koleksi ilmu hikmah, kisahsufi,tasawuf,fengshui,maulid,desain grafis,batu akik,batu obsidian, paypal pay,za,pendanaan,RENTAL MOBIL proyek,investor,funder,kredit kpr,pinjaman multi guna ,pialang,wali amanat,SEWA MOBIL CIREBONtaxi online cirebondan lain-lain
koleksi ilmu-ilmu hikmah,kisah 2 tokoh sufi.teknologi tips n trik dll
Selasa, Juni 25, 2013
CARA MENDIDIK ANAK PART 3
Kalau pendidikan mereka baik, menyebar pula kebaikan dan keberkahan kepada semua orang. Sedang mereka yang dididik dengan buruk, keburukan itu tidak berhenti sampai dirinya saja, melainkan juga akan menyebar kepada yang ada di sekitarnya, dalam beragam bentuk.
Pendidikan Keagamaan
Orang yang beriman selalu berada dalam hidangan syari’at yang agung. Mereka menimba pelajaran dari guru yang termulia, Rasulullah SAW, agar senantiasa menjadikan hubungan antara diri mereka dan anak sebagai ibadah kepada Allah SWT, yang akan membuat mereka menjadi buah hati, tak hanya di dunia melainkan juga di negeri yang abadi kelak.
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai buah hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa.” — QS Al-Furqan (25): 74.
Disebutkan juga dalam Al-Qur’an, “Katakanlah, sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat. Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” — QS Az-Zumar (39): 15.
Karena itulah para malaikat di langit berdoa, “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Aden, yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak dan istri-istri mereka, serta keturunan mereka semua....” — QS Al-Mu’min (40): 7-8.
Sebab itulah, nafkah yang diberikan kepada anak termasuk bagian dari ibadah, dan termasuk bagian dari melayani kepentingan umat, serta membina keluarga dalam umat, juga melayani orang-orang yang taat kepada Allah. Maka dalam sebuah riwayat disebutkan, sedekah yang paling utama adalah memberikan nafkah kepada anak dan keluarga yang berada dalam tanggungan kita.
Seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Uang dinar yang paling utama dinafkahkan oleh seseorang adalah uang dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya, lalu dinar yang dinafkahkan untuk membeli kuda (kendaraan) di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk para sahabatnya di jalan Allah.”
Abu Qulabah berkata, “Beliau (Rasulullah SAW) memulai keutamaan itu dengan menafkahkan untuk keluarga. Yakni uang dinar yang dinafkahkan untuk keluarga.
Siapa yang lebih agung kedudukannya daripada seseorang yang menafkahkan hartanya untuk keluarganya, hingga Allah SWT menjaga kehormatan keluarganya melalui tidak meminta-minta atau mencukupi keluarganya melaluinya.”
Allah SWT memberikan manfaat kepada keluarga melalui perantara orangtua. Semua hal di atas menjelaskan kepada kita kedudukan menafkahkan harta kepada anak-anak dan keluarga. Perbuatan mencari nafkah yang dilandasi dengan niat baik menjadi ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di samping memberikan nafkah kepada anak, orangtua juga berkewajiban memberikan pendidikan kepada mereka, terutama pendidikan keagamaan. Terlebih dalam hal shalat. “Perintahkanlah anakmu mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah jika ia meninggalkannya pada usia sepuluh tahun (pada riwayat lain delapan tahun).” (HR Abu Dawud).
Pengajaran Adab Rasulullah SAW
Makna pendidikan yang begitu mendalam dapat dilihat dalam sejarah hidup Rasulullah SAW. Di antaranya adalah seperti yang disampaikan ‘Amr bin Abu Salamah. ‘Amr adalah putra Ummu Al-Mu’minin yang bernama Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW. Ia terdidik di dalam rumah tangga Nabi SAW.
Pada saat itu ayahnya terbunuh sebagai syahid di Peperangan Uhud, lalu ibunya dinikahi oleh Rasulullah SAW. Maka ibunya menjadi Ummu Al-Mu’minin dan anak-anak ibunya menjadi seperti anak-anak Rasulullah SAW. Nabi SAW memenuhi kebutuhan mereka dan mengajarkan adab dengan sebaik-baiknya kepada mereka.
Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata, “Pada saat Abu Salamah hidup bersanding bersamaku, ia adalah orang yang paling baik dalam pergaulan dan tingkah laku. Lalu ia terbunuh sebagai syahid di Peperangan Uhud. Dan aku mendengar bahwa Rasulullah SAW mengatakan, ‘Mereka yang tertimpa musibah lalu mengucapkan: Segala puji bagi Allah, kami milik Allah dan kami semua akan kembali kepada-Nya, maka Allah SWT akan memberikan pahala kepadanya atas musibah yang menimpanya dan menggantikan untuknya sesuatu yang lebih baik.’
Ketika terbunuh suamiku, aku ucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, dan kami semua akan kembali kepada-Nya. Wahai Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikan untukku yang lebih baik darinya.’
Namun aku berkata di dalam hatiku bahwa aku tidak akan mendapatkan yang lebih baik dari suamiku, Abu Salamah, tidak ada yang sebanding dengannya pada akhlaq dan kasih sayang terhadap istri.
Aku mengucapkan doa ini hanya karena mengikuti perintah Nabi SAW.
Tetapi setelah habis masa iddahku, Rasulullah SAW mengirim utusan kepadaku untuk melamarku. Sudah tentu beliau (Rasulullah SAW) lebih baik daripada suamiku, Abu Salamah, dan mereka yang memenuhi bumi seperti Abu Salamah’.”
Melalui utusan, Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku telah tua dan memiliki banyak anak, dan aku memiliki rasa cemburu yang besar, dan engkau memiliki banyak istri, maka aku takut rasa cemburuku menimbulkan tingkah laku yang tidak baik terhadapmu yang akan menyebabkan kebinasaan bagiku.”
Rasulullah SAW berkata kepada utusannya, “Sampaikan kepadanya (Ummu Salamah), ‘Tentang usia tua yang kau sebut, telah menimpaku usia tua seperti yang menimpamu. Dan mengenai rasa cemburu, aku akan memohon kepada Allah SWT agar menghilangkannya darimu. Sedangkan anak-anakmu, mereka juga akan menjadi anak-anakku’.”
‘Amar bin Abu Salamah berkata, “Sewaktu kecil aku pernah berada di rumah Rasulullah SAW. Suatu ketika aku pernah duduk bersama Rasulullah untuk menyantap hidangan. Namun tanganku bergerak berpindah-pindah memegang seluruh makanan yang ada. Maka Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Wahai anak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di sekitarmu (di dekatmu’.”
Rasulullah SAW mengajarkan adab kepadanya, dan sejak hari mendapatkan pengajaran adab itu ia tidak pernah meninggalkannya hingga wafat. Itulah pengajaran adab Rasulullah SAW.
Di Bawah Cahaya Ilahi
Pendidikan yang baik dan benar akan menjadi sebab utama bakti sang anak kelak di saat orangtua masih hidup maupun ketika telah wafat.
Namun berapa banyak orangtua yang melalaikan pendidikan kepada anak. Mereka berinteraksi dengan anaknya dengan cara memanjakannya, melampaui batas dalam menuruti kemauan anak, dan meninggalkan mereka dalam keadaan tidak mengenal adab. Maka, tak sedikit orangtua yang mendapatkan buah pahit dari semua itu berupa sikap anak yang tidak mengenal sopan santun dan perilaku-perilaku tercela lainnya.
Sebaliknya, sebagian orangtua berinteraksi dengan anaknya dengan cara yang kasar, memasang raut muka yang masam. Setiap ia pulang ke rumah, anak-anaknya gemetar ketakutan dan lari darinya. Sang anak tertekan hingga tiba masanya meledak dan mengakibatkan dirinya melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan.
Sebab itu, menjadi kewajiban setiap orangtua untuk memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik atas peran penting yang ada di hadapan anak-anak. Persiapkan mereka untuk memahami makna jalan hidup yang ditetapkan Allah SWT, agar mereka menjalani hidup di bawah cahaya Ilahi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
stroom09@gmail.com