koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Selasa, Juni 25, 2013
CARA MENDIDIK ANAK PART 2
Kalau pendidikan mereka baik, menyebar pula kebaikan dan keberkahan kepada semua orang. Sedang mereka yang dididik dengan buruk, keburukan itu tidak berhenti sampai dirinya saja, melainkan juga akan menyebar kepada yang ada di sekitarnya, dalam beragam bentuk.
Nasihat untuk Anak
Rasulullah SAW telah menjelaskan pentingnya pendidikan, bahkan sejak sebelum janin bayi ada, yaitu ketika manusia mulai berpikir ingin mencari pasangan. Nabi SAW bersabda, “Carilah keberuntungan dengan wanita yang memahami agama, kamu akan bahagia.”
Sabda Rasulullah SAW yang lain, “Barang siapa menikahi wanita untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan wanita, Allah SWT akan memberkahi dirinya melalui wanita yang dinikahinya dan memberkahi wanita melalui dirinya.”
Akar pendidikan adalah pendidikan tentang keimanan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dalam surah Luqman. Dalam ayat tersebut terdapat panutan bagi kita, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT melalui riwayat dan wasiat Luqman. “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” — QS Luqman (31): 13.
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” — QS Luqman (31): 17.
Wasiat di atas merupakan nasihat untuk mempersiapkan anak dalam kehidupan bermasyarakat dan menghadapi beragam peristiwa serta pasang surutnya, yaitu dengan mengikatkan hati mereka kepada Allah SWT, bersifat sabar, dan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Seseorang tak mungkin menyeru kepada kebaikan kecuali ia terlebih dahulu melakukan kebaikan. Begitu juga untuk mencegah kemunkaran, ia harus terlebih dahulu menjauhkan dirinya dari kemunkaran.
Dalam wasiat ini juga terdapat nasihat untuk mempersiapkan anak bersabar terhadap apa yang menimpanya, dan hal ini termasuk yang diwajibkan.
Di dalam surah Luqman juga dituntunkan cara berinteraksi. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” — QS Luqman (31): 18.
Semua ini adalah pengajaran bagi seorang anak agar dapat berinteraksi dengan sempurna dengan setiap makhluk di sekitarnya dan dalam menghadapi pasang surut kehidupan.
Pendidikan yang baik bagi seorang anak akan berdampak positif. Khususnya pendidikan dari kedua orangtua, dan lebih khusus lagi pendidikan dari seorang ibu.
Ibu memiliki peran penting dalam pendidikan, sebab ia lebih banyak berinteraksi dengan anak-anaknya. Bagaimana cara berpikir seorang ibu, cara ia mengatasi masalah, cara ia melakukan pekerjaannya, cara ia berbicara, semuanya memiliki pengaruh dalam pendidikan anak.
Dahulu orang shalih meminta kaum ibu agar tidak menyusui anaknya kecuali setelah membaca basmalah, lalu secara terus-menerus membaca dzikir berupa kandungan Al-Qur’an, bertasbih, atau bertahmid sepanjang ia menyusui. Semua itu menjadikan seorang ibu menyusui lahiriah anaknya dengan air susunya dan menyusui bathiniah anak dengan apa yang dibacanya dari firman Allah SWT dan berdzikir.
Pendidikan yang ditanamkan sejak dini akan menjadi benteng yang kukuh bagi anak dari segala keburukan yang akan dihadapinya di jalan, di pasar, atau sekolah. Sebagian orang mengalami kegagalan di rumah, dan sekolah memberikan solusi untuk meluruskan keadaan. Tapi ada juga yang sebaliknya, keluarga memiliki penjagaan yang baik terhadap akhlaq anak, tapi, ketika mereka keluar dan bermasyarakat, mereka pulang dengan membawa kata-kata atau perbuatan yang menyimpang dari adab.
Permasalahannya, jika salah satu dari kedua lingkungan tersebut mengabaikan pendidikan, kerusakan dimulai darinya. Boleh jadi yang satu membangun, sedang yang lain menghancurkan. Namun, jika bangunan itu dibangun dengan kukuh dan kuat, akan sulit untuk dirobohkan. Semua tergantung pada pembangunannya.
Orang-orang tua zaman dahulu, jika mengutus anaknya ke suatu tempat, akan menitipkan nasihat, “Jika engkau menemui seseorang di jalan, ucapkanlah salam kepadanya. Jika kau dapatkan orang buta yang membutuhkan pertolongan, bantulah ia. Jika kau dapati sesuatu yang mengganggu di jalan, seperti duri dan batu, singkirkanlah gangguan itu.”
Mereka memberi banyak nasihat kepada sang anak, maka anak itu keluar rumah dengan membawa banyak niat baik. Jika ia mendapati apa yang harus ia lakukan, walaupun apa yang akan ia lakukan itu baru berupa niat, ia sudah termasuk golongan orang yang mendapatkan pahala mengerjakan amal yang diniatkannya itu.
Inilah contoh mempersiapkan jasad dan hati menuju kepada agama yang telah diturunkan. Ia mengajarkan kebaikan kepada anaknya melalui perbuatan yang bisa dikerjakan hingga menjadi amal dalam agama Allah, lalu perbuatan mubah mereka sehari-hari menjadi tersinari dan dipengaruhi cahaya agama Allah.
Perhatikan Teman Anak
Tidak dihisab hubungan antara seorang ayah dan ibu dengan anaknya kecuali menjadikan anak itu tumbuh dalam keburukan karena kelalaian orangtua mereka. Namun di samping semua itu, kedua orangtua diwajibkan memikirkan cara untuk menjalankan tugas sesempurna mungkin. Tidak sekadar mengingatkan, memberi nasihat atau dengan mengancam, atau memberikan janji yang menarik kepada anak, sedang sisi yang lain terabaikan.
Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan sahabat dan teman duduk anak. Hendaknya orangtua menuntun anaknya untuk menyukai teman yang shalih.
Sesuatu yang juga terpenting dalam pendidikan anak adalah memperhatikan sifat kasih sayang, lembut, dan rahmat. Gabungkanlah kebenaran dan peringatan dengan sifat rahmat.
Terkadang, ketika dalam keadaan jengkel, walau anak itu tahu sesuatu yang benar, ia tetap tidak mau melakukannya. Begitu pun sebaliknya, meski mengetaui sesuatu tidak benar, ia tak mau menolaknya.
Jadi haruslah mengatasi masalah ini dengan menggabungkan sifat rahmat, lembut, dan kasih sayang. Dengan demikian, hidup anak dengan orangtuanya tidak hanya berkutat dalam ancaman dan pukulan.
Peringatan hendaknya dicampur dengan rahmat, kasih sayang, dan senyuman, serta disisipi kegembiraan, sehingga membantu anak berbuat baik dan memiliki sifat kasih sayang sekaligus memiliki karakter rahmat. Tetapi perlu juga menunjukkan wajah marah atau tidak suka ketika anak melakukan pelanggaran, seperti meninggalkan shalat.
Di samping itu dibutuhkan pula doa dari orangtua untuk anaknya, karena pada hakikatnya yang mengubah anak menjadi baik adalah Allah SWT. Orangtua tidak dapat mengubahnya sendiri, karena semua ada dalam genggaman Allah SWT.
Jika kita memasrahkan segala perkara kita kepada Allah SWT disertai dengan mendirikan tanggung jawab kita sesuai dengan kemampuan kita, pertolongan Allah SWT akan datang. Perumpamaan orangtua adalah seperti mereka yang menebar benih lalu menanam dan mengairinya serta menghalau segala hama yang dapat mengganggunya lalu setelah melakukan semua itu mereka hanya dapat memasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Maka terangkanlah kepadaku ihwal yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya, atau Kamikah yang menumbuhkannya.” — QS Al-Waqiah (56): 63-64.
Banyak manusia memiliki tujuan yang baik tetapi tak terpikir dalam benak mereka bahwa Allah-lah yang menggenggam hati, sehingga menyangka bahwa merekalah yang mempengaruhi anaknya dalam berbuat baik dan memaksa semuanya terjadi cepat, sesuai dengan kemauannya, padahal mereka tidak memiliki metode kecuali hanya marah dan mengancam.
Hal ini terutama disebabkan pemahaman orangtua bahwa seakan-akan merekalah yang berperan, padahal mereka hanyalah orang yang menyodorkan diri agar Allah SWT menurunkan hidayah. “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua sesat kecuali yang Aku beri hidayah. Maka mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan hidayah kepadamu.” (Hadits Qudsi).
Kemudian hendaknya kita memperhatikan setiap sarana yang dapat mempengaruhi anak. Termasuk teman-temannya, dari mana pun.
Setiap anak mempunyai tabiat yang berbeda, mereka mempunyai semangat untuk menolak dan menerima sesuatu. Kesuksesan dalam menanamkan keyakinan dalam diri mereka tidak dicapai hanya dengan satu metode, karena keberhasilan pada setiap orang tidak dicapai melalui takaran yang sama. Seorang anak mungkin membutuhkan takaran yang lebih banyak dari anak lainnya pada umumnya.
Perhatikan, dengan siapa dia duduk, siapa saja yang mendekatinya. Begitu juga, apa yang dilihat dan disaksikannya.
Jika orangtua tidak mengontrol apa yang mereka lihat di dalam rumah, lalu meminta anak mereka memiliki perilaku yang baik di masa pertumbuhannya, lebih khususnya di masa remaja, permintaan tersebut itu menjadi sulit. Menjadi sulit bagi keduanya untuk menertibkan anaknya karena mereka sendiri tidak menertibkan apa yang mereka lihat atau ucapkan.
Metode pendidikan yang dilakukan oleh orangtua dapat dikelompokkan menjadi dua.
Pertama, metode yang mengarah pada doktrinasi tanpa memberi anak kebebasan dalam berpikir, yang menurut orangtua jika tidak melakukan hal itu berarti mereka melalaikan dan meninggalkan anak hingga menenggelamkannya.
Metode kedua, kita harus memberi ruang gerak anak untuk berpikir dan mengembangkan wawasannya tetapi tetap dalam penjagaan kita. Seperti anak kecil pada umumnya yang melihat api yang begelora, ia ingin mendekati atau menyentuhnya. Jika kita membiarkan dengan dalih memberi kebebasan dalam berpikir, ia akan terbakar, dan ini sama sekali tidak benar.
Setiap permasalahan yang timbul memiliki sebab, walaupun kadang sumber persoalannya tersembunyi dan tidak dipahami. Segeralah mengatasi sesuatu, dan janganlah menunda-nunda.
Jika sesuatu yang buruk terlintas dalam hati manusia, kalau segera diatasi, mungkin saja lintasan itu akan terusir dengan cepat. Tetapi jika lintasan buruk itu didiamkan dan telah menguasainya, hal itu menjadi sulit untuk diatasi.
Terlebih dalam hal syahwat berkaitan dengan dilarangnya hubungan laki-laki dan wanita. Allah SWT telah melarang, walau sekadar memandang, untuk mencegah terjadinya pelanggaran berikutnya, yang merupakan akibat dari pandangan itu.
Berbeda dengan larangan lain yang disyari’atkan, misalnya kebun atau harta manusia, dibolehkan bagi kita untuk memandangnya akan tetapi ketika hendak mencurinya barulah larangan itu muncul. Memandangnya dibolehkan, memikirkan bagaimana kita memiliki kebun atau harta dibolehkan, tetapi mengambilnya tidak dibolehkan.
Tetapi masalah hubungan pria dan wanita, Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya.” — QS An-Nur (24): 30.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com