan (izin Allah, akan kemuliaan mereka, aku memohon (hanya) kepada
Engkau, (memohon) barokah, syafaat, karomah (kemuliaan), ijasah (kelulusan dan
pengakuan), dan keselamatan, segala sesuatu hanya milik Allah, bagi mereka
Fatihah.
Kalau
kita simak doa tersebut, maka ada penghormatan terhadap :
1.
Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
2.
Nyi Mas Ratu Rarasantang (Syarifah Mudaim, ibunda
Sunan Gunung Jati, Pendiri Caruban)
3.
Syarifah Bagdad/ Fatimah (Nyi Mas Penatagama
Pesambangan, istri Sunan Gunung Jati, putri Syekh Nurjati)
4.
Pangeran Cakrabuana (paman Syarif Hidayatullah,
pendiri Caruban)
5.
Syekh Quro/ Syekh Hasanudin (Syekh Mursahadatillah,
pendiri Pondok Pesantren Karawang, Sahabat Syekh Nurjati )
6.
Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi, guru Pangeran
Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang dan mertua Sunan Gunung Jati)
7.
Syekh Bayanillah (adik Syekh Datul Kahfi, pendiri
Pondok Pesantren di Kuningan)
Kita
bisa mencermati bahwa doa tersebut diatas ditujukan kepada sekelompok elit
ulama perintis dakwah Islamiah di Cirebon.
Gapura
Bersayap di Pintu Makam Syekh Nurjati
Syekh
Nurjati meninggal dan dimakamkan di Gunung Jati. Sedangkan Syarif Hidayatullah
meninggal di Gunung Jati sehingga disebut Sunan Gunung Jati, namun dimakamkan di
Gunung Sembung, sebelah barat Gunung Jati.
Gapura
bersayap di pintu makam Syekh Nurjati adalah sebagai penanda masuknya agama
Islam di Cirebon. Model gapura ini merupakan salah satu karya adi luhung orang
Cirebon, pada awal abad ke 15-17 Masehi. Karya adi luhung ini merupakan karya
dekoratif yang sebenarnya lumrah di pesisir pantai utara Jawa.
Pintu yang ada di gapura bersayap Syekh Nurjati ini dapat melambangkan kematian.
Artinya maut adalah gerbang yang akan dilalui oleh setiap manusia
(ruh)
untuk mencapai kehidupan berikutnya yang abadi. Pemaknaan pintu sebagi lambang
kematian merupakan gambaran yang sangat tepat dan sesui dengan peribahasa Arab
yang berbunyi : “ al mautu babun wa kullunaasi dakhiluhu”, maut adalah
pintu dan setiap orang akan memasukinya.
Jika
pintu bermakna kematian, maka gapura bersayap bisa menjadi makna perlambang bagi
Malaikat Izrail. Artinya, kematian bisa disebut kematian yang sesungguhnya jika
ruh seseorang sudah dibawa malaikat Izrail dan menurut Al Quran bahwa para
malaikat itu bersayap (27).
Sumur
Jalatunda
Di
Pesambangan terdapat dua sumur tua peninggalan Syekh Nurjati, yakni sumur
Jalatunda dan sumur Tegangpati. Sumur diartikan sebagai kirata basa :
seumur atau sepanjang kehidupan. ”Jala” dari bahasa Arab ”jalla” yang berarti
luhur atau agung, ”tundha” artinya titipan, sedangkan ”tegangpati” berarti serah
jiwa (28).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com