koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll

Selasa, Juni 25, 2013

CARA MENDIDIK ANAK PART 1


Kalau pendidikan mereka baik, menyebar pula kebaikan dan keberkahan kepada semua orang. Sedang mereka yang dididik dengan buruk, keburukan itu tidak berhenti sampai dirinya saja, melainkan juga akan menyebar kepada yang ada di sekitarnya, dalam beragam bentuk.

Pembahasan mengenai pendidikan adalah sesuatu yang penting dan menjadi perhatian dalam agama Islam. Demikian uraian Habib Umar Bin Hafidz dalam bukunya Mendidik Anak dengan Benar.

Sesungguhnya tujuan pendidikan adalah mempersiapkan jiwa, akal, dan dzat manusia, untuk mengikuti petunjuk-Nya. Mengikuti petunjuk Tuhan, yang mengeluarkan manusia dari kegelapan, kegundahan, khayalan, serta memahami sesuatu yang tidak sesuai dengan ke­nyataannya, seperti kebanyakan amal per­buatan manusia yang seperti fatamor­gana. Allah SWT berfirman, “Amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu ia tidak mendapatkan sesuatu apa pun. Dan didapatinya ketetapan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepada­nya perhitungan amal-amal dengan cu­kup.” — QS An-Nur (24): 39.

Pendidikan terkait dengan inti tujuan penciptaan dan hikmah diwujudkannya manusia di alam semesta ini. Pendidikan mem­persiapkan jiwa dan akal agar men­dengar dan memahami seruan Allah SWT, serta mempersiapkan diri untuk menerapkan dan mengamalkannya.

Jika hal ini telah sempurna pada diri se­seorang, ia akan mejadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang melak­sanakan tugasnya dalam kehidupan ini dan memberikan hakikat manfaat yang sebenarnya bagi dirinya dan manusia lain.

Disebutkan dalam firman Allah, “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami’.” — QS Al-Furqan (25): 74. Ini adalah keinginan manusia yang memenuhi dada, lalu ia meletak­kan­nya di pintu Sang Maha Raja, agar Dia mengabulkan permintaannya itu.

Namun, sebagaimana telah diisyarat­kan oleh Allah, yang Mahabenar, sering kali manusia baru menyadarinya setelah melewati beberapa waktu dari umurnya, yaitu setelah umurnya melewati empat pu­luh tahun. Pada usia itu manusia baru akan mendapati bahwa hal itu termasuk aspek yang terpenting dalam hidupnya.

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku un­tuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat ber­buat amal yang shalih, yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.” — QS Al-Ahqaf (46): 15.

Iman sebagai Akar Pendidikan

Keturunan yang baik yang menjadi penyejuk hati tidak akan terwujud kecuali dengan pengorbanan dan usaha yang sungguh-sungguh dari ayah dan ibu. Me­reka berdua menduduki posisi Adam dan Hawa ketika diturunkan ke bumi ini untuk mendirikan khilafah, kepemimpinan.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malai­kat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadi­kan seorang khalifah di muka bumi’.” — QS Al-Baqarah (2): 30.

Setelah itu Dia menurunkan ke bumi dua insan, yaitu Adam dan Hawa. Mereka diturunkan bersama, lalu menjalankan tugas yang merupakan perintah agung ini.

Jadi, pendidikan adalah nutrisi dalam pengembangan dan perluasan cakra­wala. Semua ini sangat terkait dengan masalah iman, yang merupakan akar dan titik tolak untuk mendirikan amal yang baik.

Berapa banyak kita mendapati dalam Al-Qur’an bahwa iman dan amal shalih diletakkan bersama. Seperti banyak ayat yang menyebutkan orang-orang yang ber­iman dan beramal shalih. Begitu pula kita banyak mendapati janji kebaikan dari Allah SWT di dunia dan akhirat bagi me­reka yang memiliki dua sifat itu.

Iman adalah fondasi tempat didirikan­nya amal shalih. Artinya, jika gambaran amal itu didirikan walaupun tampak se­perti amal yang baik, jika disertai oleh iman yang lemah, amal itu pun pasti le­mah dan penuh dengan kekurangan, meski­pun berada pada jalan yang benar.

Jika amal shalih telah didirikan de­ngan dasar iman yang kuat, kebaikan akan menyebar merata di alam semesta ini. Dan dampaknya akan positif bagi se­mua orang.

Kalau pendidikan mereka baik, me­nyebar pula kebaikan dan keberkahan ke­pada semua orang. Sedang mereka yang dididik dengan buruk, keburukan itu tidak berhenti sampai dirinya saja, me­lainkan juga akan menyebar kepada yang ada di sekitarnya, dalam beragam bentuk.

Jika kita meneliti bermacam-macam problem umat Islam khususnya dan manu­sia umumnya di zaman sekarang ini, semuanya bersumber pada lemah dan buruknya pendidikan. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah terlahir se­orang bayi kecuali ia dalam keadaan fitrah, namun kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Al-Bukhari Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa ke­burukan yang ada pada manusia dise­bab­kan oleh orangtua yang melalaikan pendidikan. Orangtua yang membiarkan hal itu membuka celah dan pintu sehingga anak tersebut berpindah dari jalan sun­nah yang lurus kepada jalan yang beng­kok.

Di dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah SAW melafalkan adzan di te­linga Hasan bin Ali di hari kelahirannya. Riwayat yang lain menyebutkan, beliau melafalkan di telinga Hasan dan Husein serta memerintahkan umatnya untuk men­­contoh.

Bagaimanakah seseorang menyam­but bayi yang baru lahir dengan adzan, padahal bayi itu belum memahami adzan yang didengarnya? Tujuannya agar suara pertama yang didengar bayi adalah adzan, yang membawa muatan hakikat fitrah dan hakikat pengagungan kepada Allah SWT.

Ini adalah peringatan dari Rasulullah SAW tentang kewajiban berumah tangga dan berkeluarga agar mengukuhkan mak­na adzan itu sebagai pendidikan awal bagi makhluk yang baru saja lahir. Ha­rapannya, ia akan terlepas dari ikatan ke­lemahan yang terdapat pada semesta ini, karena itu bukanlah apa-apa jika ter­lepas dari Penciptanya. Seperti halnya asal-usul segala sesuatu hanyalah se­suatu yang tak ada, kemudian diwujud­kan oleh Sang Pencipta.

Itulah mengapa ketika hati seseorang berada dalam keadaan memisahkan diri dari Sang Pencipta, ia akan tenggelam da­lam kelemahan, kekurangan, dan ke­tidakmampuan. Seperti munajat Rasul­ullah SAW, “Wahai Allah, jika Engkau biarkan aku bersama diriku, Engkau mem­­­biarkanku bersama ketidakmam­puan, kekurangan, kelemahan, dan aib.”

Tetapi jika manusia keluar dari segala sesuatu yang serba terbatas dan kurang dengan menghubungkan hatinya kepada Pencipta alam semesta ini, ia akan men­dapatkan kekuatan.

Jika tidak, ia hanya akan menjadi per­­mainan dan korban dari alam semes­ta ini, sehingga akal, pikiran, pandangan, pengorbanan, dan energinya akan ter­sita.

Namun ketika hatinya terhubung de­ngan Sang Pencipta, ia akan keluar me­nuju ke tempat yang lapang. Begitulah makna adzan di telinga bayi yang baru la­hir, tiada lain untuk menggerakkan mak­na-makna yang terkandung dalam diri bayi yang fitrah untuk mempersiapkan diri­nya tumbuh dewasa.

Pada masa ini kita telah mengetahui bahwa ucapan akan berpengaruh pada bayi sejak berada di kandungan ibunya. Ucapan yang buruk pada anak saat ia masih berada di dalam kandungan, baik dari ibunya maupun orang di sekitarnya,  itu akan berdampak pada pola pikir dan akalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

stroom09@gmail.com

KLINIK CENAYANG STROOM09

KLINIK CENAYANG STROOM09
KLINIK CENAYANG STROOM09

pengunjung

RENTAL MOBIL CIREBON

RENTAL MOBIL CIREBON
RENTAL MOBIL CIREBON,TAXI ONLINE CIREBON,SEWA MOBIL CIREBON MINAT HP/WA :089537731979

Total Tayangan Halaman