merujuk tafsir dan penjelasan
singkat para ulama pakar mengenai surat Al-Kautsar ini dan sebab-sebab
turunnya ayat ini. Bunyi Surat Al-Kautsar [108] sebagai berikut:
Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Jadi yang dimaksud kalimat Nikmat yang banyak dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara Siti Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, kebanyakan dari keturunan Siti Fathimah ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud kalimat Orang yang membencimu dialah yang terputus dalam ayat itu adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan! Tafsir seperti ini dapat anda baca diantaranya dalam kitab-kitab berikut:
Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, halaman 504 ; Tafsir Gharaibul Quran (catatan pinggir) Majmaul Bayan, jilid 30, halaman 175 ; Tafsir Majmaul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, halaman 206, cet. Darul Fikr, Beirut ; Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah ; Al-Manaqib, oleh Syahraasyub, jilid 3, halaman 127.
Menurut Ustadz Quraish Shihab seorang ulama ahli tafsir Indonesia dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Quran Tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan wahyu terbitan Pustaka Hidayah mengatakan: Bahwa surat Al-Kautsar ini diturunkan di Makkah dan merupakan surat ke-14 dalam turunnya wahyu serta surat ke-108 dalam urutan mushaf.
Al-Kautsar menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan Katsir yang berarti Banyak. Jadi Al-Kautsar berarti sesuatu nikmat yang banyak. Ustadz Quraish Shihab mengemukakan bahwa Ulama berbeda pen dapat dalam mengartikan Al-Kautsar pada surat ini:
Pendapat pertama: Sebagian berpegang pada hadits nabi dari Anas bin Malik (HR Muslim dan Ahmad) yang menceritakan Al-Kautsar sebagai sebuah nama telaga yang ada disurga yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi.
Pendapat kedua: Sebagian lagi berpegang sejarah pada hadits lainnya mengenai ejekan Abtar yang berarti terputus keturunan. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulallah saw. Pendapat kedua ini dikutip juga oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur serta ulama pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusy, Al-Qasimy, Al-Jamal, Abu Hayyan, Muhammad Abduh, Thabathabai dan lain lain. Pendapat kedua ini merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh para ulama ahli tafsir.
Menurut Ustadz Quraish Shihab, hadits riwayat Muslim dan Ahmad dari Anas bin Malik diatas (pendapat pertama) tentang Al-Kautsar ini, ditolak oleh Muhammad Abduh sebagai penjelasan terhadap surat Al-Kautsar.
Pendapat ketiga: Sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya yaitu nikmat Allah yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw.. Salah satunya berupa keturunan yang banyak serta telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.
Sejarah meriwayatkan juga waktu putra beliau saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi saw. serta Khadijah ra. dalam usia yang telah cukup tua. Waktu Khadijah sedang hamil, semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra) maka orang-orang Quraisy bersorak dan mengatakan bahwa Muhammad Abtar. Kata-kata Abtar ini adalah ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.
Pendapat terbanyak dari ahli tafsir mengenai sebab-sebab turunnya surat Al-Kautsar ialah bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada Nabi SAW berupa keturunan yang sangat banyak. Dikatakan dalam buku tersebut; Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima maka itu berarti Al-Quran telah menggaris bawahi sejak dini tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhammad SAW bakal banyak dan tersebarnya mereka itu.
Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW berupa surat Al-Kautsar ini menunjukkan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayyidah Fatimah ra tersebut, bahwa Rasulallah SAW tidaklah Abtar bahkan dari rahim Siti Fatimah ra akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya dalam ayat tersebut Rasulullah diperintahkan untuk bershalat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya) dan pada ayat yang ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulullah yang mengejek itulah yang kemudian oleh Al-Quran disebut sebagai Abtar (terputus).
Surat ini dimulai dengan kata Inna/Sesungguhnya yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. Ustadz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata kepadamu pada ayat ketiga menunjukkan bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad SAW yang dikasihi-Nya.
Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah SAW memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah ra. dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya dalam surat Al-Anam 84-85 bahwa Al-Quran menganggap nabi Isa as sebagai dzurriyah Ibrahim meski pun beliau as lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadits yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai anakku.
Sejarah juga membuktikan bahwa dari rahim Siti Fatimah Rasulallah SAW memperoleh dua orang cucu (putera) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain ra. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Awsath yang bergelar Zainal Abidin atau Assajad (ahli sujud) kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi SAW dari Imam Husain. Demikian juga keturunan dari Imam Hasan.
Imam Husain sendiri memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala . Sedangkan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini Alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi saw. dari Siti Fatimah ra terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [ra] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut Ustadz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan) Nabi SAW ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustadz Quraish Shihab.
Sebagaimana dikemukakan tadi bahwa kita sering baca dikitab-kitab sejarah atau sunnah Rasulullah SAW biografi para Nabi, nama-nama mereka serta nama datuk-datuknya, nama-nama keturunan mereka dan lain sebagainya, tidak lain semuanya ini disampaikan melalui riwayat serta tersimpan dengan rapi sampai sekarang. Tidak ada para sahabat atau tabiin yang mencela atau menuduh semua nya itu! Apalagi pada zaman modern sekarang ini dengan adanya computer dan internet lebih mudah untuk menemukan kembali sejarah dan riwayat-riwayat para Rasul, Nabi dan nasab keturunan Rasulallah SAW yang telah ditulis oleh para ulama pakar.
Marilah kita rujuk lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulullah SAW berikut ini yang berkaitan dengan keturunan:
Firman Allah SWT Surga Adn mereka masuk kedalamnya dan juga orang yang baik-baik dari bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka..
Juga firman-Nya lagi: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan/kumpulkan anak cucu mereka dengan merekadan seterus nya . (Ath-Thuur : 21).
Dan masih ada lagi didalam firman-Nya yang menyebutkan mengenai keturunan para Nabi.
Begitu juga hadits Rasulullah SAW dari Abu Said Al-Khudri ra katanya: Mengapa masih ada beberapa kaum yang mengatakan bahwa tali kekeluargaan Rasulullah SAW tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahwasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung didunia maupun di akhirat. Wahai, sekalian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh (HR Ahmad dan Al-Hakim dalam shohihnya, Al-Baihaqi dan Thabrani dalam kitab Al-Kabir).
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. katanya: Telah wafat seorang putri Safiah binti Abdul Muttalib ra kemudian beliau berceritera yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah SAW berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: Mengapa masih ada beberapa kaum yang menuduh bahwa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahwa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung didunia mau pun akhirat . (Hadits ini dishohihkan oleh Al-hafidz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dari tiga jalur).
Allah SWT sendiri dalam Al-Quran telah menetapkan suatu hukum kepada keturunan-keturunan yang beriman yang mana mereka akan menyertai datuk-datuknya begitu juga yang diungkapkan dalam hadits-hadits diatas. Rasulallah SAW membantah keras bagi orang yang beranggapan bahwa hubungan kerabat dan tali kekeluargaan beliau SAW akan putus dan tidak memberi manfaat bahkan beliau menguatkan perkataannya itu dengan bersumpah Demi Allah..
Lalu bagaimana dapat dipastikan keturunan tersebut itu kalau tanpa adanya ketetapan nasab silsilahnya?
Begitu juga hadits Nabi SAW yang termasyhur dan sebagai bukti-bukti lagi tidak terputusnya keturunan beliau SAW yaitu akan munculnya Imam Al-Mahdi ra pada akhir zaman dan Imam ini dari keturunan Rasulallah SAW. Hadits-hadits ini kita bicarakan pada halaman selanjutnya.
Kami sering bertanya-tanya mengapa yang hanya sering dicela dan diganggu keturunan/cucu Nabi SAW yang riwayatnya banyak dalam hadits serta ditulis oleh ulama pakar ahli sejarah. Ada gerangan apakah dibalik celaan atau tuduhan ini ? Kami berlindung pada Allah swt. atas kebohongan golongan pencela atau pengingkar ini dan penolakan mereka terhadap adanya keturunan Nabi SAW.
Kenapa masih ada orang-orang yang masih menggangguku melalui nasab dan kerabatku? Sungguh, barang siapa mengganggu nasabku dan kaum kerabatku berarti ia menggangguku, barang siapa menggangguku berarti ia mengganggu Allah SWT (HR Ashhabus Sunan)
Rasulullah SAW juga bersabda:
Dari Abu said Al Kudri, Rasulullah SAW bersabda: Amat keras murka Allah SWT atas orang-orang yang menyakiti aku di dalam hal keturunanku. (HR. Ad-Dailani)
Allah SWT mentakdirkan bahwa garis keturunan Rasulullah SAW diteruskan kelanjutannya melalui putrinya Fatimah Az-Zahra Al-Bathul as., dan tulang sulbi Imam Ali as sebagai keistimewaan dan pengecualian yang khusus dikaruniakan Allah SWT bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan keturunan setiap Nabi SAW dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah SWT menciptakan keturunanku dari tulang sulbi Ali bin Abi Tholib. (HR. Thabrani)
Kekhususan yang dinyatakan sebagai pelanjut keturunannya ada tiga jenjang:
Pertama, kepada Imam Ali bin Abi Tholib
Kedua, terhadap Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasul SAW.
Ketiga, terhadap cucu Beliau (Imam Hasan dan Imam Husen) yang dinyatakan secara khusus sebagai anaknya, bukan sebagai cucu (Sibthun), bernasabkan, berisbahkan, dan berwalikan kepada Rasul SAW. dan sebagai pelanjut nasab keturunan Beliau SAW, Rasul SAW bersabda:
Fathimah adalah bagian dari diriku. Apa yang membuatnya marah, membuatku marah. Dan apa yang melegakannya, melegakanku. Sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat selain nasabku, sebabku, dan menantuku. (Shohih HR. Ahmad dan Al Hakim)
Yang demikian berdasarkan firman Allah SWT.:
Maka tidak ada lagi hubungan nasab diantara mereka pada hari itu. (QS Al Muminun 101).
Dalam sebuah hadits shohih berasal dari Jabir ra. yang diketengahkan oleh Hakim dalam Al-Mustadrak dan oleh Abu Yala di dalam Musnadnya bahwasanya Sayyidah Fathimah as meriwayatkan ayahnya bersabda:
Semua anak Adam (yang dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam) satu ushbah (seketurunan atau garis keturunan dengan ayah), kecuali dua putera Fatimah, akulah wali dan ushbah mereka berdua (bersambung garis keturunannya dengan aku.). (Al Hadits).
dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. (QS. 53:3)
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS. 53:4)
Rasulullaah say: sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kamu sekalian dua peninggalan berat (al-Tsaqalain), yaitu kitabullah dan Ahlulbaitku. dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga bertemu denganaku di al-Haudh (telaga disurga) (Mustadrak Hakim, Juz III (Riyadh: Maktabah al-Nashr al-Hadisah,1968) h.148). dan pada hadis lain dikatakan al-quran dan Sunnah. kedua konteks bahasa diatas jika dianalisis tidak ada perbedaan didalamnya. sebagaiman kita ketahui Sunnah nabi adalah segala hal yang datangnya dari Nabi. baik ucapan maupun perbuatan nah dalam banyak kesempatan nabi menyatakan jika setelahnya akan ada dua belas khalifah(lihat:shahih Al-Bukhari, dalam Kitab Ahkam, bab Istikhlaf, Juz IV, h.248, Sunan abu daud , juz IV(Mesir:Dar Ilhya Sunnah nabawiyyah), h. 106.dan lain kesempatan nabi menyebutkan pula nama-nama Khilafah tersebut(lihat: Syekh Sulaiman al qunduzi al-Hanafy, ya Nabi almawaddah (Istanbul : tp, 1301 H); h. 374. dan msh bnyk yang lain. pada referensi terakhir Rasulullah menyebutkan nama-nama Khalifah tersebut yang diawalai Imam Ali, imam Husan,Imam Husain dan terahir Imam Mahdi. pertanyaannya jika seandainya nasab rasulullah telah berahir pada bunda Fatimah Kenapa Nabi harus menyatakan jika beliau menitip Al-quran dan Ahlulbait kpada umatnya sampai bertemu dengan beliau di telaga surga. yang tidak lain setelah kiamat. kenapa Al-Quran dan Ahlul bait? karena keduanya tidak akan pernah terpisahkan Ahlulbait Diibaratkan Al-Quran berjalan (kongkrit dari al-quran) kepada ummatnya dan siapa lagi yang akan benar-benar bertanggung jawab terhadap kesucian dan kemurnian ajaran Rasulullah kalau bukan dari nasab dan keluarga nabi pasca wafatnya Rasulullah sampai hari kiamat nanti (imam mahdi yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman)
????? ???????????? ?????????? ??????? ????????? ????????? ???? ????????? ??????????????
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena
Tuhanmu dan berkorban lah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu
dialah yang terputus .Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Jadi yang dimaksud kalimat Nikmat yang banyak dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara Siti Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, kebanyakan dari keturunan Siti Fathimah ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud kalimat Orang yang membencimu dialah yang terputus dalam ayat itu adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan! Tafsir seperti ini dapat anda baca diantaranya dalam kitab-kitab berikut:
Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, halaman 504 ; Tafsir Gharaibul Quran (catatan pinggir) Majmaul Bayan, jilid 30, halaman 175 ; Tafsir Majmaul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, halaman 206, cet. Darul Fikr, Beirut ; Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah ; Al-Manaqib, oleh Syahraasyub, jilid 3, halaman 127.
Menurut Ustadz Quraish Shihab seorang ulama ahli tafsir Indonesia dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Quran Tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan wahyu terbitan Pustaka Hidayah mengatakan: Bahwa surat Al-Kautsar ini diturunkan di Makkah dan merupakan surat ke-14 dalam turunnya wahyu serta surat ke-108 dalam urutan mushaf.
Al-Kautsar menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan Katsir yang berarti Banyak. Jadi Al-Kautsar berarti sesuatu nikmat yang banyak. Ustadz Quraish Shihab mengemukakan bahwa Ulama berbeda pen dapat dalam mengartikan Al-Kautsar pada surat ini:
Pendapat pertama: Sebagian berpegang pada hadits nabi dari Anas bin Malik (HR Muslim dan Ahmad) yang menceritakan Al-Kautsar sebagai sebuah nama telaga yang ada disurga yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi.
Pendapat kedua: Sebagian lagi berpegang sejarah pada hadits lainnya mengenai ejekan Abtar yang berarti terputus keturunan. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulallah saw. Pendapat kedua ini dikutip juga oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur serta ulama pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusy, Al-Qasimy, Al-Jamal, Abu Hayyan, Muhammad Abduh, Thabathabai dan lain lain. Pendapat kedua ini merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh para ulama ahli tafsir.
Menurut Ustadz Quraish Shihab, hadits riwayat Muslim dan Ahmad dari Anas bin Malik diatas (pendapat pertama) tentang Al-Kautsar ini, ditolak oleh Muhammad Abduh sebagai penjelasan terhadap surat Al-Kautsar.
Pendapat ketiga: Sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya yaitu nikmat Allah yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw.. Salah satunya berupa keturunan yang banyak serta telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.
Sejarah meriwayatkan juga waktu putra beliau saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi saw. serta Khadijah ra. dalam usia yang telah cukup tua. Waktu Khadijah sedang hamil, semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra) maka orang-orang Quraisy bersorak dan mengatakan bahwa Muhammad Abtar. Kata-kata Abtar ini adalah ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.
Pendapat terbanyak dari ahli tafsir mengenai sebab-sebab turunnya surat Al-Kautsar ialah bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada Nabi SAW berupa keturunan yang sangat banyak. Dikatakan dalam buku tersebut; Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima maka itu berarti Al-Quran telah menggaris bawahi sejak dini tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhammad SAW bakal banyak dan tersebarnya mereka itu.
Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW berupa surat Al-Kautsar ini menunjukkan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayyidah Fatimah ra tersebut, bahwa Rasulallah SAW tidaklah Abtar bahkan dari rahim Siti Fatimah ra akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya dalam ayat tersebut Rasulullah diperintahkan untuk bershalat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya) dan pada ayat yang ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulullah yang mengejek itulah yang kemudian oleh Al-Quran disebut sebagai Abtar (terputus).
Surat ini dimulai dengan kata Inna/Sesungguhnya yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. Ustadz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata kepadamu pada ayat ketiga menunjukkan bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad SAW yang dikasihi-Nya.
Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah SAW memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah ra. dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya dalam surat Al-Anam 84-85 bahwa Al-Quran menganggap nabi Isa as sebagai dzurriyah Ibrahim meski pun beliau as lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadits yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai anakku.
Sejarah juga membuktikan bahwa dari rahim Siti Fatimah Rasulallah SAW memperoleh dua orang cucu (putera) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain ra. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Awsath yang bergelar Zainal Abidin atau Assajad (ahli sujud) kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi SAW dari Imam Husain. Demikian juga keturunan dari Imam Hasan.
Imam Husain sendiri memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala . Sedangkan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini Alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi saw. dari Siti Fatimah ra terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [ra] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut Ustadz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan) Nabi SAW ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustadz Quraish Shihab.
Sebagaimana dikemukakan tadi bahwa kita sering baca dikitab-kitab sejarah atau sunnah Rasulullah SAW biografi para Nabi, nama-nama mereka serta nama datuk-datuknya, nama-nama keturunan mereka dan lain sebagainya, tidak lain semuanya ini disampaikan melalui riwayat serta tersimpan dengan rapi sampai sekarang. Tidak ada para sahabat atau tabiin yang mencela atau menuduh semua nya itu! Apalagi pada zaman modern sekarang ini dengan adanya computer dan internet lebih mudah untuk menemukan kembali sejarah dan riwayat-riwayat para Rasul, Nabi dan nasab keturunan Rasulallah SAW yang telah ditulis oleh para ulama pakar.
Marilah kita rujuk lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulullah SAW berikut ini yang berkaitan dengan keturunan:
Firman Allah SWT Surga Adn mereka masuk kedalamnya dan juga orang yang baik-baik dari bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka..
Juga firman-Nya lagi: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan/kumpulkan anak cucu mereka dengan merekadan seterus nya . (Ath-Thuur : 21).
Dan masih ada lagi didalam firman-Nya yang menyebutkan mengenai keturunan para Nabi.
Begitu juga hadits Rasulullah SAW dari Abu Said Al-Khudri ra katanya: Mengapa masih ada beberapa kaum yang mengatakan bahwa tali kekeluargaan Rasulullah SAW tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahwasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung didunia maupun di akhirat. Wahai, sekalian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh (HR Ahmad dan Al-Hakim dalam shohihnya, Al-Baihaqi dan Thabrani dalam kitab Al-Kabir).
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. katanya: Telah wafat seorang putri Safiah binti Abdul Muttalib ra kemudian beliau berceritera yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah SAW berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: Mengapa masih ada beberapa kaum yang menuduh bahwa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahwa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung didunia mau pun akhirat . (Hadits ini dishohihkan oleh Al-hafidz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dari tiga jalur).
Allah SWT sendiri dalam Al-Quran telah menetapkan suatu hukum kepada keturunan-keturunan yang beriman yang mana mereka akan menyertai datuk-datuknya begitu juga yang diungkapkan dalam hadits-hadits diatas. Rasulallah SAW membantah keras bagi orang yang beranggapan bahwa hubungan kerabat dan tali kekeluargaan beliau SAW akan putus dan tidak memberi manfaat bahkan beliau menguatkan perkataannya itu dengan bersumpah Demi Allah..
Lalu bagaimana dapat dipastikan keturunan tersebut itu kalau tanpa adanya ketetapan nasab silsilahnya?
Begitu juga hadits Nabi SAW yang termasyhur dan sebagai bukti-bukti lagi tidak terputusnya keturunan beliau SAW yaitu akan munculnya Imam Al-Mahdi ra pada akhir zaman dan Imam ini dari keturunan Rasulallah SAW. Hadits-hadits ini kita bicarakan pada halaman selanjutnya.
Kami sering bertanya-tanya mengapa yang hanya sering dicela dan diganggu keturunan/cucu Nabi SAW yang riwayatnya banyak dalam hadits serta ditulis oleh ulama pakar ahli sejarah. Ada gerangan apakah dibalik celaan atau tuduhan ini ? Kami berlindung pada Allah swt. atas kebohongan golongan pencela atau pengingkar ini dan penolakan mereka terhadap adanya keturunan Nabi SAW.
Kenapa masih ada orang-orang yang masih menggangguku melalui nasab dan kerabatku? Sungguh, barang siapa mengganggu nasabku dan kaum kerabatku berarti ia menggangguku, barang siapa menggangguku berarti ia mengganggu Allah SWT (HR Ashhabus Sunan)
Rasulullah SAW juga bersabda:
Dari Abu said Al Kudri, Rasulullah SAW bersabda: Amat keras murka Allah SWT atas orang-orang yang menyakiti aku di dalam hal keturunanku. (HR. Ad-Dailani)
Allah SWT mentakdirkan bahwa garis keturunan Rasulullah SAW diteruskan kelanjutannya melalui putrinya Fatimah Az-Zahra Al-Bathul as., dan tulang sulbi Imam Ali as sebagai keistimewaan dan pengecualian yang khusus dikaruniakan Allah SWT bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan keturunan setiap Nabi SAW dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah SWT menciptakan keturunanku dari tulang sulbi Ali bin Abi Tholib. (HR. Thabrani)
Kekhususan yang dinyatakan sebagai pelanjut keturunannya ada tiga jenjang:
Pertama, kepada Imam Ali bin Abi Tholib
Kedua, terhadap Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasul SAW.
Ketiga, terhadap cucu Beliau (Imam Hasan dan Imam Husen) yang dinyatakan secara khusus sebagai anaknya, bukan sebagai cucu (Sibthun), bernasabkan, berisbahkan, dan berwalikan kepada Rasul SAW. dan sebagai pelanjut nasab keturunan Beliau SAW, Rasul SAW bersabda:
Fathimah adalah bagian dari diriku. Apa yang membuatnya marah, membuatku marah. Dan apa yang melegakannya, melegakanku. Sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat selain nasabku, sebabku, dan menantuku. (Shohih HR. Ahmad dan Al Hakim)
Yang demikian berdasarkan firman Allah SWT.:
Maka tidak ada lagi hubungan nasab diantara mereka pada hari itu. (QS Al Muminun 101).
Dalam sebuah hadits shohih berasal dari Jabir ra. yang diketengahkan oleh Hakim dalam Al-Mustadrak dan oleh Abu Yala di dalam Musnadnya bahwasanya Sayyidah Fathimah as meriwayatkan ayahnya bersabda:
Semua anak Adam (yang dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam) satu ushbah (seketurunan atau garis keturunan dengan ayah), kecuali dua putera Fatimah, akulah wali dan ushbah mereka berdua (bersambung garis keturunannya dengan aku.). (Al Hadits).
dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. (QS. 53:3)
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS. 53:4)
Rasulullaah say: sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kamu sekalian dua peninggalan berat (al-Tsaqalain), yaitu kitabullah dan Ahlulbaitku. dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga bertemu denganaku di al-Haudh (telaga disurga) (Mustadrak Hakim, Juz III (Riyadh: Maktabah al-Nashr al-Hadisah,1968) h.148). dan pada hadis lain dikatakan al-quran dan Sunnah. kedua konteks bahasa diatas jika dianalisis tidak ada perbedaan didalamnya. sebagaiman kita ketahui Sunnah nabi adalah segala hal yang datangnya dari Nabi. baik ucapan maupun perbuatan nah dalam banyak kesempatan nabi menyatakan jika setelahnya akan ada dua belas khalifah(lihat:shahih Al-Bukhari, dalam Kitab Ahkam, bab Istikhlaf, Juz IV, h.248, Sunan abu daud , juz IV(Mesir:Dar Ilhya Sunnah nabawiyyah), h. 106.dan lain kesempatan nabi menyebutkan pula nama-nama Khilafah tersebut(lihat: Syekh Sulaiman al qunduzi al-Hanafy, ya Nabi almawaddah (Istanbul : tp, 1301 H); h. 374. dan msh bnyk yang lain. pada referensi terakhir Rasulullah menyebutkan nama-nama Khalifah tersebut yang diawalai Imam Ali, imam Husan,Imam Husain dan terahir Imam Mahdi. pertanyaannya jika seandainya nasab rasulullah telah berahir pada bunda Fatimah Kenapa Nabi harus menyatakan jika beliau menitip Al-quran dan Ahlulbait kpada umatnya sampai bertemu dengan beliau di telaga surga. yang tidak lain setelah kiamat. kenapa Al-Quran dan Ahlul bait? karena keduanya tidak akan pernah terpisahkan Ahlulbait Diibaratkan Al-Quran berjalan (kongkrit dari al-quran) kepada ummatnya dan siapa lagi yang akan benar-benar bertanggung jawab terhadap kesucian dan kemurnian ajaran Rasulullah kalau bukan dari nasab dan keluarga nabi pasca wafatnya Rasulullah sampai hari kiamat nanti (imam mahdi yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com